YouTube Facebook Twitter RSS
16 Aug 2018, 0

Internasional

Kota Donetsk Di Ukraina Nyatakan Kemerdekaan

Wednesday, 09 April 2014 | View : 436

siarjustisia.com-DONETSK.

Ukraina kembali mengalami perpecahan setelah Senin (7/4/2014) kemarin kelompok militan pro-Rusia menyerbu gedung-gedung pemerintahan di Kota Donetsk dan menyatakan kemerdekaan.

Ribuan demonstran kemarin berteriak "Rusia!" dan menyerbu gedung-gedung pemerintahan di Kharkiv dan Donetsk, termasuk markas militer di wilayah timur Lugansk.

Dalam video di media sosial YouTube seorang pemimpin demo berbahasa Rusia menyatakan kemerdekaan Donetsk. "Untuk menciptakan negara yang sah dan berdaulat, saya nyatakan pembentukan negara berdaulat Republik Rakyat Donetsk," teriak aktivis tersebut.

Ukraina menuding Rusia memicu kerusuhan itu. Sedangkan di Washington Gedung Putih menyerukan Moskow untuk berhenti mengacaukan Ukraina dan mengancam akan menjatuhkan sanksi.

Namun Moskow menepis tudingan itu dan menyebut kerusuhan teranyar di Donetsk itu adalah tanda dukungan negara barat kepada Kiev tidak sah.

Sejak Rusia mencaplok Krimea bulan lalu, sejumlah wilayah berbahasa Rusia juga ingin menggelar referendum buat bergabung dengan Rusia.

Ukraina dihadapkan pada krisis separatis baru, setelah pada Senin (7/4/2014) para aktivis kelompok pro-Rusia yang menduduki kantor Gedung Pemerintahan Donetsk di kota Donetsk, wilayah timur Ukraina, untuk memproklamasikan kemerdekaannya dari Ukraina dengan  pembentukan sebuah republik independen dari kekuasaan Kiev.

Para aktivis kelompok pro-Rusia itu juga berjanji akan menggelar referendum demi bergabung dengan Federasi Rusia.

Para militan itu mendeklarasikan pembentukan republik rakyat dan meminta Presiden Rusia Vladimir Putin mengirimkan pasukan keamanan buat mendukung mereka, seperti dilansir situs asiaone.com, Selasa (8/4/2014). Deklarasi ini dilanjutkan dengan permohonan bantuan pada militer Rusia jika pemimpin pro-Barat di Kiev menolak keinginan merdeka itu.

Pengumuman itu disampaikan seorang juru bicara yang menduduki kantor pemerintah yang diduduki para akivis-pro Rusia itu.

Negara bekas Uni Soviet di perbatasan timur Uni Eropa (UE) ini terus menjadi diawasi puluhan ribu pasukan Rusia, yang sudah mencaplok semenanjung Laut Hitam Crimea. Aneksasi itu sebagai respons atas penggulingan terhadap rezim yang didukung Moskow bulan lalu.

Beberapa wilayah di kawasan timur yang mayoritas penduduknya orang Rusia ingin menggelar referendum untuk bergabung dengan Rusia.

Sedangkan, Ukraina akan menggelar pemilihan presiden pada 25 Mei 2014, dengan dua kandidat yang sama-sama ingin menghubungkan masa depan negara ke Eropa Barat sekaligus mematahkan ketergantungan sejarah pada negara tetangganya itu.

Tapi, tekanan politik terhadap para pemimpin Ukraina mencapai puncak pada Minggu (6/4/2014), ketika ribuan aktivis mengepung gedung-gedung pemerintah Kharkiv dan Donetsk serta markas besar keamanan di kawasan timur Lugansk. Para aktivis terus menerus meneriakkan Rusia.

Para aktivis Donetsk itu bertindak lebih jauh pada Senin (7/4/2014) dengan memproklamirkan pembentukan ‘republik rakyat’ berdaulat di kawasan berpenduduk sekitar lima juta orang itu.

Dalam sebuah rekaman video yang diunggah ke situs YouTube memperlihatkan seorang Rusia di atas sebuah podiom menyampaikan pernyataan kemerdekaan Donetsk di hadapan sekelompok orang. "Untuk membentuk sebuah negara yang berdaulat, maka I memproklamasikan pembentukan negara Republik Rakyat Donetsk," kata pria itu.

Pengumuman itu disambut sorak sorai sekitar 100 orang pria di dalam sebuah ruang auditorium yang nampaknya adalah gedung administrasi pusat kota Donetsk.

Pulau Ostrov, sebuah situs berita di kota industri itu mengabarkan bahwa para aktivis itu kemudian memutuskan untuk bergabung dengan Federasi Rusia dalam sebuah proses yang sama seperti diambil Semenanjung Crimea bulan lalu.

Situs berita Pulau Ostrov itu mengatakan resolusi tersebut disambut gegap gempita dan teriakan keras meminta pertolongan pada Presiden Rusia Vladimir Putin.

Kantor berita Interfax mengabarkan para pemimpin kiota Donetsk yang memproklamirkan kemerdekaan itu bertekad untuk menggelar referendum paling lambat pada 11 Mei mendatang.

Krisis perpecahan terbaru ini membuat PM Ukraina Arseniy Yatsenyuk mengirimkan wakilnya, Vitaliy Yarema ke kawasan itu untuk mengembalikan kendali pemerintahan.

Gubernur Donetsk, Sergiy Toruta mendesak pemerintah pusat untuk menggelar pertemuan darurat dengan dewan pertahanan dan keamanan regional untuk membahas masalah ini. "Hari ini, sebuah rencana dijalankan di Donetsk, Lugank dan Kharkiv untuk mengganggu stabilitas perdamaian, sosial dan ekonomi," tukas Sergiy Toruta.

Jika merdeka, negara berpenduduk 46 juta tersebut berada dalam bahaya disintegrasi dan membuat Barat semakin terdesak untuk mengambil tindakan. (afp/asiaone/interfax)

See Also

Harun Yahya Tuduh Penangkapan Dirinya Konspirasi Inggris
Harun Yahya Ditangkap Kepolisian Turki
Eks Navy Seal Tewas Dalam Evakuasi Tim Sepak Bola Dari Gua Thailan
Pelaku Penembakan Brutal Staf Capital Gazette Ditangkap
Penembakan Staf Koran Capital Gazette
Seorang Ayah Tendang Dan Tinju Anak Sendiri Ditangkap
Turki Adakan Pemilu Hari Ini
Arab Saudi Resmi Mencabut Larangan Perempuan Menyetir
Gempa Guncang Osaka
Inggris Permudah Pengajuan Visa Bagi Pelajar Indonesia
Amerika Serikat Keluar Dari Dewan HAM PBB
PM Malaysia Mahathir Mohamad Umumkan Gaji Menteri Dipangkas 10 Persen
Suriah Berhasil Usir ISIS
Satgas Malaysia Akan Selidiki Skandal Mega Korupsi 1MDB
Malaysia Ringkus 7 Anggota Terduga Jaringan IS
Sekolah Di Ghouta Timur Dihantam Rudal
Pasar Di Suriah Dihantam Roket
Arab Saudi Dan Inggris Tandatangani Kesepakatan Pembelian Jet Tempur
Kementerian Pertanian Cegah Rock Melon Australia Masuk Indonesia
Presiden Suriah Tegaskan Serangan Di Ghouta Timur Akan Terus Berlanjut
Skandal Seks Wakil PM Australia Dan Staf Picu Usulan Larangan
Hujan Salju Tebal Lumpuhkan Paris
PBB Selidiki Dugaan Penggunaan Senjata Kimia Di Suriah
Kurdi Irak Tahan 4.000 Ekstremis
Kereta Tabrak Ke Kereta Di Amerika Serikat
jQuery Slider

Comments

Archives :20182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 6.433.136 Since: 07.04.14 | 0.6396 sec