YouTube Facebook Twitter RSS
19 Oct 2018, 0

Hukum

Kapolri Takut Pidatonya Dipelintir Dan Diviralkan

Sunday, 04 March 2018 | View : 881

siarjustisia.com-JAKARTA.

Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi (Jend. Pol.) Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D. mengakui kini dirinya harus berhati-hati dalam berbicara. Kapolri kini lebih berhati-hati untuk berbicara tentang suatu kelompok di depan umum. Dia takut pidatonya akan menimbulkan masalah karena dipotong dan diviralkan. Sebab, kalimatnya tak jarang dipelintir dan dipersepsikan lain di media konvensional maupun media sosial. Ia menduga hal ini berkaitan dengan tahun politik di mana Pilkada serentak digelar dan persiapan Pemilu 2019 dilakukan.

"Saya sekarang kadang-kadang ada takut-takutnya bicara," kata mantan Kapolsek Metro Cempaka Putih Polres Metro Jakarta Pusat Polda Metro Jaya periode 1996-1997, Jend. Pol. Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D. saat bersilaturahmi ke Persatuan Tarbiyah Islamiyah, di Jakarta, Sabtu (3/3/2018). "Ini sebenernya ngomong begini, jujur saja saya takut-takut. Tahun politik ini, ngomong apa aja bisa dipelintir," kata dia.

Mantan Deputi Penindakan dan Pembinaan Kemampuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) periode 2011-2012, Jend Pol. Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D. memberi contoh soal videonya yang viral beberapa waktu lalu. Beberapa waktu lalu pidato mantan Sespri Kapolda Metro Jaya pada tahun 1996 tersebut Jend. Pol. Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D. dalam acara Nahdlatul Ulama (NU) itu menjadi viral. Dalam pidatonya itu, dia meminta jajaran kepolisian untuk bersinergi hanya dengan NU dan Muhammadiyah. Sebab, NU dan Muhammadiyah adalah pendiri dan setia mengawal negara. Di video itu, pernyataan mantan Asrena Polri periode 16 Juli 2014-12 Juni 2015, Jend. Pol. Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D. seolah mengesampingkan ormas Islam selain Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

"Saya takut pidato saya dipotong-potong lagi," ujar mantan Kaden 88 Anti Teror Polda Metro Jaya periode 2004-2005 tersebut, Jend. Pol. Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D. yang sontak mengundang tawa para tamu silaturahmi tersebut. "Tapi kalau di sini saya yakin bapak-bapak dan ibu-ibu tidak ada yang akan niat mempolitisir pidato saya," mantan Kanit Jatanras Reserse Polres Metro Jakarta Pusat Polda Metro Jaya periode 1987-1991, Jend. Pol. Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D. menambahkan.

Padahal, lanjut mantan Kasat Serse Ekonomi Reserse Polda Metro Jaya periode 1999-2000, Jend. Pol. Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A, Ph.D., pidato yang menjadi viral tersebut setahun lalu, Februari 2017. Saat itu dia berpidato selama 26 menit tentang peran ulama dalam perjuangan kemerdekaan. Mantan Kasubden Bantuan Densus 88/AT Bareskrim Polri pada tahun 2005 ini mengatakan, pidato itu ia sampaikan selama 20-an menit. Namun, yang viral hanya berdurasi dua menit.

"Yang dimaksud gerakan lain bisa merontokkan NKRI yaitu adanya gerakan yang bukan asli Indonesia. Ada gerakan dari jaringan Al Qaeda, ISIS dengan gerakan takfiri, ini jelas masuk ke Indonesia," jelas mantan Kasubden Penindak Densus 88/AT Bareskrim Polri pada tahun 2006, Jend. Pol. Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D. saat menghadiri acara Tarbiyah PERTI di Jakarta, Sabtu (3/3/2018).

Mantan WaKapolsek Metro Senen Polres Metro Jakarta Pusat Polda Metro Jaya periode 1991-1992, Jend. Pol. Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D. mengatakan, negara ini berpotensi terpecah jika kelas menengah masih menjadi minoritas.

Selain itu, ada juga masuknya paham ideologi dari luar yang bertentangan dengan Pancasila.

Pidato tersebut, imbuh mantan WaKapolsek Metro Sawah Besar Polres Metro Jakarta Pusat Polda Metro Jaya, Jend. Pol. Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D., merupakan imbauan pada NU dan Muhammadiyah yang berpotensi jadi sasaran pengaruh ideologi takfiri.

Ia mencontohkan kasus penyerangan Gereja Katolik Santa Lidwina di Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Ternyata pelakunya berasal dari keluarga NU, namun dia terpapar aliran radikal.

Hal ini jelas bertentangan dengan ideologi NU yang menentang kekerasan dan terorisme.

Oleh karena itu, Jend. Pol. Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D. meminta NU sebagai tuan rumah yang mengundang dirinya agar introspeksi dengan adanya fakta tersebut.

"Setelah dipelajari, yang bersangkutan sudah mengadopsi paham takfiri. Dari NU ke takfiri, kok bisa?" kata Jend. Pol. Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D. Intinya, sambung Jend. Pol. Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D., ia menyampaikan kekhawatiran itu dalam pidatonya. Namun, pernyataan itu dipelintir di media sosial.

Ia meminta maaf jika potongan video tersebut sempat membuat Tarbiyah PERTI salah paham dan merasa kesal dengan dirinya.

"Kita memahami bahwa tiap Muslim adalah bersaudara dan wajib memaafkan yang meminta maaf. Saya dari lubuk hati terdalam, kalau tidak nyaman, saya minta maaf. Tapi tidak ada niat saya untuk menepikan yang lain," tandas mantan Sespri Kapolri periode 1997-1999, Jend. Pol. Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D.

Kapolri mengaku sudah menemui pihak yang memviralkan videonya itu. setelah diajak bicara, pelaku mengaku ada maksud tertentu. Ada motif politis di balik penyebaran video itu untuk mendeligitimasi Tito dan Polri. Mantan Kasat Serse Umum Reserse Polda Metro Jaya periode 2000-2002, Jend. Pol. Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D. menambahkan, pemotong video tersebut memang sengaja memotong video itu untuk menjatuhkan nama Polri menjelang pilkada 2018. "Saya sudah tahu siapa yang memotongnya lalu memviralkannya," beber mantan Kasat Serse Tipiter Reserse Polda Sulsel pada tahun 2002, Jend. Pol. Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D.

Contoh lainnya, pada suatu kesempatan, Jend. Pol. Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D. menyampaikan pada awak media bahwa dirinya mengajak segenap pihak untuk bergandengan tangan dalam rangka menjaga NKRI dan mendorong pembangunan agar kelas menengah menjadi besar.

Sehingga Indonesia mampu berkompetisi dengan negara lain.

Namun, kemudian viral berita bahwa Kapolri meminta agar masyarakat tidak mengkafir-kafirkan orang.

"Ada yang memainkan lagi, melintirnya," lanjut dia. Sambil berkelakar, Jend. Pol. Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D. juga khawatir penjelasannya soal pidato yang ditujukan ke NU diartikan sebagai kritik pada ormas tersebut.

"Tadi saya sampaikan sambutan itu beri kritik pada NU. Nanti ada yang nulis, Kapolri kritik NU. Abis itu kader NU marah semua sama saya," kata mantan Pamapta Polres Metro Jakarta Pusat Polda Metro Jaya pada tahun 1987 itu, Jend. Pol. Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D., lalu tertawa.

Namun, mantan Kadensus 88/AT Bareskrim Polri periode 2009-2010, Jend. Pol. Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D. juga mengaku banyak mendapat hikmah dari kejadian itu. Seperti untuk lebih berhati-hati lagi dalam berbicara di depan umum. "Hikmah lainnya saya lebih sering sekarang bertemu ulama dan ormas-ormas Islam," pungkas mantan Kasubden Intelijen Densus 88/AT Bareskrim Polri periode 2006-2009, Jend. Pol. Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D. (tri/tem/jos)

See Also

Polisi Limpahkan Berkas Perkara Mantan Wali Kota Depok Ke Kejaksaan
Rekayasa Lalin Di KPU Saat Pengundian Nomor Urut Capres Cawapres
KPK Perpanjang Masa Penahanan Idrus Marham
Kombes Pol. Panca Putra Simanjuntak Jadi Direktur Penyidikan KPK
Kapolda Jambi Bongkar Peredaran Narkoba Dari Aceh Ke Kota-kota Di Sumatera Dan Jawa
Kasus Korupsi Massal DPRD Sumut, KPK Sita Lagi Uang Suap
KPK Periksa Dirjen Minerba
KPK Cegah Bos Borneo Lumbung Energi Ke Luar Negeri
Tim Resmob Polda Kalbar Ringkus Preman Penganiaya Penjaga Toko Arloji
Kongres Advokat Indonesia Tuntut Bebaskan Julius Lobiua
Masyarakat Pulau Pari Kembali Unjuk Rasa PN Jakarta Utara
Densus 88 Antiteror Tahan Satu Keluarga Di Sleman
Penjambret Yang Tewaskan Penumpang Ojol Di Cempaka Putih Terciduk
KPK Geledah Rumah Dinas Gubernur Aceh
Polres Jaktim Terus Buru Penjambret Tewaskan Penumpang Ojol Di Cempaka Putih
Kronologi OTT Gubernur Aceh Dan Bupati Bener Meriah
Gubernur Aceh Ditahan KPK
Gubernur Aceh Jadi Tersangka
KPK Tetapkan Gubernur Aceh Dan Bupati Bener Meriah Sebagai Tersangka
Keppres Pilkada Serentak 27 Juni 2018 Sebagai Hari Libur Nasional
Polda Metro Jaya Kerahkan 41.000 Personel Amankan Pilkada
Jennifer Dunn Divonis 4 Tahun Penjara
Jaksa KPK Tuntut Rita Widyasari Dihukum 15 Tahun Penjara
Densus 88 Antiteror Sergap Terduga Teroris JAD Di Cirebon
Densus 88 Antiteror Lumpuhkan Dua Terduga Teroris Di Depok
jQuery Slider

Comments

Archives :20182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 6.783.757 Since: 07.04.14 | 0.6716 sec