YouTube Facebook Twitter RSS
16 Oct 2018, 0

Internasional

Presiden Suriah Tegaskan Serangan Di Ghouta Timur Akan Terus Berlanjut

Monday, 05 March 2018 | View : 157
Tags : Suriah

siarjustisia.com-DAMASKUS.

Presiden Suriah Bashar al-Assad menegaskan bahwa pasukannya akan terus melakukan operasi militer untuk merebut kembali wilayah Ghouta Timur dari para pemberontak. Penegasan ini disampaikan Presiden Assad meskipun dunia internasional menyerukan penghentian pertumpahan darah di Ghouta Timur.

Pasukan Assad telah merebut kembali seperempat wilayah Ghouta Timur menyusul serangan-serangan yang gencar dilakukan selama dua pekan terakhir.

"Mayoritas warga di Ghouta Timur ingin lepas dari terorisme. Operasi harus berlanjut," kata Presiden Suriah Assad kepada para wartawan dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah Suriah, seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (5/3/2018).

Pekan lalu, Rusia yang merupakan pendukung kuat rezim Assad, mengumumkan "jeda kemanusiaan" selama lima jam per hari di Ghouta Timur. Tujuannya, agar pengiriman bantuan dan evakuasi medis bagi warga yang terluka bisa dilakukan. Meski serangan-serangan udara memang berkurang, namun pertempuran darat makin meningkat.

Sebelumnya, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) telah mengeluarkan resolusi yang menuntut gencatan senjata selama 30 hari di Suriah. Namun kepala staf militer Iran Mohammad Bagheri menyatakan, resolusi DK PBB tersebut tidak mencakup "kelompok-kelompok teroris" di Ghouta Timur. Ditegaskannya, para teroris tersebut akan terus menjadi target serangan militer Suriah.

"Kami menghormati resolusi ini yang merupakan keputusan internasional ... dan pemerintah Suriah juga menghormatinya," kata Bagheri seperti dikutip kantor berita resmi Iran, IRNA dan dilansir AFP, Senin (26/2/2018).

"Namun zona-zona di pinggiran Damaskus yang berada di tangan Al-Nusra dan kelompok-kelompok teroris lainnya tidak tercakup dalam gencatan senjata dan operasi pembersihan serta serangan-serangan oleh militer Suriah akan terus berlanjut," imbuh pejabat tinggi militer Iran itu.

DK PBB pada Sabtu (24/2/2018) waktu setempat mengadopsi resolusi yang menyerukan gencatan senjata 30 hari di Suriah agar pengiriman bantuan dan evakuasi medis bisa dilakukan. Resolusi ini dikeluarkan seiring kecaman negara-negara Barat atas gencarnya serangan-serangan militer Suriah di Ghouta Timur, kawasan di pinggiran Damaskus yang dikuasai pemberontak. Ratusan warga sipil Suriah dilaporkan tewas akibat serangan-serangan rezim selama beberapa hari terakhir itu.

Namun setelah keluarnya resolusi DK PBB tersebut, pertempuran ganas terjadi di daerah-daerah Selatan Ghouta Timur pada Minggu (25/2/2018) waktu setempat.

"Kubu Barat dan para pendukung teroris bersikeras untuk menetapkan gencatan senjata namun Rusia dan Iran berusaha membatasi resolusi ini, sehingga kelompok teroris seperti Al-Nusra dikecualikan dan perang bisa dilanjutkan terhadap mereka," tutur Bagheri.

"Wilayah Suriah harus bersih dari kelompok-kelompok teroris dalam beberapa bulan mendatang sehingga warga Suriah bisa hidup dengan damai," tandasnya.

Seperti diketahui, Iran dan Rusia merupakan pendukung rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam memerangi para pemberontak di negara tersebut. 

Presiden Suriah Assad menegaskan, warga sipil masih tetap punya kesempatan untuk pergi dari Ghouta Timur.

Hal ini disampaikan Presiden Suriah Assad setelah kelompok pemantau HAM Suriah, Syrian Observatory for Human Rights melaporkan bahwa serangan-serangan udara rezim di Ghouta Timur telah menewaskan 34 warga sipil pada Minggu (4/3/2018) waktu setempat. Korban tewas termasuk beberapa anak-anak.

Sebelumnya, Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyerukan agar resolusi Dewan Keamanan PBB soal gencatan senjata selama 30 hari di Suriah, bisa dilaksanakan segera.

Pemimpin badan dunia itu memuji keluarnya resolusi DK PBB pada Sabtu (24/2/2018) waktu setempat tersebut setelah perdebatan sengit di dewan. Namun ditekankannya, resolusi itu harus diterapkan segera. 

"Resolusi Dewan Keamanan hanya berarti jika itu diimplementasikan secara efektif, dan karena itulah saya mengharapkan resolusi segera diimplementasikan dan dipertahankan," tutur Antonio Guterres.

Antonio Guterres mengatakan, dengan gencatan senjata, badan-badan kemanusiaan PBB akan bisa mengantarkan bantuan dan mengevakuasi para korban luka dari Ghouta Timur, kawasan di pinggiran Damaskus yang dikuasai pemberontak. Kawasan tersebut gencar diserang militer Suriah dalam beberapa hari terakhir ini, hingga menewaskan ratusan warga sipil. Sekitar 400 ribu orang bermukim di wilayah tersebut.

"Ghouta Timur tak bisa menunggu, sudah saatnya menghentikan neraka di bumi ini," cetus Antonio Guterres dalam pidato pembukaan sesi tahunan ke-37 Dewan HAM PBB di Jenewa, Swiss seperti dilansir kantor berita Reuters, Senin (26/2/2018).

Sebelumnya, Antonio Guterres menyebut situasi di Ghouta Timur seperti "neraka di muka bumi." Dalam pernyataan di depan anggota Dewan Keamanan PBB di New York, hari Rabu (21/2/2018), Antonio Guterres menyerukan penghentian pertempuran di kawasan yang dikuasai pemberontak tersebut. "Seruan saya kepada semua pihak yang terlibat perang adalah, hentikan pertempuran sesegera mungkin," kata Antonio Guterres.

Pemimpin badan dunia itu menambahkan, gencatan senjata sangat penting untuk memungkinkan penyaluran bantuan kemanusiaan kepada warga sipil di Ghouta Timur yang terjebak konflik. Kata 'neraka' yang digunakan Sekjen PBB tersebut untuk menggambarkan situasi dan kondisi yang sangat mengenaskan di kawasan ini.

Di hari yang sama, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan statemen yang mengutuk serangan-serangan rezim Assad selama dua pekan itu. PBB pun menuding Rusia mengabaikan resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan gencatan senjata selama 30 hari di Suriah. (reuters/irna/afp)

See Also

Terlibat Skandal Gratifikasi Seks, Pejabat Imigrasi Singapura Diadili
Teleskop NASA Temukan 2 Planet Baru
Najib Razak Ditahan SPRM
Mantan PM Malaysia Ditahan
Najib Razak Ditahan KPK Malaysia
3 Kapal Perang Jepang Bersandar Di Pelabuhan Tanjung Priok
NASA Klaim Planet Proxima Centauri B Bisa Dihuni
Harun Yahya Tuduh Penangkapan Dirinya Konspirasi Inggris
Harun Yahya Ditangkap Kepolisian Turki
Eks Navy Seal Tewas Dalam Evakuasi Tim Sepak Bola Dari Gua Thailan
Pelaku Penembakan Brutal Staf Capital Gazette Ditangkap
Penembakan Staf Koran Capital Gazette
Seorang Ayah Tendang Dan Tinju Anak Sendiri Ditangkap
Turki Adakan Pemilu Hari Ini
Arab Saudi Resmi Mencabut Larangan Perempuan Menyetir
Gempa Guncang Osaka
Inggris Permudah Pengajuan Visa Bagi Pelajar Indonesia
Amerika Serikat Keluar Dari Dewan HAM PBB
PM Malaysia Mahathir Mohamad Umumkan Gaji Menteri Dipangkas 10 Persen
Suriah Berhasil Usir ISIS
Satgas Malaysia Akan Selidiki Skandal Mega Korupsi 1MDB
Malaysia Ringkus 7 Anggota Terduga Jaringan IS
Sekolah Di Ghouta Timur Dihantam Rudal
Pasar Di Suriah Dihantam Roket
Arab Saudi Dan Inggris Tandatangani Kesepakatan Pembelian Jet Tempur
jQuery Slider

Comments

Archives :20182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 6.767.032 Since: 07.04.14 | 0.6429 sec