YouTube Facebook Twitter RSS
19 Dec 2018, 0

Hukum

Hacker Surabaya Black Hat Telah Retas 600 Situs

Thursday, 15 March 2018 | View : 260

siarjustisia.com-JAKARTA.

Tiga pemuda asal Surabaya dibekuk aparat gabungan Polda Metro Jaya, Polrestabes Surabaya serta Federal Bureau of Investigation (FBI). Ketiganya, KPS, ATP dan NA masih berusia 21 tahun.

Mereka diciduk karena meretas situs sejumlah lembaga negara maupun perusahaan di luar maupun dalam negeri.

Penangkapan sendiri berawal adanya laporan dari FBI ke Polda Metro Jaya. Penyidik FBI memberi informasi jika ada hacker yang meretas sistem di Amerika dan itu berasal dari Indonesia. Setelah diusut, pelaku berada di Surabaya. Akhirnya, Polda Metro Jaya bersama FBI berkoordinasi dan melakukan penangkapan di Surabaya.

Pelaku, KPS (21 tahun), ATP (21 tahun), dan NA (21 tahun) meretas sistem di perusahaan maupun instansi pemerintahan. Jika sistem ingin dipulihkan, pelaku meminta sejumlah uang yang dibayarkan melalui sistem paypal dan bitcoin.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Raden Prabowo Argo Yuwono, S.IK., M.Hum. menjelaskan penangkapan berawal saat Polri mendapat laporan dari penyidik FBI.

"Itu dari FBI, kita kan punya kerjasama antara FBI dari IC3 (Internet Crime Complaint Center) itu adalah pusat pengaduan Jakarta terbesar di Amerika Serikat. Jadi di Amerika Serikat sana ada data, bahwa ada peretasan sistem elektronik yang dilakuakan oleh sekelompok orang di Indonesia," jelas lulusan Akpol 1991 yang berpengalaman dalam bidang reserse ini, mantan Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol. Raden Prabowo Argo Yuwono, S.IK., M.Hum. kepada wartawan di kantornya, MaPolda Metro Jaya, Jl. Jenderal Sudirman Kav. No.55, RT05/RW03, Senayan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (13/3/2018).

Umpan ditangkap, Polri langsung menyelidiki laporan dari FBI.

Benar saja, pelaku terendus berada di Surabaya, Jawa Timur. Koordinasi lintas wilayah dilakukan.

Informasi yang didapat, pelaku merupakan anggota Surabaya Black Hat (SBH). Komunitas tersebut berisi orang-orang yang mengerti sistem Informasi Teknologi (IT).

Akhirnya, Polda Metro Jaya bersama FBI berangkat ke Polrestabes Surabaya untuk berkoordinasi.

Dari 6 orang yang diburu, dicokok 3 pelaku di tempat yang berbeda. KPS merupakan pendiri Surabaya Black Hat.

Sedangkan, motif yang digunakan oleh tersangka adalah dengan meminta sejumlah uang melalui pembayaran akun PayPal dan Bitcoin. "Alasan mereka sebagai biaya jasa," ujar mantan Kasat Serse Polres Buleleng Polda Bali pada tahun 1996 tersebut, Kombes Pol. Raden Prabowo Argo Yuwono, S.IK., M.Hum.

Sejumlah barang bukti disita, antara lain handphone, Laptop, dan modem. Mereka dijerat pasal berlapis.

"Pasal 30 Juncto 46 dan atau Pasal 29 Juncto 45B dan atau 32 Juncto Pasal 48 Undang-Undang RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE dan atau Pasal 3, 4, dan 5 Undang-Undang RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tndak Pidana Pencucian Uang," tandas mantan Kapuskodal Ops Polres Tabanan Polda Bali pada tahun 1997 tersebut.

Surabaya Black Hat mengawali sepak terjangnya di tahun 2017. Sepanjang tahun itu, mereka sudah mampu menjebol 3.000 sistem elektronik dari 600 website yang berada di lebih dari 40 negara.

Di antaranya adalah Thailand, Australia, Turki, UEA, Jerman, Prancis, Inggris, Swedia, Bulgaria, Ceko, Taiwan, China, Italia, Kanada, Argentina, Pantai Gading, Korea Selatan, Chili, Kolombia.

Lalu India, Singapura, Irlandia, Meksiko, Spanyol, Iran, Nigeria, Rusia, Selandia Baru, Rumania, Uruguay, Belgia, Hong Kong, Albania, Dubai, Vietnam, Belanda, Pakistan, Portugal, Slovenia, Kepulauan Karibia, Maroko, Lebanon.

Mantan Kabag Binlat Ro Ops Polda Kaltim pada tahun 2009, Kombes Pol. Raden Prabowo Argo Yuwono, S.IK., M.Hum. mengungkap diperkirakan ada sekitar 600 hingga 700 orang yang gabung dalam kelompok Surabaya Black Hat. Dan mereka semua orang-orang yang mempunyai kemampuan dalam bidang IT kemudian mempunyai kesamaan visi dan misi.

Kasubdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Roberto Pasaribu menjelaskan pelaku KPS merupakan 'kepala' dari komunitas tersebut. Mereka kerap mengadakan kopi darat.

"Anggota yang bergabung karena memiliki visi dan misi yang sama sebagai hacker di media sosial. Biasa kumpul-kumpul, sharing semua," katanya.

Namun, belum dapat dipastikan apakah ratusan orang tersebut melakoni praktik retas meretas situs.

"Jadi gini, kalau ada orang IT ataupun lainnya itu biasanya ada komunitas, nah kalau ini seperti itu," lanjutnya.

Kini, penelusuran penyidik akan mengarah ke ratusan hacker tersebut. "Yang ketiga lain masih kita lakukan pencarian. Itu emang komunitas, tapi kan belum tentu pidana 600 hingga 700 itu. Perlu kita pilah peran mereka," imbuhnya.

Surabaya Black Hat merupakan kumpulan mahasiswa jurusan IT di sejumlah kampus di Surabaya.

Sedangkan, 3 orang yang ditangkap berstatus mahasiswa aktif di semester 5 dan 6.

"Mereka ini masih mahasiswa, masih ada yang sementer lima juga enam," tambah AKBP Roberto Pasaribu.

"Mahasiswa di daerah Surabaya, saya nggak bisa sebutkan kuliah di mana ya," sambungnya.

Mereka, beber AKBP Roberto Pasaribu, melakukan hal itu karena motif ekonomi. Dan apa yang sudah dilakukannya adalah sebuah profesi.

"Mereka ini apa yang sudah dikerjakan sudah sebagai profesi mereka," katanya.

Surabaya Black Hat memulai aksinya di tahun 2017. Sepanjang tahun itulah mereka menjebol 3.000 sistem elektronik yang terdiri dari 600 website di lebih dari 40 negara.

Dari aksinya, mereka mampu mengantongi Rp 200 juta. Dalam satu tahun terakhir beraksi, pelaku yang masih berstatus mahasiswa semester lima aktif ini mampu meraup untung hingga Rp 200 juta.

"Pengakuan tersangka, pendapatan yang mereka dapat selama tahun 2017 adalah berkisar Rp 50 sampai Rp 200 juta," ungkap mantan Ka Sub Dit Bin Ops Dit Pol Air Polda Kaltim pada tahun 2008, Kombes Pol. Raden Prabowo Argo Yuwono, S.IK., M.Hum.

Mantan Kapolres Nunukan Polda Kaltim pada tahun 2010, Kombes Pol. Raden Prabowo Argo Yuwono, S.IK., M.Hum. menjelaskan, apabila situs korban sudah diretas, para pelaku meminta uang secara bervariasi. Kebanyakan, papar mantan Kasat Serse Polres TTU Polda Nusra periode 1994-1995, Kombes Pol. Raden Prabwowo Argo Yuwono, S.IK., M.Hum., uang tebusan itu dipatok berkisar dari Rp 15 juta hingga Rp 25 juta persatu website.

"Pembayaran uang tebusan itu dilakukan melalui akun paypal dan bitcoin. Mereka kirim email untuk minta tembusan. Minta uang ada Rp 20, Rp 25, Rp 15 juta itu dikirim via paypal. Kalau enggak mau bayar sistem dirusak," urai mantan Kapolsek Denpasar Barat Polresta Denpasar Polda Bali pada tahun 1998, Kombes Pol. Raden Prabowo Argo Yuwono, S.IK., M.Hum.

"Para pelaku bisa mendapatkan keuntungan Rp 15 hingga 25 juta per orang," sambung mantan Kapolsek Denpasar Timur Polresta Denpasar Polda Bali pada tahun 1999, Kombes Pol. Raden Prabowo Argo Yuwono, S.IK., M.Hum.

Para hacker Surabaya Black Hat ini hanya butuh 5 menit untuk menjebol pertahanan sistem elektronik perusahaan maupun lembaga negara.

"Biasa dalam sekali meretas hanya membutukan waktu lima menit," kata AKBP Roberto Pasaribu.

pelaku menggunakan metode SQL Injection.

"Jadi metode SQL Injection itu atau bahasa codingnya dari belakang, mereka masuk ke suatu sistem keamanan lewat jalur belakang bukan dari jalur depan tentu itu harus ada izin dulu dari perusahaan yang bersangkutan," jelasnya.

Pelaku menjebol situs perusahaan maupun lembaga negara. Usai menjebol, mereka akan mengirimkan via email ke korban yang berisi jika situsnya sudah diretas. Pelaku mengancam akan menghancurkan data-data yang tersimpan.

Jika korban ingin situs kembali normal, maka pelaku akan meminta sejumlah bayaran. Sistem Paypal dan bitcoin digunakan pelaku.

"Ya ini memang (PayPal dan Bitcoin) diakui oleh seluruh hacker di dunia, jadi sudah universal penggunaan bitcoin dan paypal bagi mereka," terang AKBP Roberto Pasaribu.

"Dia akan terkoneksi dengan rekening bank, kan itu masalahnya, tetap rekening itu pada akhirnya tetep terkoneksi dengan rekening bank," sambungnya saat ditanya prihal pencairan di Indonesia.

Kelompok hacker Surabaya Black Hat ternyata masih terkait Loly Candy, grup di Facebook yang berisi pelaku paedofil. W, salah satu hacker Surabaya Black Hat merupakan tersangka kasus paedofil itu dan kini masih menjadi buruan aparat.

"Jadi terhadap barang elektronik yang dimiliki oleh pelaku, tim menemukan adanya kaitan yang erat antara pelaku Loly Candy yang perkara pornografi dan prositusi anak atas inisial W alias Snorlax dengan kelompok hacker ini," ujar Kasubdit Cyber Crime Polda Metro Jaya AKBP Roberto Pasaribu kepada wartawan di MaPolda Metro Jaya, Jl. Jenderal Sudirman Kav. No.55, RT05/RW03, Senayan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (13/3/2018).

"W masih buron bersama dua pelaku lainnya. W kalau dikasus Loly dia sudah jadi tersangka," sambungnya.

Kini, aparat masih memburu tiga pelaku, salah satunya w yang merupakan tersangka kasus paedofil Loly Candy. (mer)

See Also

Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
KPK Tetapkan Mantan Pejabat Kemendagri Tersangka Korupsi 2 Gedung IPDN
KPK Pelajari Pengajuan JC Budi Mulya
Kemendes Didorong Bentuk Sekretariat Bersama Penanganan Masalah Dana Desa
Kapolri Kukuhkan Polda DIY Jadi Tipe A
KPK Periksa Petinggi Anak Usaha PT. PLN (Persero)
KPK Periksa Corporate Communication PT. PLN (Persero)
KPK Dalami Rekaman Percakapan Idrus Marham Dan Eni Maulani Saragih
Mabes Polri Selidiki Motif Penyerangan Polsek Metro Penjaringan
Sidang Lanjutan Julius Lobiua Mendengarkan 2 Keterangan Ahli
KPK Tahan Wakil Ketua DPR RI
KPK Usut Penggunaan Uang Korupsi Bupati Lampung Selatan
Kasus TPPU Bupati Lampung Selatan, KPK Sita 16 Bidang Tanah
Kronologi OTT DPRD Kalimantan Tengah
KPK OTT Anggota DPRD Kalteng
Bupati Cirebon Setelah Diperiksa Ditahan KPK
KPK Tetapkan Bupati Cirebon Tersangka
KPK Tangkap Bupati Cirebon
KPK Perpanjang Masa Penahanan Bupati Lampung Selatan Nonaktif
Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
Keterangan Ahli Ketua DPD KAI DKI Jakarta Pada Sidang Lanjutan Julius Lobiua
TNI AL Ringkus Pelaku Narkoba Di Tanjung Ahus
TNI AL Gagalkan Penyelundupan 506 Gram Narkoba
Polisi Limpahkan Berkas Perkara Mantan Wali Kota Depok Ke Kejaksaan
Rekayasa Lalin Di KPU Saat Pengundian Nomor Urut Capres Cawapres
jQuery Slider

Comments

Archives :20182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 7.119.899 Since: 07.04.14 | 0.6366 sec