YouTube Facebook Twitter RSS
22 May 2019, 0

Hukum

Peran Pelaku Skimming ATM Bank

Sunday, 18 March 2018 | View : 253

siarjustisia.com-JAKARTA.

Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya menangkap 4 WNA pembobol ATM dengan modus skimming.

Pencurian dengan metode skimming adalah tindakan pencurian informasi kartu kredit atau debit dengan cara menyalin informasi pada strip magnetik kartu. Kasus pencurian bermodus skimming ini sempat heboh belakangan waktu di saat nasabah bank nasional kehilangan uangnya secara misterius setelah melakukan tarik tunai di ATM.

Para pelaku telah membobol puluhan bank di seluruh dunia, termasuk bank pelat merah di Indonesia.

Kurang lebih ada 64 bank yang mereka bobol. 13 di antaranya bank swasta dan pemerintah Indonesia.

"Ada 64 bank seluruh dunia yang dibobol oleh para pelaku. Termasuk salah satunya BRI dengan kerugian Rp 18 miliar," kata Kasubdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Aris Supriyono kepada awak media, Jumat (16/3/2018).

Penangkapan para pelaku dilakukan pada waktu dan tempat yang berbeda, yakni di De Park Cluster Kayu Putih Blok AB6 No.3, Serpong, Tangerang; Bohemia Village 1 No 57 Serpong; Hotel Grand Serpong, Tangerang; dan Hotel De'Max Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Selain keempat pelaku yakni CAS (WN Rumania), RK alias LM (WN Rumania), IRL (WN Rumania), dan FH (WN Hungaria), polisi juga menangkap seorang perempuan WNI bernama Milah Karmila (29 tahun) asal Bandung.

Seorang WNI terlibat dalam kasus pembobolan ATM bermodus skimming bersama 4 WNA. Perempuan bernama Milah Karmila (29) ini mengaku mengenal 4 WNA ini di sebuah tempat hiburan malam di Bali.

"Saya waktu itu cuma disuruh transfer, kenalnya di tempat hiburan di Bali," kata Milah Karmila di MaPolda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman Kav No.55, Senayan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (17/3/2018).

Milah Karmila juga mengaku tidak mengetahui tidak mengetahui aksi kejahatan yang dilakukanke empat kenalannya itu. "Sebenarnya saya nggak tahu yang kayak ginian," ujar dia seraya menutup mukanya.

Wanita kelahiran Bandung ini menambahkan, dalam membantu aksi pelaku dia tak diberikan uang. "Kalau dikasih duit enggak, cuma makan-makan gitu aja sih," timpal Milah Karmila.

Milah Karmila diciduk Polisi di salah satu hotel di Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Meski tak terlibat langsung dalam aksi skimming, Milah Karmila tetap ditangkap. Pasalnya dia ikut membantu aktivitas pelaku.

"Dia ikut membantu menukarkan uang dari rupiah ke euro," terang Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Raden Prabowo Argo Yuwono, S.IK., M.Hum. di lokasi yang sama.

Atas ulahnya, dia kini ditahan oleh Polda Metro Jaya bersama 4 pelaku lain yakni FH (27) WN Hungaria, IRL (28) WN Rumania, RK alias LM (29) WN Rumania, dan CAS (34) WN Rumania.

Keempat WNA itu datang ke Indonesia mengunakan visa turis. Untuk melancarkan aksinya, pelaku kemudian menikahi warga Indonesia dan menjadikannya sebagai penghubung. Polisi menyebut 4 WNA pembobol ATM asal Eropa Timur dengan modus skimming ini datang ke Indonesia dengan menggunakan visa turis. Kemudian, mereka menikahi warga Indonesia dan menjadikannya sebagai penghubung. Di antara mereka menikahi MK yang kemudian membantu segala kebutuhan 4 WNA tersebut di Indonesia.

"Untuk kasus skimming, bukan kali pertama, sudah berkali-kali kita tangkap. Bahwa orang asing dari Eropa Timur dengan visa kunjungan atau turis. Dia kemudian mencari gadis orang Indonesia dikawinin akhirnya jadi LO," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Raden Prabowo Argo Yuwono, S.IK., M.Hum. di MaPolda Metro Jaya, Jl. Jenderal Sudirman Kav. No.55, RT05/RW03, Senayan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (16/3/2018).

WNI yang dinikahi para pelaku itu bertugas membantu segala sesuatu kebutuhannya mulai dari mencarikan hotel hingga lokasi jaringan internasional.

Kombes Pol. Raden Prabowo Argo Yuwono, S.IK., M.Hum. menjelaskan wanita yang telah dinikahi itu membantu segala kebutuhan 4 WNA tersebut di Indonesia. "Yang bisa menjadi mencarikan hotel, kemudian mencarikan lokasi. Jaringan internasional. Kita lakukan pendalaman," imbuh dia.

Para pelaku skimming membagi tugas operasional membobol 64 bank menjadi tiga kelompok saat menjalankan aksi. Polisi mengatakan empat WNA pelaku skimming membagi tugas operasional membobol 64 bank menjadi tiga kelompok saat menjalankan aksi. Ketiga kelompok itu adalah penyedia alat, operasional, dan pengambil uang.

"Ada tiga kelompok berbeda dalam melaksanakan pengambilan uang ini dengan metodologi skimming. Yang pertama adalah kelompok penyedia alat, di mana mereka sudah menyediakan alat-alat mulai dari software-nya, hardware, serta kamera. Kemudian melalui alat skimming dimasukkan. Dan alat ini berasal dari luar negeri dan dimasukkan ke dalam negeri," kata Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol. Dr. Nico Afinta Karo-karo, S.IK., S.H., M.H. di MaPolda Metro Jaya, Jl. Jenderal Sudirman Kav. No.55, RT05/RW03, Senayan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Kelompok kedua adalah kelompok operasional. Kelompok ini bertugas memasang sejumlah alat di ATM-ATM yang dianggap strategis untuk dilakukan skimmming. Kelompok ini biasanya menyasar ATM yang sepi atau jauh dari keramaian dan tidak ada penjaga keamanan yang berada di sekitar ATM.

"Lalu yang kedua adalah kelompok operasional kalau ini adalah yang memasang. Kemudian melihat beberapa titik-titik ATM yang kira-kira bisa dipasangi dengan aman. Dan mereka juga melihat situasi jam dengan menentukan sasaran ini akhirnya alat ini dipasang," beber Kombes Pol. Dr. Nico Afinta Karo-karo, S.IK., S.H., M.H.

Kemudian kelompok ketiga adalah kelompok pengambil uang. Kelompok ini bertugas mengambil uang setelah mendapatkan data dari alat-alat yang ditempelkan pada ATM. Uang dari kejahatan ini akan diambil tunai sebagian, ditransfer, dan dipindahkan ke akun bitcoin pelaku.

"Kemudian yang ketiga adalah kelompok yang mengambil uang. Kemudian mentransfer di mana kelompok ketiga ini mereka setelah mendapatkan data yang terambil dari ATM tertentu yang sudah dipasang alat kemudian mereka memindahkan ke kartu-kartu," papar Kombes Pol. Dr. Nico Afinta Karo-karo, S.IK., S.H., M.H.

Pelaku FH memiliki peran mensinkronkan data pin ATM dan nasabah. IRL dan LM memasang alat skimming. Lalu CAS membantu FH dan MK memiliki peran menukarkan uang rupiah ke euro.

Polisi juga mengatakan para pelaku skimming mengkonversi uang hasil pembobolan ATM dalam bentuk uang virtual. Untuk itu, polisi akan bekerja sama dengan Bank Indonesia untuk menarik uang korban yang dimasukkan ke akun Bitcoin pelaku.

"Tim masih bekerja. Kami mengejar ke mana saja uangnya. Yang jelas, ada uang Rp 70 juta saat diamankan. Dan kami menduga ada yang masuk ke Bitcoin. Sistem di Bitcoin dengan perbankan berbeda. Kami bekerja sama dengan BI bagaimana menarik uang hasil kejahatan dari Bitcoin. Perlu kerja sama," ucap Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol. Dr. Nico Afinta Karo-karo, S.IK., S.H., M.H. di MaPolda Metro Jaya, Jl. Jenderal Sudirman Kav. No.55, RT05/RW03, Senayan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Para pelaku ditangkap pada waktu dan tempat yang berbeda, yakni di tiga lokasi di Tangerang, yaitu di De Park Cluster Kayu Putih Blok AB6 No 3 Serpong, Bohemia Village 1 No 57 Serpong, dan Hotel Grand Serpong. Dan satu lokasi lagi di Hotel De'Max, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Dari tangan pelaku, Polisi mengamankan sejumlah barang bukti berupa 1.484 kartu ATM, sejumlah alat skimming, 6 buku paspor, 1 laptop, sejumlah alat deep skimmer, 6 spy cam, 6 kartu memori, dan 5 hard disk.

Para pelaku dijerat dengan tindak pidana pemalsuan sesuai dengan Pasal 263 dan 363 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman penjara maksimal 20 tahun. (det/jos)

See Also

Densus 88 Antiteror Tangkap 29 Terduga Teroris Berencana Ledakkan Bom
Sepanjang Tahun 2019, Polri Tangkap 68 Terduga Teroris Jaringan JAD
KPK Geledah Kantor Ditjen PSDKP
KPK Geledah Kantor PT. Daya Radar Utama
KPK Lelang Rumah Mewah Mantan Ketua DPRD Dan Bupati Bangkalan
Dukun Cabul Di Garut Diancam 15 Tahun Bui
Kalapas Dan 13 Petugas Lapas Nusakambangan Dicopot
Ketua Umum AKKMI Pertanyakan KSOP Mengutip PNBP
Keberadaan Lembaga KSOP Dinilai Masih Perlu Payung Hukum
AKKMI Soroti Legalitas Kantor Syahbandar Dan Otoritas Pelabuhan
AKKMI Dan APDHI Selenggarakan Seminar Nasional Pertanyakan Keamanan & Keselamatan Pelayaran
Syahbandar Miliki Peran Penting Dalam Mendukung Keamanan Dan Keselamatan Pelayaran
Pembentukan Syahbandar Utama & KSOP Disoroti
Legalitas KSOP Di Seluruh Pelabuhan Dipertanyakan
KPK Panggil Setya Novanto Sebagai Saksi
KPK Periksa Staf Khusus Menteri Agama
KPK Periksa Direktur SDM Adhi Karya
KPK Tetapkan Mantan Sekda Malang Sebagai Tersangka
Mantan Sekda Malang Ditahan KPK
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
KPK Periksa GM Adhi Karya
KPK Tetapkan Direktur PT. Krakatau Steel Tersangka Suap
KPK Amankan 6 Orang Dalam OTT Krakatau Steel
KPK OTT Direktur Produksi Dan Teknologi PT. Krakatau Steel
KPK Tetapkan Bupati Mesuji Sebagai Tersangka
jQuery Slider

Comments

Archives :201920182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 7.831.550 Since: 07.04.14 | 0.671 sec