YouTube Facebook Twitter RSS
19 Aug 2019, 0

Internasional

Turki Adakan Pemilu Hari Ini

Sunday, 24 June 2018 | View : 201

siarjustisia.com-ANKARA.

Turki pada hari ini akan mengadakan pemilihan umum (pemilu) presidensial dan parlementer. Sebanyak 55 juta pemilih, plus 3 juta pemilih di luar negeri masuk dalam daftar pemilih.

Pada April lalu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan meminta diadakan pemilu mendadak (snap election) dengan harapan bisa mengonsolidasikan pemerintahannya karena pada saat itu elektabilitasnya tinggi. Namun, hasil survei terkini menunjukkan bahwa pemilu bakal berlangsung ketat.

Untuk pertama kalinya, kelompok oposisi yang tercerai-berai yang terdiri dari kelompok sekuler, nasionalis, Islamis, dan Kurdi lebih bersatu. Beberapa partai bahkan berkoalisi. Kondisi ekonomi yang tadinya merupakan keberhasilan Recep Tayyip Erdogan, kini tampak goyah. Pertumbuhan ekonomi melambat dan mata uang terdepresiasi 25 persen.

Menurut survei Gezici yang dipublikasikan Kamis 14 Juni lalu, pemilu bakal berjalan dua putaran. Partai berkuasa AK juga diperkirakan bakal kehilangan kursi mayoritas di parlemen.

Survei Gezici yang melibatkan 2.814 responden 2-3 Juni lalu, menunjukkan Presiden Recep Tayyip Erdogan berpotensi merebut 47,1 persen suara di ronde pertama. Jika diperlukan, putaran kedua akan dilakukan 8 Juli. Koalisi AK dengan partai nasionalis MHP diperkirakan merebut 48,7 persen dalam pemilihan parlemen yang memperebutkan 600 kursi. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan masih berpeluang besar menang, tetapi tidak akan mudah.

Sebanyak empat partai kelompok oposisi berkoalisi untuk pemilu parlementer, di antaranya Partai Baik pimpinan Meral Aksener yang berhaluan nasionalis. Oposisi utama adalah CHP, partai sekuler yang dipimpin Muharrem Ince. Dia meminta dukungan kelompok Kurdi dengan mengunjungi pimpinan partai HDP, Selahattin Demirtas, kandidat pro-Kurdi yang dipenjara. Meski CHP tidak berkoalisi dengan HDP, tetapi dukungan HDP merupakan modal penting jika pemilu memasuki putaran kedua.

Jika Recep Tayyip Erdogan menang, maka dia akan lebih berkuasa dari sebelumnya. Sistem presidensial yang baru akan menghapuskan jabatan perdana menteri dan memberikan kewenangan kepada presiden untuk membubarkan parlemen, menyatakan keadaan darurat, dan menambah jumlah juri yang dapat ditunjuk. (nbc)

See Also

Presiden AS Harap Presiden China Temui Pendemo Hong Kong
Hong Kong Menghangat
Uskup Melbourne Peter Comensoli Pilih Masuk Penjara Dibanding Bocorkan Pengakuan Dosa Jemaat
Survei Sebut Advokat Australia Dan Selandia Baru Alami Kecemasan Dan Depresi
Jerman Bersiap Dihantam Gelombang Panas
Perempuan Lempar Telur Ke PM Australia Dihukum Kerja Sosial 18 Bulan
Kelompok Triad Hong Kong Diduga Terlibat Penyerbuan Stasiun MRT Yuen Long
Boris Johnson Terpilih Sebagai PM Inggris Baru
Menlu Inggris Ancam Iran
Michelle Obama Terpilih Sebagai Wanita Paling Dikagumi Di Dunia
Mantan PM Australia Bob Hawke Wafat
Filipina Tarik Dubes Dan Konsul Dari Kanada
17 Tentara Niger Tewas Diserang Teroris
Laut China Selatan Tegang
Presiden AS Pecat Direktur Dinas Rahasia
Kapal China Dekati Pulau Filipina
Pangkalan Militer Yaman Diserang Gerakan Houthi
Penutupan Pelayanan Pemerintah AS
Ketua Bank Sentral AS Ingatkan Dampak Negatif Penutupan Berkepanjangan Pemerintah
Raja Malaysia Mengundurkan Diri
Thailand Dilanda Badai Pabuk
Warga Kelas Menengah Australia Akan Kian Sulit Dapat Kredit Perumahan
Donald Trump Kunjungi Militer AS Di Irak
Kota Surabaya Raih Guangzhou Awards 2018
Dubes Indonesia Untuk Arab Saudi Benarkan Rilis Soal Rizieq Shihab Darinya
jQuery Slider

Comments

Archives :201920182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 8.261.814 Since: 07.04.14 | 0.6069 sec