YouTube Facebook Twitter RSS
21 Jul 2019, 0

Internasional

Presiden AS Batalkan Perjanjian Nuklir 1987 Dengan Rusia

Sunday, 21 October 2018 | View : 113

siarjustisia.com-NEVADA.

Presiden Amerika Serikat (AS) ke-45, Donald John Trump mengatakan negaranya akan membatalkan kesepakatan pembatasan senjata nuklir jarak menengah dengan Rusia yang ditandatangani pada 1987.

Dalam pernyataannya di Nevada, Sabtu (20/10/2018) waktu setempat, Presiden AS Donald Trump berkata: "Rusia sudah melanggar kesepakatan itu. Mereka telah melanggarnya selama bertahun-tahun dan saya tidak tahu kenapa Presiden (Barack) Obama tidak bernegosiasi atau menarik diri."

"Kami tidak akan membiarkan mereka melanggar kesepakatan dan membuat senjata (nuklir) sementara kami tidak diperbolehkan. Kami adalah pihak yang patuh pada perjanjian itu dan kami melaksanakannya, tetapi Rusia sayangnya belum mematuhinya, jadi kami akan membatalkan perjanjian itu, kami akan menarik diri," kata Presiden Donald Trump usai menghadiri kampanye di Nevada.

Perjanjian yang akan dibatalkan itu bernama Intermediate-range Nuclear Forces (INF) Teaty.

Sebelumnya, penasihat masalah keamanan Presiden AS Donald Trump, John Bolton, mendesak agar Donald Trump menarik diri dari perjanjian INF karena Rusia tidak patuh pada larangan memproduksi senjata baru.

John Bolton disebut-sebut juga menghalangi AS hadir dalam perundingan untuk memperpanjang kesepakatan lain dengan Rusia yang disebut New Start, yang ditandatangani pada 2010 dan akan habis masa berlakunya pada 2021.

Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton dikirim ke Moskwa untuk melakukan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan Sekretaris Dewan Keamanan Rusia Nikolai Patrushev.

Dalam pernyataannya usai pertemuan, John Bolton membantah tuduhan Rusia bahwa AS menggunakan taktik mundur dari traktat tersebut untuk mengancam Rusia.

AS belum mengambil keputusan apa pun untuk menempatkan rudal-rudal di Eropa yang mengarah ke Moskwa ketika Traktat INF jadi dibatalkan nantinya, kata John Bolton seperti dikutip kantor berita Rusia, RIA.

John Bolton mengatakan Rusia melanggar komitmennya sendiri dalam traktat itu. Dan betapa pun, kata dia, traktat bilateral tersebut sudah tidak sesuai lagi dengan realitas zaman sekarang.

Alasannya, tidak seperti era Perang Dingin, banyak negara sekarang sudah mengembangkan rudal nuklir jarak menengah. Negara-negara itu termasuk China dan Korea Utara, paparnya.

“Langkah berikutnya adalah konsultasi dengan mitra-mitra kami di Eropa dan Asia,” kata John Bolton.

Sementara itu, Sekretaris Dewan Keamanan Rusia menegaskan pendapat negaranya bahwa Traktat INF harus dipertahankan, dan meninggalkan traktat itu akan mengingkari kesepakatan pengendalian persenjataan di dunia.

“Pihak Rusia menegaskan kesiapan mereka untuk bekerja sama demi menghilangkan keluh kesah kedua belah pihak terkait implementasi perjanjian itu,” kata Nikolai Patrushev.

Presiden AS Donald Trump juga menyinggung China dalam keputusannya membatalkan INF tersebut.

“Kecuali kalau Rusia datang ke kami, China datang ke kami, mereka semua datang dan berkata, ‘Ayolah kita menjadi cerdas dan jangan sampai satu pun dari kita yang membuat senjata-senjata itu'," kata Presiden Donald Trump.

“Namun, kalau Rusia tetap membuat (senjata nuklir) demikian juga China, sementara kami patuh pada perjanjian, itu tidak bisa diterima. Kami punya banyak uang untuk dipakai oleh militer kami."

“Rusia belum patuh pada perjanjian itu, jadi kami akan membatalkannya dan kami juga akan mengembangkan senjata. Kalau kami bersikap cerdas, dan yang lain juga sama, lalu berkata 'ayo jangan buat lagi senjata nuklir mengerikan', maka saya akan sangat bahagia."

“Namun, kalau ada yang melanggar perjanjian, maka kami tidak mau menjadi satu-satunya yang patuh pada perjanjian." (theguardian/ria)

See Also

Mantan PM Australia Bob Hawke Wafat
Filipina Tarik Dubes Dan Konsul Dari Kanada
17 Tentara Niger Tewas Diserang Teroris
Laut China Selatan Tegang
Presiden AS Pecat Direktur Dinas Rahasia
Kapal China Dekati Pulau Filipina
Pangkalan Militer Yaman Diserang Gerakan Houthi
Penutupan Pelayanan Pemerintah AS
Ketua Bank Sentral AS Ingatkan Dampak Negatif Penutupan Berkepanjangan Pemerintah
Raja Malaysia Mengundurkan Diri
Thailand Dilanda Badai Pabuk
Warga Kelas Menengah Australia Akan Kian Sulit Dapat Kredit Perumahan
Donald Trump Kunjungi Militer AS Di Irak
Kota Surabaya Raih Guangzhou Awards 2018
Dubes Indonesia Untuk Arab Saudi Benarkan Rilis Soal Rizieq Shihab Darinya
Dunia Kembali Dihantui Era Perang Dingin
2 Negara Eropa Kecam Rencana Amerika Serikat Keluar Dari Perjanjian INF
Rusia Tuding Amerika Serikat Bermain Kasar
Terlibat Skandal Gratifikasi Seks, Pejabat Imigrasi Singapura Diadili
Teleskop NASA Temukan 2 Planet Baru
Najib Razak Ditahan SPRM
Mantan PM Malaysia Ditahan
Najib Razak Ditahan KPK Malaysia
3 Kapal Perang Jepang Bersandar Di Pelabuhan Tanjung Priok
NASA Klaim Planet Proxima Centauri B Bisa Dihuni
jQuery Slider

Comments

Archives :201920182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 8.114.825 Since: 07.04.14 | 0.5588 sec