YouTube Facebook Twitter RSS
21 Nov 2019, 0

Internasional

Presiden AS Batalkan Perjanjian Nuklir 1987 Dengan Rusia

Sunday, 21 October 2018 | View : 296

siarjustisia.com-NEVADA.

Presiden Amerika Serikat (AS) ke-45, Donald John Trump mengatakan negaranya akan membatalkan kesepakatan pembatasan senjata nuklir jarak menengah dengan Rusia yang ditandatangani pada 1987.

Dalam pernyataannya di Nevada, Sabtu (20/10/2018) waktu setempat, Presiden AS Donald Trump berkata: "Rusia sudah melanggar kesepakatan itu. Mereka telah melanggarnya selama bertahun-tahun dan saya tidak tahu kenapa Presiden (Barack) Obama tidak bernegosiasi atau menarik diri."

"Kami tidak akan membiarkan mereka melanggar kesepakatan dan membuat senjata (nuklir) sementara kami tidak diperbolehkan. Kami adalah pihak yang patuh pada perjanjian itu dan kami melaksanakannya, tetapi Rusia sayangnya belum mematuhinya, jadi kami akan membatalkan perjanjian itu, kami akan menarik diri," kata Presiden Donald Trump usai menghadiri kampanye di Nevada.

Perjanjian yang akan dibatalkan itu bernama Intermediate-range Nuclear Forces (INF) Teaty.

Sebelumnya, penasihat masalah keamanan Presiden AS Donald Trump, John Bolton, mendesak agar Donald Trump menarik diri dari perjanjian INF karena Rusia tidak patuh pada larangan memproduksi senjata baru.

John Bolton disebut-sebut juga menghalangi AS hadir dalam perundingan untuk memperpanjang kesepakatan lain dengan Rusia yang disebut New Start, yang ditandatangani pada 2010 dan akan habis masa berlakunya pada 2021.

Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton dikirim ke Moskwa untuk melakukan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan Sekretaris Dewan Keamanan Rusia Nikolai Patrushev.

Dalam pernyataannya usai pertemuan, John Bolton membantah tuduhan Rusia bahwa AS menggunakan taktik mundur dari traktat tersebut untuk mengancam Rusia.

AS belum mengambil keputusan apa pun untuk menempatkan rudal-rudal di Eropa yang mengarah ke Moskwa ketika Traktat INF jadi dibatalkan nantinya, kata John Bolton seperti dikutip kantor berita Rusia, RIA.

John Bolton mengatakan Rusia melanggar komitmennya sendiri dalam traktat itu. Dan betapa pun, kata dia, traktat bilateral tersebut sudah tidak sesuai lagi dengan realitas zaman sekarang.

Alasannya, tidak seperti era Perang Dingin, banyak negara sekarang sudah mengembangkan rudal nuklir jarak menengah. Negara-negara itu termasuk China dan Korea Utara, paparnya.

“Langkah berikutnya adalah konsultasi dengan mitra-mitra kami di Eropa dan Asia,” kata John Bolton.

Sementara itu, Sekretaris Dewan Keamanan Rusia menegaskan pendapat negaranya bahwa Traktat INF harus dipertahankan, dan meninggalkan traktat itu akan mengingkari kesepakatan pengendalian persenjataan di dunia.

“Pihak Rusia menegaskan kesiapan mereka untuk bekerja sama demi menghilangkan keluh kesah kedua belah pihak terkait implementasi perjanjian itu,” kata Nikolai Patrushev.

Presiden AS Donald Trump juga menyinggung China dalam keputusannya membatalkan INF tersebut.

“Kecuali kalau Rusia datang ke kami, China datang ke kami, mereka semua datang dan berkata, ‘Ayolah kita menjadi cerdas dan jangan sampai satu pun dari kita yang membuat senjata-senjata itu'," kata Presiden Donald Trump.

“Namun, kalau Rusia tetap membuat (senjata nuklir) demikian juga China, sementara kami patuh pada perjanjian, itu tidak bisa diterima. Kami punya banyak uang untuk dipakai oleh militer kami."

“Rusia belum patuh pada perjanjian itu, jadi kami akan membatalkannya dan kami juga akan mengembangkan senjata. Kalau kami bersikap cerdas, dan yang lain juga sama, lalu berkata 'ayo jangan buat lagi senjata nuklir mengerikan', maka saya akan sangat bahagia."

“Namun, kalau ada yang melanggar perjanjian, maka kami tidak mau menjadi satu-satunya yang patuh pada perjanjian." (theguardian/ria)

See Also

Turki Pulangkan Militan ISIS Asing Ke Negara Asalnya
Turki Mulai Pulangkan Militan ISIS Asing
Presiden Bolivia Mengundurkan Diri
Jerman Peringati 30 Tahun Jatuhnya Tembok Berlin
Kartel Narkoba Meksiko Bunuh 9 Orang
Negara Bagian Texas Suntik Mati Mantan Bos Geng Supremasi Kulit Putih
Presiden Turki Sebut Istri Abu Bakr Al-Baghdadi Tertangkap
Donald Trump Serukan Perang Lawan Kartel Narkoba
Amerika Serikat Mulai Mundur Secara Resmi Dari Perjanjian Iklim Paris
Negara Bagian South Dakota Suntik Mati Napi Kasus Pembunuhan
Otoritas Turki Umumkan Penangkapan Saudara Perempuan Abu Bakr Al-Baghdadi
39 Jenazah Ditemukan Dalam Truk Dekat London
Pemerintah China Akan Copot Pemimpin Hong Kong Carrie Lam
Gempuran Turki Mengakibatkan 2.300 Orang Mengungsi Dari Suriah Ke Irak
Pria Kurdi Bakar Diri Di Depan Markas Utama Badan Pengungsi PBB
5 Perampok Indonesia Dibekuk Usai Beraksi Di Malaysia
Turki Dan Rusia Sepakati Penarikan Mundur Milisi Kurdi YPG
Pengadilan Singapura Dakwa 3 PRT Indonesia Mendanai Terorisme
PM Kanada Bentuk Pemerintahan Baru
Inggris Tidak Ingin Ada Penundaan Lagi Brexit
Pasukan AS Tinggalkan Suriah Menuju Irak
WHO Sebut Konsumsi Alkohol Rusia Turun 43
Akademisi Asing Ditahan Otoritas Iran
Alumnus Universitas Top Australia Peroleh Gaji Lebih Kecil
Permintaan Suaka Australia Lewat Udara Capai Rekor Tertinggi
jQuery Slider

Comments

Archives :201920182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 8.761.630 Since: 07.04.14 | 0.6358 sec