YouTube Facebook Twitter RSS
16 Jun 2019, 0

Internasional

Dunia Kembali Dihantui Era Perang Dingin

Tuesday, 23 October 2018 | View : 137

siarjustisia.com-MOSKWA.

Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) ke-45, Donald John Trump untuk secara sepihak menarik diri dari perjanjian pembatasan senjata nuklir dengan Rusia bisa memicu tindakan balasan dari negara rival tersebut, dan mengancam kembalinya era Perang Dingin seperti dulu.

Pasca-Perang Dunia II negara-negara besar di dunia terpecah menjadi Blok Barat pimpinan Amerika Serikat dan Blok Timur yang dikomandani Uni Soviet. 

Dua negara adidaya tersebut berlomba-lomba menciptakan senjata termasuk nuklir, dengan harapan bisa menggertak pihak lawan sehingga tidak coba-coba berani menyerang salah satu anggota blok, atau disebut sebagai kemampuan deterrence. Saling gertak tanpa konfrontasi senjata itulah yang disebut Perang Dingin.

Pada 1987, upaya mengakhiri Perang Dingin dilakukan dengan perjanjian penghapusan senjata nuklir jarak menengah atau disebut Intermediate-Range Nuclear Forces (INF) Treaty.

Pada Sabtu (20/10/2018), Presiden AS Donald John Trump mengatakan Rusia sudah berulangkali melanggar perjanjian itu sehingga AS akan membatalkan perjanjian secara sepihak.

Dua hari kemudian, Moskwa merespons dengan mengatakan rencana Presiden AS Donald Trump itu bisa membahayakan dunia.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan jika AS menarik diri dari Traktat INF, maka Rusia akan mengambil langkah-langkah militer yang diperlukan untuk "menyeimbangkan" kekuatan.

“Meninggalkan pasal-pasal dalam Traktat INF akan memaksa Rusia untuk mengambil tindakan demi keamanannya sendiri, karena apa arti dari meninggalkan Traktat INF itu?" kata Dmitry Peskov seperti dikutip Reuters.

"Artinya, Amerika Serikat tidak lagi diam-diam, tetapi sudah secara terbuka mulai mengembangkan sistem (persenjataan) ini di masa depan, dan kalau sistem ini sedang dibangun, maka negara-negara lain perlu tindakan, dalam kasus ini Rusia, untuk memulihkan keseimbangan dalam perkara ini."

AS menuduh Rusia melanggar traktat tersebut dengan mengembangkan dan mengerahkan sistem peluncuran rudal di darat sehingga membuatnya mampu melancarkan serangan nuklir ke Eropa dalam waktu pendek. Rusia membantah tuduhan tersebut.

Presiden AS Donald Trump mengatakan AS akan mengembangkan senjata yang ekuivalen, kecuali jika Rusia dan China berhenti melakukannya. China bukan pihak yang tercantum dalam Traktat INF 1987. China mengatakan menarik diri secara sepihak dari Traktat INF adalah tindakan yang keliru.

Traktat ini ditandatangani pada 1987 oleh Presiden AS waktu itu Ronald Reagan dan pemimpin reformis Uni Soviet Mikhail Gorbachev. Isinya mengharuskan dihapusnya semua jenis senjata nuklir jarak 500-5.500 km yang diluncurkan dari darat, dan rudal konvensional yang dimiliki AS dan Uni Soviet di benua Eropa.

Uni Soviet kemudian menarik ratusan rudal SS-20 dengan hulu ledak nuklir, banyak di antaranya yang sebelumnya diarahkan ke Eropa.

Uni Eropa menyebut Traktat INF itu sebagai "pilar arsitektur keamanan Eropa" karena ditindaklanjuti dengan penghancuran sekitar 3.000 hulu ledak nuklir dan konvensional. (reuters)

See Also

Mantan PM Australia Bob Hawke Wafat
Filipina Tarik Dubes Dan Konsul Dari Kanada
17 Tentara Niger Tewas Diserang Teroris
Laut China Selatan Tegang
Presiden AS Pecat Direktur Dinas Rahasia
Kapal China Dekati Pulau Filipina
Pangkalan Militer Yaman Diserang Gerakan Houthi
Penutupan Pelayanan Pemerintah AS
Ketua Bank Sentral AS Ingatkan Dampak Negatif Penutupan Berkepanjangan Pemerintah
Raja Malaysia Mengundurkan Diri
Thailand Dilanda Badai Pabuk
Warga Kelas Menengah Australia Akan Kian Sulit Dapat Kredit Perumahan
Donald Trump Kunjungi Militer AS Di Irak
Kota Surabaya Raih Guangzhou Awards 2018
Dubes Indonesia Untuk Arab Saudi Benarkan Rilis Soal Rizieq Shihab Darinya
2 Negara Eropa Kecam Rencana Amerika Serikat Keluar Dari Perjanjian INF
Rusia Tuding Amerika Serikat Bermain Kasar
Presiden AS Batalkan Perjanjian Nuklir 1987 Dengan Rusia
Terlibat Skandal Gratifikasi Seks, Pejabat Imigrasi Singapura Diadili
Teleskop NASA Temukan 2 Planet Baru
Najib Razak Ditahan SPRM
Mantan PM Malaysia Ditahan
Najib Razak Ditahan KPK Malaysia
3 Kapal Perang Jepang Bersandar Di Pelabuhan Tanjung Priok
NASA Klaim Planet Proxima Centauri B Bisa Dihuni
jQuery Slider

Comments

Archives :201920182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 7.979.366 Since: 07.04.14 | 0.564 sec