YouTube Facebook Twitter RSS
18 Nov 2018, 0

Internasional

Arab Saudi Eksekusi Mati TKI Tuti Tursilawati

Tuesday, 30 October 2018 | View : 29
Tags : Arab Saudi, Tki

siarjustisia.com-MEKAH.

Masih hangat dalam ingatan ketika Ruyati binti Satubi yang dipancung di Arab Saudi. Kini satu lagi Tenaga Kerja Wanita (TKW) dari Indonesia terancam hukuman serupa. Dia adalah Tuti Tursilawati (39 tahun), TKW asal Majalengka, Provinsi Jawa Barat (Jabar). 

Kerajaan Arab Saudi mengeksekusi mati Tuti Tursilawati. Tuti Tursilawati divonis mati gara-gara membunuh majikannya. Tuti Tursilawati merupakan TKI asal Majalengka, Jawa Barat.

"Ya betul. Tunggu jam 3 sore ada konferensi pers," ujar Kepala BNP2TKI Nusron Wahid saat dikonfirmasi, Selasa (30/10/2018). 

Tuti Tursilawati dieksekusi pada hari Senin (29/10/2018) waktu setempat. Pihak Kemlu dan BNP2TKI tengah menuju rumah keluarga almarhumah.

"Sekarang staf Kemlu dan BNP2TKI menuju kediaman almarhumah," jelas Nusron Wahid.

Sebelum divonis dan dieksekusi mati, Tuti diketahui memukulkan sebatang kayu ke majikannya, seorang pria tua bernama Suud Malhaq Al Utibi, di rumah majikannya, yakni di kota Thaif yang berjarak 87 kilometer sebelah Timur Kota Mekah, pada 11 Mei 2010. Melihat majikannya terkapar karena pukulannya, Tuti berusaha kabur dari rumah.

Selanjutnya, Tuti bertemu sekelompok pria, sekitar sembilan orang. Awalnya, pria-pria itu menjanjikan bantuan membantu perjalanan Tuti ke Mekah, lepas dari rumah majikannya di Thaif. Namun ternyata Tuti dibawa ke rumah kosong, lalu mengalami pelecehan seksual. Tuti disebut digilir 9 pria durjana itu.

Sebelumnya, Ibu Tuti Tursilawati, Iti Sarniti, menceritakan bahwa Tuti bukan membunuh majikannya, namun membela diri.

Tuti Tursilawati (39 tahun), tenaga kerja wanita asal Jawa Barat divonis mati oleh penegak hukum Arab Saudi karena membunuh majikannya. Saat coba melarikan diri dari rumah majikan, Tuti justru diperkosa oleh sembilan orang. 

Ini terungkap di acara Mata Najwa yang disiarkan langsung di Trans 7, Rabu (28/3/2018). 

Acara ini menghadirkan ibu dari Tuti, yakni Iti Sarniti. Itu juga pernah bekerja di Arab Saudi, berangkat pada 2010 bersama Tuti. Keduanya bekerja pada majikan yang berbeda. Ada pula Ketua Umum Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), Hariyanto.

"Ada cerita yang sangat tragis," kata Hariyanto.

Tuti diketahui memukulkan sebatang kayu ke majikannya, seorang pria tua bernama Suud Malhaq Al Utibi, di rumah majikannya itu yakni di kota Thaif, pada 11 Mei 2010. Melihat majikannya terkapar karena pukulannya, Tuti berusaha kabur dari rumah.

"Intinya Tuti ini ingin melarikan diri karena saking ketakutan lihat neneknya (kakek -red) sudah tertampar di sebuah lantai, kemudian dia melarikan diri," kata Hariyanto. 

Selanjutnya, Tuti bertemu sekelompok pria, sekitar sembilan orang. Awalnya, pria-pria itu menjanjikan bantuan membantu perjalanan Tuti ke Mekah, lepas dari rumah majikannya di Thaif. Namun ternyata Tuti dibawa ke rumah kosong.

"Si Tuti ini mengalami pelecehan seksual. Dia digilir sembilan orang sampai pagi. Ini yang membuat kami prihatin sekali," kata Hariyanto.

SBMI mempertanyakan apakah sembilan orang pria itu diadili atau tidak. Selain memperkosa Tuti, barang Tuti juga diambil oleh mereka. Tuti akhirnya sampai di Mekkah pada saat itu.

"Kronologi ini disampaikan bukan hanya dari satu sumber, tapi beberapa pihak sudah (menyatakan) valid soal adanya pemerkosaan itu," ujar Hariyanto.

Iti Sarniti ternyata tidak tahu peristiwa pemerkosaan yang menimpa putrinya itu. Sambil berlinang air mata, Iti menyatakan Tuti tak pernah bercerita soal ini.

"Tuti enggak pernah ngomong sama saya. Ya mungkin sesama perempuan, Ibu juga merasakan. Saya juga enggak nanya, Tuti-nya juga ngak ngomong sama saya," kata Iti.

Tuti divonis mati gara-gara membunuh majikannya. Iti menceritakan bahwa Tuti bukan membunuh majikannya, namun membela diri. 

Tuti dibujuk untuk berhubungan badan oleh majikannya yang sudah tua dan duduk di kursi roda. Suatu hari, Tuti jengkel dan mendorong kursi roda yang dipakai kakek itu. Si kakek terjatuh.

"Tuti itu bela diri kan, Bu. Ya cuma katanya didorong kursinya, terus jatuh, dibawa ke rumah sakit, tiga hari baru meninggal. Apa itu namanya pembunuhan?" kata Iti yang sudah kembali ke Majalengka setelah menjadi TKI di Saudi.

Sebelumnya, Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Jumhur Hidayat mengaku pihaknya sedang mengupayakan pembebasan Tuti. "Pemerintah akan melakukan penanganan dan mengambil langkah-langkah keras untuk melakukan pembelaan terhadap nasib Tuti di Arab Saudi," ujar Jumhur Hidayat, dalam rilis yang diterima awak media, Senin (10/10/2011).

Jumhur Hidayat mengatakan, pihaknya telah bertemu dengan keluarga Tuti, yang diwakili ayahnya langsung, H. Ali Warjuki. Dalam pertemuan itu, keluarga Tuti Tursilawati memohon kepada pemerintah untuk memberi perhatian khusus atas kasus yang menimpa Tuti termasuk melakukan pembelaan secara maksimal.

BNP2TKI, lanjut Jumhur Hidayat, juga telah berkoordinasi dan mendapatkan informasi perkembangan kasus yang dihadapi Tuti dari Konsulat Jenderal RI di Jeddah dan dari Humphrey Djemat selaku juru bicara Satuan Tugas WNI TKI Terancam Hukuman Mati di Luar Negeri.

Jumhur Hidayat mengatakan melalui pengacaranya keluarga korban telah mengajukan permohonan kepada otoritas pengadilan di Arab Saudi agar dilaksanakan hukuman mati (qishash) terhadap Tuti Tursilawati setelah berakhirnya musim haji tahun 2011 ini. Berikut kronologis kejadian berdasarkan data yang dihimpun BNP2TKI:

5 September 2009

Tuti Tursilawati diberangkatkan ke Arab Saudi oleh PT.  Arunda Bayu dengan nomor paspor AN 169210. Ia dipekerjakan keluarga majikan, Suud Malhaq Al Utaibi di Kota Thaif, Arab Saudi.

11 Mei 2010
Tuti Tursilawati diketahui melakukan pembunuhan terhadap Suud Malhaq Al Utibi dengan cara memukulkan sebatang kayu. Tuti mengaku terpaksa, sebab majikannya diduga akan melecehkannya.

Setelah majikannya tewas, Tuti kemudian kabur, membawa uang senilai 31.500 Real Saudi berikut satu buah jam tangan dari rumah keluarga majikannya itu.

18 Mei 2010- sekarang

Tuti lantas ditangkap polisi. Dalam pemeriksaan oleh aparat berwenang di hadapan penyidik badan investigasi kepolisan setempat yang didampingi pihak Konsulat Jenderal RI Jeddah, Tuti mengakui seluruh perbuatannya. 

"Pelaku juga ditahan di penjara Kota Thaif sampai saat ini," kata Jumhur Hidayat.

Ia menambahkan, proses peradilan terkait kasus Tuti Tursilawati pun telah berjalan hingga akhir di samping melibatkan peran Lembaga Ishlah wal'afwu (lembaga perdamaian dan pemaafan) sebagaimana lazimnya berlaku di Arab Saudi untuk mengupayakan perdamaian dengan keluarga korban.

"Namun demikian sejauh ini keluarga korban belum dapat memaafkan pelaku serta menolak digantikan dengan pembayaran denda dalam bentuk diyat," jelasnya.

See Also

Dubes Indonesia Untuk Arab Saudi Benarkan Rilis Soal Rizieq Shihab Darinya
Dunia Kembali Dihantui Era Perang Dingin
2 Negara Eropa Kecam Rencana Amerika Serikat Keluar Dari Perjanjian INF
Rusia Tuding Amerika Serikat Bermain Kasar
Presiden AS Batalkan Perjanjian Nuklir 1987 Dengan Rusia
Terlibat Skandal Gratifikasi Seks, Pejabat Imigrasi Singapura Diadili
Teleskop NASA Temukan 2 Planet Baru
Najib Razak Ditahan SPRM
Mantan PM Malaysia Ditahan
Najib Razak Ditahan KPK Malaysia
3 Kapal Perang Jepang Bersandar Di Pelabuhan Tanjung Priok
NASA Klaim Planet Proxima Centauri B Bisa Dihuni
Harun Yahya Tuduh Penangkapan Dirinya Konspirasi Inggris
Harun Yahya Ditangkap Kepolisian Turki
Eks Navy Seal Tewas Dalam Evakuasi Tim Sepak Bola Dari Gua Thailan
Pelaku Penembakan Brutal Staf Capital Gazette Ditangkap
Penembakan Staf Koran Capital Gazette
Seorang Ayah Tendang Dan Tinju Anak Sendiri Ditangkap
Turki Adakan Pemilu Hari Ini
Arab Saudi Resmi Mencabut Larangan Perempuan Menyetir
Gempa Guncang Osaka
Inggris Permudah Pengajuan Visa Bagi Pelajar Indonesia
Amerika Serikat Keluar Dari Dewan HAM PBB
PM Malaysia Mahathir Mohamad Umumkan Gaji Menteri Dipangkas 10 Persen
Suriah Berhasil Usir ISIS
jQuery Slider

Comments

Archives :20182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 6.970.371 Since: 07.04.14 | 0.6438 sec