YouTube Facebook Twitter RSS
20 Jul 2019, 0

Ekonomi

Wall Street Menguat

Friday, 11 January 2019 | View : 93

siarjustisia.com-NEW YORK.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street pada perdagangan Kamis (10/1/2019) malam waktu setempat atau Jumat (11/1/2019) pagi WIB menguat.

Mengacu data Bloomberg, Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup naik 122,8 poin (0,51 persen) mencapai 24.002, Nasdaq composite index menguat 28,9 (0,42 persen) mencapai 6.986, sedangkan S&P 500 index naik 11,7 (0,45 persen) mencapai 2.597.

Kenaikan Wall Street di tengah panduan penjualan dan pendapatan peritel besar dan maskapai penerbangan ternama selama musim liburan mengecewakan.

Saham Macy's anjlok hampir 18 persen menjadi US$ 26,11 setelah melaporkan penjualan liburan melemah untuk 2018, dan memangkas prospek pendapatannya untuk tahun ini.

Jaringan toko serba ada itu mengatakan bahwa penjualan daring pada November dan Desember, serta penjualan di toko-toko yang beroperasi selama 12 bulan, naik 1,1 persen secara gabungan.

Perusahaan ritel itu memperkirakan pertumbuhan penjualan 2018, tidak sesuai yang diperkirakan sebelumnya.

Sementara American Airlines memangkas perkiraan labanya. Maskapai terbesar di Amerika Serikat itu kesulitan meningkatkan pendapatan pada akhir 2018.

Saham maskapai penerbangan American Airlines jatuh 4,13 persen menjadi US$ 32,04 per saham.

Di sisi lain, kekhawatiran penutupan pemerintah AS yang kemungkinan berlanjut untuk waktu lama juga membebani kinerja saham.

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street pada perdagangan Rabu (9/1/2019) malam waktu setempat atau Kamis (10/1/2019) pagi WIB menguat.

Mengacu data Bloomberg, Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup naik 91,7 poin (0,39 persen) mencapai 23.879, Nasdaq composite index menguat 60,1 (0,87 persen) mencapai 6.957, sedangkan S&P 500 index naik 10,6 (0,41 persen) mencapai 2.585.

Dow mencatatkan kenaikan beruntun 4 hari menyusul risalah pertemuan the Fed bulan Desember mengonfirmasi untuk menahan kenaikan suku bunga. Pertemuan itu menegaskan kesabaran pejabat the Fed dalam mengambil kebijakan moneter.

Pejabat-pejabat Fed mengakui bahwa kebijakan ke depan "kurang jelas" setelah menyetujui kenaikan suku bunga pada pertemuan terakhir mereka.

Risalah datang setelah Ketua Fed, Jerome Powell, mengisyaratkan pengetatan moneter lebih lambat. Hal ini diitafsirkan pasar sebagai sinyal bank sentral tidak akan buru-buru menaikkan suku bunganya.

Dia mengatakan para pejabat Fed terus mengawasi suara-suara pasar keuangan. Kebijakan the Fed fleksibel dan melekat pada perkembangan ekonomi real time.

Ia menambahkan bank sentral tidak akan ragu untuk menyesuaikan rencana pengurangan neracanya, jika menyebabkan masalah-masalah di pasar.

Selain itu, sentimen pasar datang dari negosiasi perdagangan terbaru antara dua ekonomi utama dunia menunjukkan tanda-tanda kemajuan.

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street pada perdagangan Selasa (8/1/2019) malam waktu setempat atau Rabu (9/1/2019) pagi WIB melemah.

Mengacu data Bloomberg, Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup naik 256,1 poin (1,09 persen) mencapai 23.788, Nasdaq composite index menguat 73,5 (1,08 persen) mencapai 6.897, sedangkan S&P 500 index naik 24,7 (0,97 persen) mencapai 2.574.

Dow naik lebih dari 200 poin, mencatat kenaikan 3 hari beruntun pertamanya sejak November 2018. Reli tiga hari dimulai pada Jumat (4/1/2019) setelah data pekerjaan AS menguat dan komentar dovish tentang suku bunga oleh Ketua Federal Reserve AS (Fed) Jerome Powell.

Sementara investor tetap optimistis Washington dan Beijing dapat mencapai kesepakatan baru dalam perdagangan. "AS-China akan memperpanjang perundingan perdagangan di Beijing untuk hari ketiga yang tidak dijadwalkan," kata seorang anggota delegasi AS, ketika dua negara ekonomi terbesar dunia itu berusaha menyelesaikan sengketa perdagangan.

Sejauh ini, para pejabat dari kedua belah pihak optimistis dimana Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan berjalan baik.

"Anda sedang melihat beberapa negosiasi terjadi dan pasar mulai berpikir bahwa mungkin akan melihat penyusunan kerangka kerja," kata Kepala Ekuitas Global PineBridge Investments, Anik Sen, seperti dikutip Reuters.

Kenaikan bursa saham AS dipicu emiten teknologi seperti Apple dan Amazon. Apple Inc naik 1,91 persen, setelah perusahaan pekan lalu memperingatkan pelemahan permintaan iPhone dari perkiraan. Tetapi kenaikan sektor teknologi dibatasi oleh penurunan saham-saham produsen chip, setelah laba kuartalan Samsung turun sekitar 29 persen karena tertekannya permintaan chip.

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street pada perdagangan Senin (7/1/2019) malam waktu setempat atau Selasa (8/1/2019) pagi WIB melemah.

Mengacu data Bloomberg, Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup naik 98,2 poin (0,42 persen) mencapai 23.532, Nasdaq composite index menguat 84,6 (1,26 persen) mencapai 6.824, sedangkan S&P 500 index naik 17,8 (0,70 persen) mencapai 2.550.

Bursa saham AS naik di tengah sesi perdagangan yang fluktuatif setelah sebelumnya mengalami reli besar-besaran. Saham-saham telah naik di tengah ekspektasi bahwa pembicaraan perdagangan minggu ini antara Amerika Serikat dan Tiongkok akan meredakan perang perdagangan. Gangguan perdagangan merusak prospek pertumbuhan ekonomi dan permintaan minyak.

Investor juga memantau perkembangan perdagangan AS terbaru termasuk sinyal dari Federal Reserve AS (Fed). Pada Jumat (4/1), Ketua Federal Reserve (Fed) Jerome Powell mengisyaratkan pengetatan moneter yang lebih lambat. Dia mengatakan para pejabat-pejabat The Fed terus mengawasi suara-suara pasar keuangan, dan kebijakan The Fed fleksibel pada perkembangan ekonomi real-time.

Ketua Fed menambahkan bahwa bank sentral tidak akan ragu untuk menyesuaikan rencana pengurangan neraca, jika menyebabkan masalah di pasar.

Fed menaikkan suku bunga empat kali tahun lalu. Langkah kenaikan suku bunganya, yang dianggap terlalu cepat oleh beberapa investor, telah mengguncang pasar.

Lembaga riset swata Institute for Supply Management (ISM) mengatakan indeks non-manufaktur berada di level 57,6 pada bulan lalu, lebih rendah dari perkiraan para analis dan angka pada November.

(cnbc/reuters/bloomberg)

See Also

Bursa Asia Ditutup Tergerus
Ditunggu Warga, Pensertifikatan Tanah Massal Di TMMD Kalikondang
Bursa Asia Bervariasi
Bursa Asia Bervariasi
Wall Street Menguat
10 Maskapai Penerbangan Terbaik Di Dunia Tahun 2019
Boeing Tak Terima Pesanan Pesawat Sejak April 2019
Bursa Saham AS Turun
12 Pelabuhan & Bandar Udara Deklarasi Zona Integritas
Rabobank Indonesia Resmi Hengkang Dari Indonesia
Bursa Asia Ditutup Bervariasi
Bursa Saham AS Ditutup Turun
Bursa Saham AS Menguat
Tingkatkan Harga Yang Maksimal, Babinsa 13/Karangawen Bantu Petani Jemur Hasil Panen
Bantu Percepatan Pembangunan, Danramil 01/Demak Kota Hadiri Musrembangdes
Babinsa 09/Karangtengah Beri Motivasi Kepada Para Petambak Bandeng
Tingkatkan Motivasi Petani Swasembada Pajale, Babinsa 13/Karangawen Bantu Panen Jagung
Babinsa 01/Demak Dampingi Program Kotaku Di Desa Mulyorejo
Antisipasi Kelangkaan Dan Kestabilan Harga Pupuk, Babinsa 12/Mranggen Cek Langsung
Semangat Babinsa Koramil 09/Karangtengah Dampingi Panen Perdana MT I
Bersama Warga, Babinsa 06/Wedung Siap Sukseskan Swasembada Pangan
Kontrol Hasil Panen, Babinsa 03/Wonosalam Lakukan Pengubinan Padi
Mendesa Klaim Bank Dunia Contoh Indonesia Terkait Penganggaran Dana Desa
Mulai Hari Ini Harga Pertamina Dex, Dexlite, Pertamax, Pertalite Turun
Babinsa 09/Karangtengah Dampingi Pembangunan RTLH
jQuery Slider

Comments

Archives :201920182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 8.110.718 Since: 07.04.14 | 0.5686 sec