YouTube Facebook Twitter RSS
21 Sep 2019, 0

Internasional

Iran Tak Ingin Perang Dengan Amerika Serikat

Thursday, 16 May 2019 | View : 46

siarjustisia.com-TEHERAN.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei, menyatakan negaranya tidak menginginkan perang, termasuk dengan Amerika Serikat (AS), karena akan menghancurkan kawasan Timur Tengah.

Pernyataan itu, disampaikan Ayatollah Khamenei, saat mengadakan pertemuan darurat dengan para elit politik negara itu, termasuk Presiden Iran, Hassan Rouhani dan Ketua Parlemen Iran, Ali Larijani, di Teheran, Rabu (15/5/2019).

Ayatollah Khamenei menampik kemungkinan bahwa AS dan Iran akan berperang, dengan menyatakan bahwa AS sangat memahami bahwa konflik semacam itu tidak akan memenuhi kepentingan AS di Timur Tengah, setelah penarikan pasukan AS dari pertempuran di Suriah.

Pada kesempatan itu, Ayatollah Khamenei, juga menegaskan kembali pendiriannya bahwa dialog dengan pemerintah AS mengenai program nuklir Iran, bukanlah sebuah pilihan terbaik dalam waktu dekat.

Ayatollah Khamenei bahkan memuji program nuklir Iran yang telah disesuaikan dengan kepentingan negara dan persyaratan dalam Perjanjian Nuklir Iran yang ditandatangani pada 2015.

"Selama Amerika Serikat seperti sekarang, negosiasi hanyalah racun, dan dengan pemerintahan (Amerika Serikat, AS) saat ini, racun itu dua kali (lebih mematikan, red)," kata Ayatollah Khamenei, di Teheran, Iran, Rabu (15/5/2019).

Meski demikian, Khamenei mengakui bahwa tekanan dari AS yang keluar dari Perjanjian Nuklir Iran pada Mei 2018, telah membawa kesulitan pada kondisi perekonomian Iran, terutama terhadap warga miskin dan kelas menengah. Namun Ayatollah Khamenei menolak gagasan bahwa ekonomi Iran berada dalam kondisi menemui jalan buntu.

“Amerika benar, ketika mereka menyebut bahwa sanksi yang diberikan belum pernah terjadi sebelumnya. Tapi perlu kami tegaskan bahwa Republik Islam Iran adalah logam yang kuat,” ujar Ayatollah Khamenei.

Pidato Ayatollah Khamenei adalah reaksi publik pertamanya terhadap tekanan AS, termasuk pengiriman kapal perang AS baru-baru ini ke kawasan Teluk, yang memicu spekulasi bahwa kedua pihak semakin mendekati perang.

Kelompok garis keran Iran bangga dengan pernyataan Khamenei, dan menafsirkannya sebagai tanda kekuatan Iran dalam melawan tekanan AS.

"Ini adalah pertama kalinya dalam 230 tahun terakhir bahwa kita menghadapi negara adikuasa yang tidak memiliki keberanian untuk serangan militer terhadap Iran," tulis Abdollah Ganji.

Namun pesimisme masih berlaku di kalangan kritikus Republik Islam Iran, yang berpendapat bahwa konfrontasi terus-menerus tidak akan menguntungkan Iran.

"Tidak akan ada perang, tidak ada pembicaraan, tetapi kami akan mati kelaparan," tulis seorang pengguna Twitter, merujuk pada kesulitan ekonomi Iran.

Per 15 Juni 2015, Iran juga mulai meninggalkan persyaratan dalam Perjanjian Nuklir Iran, yang antara lain membatasi cadangan uranium negara itu.

Tasnim, sebuah kantor berita konservatif, melaporkan bahwa Organisasi Energi Atom Iran kini telah mulai mempraktikkan tindakan-tindakan untuk meningkatkan cadangan uranium Iran yang telah diratifikasi oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

Di bawah pengaturan baru, Iran tidak akan lagi mematuhi batas pada persediaan uranium yang diperkaya rendah, yang sebelumnya harus diekspor setelah melebihi batas 300 kilogram pada uranium hexafluoride. Terkait persediaan air beratnya, Iran tidak akan lagi berkomitmen untuk mengirimkan kelebihan air untuk penyimpanan di Oman ketika melewati ambang batas 130 ton. (cnn/aljazeera)

See Also

Ratusan Keluarga Di Queensland Mengungsi
Topan Faxai Hantam Jepang
Gelombang Panas Di Prancis Menelan Hampir 1.500 Korban
Rusia Bikin Lagi Rudal Jarak Menengah
Presiden AS Harap Presiden China Temui Pendemo Hong Kong
Hong Kong Menghangat
Uskup Melbourne Peter Comensoli Pilih Masuk Penjara Dibanding Bocorkan Pengakuan Dosa Jemaat
Survei Sebut Advokat Australia Dan Selandia Baru Alami Kecemasan Dan Depresi
Jerman Bersiap Dihantam Gelombang Panas
Perempuan Lempar Telur Ke PM Australia Dihukum Kerja Sosial 18 Bulan
Kelompok Triad Hong Kong Diduga Terlibat Penyerbuan Stasiun MRT Yuen Long
Boris Johnson Terpilih Sebagai PM Inggris Baru
Menlu Inggris Ancam Iran
Michelle Obama Terpilih Sebagai Wanita Paling Dikagumi Di Dunia
Mantan PM Australia Bob Hawke Wafat
Filipina Tarik Dubes Dan Konsul Dari Kanada
17 Tentara Niger Tewas Diserang Teroris
Laut China Selatan Tegang
Presiden AS Pecat Direktur Dinas Rahasia
Kapal China Dekati Pulau Filipina
Pangkalan Militer Yaman Diserang Gerakan Houthi
Penutupan Pelayanan Pemerintah AS
Ketua Bank Sentral AS Ingatkan Dampak Negatif Penutupan Berkepanjangan Pemerintah
Raja Malaysia Mengundurkan Diri
Thailand Dilanda Badai Pabuk
jQuery Slider

Comments

Archives :201920182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 8.435.370 Since: 07.04.14 | 0.8547 sec