YouTube Facebook Twitter RSS
17 Oct 2019, 0

Internasional

Filipina Tarik Dubes Dan Konsul Dari Kanada

Friday, 17 May 2019 | View : 90

siarjustisia.com-MANILA.

Pemerintah Filipina akhirnya menarik Duta Besar (Dubes) dan Konsul-konsulnya dari Kanada terkait sengketa sampah. Penarikan ini dilakukan setelah Kanada dianggap melewati batas waktu untuk mengambil kembali sampah yang diekspor ke Filipina.

"Pada tengah malam kemarin, surat untuk menarik pulang Duta Besar dan Konsul-konsul untuk Kanada diterbitkan. Mereka diperkirakan akan hadir di sini dalam waktu sehari atau setelahnya," tegas Menteri Luar Negeri Filipina, Teodoro L Locsin Jr, dalam pernyataannya seperti dilansir Channel News Asia, Kamis (16/5/2019).

"Kanada melewatkan batas waktu 15 Mei. Dan kita akan mempertahankan pengurangan kehadiran diplomatik di Kanada hingga sampah-sampah itu dikirimkan ke sana," imbuhnya.

Pekan lalu, pemerintah Filipina mengumumkan bahwa Kanada sepakat untuk mengambil kembali 69 kontainer berisi sampah yang secara keliru dikirimkan ke Filipina.

Pengumuman itu disampaikan setelah bulan lalu, Presiden Filipina Rodrigo Duterte melontarkan ancaman akan 'mengajak perang' Kanada jika negara itu tidak mengambil kembali berton-ton sampah yang dikirimkan ke Filipina tahun 2013 dan 2014 lalu.

Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, tengah geram dengan Kanada terkait masalah sampah. Presiden Rodrigo Duterte bahkan mengancam akan 'mengajak perang' Kanada jika negara itu tidak mengambil kembali berton-ton sampah yang dikirimkan ke Filipina, beberapa tahun lalu.

"Saya akan memberikan peringatan kepada Kanada, mungkin minggu depan, agar mereka sebaiknya menarik kembali (sampah) itu," ucapnya Presiden Rodrigo Duterte dalam pernyataannya seperti dilansir CNN, Kamis (25/4/2019).

"Kita akan menyatakan perang melawan mereka," tegasnya.

Otoritas Kanada menyebut pengiriman sampah itu bagian dari kesepakatan komersial. Sekitar 2.450 ton sampah telah dikirimkan sebuah perusahaan yang berkantor di Kanada, ke Filipina tahun 2013 dan 2014 lalu.

Menurut CNN Filipina, ada sekitar 103 kontainer berisi 2.450 ton sampah yang dikirimkan oleh sebuah perusahaan yang berkantor di Kanada ke Filipina pada tahun 2013 dan 2014 lalu. Kontainer-kontainer itu diberi label 'plastik untuk daur ulang' tapi para pemeriksa Filipina mendapati sampah-sampah itu tidak bisa didaur ulang.

Oleh otoritas Filipina, sampah-sampah itu dinyatakan 'ilegal' karena perusahaan swasta di Kanada yang mengirimkan kontainer berisi sampah itu tidak memiliki izin impor. Menurut laporan, beberapa kontainer-kontainer itu masih ada di pelabuhan Manila hingga kini.

"Saya tidak paham mengapa mereka menjadikan kita tempat pembuangan sampah," ujar Presiden Rodrigo Duterte.

Dia juga memperingatkan bahwa dirinya akan berlayar ke Kanada dan mengembalikan sampah-sampah itu ke sana. "Sampah itu akan pulang ke asalnya," imbuh Presiden Rodrigo Duterte.

Kontainer-kontainer itu diberi label 'plastik untuk daur ulang' tapi para pemeriksa Filipina mendapati sampah-sampah yang berupa popok, koran dan botol minuman itu tidak bisa didaur ulang. 

Tahun 2016, sebuah pengadilan Filipina menjatuhkan putusan bahwa sampah-sampah itu harus dikembalikan ke Kanada.

Diketahui bahwa selama beberapa tahun terakhir, otoritas Filipina menyerukan kepada Kanada untuk mengambil kembali sampah-sampah mereka. Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, beberapa waktu lalu pernah menyatakan bahwa dirinya 'sangat, sangat serius dalam mencari solusi' untuk pembuangan sampah.

Isu ini bukan satu-satunya isu yang menjadi pertikaian bilateral antara Filipina dan Kanada.

Tahun lalu, Presiden Rodrigo Duterte memerintahkan militer Filipina untuk membatalkan kesepakatan pembelian 16 helikopter senilai US$ 233 juta dari Kanada. Pembatalan itu diputuskan setelah Kanada menyatakan kekhawatiran heli tersebut akan dipakai untuk memerangi pemberontak.

Sebelumnya pada November 2017, Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengkritik Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau dalam forum pertemuan negara Asia dan negara-negara Barat karena mempertanyakan soal operasi memerangi narkoba di Filipina. (channelnewsasia/cnn)

See Also

Akademisi Asing Ditahan Otoritas Iran
Alumnus Universitas Top Australia Peroleh Gaji Lebih Kecil
Permintaan Suaka Australia Lewat Udara Capai Rekor Tertinggi
China Akan Pamerkan Rudal Nuklir Dalam Parade Militer
Petani Australia Kesulitan Cari Pekerja
Arab Saudi Terbitkan Visa Turis Untuk 49 Negara
Pengawal Raja Arab Saudi Tewas Ditembak
Gempa Guncang Chile 6,8 SR
Ratusan Keluarga Di Queensland Mengungsi
Topan Faxai Hantam Jepang
Gelombang Panas Di Prancis Menelan Hampir 1.500 Korban
Rusia Bikin Lagi Rudal Jarak Menengah
Presiden AS Harap Presiden China Temui Pendemo Hong Kong
Hong Kong Menghangat
Uskup Melbourne Peter Comensoli Pilih Masuk Penjara Dibanding Bocorkan Pengakuan Dosa Jemaat
Survei Sebut Advokat Australia Dan Selandia Baru Alami Kecemasan Dan Depresi
Jerman Bersiap Dihantam Gelombang Panas
Perempuan Lempar Telur Ke PM Australia Dihukum Kerja Sosial 18 Bulan
Kelompok Triad Hong Kong Diduga Terlibat Penyerbuan Stasiun MRT Yuen Long
Boris Johnson Terpilih Sebagai PM Inggris Baru
Menlu Inggris Ancam Iran
Michelle Obama Terpilih Sebagai Wanita Paling Dikagumi Di Dunia
Mantan PM Australia Bob Hawke Wafat
17 Tentara Niger Tewas Diserang Teroris
Laut China Selatan Tegang
jQuery Slider

Comments

Archives :201920182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 8.580.745 Since: 07.04.14 | 1.1118 sec