YouTube Facebook Twitter RSS
17 Jul 2019, 0

Internasional

Filipina Tarik Dubes Dan Konsul Dari Kanada

Friday, 17 May 2019 | View : 47

siarjustisia.com-MANILA.

Pemerintah Filipina akhirnya menarik Duta Besar (Dubes) dan Konsul-konsulnya dari Kanada terkait sengketa sampah. Penarikan ini dilakukan setelah Kanada dianggap melewati batas waktu untuk mengambil kembali sampah yang diekspor ke Filipina.

"Pada tengah malam kemarin, surat untuk menarik pulang Duta Besar dan Konsul-konsul untuk Kanada diterbitkan. Mereka diperkirakan akan hadir di sini dalam waktu sehari atau setelahnya," tegas Menteri Luar Negeri Filipina, Teodoro L Locsin Jr, dalam pernyataannya seperti dilansir Channel News Asia, Kamis (16/5/2019).

"Kanada melewatkan batas waktu 15 Mei. Dan kita akan mempertahankan pengurangan kehadiran diplomatik di Kanada hingga sampah-sampah itu dikirimkan ke sana," imbuhnya.

Pekan lalu, pemerintah Filipina mengumumkan bahwa Kanada sepakat untuk mengambil kembali 69 kontainer berisi sampah yang secara keliru dikirimkan ke Filipina.

Pengumuman itu disampaikan setelah bulan lalu, Presiden Filipina Rodrigo Duterte melontarkan ancaman akan 'mengajak perang' Kanada jika negara itu tidak mengambil kembali berton-ton sampah yang dikirimkan ke Filipina tahun 2013 dan 2014 lalu.

Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, tengah geram dengan Kanada terkait masalah sampah. Presiden Rodrigo Duterte bahkan mengancam akan 'mengajak perang' Kanada jika negara itu tidak mengambil kembali berton-ton sampah yang dikirimkan ke Filipina, beberapa tahun lalu.

"Saya akan memberikan peringatan kepada Kanada, mungkin minggu depan, agar mereka sebaiknya menarik kembali (sampah) itu," ucapnya Presiden Rodrigo Duterte dalam pernyataannya seperti dilansir CNN, Kamis (25/4/2019).

"Kita akan menyatakan perang melawan mereka," tegasnya.

Otoritas Kanada menyebut pengiriman sampah itu bagian dari kesepakatan komersial. Sekitar 2.450 ton sampah telah dikirimkan sebuah perusahaan yang berkantor di Kanada, ke Filipina tahun 2013 dan 2014 lalu.

Menurut CNN Filipina, ada sekitar 103 kontainer berisi 2.450 ton sampah yang dikirimkan oleh sebuah perusahaan yang berkantor di Kanada ke Filipina pada tahun 2013 dan 2014 lalu. Kontainer-kontainer itu diberi label 'plastik untuk daur ulang' tapi para pemeriksa Filipina mendapati sampah-sampah itu tidak bisa didaur ulang.

Oleh otoritas Filipina, sampah-sampah itu dinyatakan 'ilegal' karena perusahaan swasta di Kanada yang mengirimkan kontainer berisi sampah itu tidak memiliki izin impor. Menurut laporan, beberapa kontainer-kontainer itu masih ada di pelabuhan Manila hingga kini.

"Saya tidak paham mengapa mereka menjadikan kita tempat pembuangan sampah," ujar Presiden Rodrigo Duterte.

Dia juga memperingatkan bahwa dirinya akan berlayar ke Kanada dan mengembalikan sampah-sampah itu ke sana. "Sampah itu akan pulang ke asalnya," imbuh Presiden Rodrigo Duterte.

Kontainer-kontainer itu diberi label 'plastik untuk daur ulang' tapi para pemeriksa Filipina mendapati sampah-sampah yang berupa popok, koran dan botol minuman itu tidak bisa didaur ulang. 

Tahun 2016, sebuah pengadilan Filipina menjatuhkan putusan bahwa sampah-sampah itu harus dikembalikan ke Kanada.

Diketahui bahwa selama beberapa tahun terakhir, otoritas Filipina menyerukan kepada Kanada untuk mengambil kembali sampah-sampah mereka. Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, beberapa waktu lalu pernah menyatakan bahwa dirinya 'sangat, sangat serius dalam mencari solusi' untuk pembuangan sampah.

Isu ini bukan satu-satunya isu yang menjadi pertikaian bilateral antara Filipina dan Kanada.

Tahun lalu, Presiden Rodrigo Duterte memerintahkan militer Filipina untuk membatalkan kesepakatan pembelian 16 helikopter senilai US$ 233 juta dari Kanada. Pembatalan itu diputuskan setelah Kanada menyatakan kekhawatiran heli tersebut akan dipakai untuk memerangi pemberontak.

Sebelumnya pada November 2017, Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengkritik Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau dalam forum pertemuan negara Asia dan negara-negara Barat karena mempertanyakan soal operasi memerangi narkoba di Filipina. (channelnewsasia/cnn)

See Also

Mantan PM Australia Bob Hawke Wafat
17 Tentara Niger Tewas Diserang Teroris
Laut China Selatan Tegang
Presiden AS Pecat Direktur Dinas Rahasia
Kapal China Dekati Pulau Filipina
Pangkalan Militer Yaman Diserang Gerakan Houthi
Penutupan Pelayanan Pemerintah AS
Ketua Bank Sentral AS Ingatkan Dampak Negatif Penutupan Berkepanjangan Pemerintah
Raja Malaysia Mengundurkan Diri
Thailand Dilanda Badai Pabuk
Warga Kelas Menengah Australia Akan Kian Sulit Dapat Kredit Perumahan
Donald Trump Kunjungi Militer AS Di Irak
Kota Surabaya Raih Guangzhou Awards 2018
Dubes Indonesia Untuk Arab Saudi Benarkan Rilis Soal Rizieq Shihab Darinya
Dunia Kembali Dihantui Era Perang Dingin
2 Negara Eropa Kecam Rencana Amerika Serikat Keluar Dari Perjanjian INF
Rusia Tuding Amerika Serikat Bermain Kasar
Presiden AS Batalkan Perjanjian Nuklir 1987 Dengan Rusia
Terlibat Skandal Gratifikasi Seks, Pejabat Imigrasi Singapura Diadili
Teleskop NASA Temukan 2 Planet Baru
Najib Razak Ditahan SPRM
Mantan PM Malaysia Ditahan
Najib Razak Ditahan KPK Malaysia
3 Kapal Perang Jepang Bersandar Di Pelabuhan Tanjung Priok
NASA Klaim Planet Proxima Centauri B Bisa Dihuni
jQuery Slider

Comments

Archives :201920182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 8.100.177 Since: 07.04.14 | 0.5566 sec