YouTube Facebook Twitter RSS
20 Aug 2019, 0

Opini

Advokat Pukul Hakim Di PN Jakarta Pusat

Author : Dwi Putra Budiyanto SH MH | Friday, 19 July 2019 | View : 289

siarjustisia.com-JAKARTA.

Dwi Putra Budiyanto, S.H., M.H., salah satu pengacara Ibu Kota turut menyikapi dan menyesalkan sehubungan adanya peristiwa tindakan salah satu rekan pengacara sebagai salah satu penasihat hukum/kuasa hukum pengugat dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) yang dilakukan oleh seorang pengacara berinisial D. D memukul Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) pada persidangan Kamis (18/7/2019) lalu dengan melepas dan mengunakan ikat pinggang yang digunakannya untuk menyabet Hakim. Pengacara sebagai kuasa hukum penggugat diketahui sebagai salah satu kuasa hukum dari pengusaha nasional. Tindakan penyerangan kepada Majelis Hakim yang sedang menangani perkara perdata Nomor 223/pdt.G/2018/PN Jakpus merupakan perkara wanprestasi antara penggugat melawan beberapa pihak sebagai tergugat yakni PT. GWP, HaK, HeK, PT. SD, dan FVL. Pemukulan tersebut dilakukan saat Majelis Hakim membacakan putusan. Pukulan itu mengenai Ketua Majelis Hakim berinisial HS, yang terluka di bagian jidat Ketua Hakim tersebut. Hakim anggota berinisial DB juga terkena sabetan ikat pinggang yang dilayangkan oleh oknum pengacara tersebut .

"Penganiayaan terhadap Hakim selaku pejabat negara dan penegak hukum merupakan sikap atau tindakan yang dikwalifisir termasuk pelanggaran kode etik advokat, penghinaan terhadap badan peradilan (contempt of court), dan juga perbuatan tindak pidana yang mengotori serta mencemarkan profesi mulia dan terhormat advokat," ujar Dwi Putra Budiyanto. "Organisasi Advokat dapat menyatakan tindakan anggotanya adalah melanggar kode etik, sedangkan dari pihak luar organisasi Advokat menyatakan ini adalah perbuatan pidana murni," tambah dia.

"Saya memandang secara progresif, tentunya para yang berwenang jangan saja melihat dari sisi korban saja, juga harus mempertimbangkan dari sisi pelaku, kenapa pelaku sampai melakukan perbuatannya," sambung dia. "Apakah amar putusannya tidak sesuai dengan langkah-langkah atau arahan yang telah ditempuh dan dilalui oleh penasihat hukum, kekecewaan dapat saja langsung meledak tanpa berfikir panjang," lanjutnya. "Tentu saja apapun alasannya, tidak ada suatu pembenaran terhadap perbuatan pidana dan pelecehan terhadap kewibawaan dan martabat serta kehormatan badan peradilan," jelasnya lagi.

"Saya juga mengamati dari perjalanan pembentukan untuk menjadi salah satu penegak hukum di Indonesia yakni Hakim, Jaksa, Polisi dan Pengacara," terang dia. Menurutnya, hanya pengacara yang tidak melewati tahapan Test Kesehatan dan Test Psikologi, hanya cukup surat keterangan tidak pernah dipidana sesuai KTP (dengan berdasarkan SKCK Kepolisian),  fotokopi ijazah Sarjana Hukum (S.H.) yang dilegalisir, fotokopi KTP, pas foto 4x6 sebanyak 5 lembar (latar belakang merah), sertifikat pendidikan advokat, dan sertifikat lulus ujian advokat, Surat Rekomendasi dari Pengadilan, serta langsung dapat mengajukan untuk diambil pengangkatan dan pengambilan sumpah atau janji advokat-nya di 30 Pengadilan Tinggi se-Indonesia. Calon advokat tidak bisa mengajukan sumpah di Pengadilan Tinggi yang bukan di wilayah domisili hukumnya.

"Banyak sekali tindakan para oknum advokat yang kurang terpuji dalam menangani kasus-kasus yang dikuasakan kepadanya. Bagaimana kelanjutannya tentunya kembali Pemerintah yang harus mengambil langkah yang terbaik," pungkasnya. (dpb/jos)

See Also

Berdiri Di Dua Kaki
Double L, Narkoba, Dan Anak Dari Keluarga Penghasilan Rendah
Pernyataan Sikap Komunitas Bulutangkis Indonesia
Hati-hati Dengan Ide Keliru Yang Jahat Sekali
Bahagia Bertemu Ibu Irawati Durban Ardjo
Radio Mercury Dan Never Ending War Against Cancer
Dari Perjalanan Ke Diri: Merekonstruksi Pola Perilaku
Agus Yudhoyono Antara Tanggung Jawab Individu Dan Keluarga
Pertempuran Sultan Agung Dan Musium Kota Jakarta
Kesehatan Masyarakat Dan Pendidikan Kesehatan
Musium Wayang Dan Pembentukan Karakter
Kebijakan Publik Perlu Proses Dan Konsensus Banyak Pihak
Berjuang Dan Bertarung Untuk Yang Benar Dan Adil
Pintu Tertutup Maka Akan Ada Pintu Lagi
Yang Penting Adalah Menemukan Tempat Yang Tepat
Perempuan Perkasa Dalam Diri Seniman
Hasil Dikusi Buku Moemie: Karakter Baik Dan Identitas
Latar Belakang Sebelum Membaca Novel Moemie
Cerita Tentang Pengarang Novel Moemie Sebelum Menulis
Ringkasan Cerita Novel Moemie
Peringati Hari HAM Sedunia, Rohingya Masih Menjadi Manusia Paling Teraniaya
Susi Pudjiastuti Dan Definisi Profesional
Gus Mus, Guru Bangsa Kita
Presiden Bisa Usir Kedubes Myanmar Dari Indonesia
Gagal Melindungi Rohingya, ASEAN Bubarkan Saja
jQuery Slider

Comments

Archives :20192017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 8.267.853 Since: 07.04.14 | 1.1264 sec