YouTube Facebook Twitter RSS
20 Aug 2019, 0

Internasional

Perempuan Lempar Telur Ke PM Australia Dihukum Kerja Sosial 18 Bulan

Wednesday, 24 July 2019 | View : 24

siarjustisia.com-ALBURY.

Seorang perempuan yang melemparkan sebutir telur ke kepala Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison pada sebuah acara kampanye pemilihan umum lalu dijatuhi hukuman kerja sosial selama 18 bulan dan harus menyelesaikan pelayanan masyarakat selama 150 jam.

Amber Holt berusaha untuk memecahkan telur ke kepala PM Scott Morrison pada acara kampanye di bulan Mei 2019.

Wanita berusia 25 tahun itu sebelumnya telah mengaku bersalah atas serangan itu dan memiliki ganja saat melakukan serangan itu.

Amber Holt memperingatkan orang lain agar tidak mengikuti perbuatannya yang disebutnya sebagai "egois dan bodoh"

Amber Holt, 25 tahun, menjalani sidang vonis di Pengadilan Negeri Albury, Negara Bagian New South Wales (NSW), Australia pada Selasa (23/7/2019), setelah awal bulan ini mengaku bersalah melempar telur ke Perdana Menteri (PM) Scott Morrison.

Amber Holt melemparkan sebutir telur ke kepala PM Scott Morrison ketika dia sedang berkampanye di sebuah konferensi Asosiasi Wanita Pedesaan di Albury, NSW pada bulan Mei.

Telur itu sempat mengenai kepalanya tetapi tidak pecah. Telur yang dilemparkan Amber Holt sempat mengenai kepala PM Scott Morrison tapi tidak pecah.

Amber Holt juga mengaku bersalah memiliki ganja pada saat melakukan pelemparan telur itu.

Amber Holt melempar telur ke PM Scott Morrison setelah mendengar rencana kunjungan PM dari radio.

Dia juga masih harus menjalani satu pekan lagi perintah berkelakuan baik selama 18 bulan atas keterlibatannya dalam insiden kekerasan dalam rumah tangga.

Dalam putusan hukumannya, Hakim Rodney Brender mengatakan siapapun warga negara Australia tidak patut menjadi sasaran perlakuan kekerasan dalam bentuk apa pun.

"Anda tidak boleh membiarkan seseorang menyerang orang lain secara fisik hanya karena pandangan politik mereka," katanya.

Pihak Jaksa penuntut beralasan pelanggaran yang dilakukan Amber Holt juga diperparah dengan tingkat perencanaan yang mengarah pada hasutan, yang melibatkan Amber Holt mendengar kunjungan Perdana Menteri di radio, ia kemudian mengemudikan kendaraannya menuju supermarket khusus untuk membeli telur, dan kemudian melakukan perjalanan menuju acara tersebut.

Tetapi pengacara Amber Holt mengatakan pelanggaran yang dilakukan kliennya tidak direncanakan secara spesifik.

"Ini adalah kegiatan kriminal yang terorganisir," katanya.

Pembela juga berpendapat bahwa Holt memiliki masalah kesehatan mental yang signifikan, dan telah secara sukarela meninggalkan pekerjaannya di Cotton On dan pindah dengan orang tuanya di Victoria setelah insiden ini untuk mengatasi kesehatannya.

Amber Holt diperintahkan untuk membayar denda sebesar A$ 110 atau setara Rp 1 juta rupiah karena memiliki ganja pada saat kejahatan pelemparan telur terjadi.

Ruang untuk bermain atau jeda, M untuk membisukan, panah kiri dan kanan untuk mencari, panah atas dan bawah untuk volume.

Di luar pengadilan Amber Holt mengatakan dirinya "sudah pasti " sangat menyesal telah melempar telur, dan menggambarkan hukumannya sebagai" putusan yang adil ".

"Apa yang saya lakukan sangat egois dan bodoh," katanya.

"Saya hanya ingin meminta maaf kepada semua orang yang terlibat.

"Saya tidak mendorong siapa pun untuk mengikuti apa yang saya lakukan, itu hanya menyebabkan lebih banyak drama."

Sambil matanya berkaca-kaca, Amber Holt mengaku dia telah termotivasi untuk melempar telur dengan keinginan untuk menarik perhatian pada nasib para pengungsi di Pulau Manus.

Dia mengatakan bahwa dia dan keluarganya telah menjadi sasaran ancaman sejak insiden itu.

"Perbuatan saya telah menyebabkan banyak penghinaan, banyak ancaman bagi keluarga saya dan orang-orang terkasih [serta] saya sendiri," kata Holt.

"Belum pernah saya mendapat sorotan luar biasa seperti ini dalam hidup saya dan itu bukan hal yang baik." (abc)

See Also

Presiden AS Harap Presiden China Temui Pendemo Hong Kong
Hong Kong Menghangat
Uskup Melbourne Peter Comensoli Pilih Masuk Penjara Dibanding Bocorkan Pengakuan Dosa Jemaat
Survei Sebut Advokat Australia Dan Selandia Baru Alami Kecemasan Dan Depresi
Jerman Bersiap Dihantam Gelombang Panas
Kelompok Triad Hong Kong Diduga Terlibat Penyerbuan Stasiun MRT Yuen Long
Boris Johnson Terpilih Sebagai PM Inggris Baru
Menlu Inggris Ancam Iran
Michelle Obama Terpilih Sebagai Wanita Paling Dikagumi Di Dunia
Mantan PM Australia Bob Hawke Wafat
Filipina Tarik Dubes Dan Konsul Dari Kanada
17 Tentara Niger Tewas Diserang Teroris
Laut China Selatan Tegang
Presiden AS Pecat Direktur Dinas Rahasia
Kapal China Dekati Pulau Filipina
Pangkalan Militer Yaman Diserang Gerakan Houthi
Penutupan Pelayanan Pemerintah AS
Ketua Bank Sentral AS Ingatkan Dampak Negatif Penutupan Berkepanjangan Pemerintah
Raja Malaysia Mengundurkan Diri
Thailand Dilanda Badai Pabuk
Warga Kelas Menengah Australia Akan Kian Sulit Dapat Kredit Perumahan
Donald Trump Kunjungi Militer AS Di Irak
Kota Surabaya Raih Guangzhou Awards 2018
Dubes Indonesia Untuk Arab Saudi Benarkan Rilis Soal Rizieq Shihab Darinya
Dunia Kembali Dihantui Era Perang Dingin
jQuery Slider

Comments

Archives :201920182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 8.267.809 Since: 07.04.14 | 1.5767 sec