YouTube Facebook Twitter RSS
22 Sep 2019, 0

Internasional

Adik PM Inggris Pilih Mundur

Sunday, 08 September 2019 | View : 16
Tags : Inggris

siarjustisia.com-LONDON.

Krisis Brexit rupanya ternyata juga memicu pergolakan di pemerintahan Inggris.

Adik PM Inggris, Alexander Boris de Pfeffel Johnson pun memilih mundur dari pemerintahan Inggris.

Pada Kamis (5/9/2019), adik Boris Johnson, Jo Johnson, mengumumkan pengunduran dirinya sebagai menteri dan anggota parlemen.

Jo Johnson adalah menteri bisnis di kabinet Boris Johnson dan anggota parlemen untuk Orpington, sebelah tenggara London. Dia tetap masuk kabinet meskipun menentang Inggris keluar dari UE tanpa kesepakatan perceraian.

Jo mengaku terpecah antara kesetiaan kepada keluarga dan kepentingan nasional. Langkah Jo menjadi serangkaian pengunduran diri terbaru oleh kelompok Konservatif moderat yang menentang pendirian garis keras Brexit oleh PM Johnson.

Alexander Boris de Pfeffel Johnson menjabat PM pada Juli 2019 setelah menjanjikan kepada partainya, Konservatif, bahwa dia akan menyelesaikan Brexit dan memecahkan kebuntuan yang telah melumpuhkan politik Inggris sejak negara itu memutuskan keluar dari UE pada 2016.

Solusi Johnson untuk menggelar pemilu diperkirakan bisa mengguncang parlemen, namun hanya sedikit berurusan dengan parlemen.

PM Inggris sebelumnya bisa sesukanya menyerukan pemilu, tapi di bawah Undang-Undang 2011 menetapkan bahwa pemilu harus berjarak lima tahun. Jika kurang dari itu, pemerintah membutuhkan dukungan dua per tiga anggota parlemen untuk menggelar pemilu dini. Johnson akan kembali memanggil parlemen pada Senin (9/9/2019), namun kubu oposisi menyatakan akan menentangnya atau abstain.

Diberitakan bahwa Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson menyatakan lebih baik mati daripada meminta Uni Eropa (UE) untuk menunda Brexit lewat tanggal 31 Oktober 2019. Namun, Johnson menolak menyatakan akan mundur jika penangguhan Brexit harus terjadi.

Dalam pidatonya di pusat pelatihan polisi di Wakefield, Yorkshire Barat, Kamis (5/9/2019), Johnson mengatakan akan tetap menyiapkan Inggris keluar dari UE tanpa kesepakatan. Sebaliknya, Partai Buruh menegaskan prioritasnya adalah menghentikan no-deal Brexit.

Johnson menekankan kembali seruannya untuk pemilu dini yang ingin digelarnya pada 15 Oktober 2019. Dia beralasan pemilu sebagai satu-satunya cara untuk membuat Brexit “bergerak”. Boris juga menyebut penolakan terhadap pemilu dini sebagai penghinaan pengecut kepada demokrasi.

“Kami akan terus maju baik dengan rencana mendapatkan kesepakatan, membawa negara ini keluar (dari UE) pada 31 Oktober yang kita bisa atau orang lain hendaknya diizinkan untuk melihat apakah mereka tetap bisa mempertahankan kita setelah 31 Oktober,” kata Johnson.

Hanya enam minggu setelah menjabat PM, rencana Johnson untuk membawa Inggris keluar dari UE berada dalam krisis. Dia terjebak di tengah-tengah antara UE, yang menolak menegosiasikan ulang kesepakatannya yang sudah diketok dengan PM terdahulu Theresa May, dan anggota parlemen Inggris yang menentang kepergian tanpa kesepakatan (no-deal Brexit).

Sebagian besar pengamat ekonomi menyebut no-deal Brexit akan menyebabkan gangguan ekonomi yang parah dan menjerumuskan Inggris ke dalam resesi.

Menurut Johnson, dia benci “menggedor Brexit”, tapi menyalahkan anggota parlemen karena telah “melepaskan torpedo” kepada posisi negosiasi Inggris dengan UE lewat dukungan RUU dari Partai Buruh yang didesain untuk memblokir no-deal Brexit pada 31 Oktober 2019.

RUU itu memaksa PM untuk menunda Brexit sampai Januari 2020, kecuali anggota parlemen menyetujui kesepakatan baru atau keluar tanpa kesepakatan pada 19 Oktober 2019. Dua alternatif itu dipastikan tidak akan disetujui oleh parlemen sehingga penundaan tetap akan terjadi.

See Also

Ratusan Keluarga Di Queensland Mengungsi
Topan Faxai Hantam Jepang
Gelombang Panas Di Prancis Menelan Hampir 1.500 Korban
Rusia Bikin Lagi Rudal Jarak Menengah
Presiden AS Harap Presiden China Temui Pendemo Hong Kong
Hong Kong Menghangat
Uskup Melbourne Peter Comensoli Pilih Masuk Penjara Dibanding Bocorkan Pengakuan Dosa Jemaat
Survei Sebut Advokat Australia Dan Selandia Baru Alami Kecemasan Dan Depresi
Jerman Bersiap Dihantam Gelombang Panas
Perempuan Lempar Telur Ke PM Australia Dihukum Kerja Sosial 18 Bulan
Kelompok Triad Hong Kong Diduga Terlibat Penyerbuan Stasiun MRT Yuen Long
Boris Johnson Terpilih Sebagai PM Inggris Baru
Menlu Inggris Ancam Iran
Michelle Obama Terpilih Sebagai Wanita Paling Dikagumi Di Dunia
Mantan PM Australia Bob Hawke Wafat
Filipina Tarik Dubes Dan Konsul Dari Kanada
17 Tentara Niger Tewas Diserang Teroris
Laut China Selatan Tegang
Presiden AS Pecat Direktur Dinas Rahasia
Kapal China Dekati Pulau Filipina
Pangkalan Militer Yaman Diserang Gerakan Houthi
Penutupan Pelayanan Pemerintah AS
Ketua Bank Sentral AS Ingatkan Dampak Negatif Penutupan Berkepanjangan Pemerintah
Raja Malaysia Mengundurkan Diri
Thailand Dilanda Badai Pabuk
jQuery Slider

Comments

Archives :201920182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 8.438.672 Since: 07.04.14 | 0.8524 sec