YouTube Facebook Twitter RSS
10 Dec 2018, 0

Internasional

Malaysia Bongkar Mercusuar Di Tanjung Datu

Friday, 24 October 2014 | View : 908

siarjustisia.com-TANJUNG DATU.

Tanjung Datu berada di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, provinsi Kalimantan Barat. Perlu waktu 12 jam perjalanan darat dari Pontianak, sedangkan jika menggunakan helicopter, diperlukan waktu tempuh sekitar 2 jam.

Tanjung Datu tiba-tiba terkenal kembali setelah TNI Angkatan Laut mengusir petugas Malaysia yang tengah membangun Mercusuar. Malaysia nekat membangun tiang pancang untuk Mercusuar di perairan Tanjung Datu, Kalimantan Barat. Pembangunan tiang pancang ini sempat menimbulkan ketegangan.

Akhirnya, Malaysia membongkar Mercusuar di Tanjung Datu yang berada di landas kontinen Indonesia.

Letak Tanjung Datu memang berbatasan langsung dengan Malaysia. Namun faktanya, Tanjung Datu sepenuhnya wilayah milik Indonesia.

Ahli hukum Internasional yang adalah Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana menilai pembongkaran tersebut karena Malaysia tahu Presiden Joko Widodo (Jokowi) bakal keras terhadap gangguan kedaulatan Indonesia. "Kemungkinan Malaysia melakukan hal ini karena tahu pemerintahan Jokowi akan bertindak tegas dan keras terhadap siapapun negara yang mengganggu kedaulatan dan kepentingan nasional Indonesia,” kata Hikmahanto Juwana dalam keterangan tertulisnya, Kamis (23/10/2014).

Terlebih lagi, sambung dia, visi negara maritim Jokowi yang mengharuskan pemerintah berwibawa terhadap gangguan negara lain di laut. Meski demikian Malaysia patut diapresiasi dalam membongkar Mercusuarnya sehingga tidak memunculkan konflik antar negara dengan dimulainya pemerintahan baru di Indonesia.

Malaysia membongkar Mercusuar yang berada di landas kontinen Indonesia sejak 15 Oktober lalu.

Pembangunan yang diketahui oleh otoritas Indonesia pada tanggal 16 Mei 2014 telah dilakukan protes oleh pemerintah Indonesia.

Melalui proses perundingan yang panjang dan survei bersama, kedua negara akhirnya memastikan keberadaan Mercusuar tersebut berada di atas landas kontinen Indonesia.

Berdasarkan Konvensi Hukum Laut 1982, bila Malaysia hendak membangun Mercusuar di atas landas kontinen Indonesia maka Malaysia harus mendapat izin dari Indonesia sebagai negara yang memiliki landas kontinen.

Berdasarkan pantauan, lokasi tiang pancang yang telah dibangun Malaysia berada kurang 1 Km dari bibir pantai Tanjung Datu. Jika dilihat dari udara, tiang-tiang pancang itu memang kini tak terlihat begitu jelas.

Dari atas laut, tiang pancang yang akan dijadikan mercusuar oleh militer Malaysia itu terlihat seperti tumpukan batu.

Kapal-kapal milik TNI juga terlihat terus berpatroli di sekitar tiang pancang itu. Saat ini sudah tidak ada lagi kegiatan pembangunan Mercusuar di tempat tersebut.

Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko mengungkapkan joint verification koordinat lokasi pembangunan Mercusuar di Tanjung Datu, Kalimantan Barat digelar bulan Juni 2014 lalu.

Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko memastikan pembangunan Mercusuar buatan Malaysia yang sudah mencapai 60 persen itu sudah dihentikan. Di sana, tandas Jenderal TNI Moeldoko, tidak ada kegiatan militer dan penegak hukum yang menimbulkan situasi yang tidak bagus.

Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko menegaskan, tiang pancang itu dibangun di landas kontinental milik Indonesia. Artinya, daratan yang digunakan untuk membangun adalah milik Indonesia. "Namun kalau perairannya memang masih abu-abu, karena masalah laut ini sangat rumit. Tapi kalau tanahnya itu milik kita," pungkas Panglima Jenderal Moeldoko di Tanjung Datu, Jumat (8/8/2014).

Menjelang berakhirnya pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Panglima TNI telah melakukan ultimatum agar Malaysia merobohkan sendiri. Untuk beberapa saat Malaysia kelihatannya tidak menggubris ultimatum tersebut.

Kemungkinan karena melihat pemerintahan SBY yang menekankan pendekatan persuasif ketimbang tegas dan keras. Akibatnya pembongkaran tidak kunjung dilakukan. Namun menjelang pergantian kepemimpinan dari Presiden SBY ke Presiden Jokowi barulah Malaysia melakukan pembongkaran.

Seperti dikabarkan sebelumnya, Kementerian Luar Negeri mengetahui adanya pembangunan tiang pancang mercusuar yang dilakukan pihak Malaysia di wilayah Tanjung Datuk, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Michael Tene mengatakan, setelah berkoordinasi dengan kementerian terkait, pembangunan tiang pancang itu tak dibenarkan. "Lokasinya berada di dalam garis landas kontinen Indonesia berdasarkan perjanjian RI-Malaysia tahun 1969," beber dia, Rabu (21/5/2014).

Menurut dia, Malaysia pun telah menghentikan pembangunan tiang pancang rambu suar tersebut.

Pemerintah Indonesia juga mendesak dibentuknya Tim Teknis Delimitasi Batas Maritim dari kedua negara untuk membahas masalah ini dalam waktu dekat di Jakarta.

Permasalahan ini muncul akibat pihak Malaysia yang berupaya membangun mercusuar di wilayah abu-abu, atau masih disengketakan Indonesia-Malaysia, di Tanjung Datu, sejak Minggu (19/5/2014) lalu.

Awal mula kejadian, TNI AL memperoleh informasi dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan yang menemukan aktivitas di lokasi tersebut.

Aktivitas pembangunan tersebut terpantau oleh petugas navigasi perhubungan laut yang akan melaksanakan serah-terima pos navigasi di Temajok.

Pada saat yang bersamaan, petugas navigasi melihat iring-iringan kapal Malaysia. Sebuah kapal milik Dirjen Perhubungan Laut melihat setidaknya ada delapan kapal berbendera Malaysia bergerak di lokasi tersebut. Delapan kapal tersebut yang terdiri atas tiga unit kapal tunda atau tugboat dan empat kapal tongkang material sarat logistik.

Selain itu, petugas Dirjen Perhubungan Laut juga melaporkan ada satu unit kapal perang AL Malaysia yang mengawal. Satu kapal militer bergerak menuju perairan lebih-kurang 900 meter di depan patok SRTP 01.

Sebelumnya, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut menyatakan, sejak Selasa (20/5/2014), tak ada lagi aktivitas pembangunan tiang pancang Mercusuar yang dilakukan pihak Malaysia di wilayah Tanjung Datu, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.

Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Laksamana Pertama Manahan Simorangkir, mengatakan, berdasarkan laporan yang diterima dari petugas patroli, tak ada lagi kapal-kapal Negeri Jiran yang berada di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia tersebut. "Laporan tersebut kami terima terakhir sekitar pukul 12.00 WIB tadi," papar Laksamana Pertama Manahan Simorangkir saat dihubungi wartawan, Rabu (21/5/2014).

TNI Angkatan Laut mengirim satu kapal perang dan pesawat udara untuk memantau pembangunan Mercusuar oleh Malaysia di perairan Tanjung Datu, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Pontianak. "KRI telah siap dengan perlengkapan perang dan Tim Hidros TNI AL sebagai tim survei untuk mengidetifikasi lokasi tersebut," tegas Kepala Pangkalan TNI AL Pontianak Kolonel Laut Dwika Tjahja Setiawan, Rabu (21/5/2014).

Pemantauan udara dilakukan dengan mengunakan pesawat TNI AL U-621. Pemantauan dari udara itu digelar sejak Senin lalu. Saat ini, lanjut dia, tidak ada aktivitas pembangunan oleh pihak Malaysia. Kendati demikian, dari pantauan anggota, didapati keberadaan kapal penarik (tugboat) dan kapal Malaysia.

Kolonel Laut Dwika Tjahja Setiawan menandaskan, menurut peta laut yang dimiliki TNI AL, pembangunan rambu suar oleh pihak Malaysia berada di perairan Indonesia, tepatnya di titik koordinat 02.05.053N-109.38.760E. "Namun kami masih melakukan pengecekan kembali,” terang Kolonel Laut Dwika Tjahja Setiawan.

Pangdam XII/Tanjungpura Mayjen TNI Ibrahim Saleh menambahkan, pihaknya telah berusaha mencari keterangan soal pembangunan mercusuar itu. "Agak sulit untuk memperoleh informasi, namun baru bisa dikorek keterangannya ketika anggota menyamar menjadi wartawan," jelasnya.

Tak hanya itu, tutur Mayjen TNI Ibrahim Saleh, dugaan pelanggaran konsesi bukan hanya soal pembangunan mercusuar. "Laporan anggota saya, ada konsesi sawit dari perusahaan Malaysia yang masuk ke Indonesia," imbuhnya.

Ada pula laporan anggota TNI yang menyebutkan Malaysia membuat terowongan untuk mengeruk batu bara dari bawah tanah di perbatasan. (jos/tem)

See Also

Kota Surabaya Raih Guangzhou Awards 2018
Dubes Indonesia Untuk Arab Saudi Benarkan Rilis Soal Rizieq Shihab Darinya
Dunia Kembali Dihantui Era Perang Dingin
2 Negara Eropa Kecam Rencana Amerika Serikat Keluar Dari Perjanjian INF
Rusia Tuding Amerika Serikat Bermain Kasar
Presiden AS Batalkan Perjanjian Nuklir 1987 Dengan Rusia
Terlibat Skandal Gratifikasi Seks, Pejabat Imigrasi Singapura Diadili
Teleskop NASA Temukan 2 Planet Baru
Najib Razak Ditahan SPRM
Mantan PM Malaysia Ditahan
Najib Razak Ditahan KPK Malaysia
3 Kapal Perang Jepang Bersandar Di Pelabuhan Tanjung Priok
NASA Klaim Planet Proxima Centauri B Bisa Dihuni
Harun Yahya Tuduh Penangkapan Dirinya Konspirasi Inggris
Harun Yahya Ditangkap Kepolisian Turki
Eks Navy Seal Tewas Dalam Evakuasi Tim Sepak Bola Dari Gua Thailan
Pelaku Penembakan Brutal Staf Capital Gazette Ditangkap
Penembakan Staf Koran Capital Gazette
Seorang Ayah Tendang Dan Tinju Anak Sendiri Ditangkap
Turki Adakan Pemilu Hari Ini
Arab Saudi Resmi Mencabut Larangan Perempuan Menyetir
Gempa Guncang Osaka
Inggris Permudah Pengajuan Visa Bagi Pelajar Indonesia
Amerika Serikat Keluar Dari Dewan HAM PBB
PM Malaysia Mahathir Mohamad Umumkan Gaji Menteri Dipangkas 10 Persen
jQuery Slider

Comments

Archives :20182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 7.073.007 Since: 07.04.14 | 0.8437 sec