YouTube Facebook Twitter RSS
19 Dec 2018, 0

Hukum

JPU Tuntut Hafitd Hukuman Pidana Seumur Hidup

siarjustisia.com-JAKARTA.

Salah satu terdakwa kasus pembunuhan sadis mahasiswi fakultas psikologi Universitas Bunda Mulia (UBM), bernama Ade Sara Angelina Suroto, Muhammad alias Ahmad Imam Al-Hafitd alias Hafiz, 19 tahun, dituntut hukuman pidana penjara seumur hidup oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), Selasa (4/11/2014).

Hal itu dikatakan pihak JPU di persidangan pembacaan tuntutan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Selasa (4/11/2014).

"Kami Jaksa Penuntut Umum (JPU) menjatuhkan hukuman pidana kepada saudara Ahmad Imam Al Hafitd bin Sulaiman Ownie (19) dengan pidana selama seumur hidup," ucap Toton Rasyid selaku Jaksa Penuntut Umum (JPU) di persidangan pembacaan tuntutan, ruang sidang, Lantai III Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) memberikan tuntutan kepada pembunuh Ade Sara Angelina Suroto, Ahmad Imam Al-Hafitd hukuman seumur hidup. Tuntutan tersebut berdasarkan pertimbangan hal memberatkan dan tidak adanya hal yang meringankan bagi terdakwa.

Menurut Jaksa, terdapat enam hal yang memberatkan terdakwa. Dua di antaranya adalah perbuatan yang menyebabkan kematian dan mengakibatkan putusnya garis keturunan orangtua Ade Sara Angelina Suroto yang merupakan anak tunggal.

“Tidak ada hal yang meringankan. Terdakwa dituntut bersalah atas pembunuhan bersama-sama,” kata JPU Aji Susanto di PN Jakarta Pusat, Selasa (4/11/2014).

Dalam persidangan kali ini, Jaksa menganggap semua unsur primer dan subsider pada pasal yang digunakan untuk menuntut terdakwa sudah terpenuhi.

Maka kesimpulannya, terdakwa terbukti bersalah telah melakukan pembunuhan. Selain hukuman seumur hidup, jaksa juga menuntut agar terdakwa menyerahkan semua barang bukti dan membayar bea perkara.

Setelah dibacakan tuntutan, Majelis Hakim yang dipimpin oleh Hakim Absoro menawarkan terdakwa untuk berkonsultasi pada penasihat hukumnya, apakah akan mengajukan nota pembelaan terhadap tuntutan Jaksa.

Pihak penasihat hukum Ahmad Imam Al-Hafitd menyatakan akan mengajukan nota pembelaan yang akan dibacakan pada sidang Minggu depan, dengan agenda pembacaan pledoi.

Ahmad Imam Al-Hafitd (19) menjadi terdakwa karena telah melakukan pembunuhan terhadap Ade Sara Angelina Suroto bersama kekasihnya, Assyifa Ramadhani Anggraini alias Syifa. Ade Sara Angelina Suroto dianiaya dengan cara disetrum, dicekik, serta disumpal mulutnya menggunakan kertas dan tisu.

Korban pembunuhan Ade Sara Angelina Suroto sempat menasihati pembunuhnya, Ahmad Imam Al-Hafitd, sesaat sebelum disetrum. Ade Sara menasihati Hafitd setelah dia tahu terdakwa lain, Assyifa Ramadhani Anggraini, sedang bertengkar.

Ketika mobil KIA Visto yang dibawa Hafitd tiba di tempat les Ade Sara, yaitu Goethe-Institute, Ade Sara pun keluar mobil karena ada presentasi yang harus dia lakukan. Namun, Assyifa Ramadhani Anggraini mengejar Ade Sara dengan wajah sedih.

Melihat itu, Ade Sara pun bertanya kepada Assyifa tentang alasan kesedihannya. Assyifa jawab, dia baru saja bertengkar dengan Hafitd. Setelah itu, Ade Sara pun menawarkan diri untuk berbicara dengan Hafitd.

"Sara mengajak aku keluar. Dia mau temani aku bertemu Hafitd," jelas Assyifa di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (21/10/2014).

Setelah Ade Sara dan Assyifa keluar dari tempat les dan masuk ke dalam mobil Hafitd, Assyifa pun langsung menasihati Hafitd. "Fitd, kalau ngomong sama cewek jangan kasar-kasar, dong," ujar Assyifa yang menirukan ucapan Ade Sara.

"Diem lu, De, jangan banyak omong," kata Assyifa, yang menirukan jawaban Hafitd. Setelah itu, Hafitd langsung menyetrum Ade Sara.

Hafitd menyetrum Ade Sara sebanyak tiga kali. Assyifa kemudian menjambak rambut Ade Sara, yang sudah lemas. Ia kemudian menurunkan tubuh Ade Sara ke bawah. Ketika Hafitd menyetrum Ade Sara, Assyifa mengaku sudah melarang Hafitd agar menghentikan perbuatannya.

Hal itu dia katakan dalam sidang keterangan terdakwa. Saat itu, Hafitd menunggu di luar ruang sidang.

Saat mendapat giliran memberi keterangan, Hafitd menceritakan kronologi yang sama dengan Assyifa.

Saat sidang keterangan terdakwa, Hafitd mengaku bahwa dia lah yang menyetrum Ade Sara Angelina Suroto dan membuang jasad Ade Sara Angelina Suroto di Jalan Tol Bintara Kilometer 49, Bekasi Barat, Kota Bekasi.

Bedanya, Hafitd mengaku bahwa sudah ada kesepakatan antara dia dan Assyifa untuk menyetrum ketika Ade Sara sudah kembali memasuki mobil. "Sudah disepakati berdua Assyifa," beber Hafitd.

Kedua sejoli yakni Muhammad alias Ahmad Imam Al-Hafitd alias Hafiz, 19 tahun bersama kekasih, Assyifa Ramadhani Anggraini alias Syifa (18) didakwa dengan tiga pasal berlapis. Pada dakwaan primer ini kedua terdakwa dikenakan Pasal 340 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana dengan ancaman hukuman maksimal hukuman mati.

Selain itu, pasal tersebut dikenakan berdasarkan hasil otopsi. Diketahui, hasil otopsi menunjukkan terdapat gumpalan dalam rongga mulut Ade Sara Angelina Suroto.

Tak hanya itu, adanya gangguan proses pernafasan. Lalu, penyebab kematian lantaran akibat sumbatan rongga mulut yang menimbulkan korban mati lemas.

Pasal tersebut subsider dengan Pasal 338 KUHPidana tentang Pembunuhan Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana. Dalam pasal ini, kedua terdakwa terancam hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Pasal lebih subsider lagi adalah Pasal 353 ayat (3) KUHPidana tentang Penganiayaan yang Menyebabkan Kematian Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana. (jos)

See Also

Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
KPK Tetapkan Mantan Pejabat Kemendagri Tersangka Korupsi 2 Gedung IPDN
KPK Pelajari Pengajuan JC Budi Mulya
Kemendes Didorong Bentuk Sekretariat Bersama Penanganan Masalah Dana Desa
Kapolri Kukuhkan Polda DIY Jadi Tipe A
KPK Periksa Petinggi Anak Usaha PT. PLN (Persero)
KPK Periksa Corporate Communication PT. PLN (Persero)
KPK Dalami Rekaman Percakapan Idrus Marham Dan Eni Maulani Saragih
Mabes Polri Selidiki Motif Penyerangan Polsek Metro Penjaringan
Sidang Lanjutan Julius Lobiua Mendengarkan 2 Keterangan Ahli
KPK Tahan Wakil Ketua DPR RI
KPK Usut Penggunaan Uang Korupsi Bupati Lampung Selatan
Kasus TPPU Bupati Lampung Selatan, KPK Sita 16 Bidang Tanah
Kronologi OTT DPRD Kalimantan Tengah
KPK OTT Anggota DPRD Kalteng
Bupati Cirebon Setelah Diperiksa Ditahan KPK
KPK Tetapkan Bupati Cirebon Tersangka
KPK Tangkap Bupati Cirebon
KPK Perpanjang Masa Penahanan Bupati Lampung Selatan Nonaktif
Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
Keterangan Ahli Ketua DPD KAI DKI Jakarta Pada Sidang Lanjutan Julius Lobiua
TNI AL Ringkus Pelaku Narkoba Di Tanjung Ahus
TNI AL Gagalkan Penyelundupan 506 Gram Narkoba
Polisi Limpahkan Berkas Perkara Mantan Wali Kota Depok Ke Kejaksaan
Rekayasa Lalin Di KPU Saat Pengundian Nomor Urut Capres Cawapres
jQuery Slider

Comments

Archives :20182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 7.119.860 Since: 07.04.14 | 0.5908 sec