YouTube Facebook Twitter RSS
17 Jul 2019, 0

Hukum

Kronologi Penangkapan Edi Palembang, Perampok Tewaskan Polisi

siarjustisia.com-PEKANBARU.

Akrardinata alias Riki alias Dina alias Edi Palembang tenar di kampung halamannya, Nagari Kacang, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, provinsi Sumatera Barat, tewas dalam baku tembak dengan polisi dalam penyergapan saat menginap di kontrakan temannya bernama BS alias Bujang di kawasan Srengseng, Kampung Sawah Balong RT06/RW04 3A, Kelurahan Srengseng, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat, Senin (1/12/2014) sekitar pukul 04.00 WIB dini hari. Akrardinata alias Dina alias Edi Palembang (EP), tewas saat ditangkap polisi karena melakukan perlawanan.

Selama menginap di kontrakan BS, sehari-harinya baik Edi Palembang maupun temannya tersebut cenderung tertutup kepada para tetangga dan tidak bergaul dengan warga. Dan mereka juga tidak melapor ke RT setempat.

Naasnya, EP tewas di kloset kamar mandi di bagian belakang kontrakan. Kontrakan itu disewa oleh BS alias Bujang biaya sebesar Rp 700 ribu tersebut sudah termasuk biaya listrik dan air dari pemilik rumah kontrakan bernama Makmun (50 tahun).

BS merupakan teman dari EP. Pada Minggu (30/11/2014) kemarin, BS kehadiran tamu yakni EP dan satu pria lagi tidak diketahui identitasnya.

Direktur Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Riau, Kombes Pol Arif Rahman Hakim membenarkan hal ini dan menyatakan tertangkapnya Edi Palembang, setelah personel menguntitnya, membuntutinya, dan melakukan penyergapan, Senin (1/12/2014) dinihari tadi, sekitar pukul 04.00 WIB.

"Benar, dan pelaku kita kepung, lalu terjadi kontak senjata beberapa menit, EP sempat tertembus peluru, dan tewas di lokasi penyergapan," ungkap Kombes Pol Arif Rahman Hakim.

Dari informasi yang berhasil dirangkum, penangkapan Edi Palembang dilakukan di Kembangan, Jakarta Barat. Kembangan, Jakarta Barat, akhirnya menjadi lokasi terakhir pelarian buronan Polda Jambi, Akrardinata alias Dina alias Edi Palembang. Setelah kucing-kucingan dengan anggota Polda Jambi, EP sempat berhasil lolos dan kabur kala disergap tim gabungan di Sarolangun Jambi. Namun kali ini, pelaku yang dikenal licin itu tak berkutik, hingga akhirnya tewas usai baku tembak dengan anggota Polda Jambi.

Menurut informasi yang dirangkum wartawan, sebelum ditangkap cincin yang biasa dipakai EP diambil oleh seorang wanita yang merayunya. Setelah wanita itu pergi dengan alasan ke toilet, EP bersama dua temannya meninggalkan lokasi tempat dia makan. “Ada wanita yang membawa cincinnya, sebab beberapa kali saat disergap, EP kerap lolos meski sempat ditembak,” beber salah seorang sumber kepada awak media yang enggan disebutkan namanya, di Polda Riau, Senin (1/12/2014).

Sebelumnya, Edi Palembang, berhasil kabur kala disergap tim gabungan di Sarolangun Jambi. Namun kali ini, pelaku yang dikenal licin itu tak berkutik, hingga akhirnya tewas usai baku tembak.

Edi Palembang sudah 3 kali ditangkap namun lolos meski beberapa kali diberondong peluru. Perampok yang dikenal licin ini, kerap membawa cincin dan keris yang dipercayai bisa membuatnya kebal dan hilang dari pandangan mata petugas.

Setelah cincin EP dibawa oleh wanita tersebut, EP merasa curiga lalu meninggalkan lokasi tempat dia makan. Saat meninggalkan lokasi itulah EP langsung disergap sekitar 16 personel gabungan Polda Riau dan Polresta Pekanbaru dengan berkoordinasi bersama Polda Metro Jaya.

Menurut informasi yang dirangkum wartawan, sebelum ditangkap EP bersama dua temannya meninggalkan lokasi tempat dia makan. Saat akan pergi, polisi menghadang, lalu melumpuhkan tubuhnya dengan peluru.

EP yang pernah menembak mati seorang anggota Buser Polsek Senapelan Aipda Anumerta (Bripka) Hariyanto Bahari ini pun, tewas bersimbah darah tertembak di bagian dada.

“Saat akan disergap, Edi melepaskan tembakan ke arah anggota, lalu anggota membalas tembakan hingga akhirnya dia terjatuh akibat terkena tembakan, dan akhirnya meninggal dunia," urai Direktur Kriminal Umum Polda Riau Kombes Pol Arif Rahman Hakim, kepada wartawan.

Terkait cincin yang dipakainya sehingga kerap lolos meski 3 kali disergap dan ditembaki tapi tidak kena, polisi tidak bisa membuktikannya secara hukum. “Ya, itu tidak bisa kita buktikan secara hukum, memang beberapa kali saat akan ditangkap, EP kerap lolos,” jelas mantan Dir Res Narkoba Polda Sumbar, Kombes Pol Arif Rahman Hakim.

Kabid Humas Polda Riau, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Guntur Aryo Tejo, SIK kepada awak media membenarkan hal itu.

Menurutnya, selain EP, petugas Gabungan Jatanras Polda Riau bersama Satreskrim Polresta Pekanbaru saat itu juga menangkap 2 temannya, yakni inisial BS alias Bujang warga Padang, FW warga Lampung. "Jatanras Polda Riau dan Satreskrim Polresta Pekanbaru mengendus pelarian EP sejak dari kawasan Solok Sumbar, Lubuk Linggau kota Palembang, serta Sarolangun kota Jambi. Bersama dua rekannya BS dan FW, ia pun melanjutkan pelariannya ke Jakarta Barat," urai AKBP Guntur Aryo Tejo, SIK.

Dengan dibantu jajaran Polda Metro Jaya, Edi Palembang (EP) dikepung saat berada di kawasan Srengseng Sawah Balong Kelurahan Srengseng Kecamatan Kembangan Jakarta Barat. Saat akan ditangkap, pelaku mencoba mengambil senpi miliknya, dan melepas tembakan. Perampok berjuluk raja tega ini akhirnya takluk dalam kepungan 25 personel polisi. “Belajar dari pengalaman sebelumnya, saat pelaku mencoba mengambil senjata api, polisi segera melumpuhkannya, hingga pelaku akhirnya tewas di TKP,” terang AKBP Guntur Aryo Tejo, SIK.

Pascaperistiwa itu, jenazah EP dibawa oleh anggota Polda Jambi termasuk pula BS dan seorang rekan EP serta beberapa barang bukti turut diangkut pihak berwajib.

Saat penggerebekan, di dalam kontrakan ada tiga orang yakni  BS, EP, dan satu pria lagi tidak diketahui identitasnya. Di kontrakan itu, BS tinggal sendiri dan beberapa kali istrinya datang untuk menengok.

Polisi juga menyita sejumlah barang bukti berupa 1 pucuk Senjata Api (Senpi) rakitan jenis Revolver berisi 6 butir peluru, 5 unit Hand Phone (HP), serta dompet. “Senjata itu yang digunakan pelaku untuk melakukan perlawanan ketika akan ditangkap, lalu ditembak dan tewas,” papar AKBP Guntur Aryo Tejo, SIK. (tri/jos/mer)

See Also

Hasil Rapat MK Soal Penerimaan Gugatan Pilpres Pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno
Susunan Tim Kuasa Hukum Pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno
Hashim Djojohadikusumo Penanggung Jawab Gugatan Pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno Ke MK
Anggota Brimob Sipit Yang Dituduh Dari China Tegaskan Asli Indonesia
BPN Prabowo Subianto-Sandiaga Uno Daftarkan Gugatan Hasil Pilpres Ke MK Malam Nanti
MK Putuskan Gugatan Pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno Maksimum 14 Hari
Densus 88 Antiteror Tangkap 29 Terduga Teroris Berencana Ledakkan Bom
Sepanjang Tahun 2019, Polri Tangkap 68 Terduga Teroris Jaringan JAD
KPK Geledah Kantor Ditjen PSDKP
KPK Geledah Kantor PT. Daya Radar Utama
KPK Lelang Rumah Mewah Mantan Ketua DPRD Dan Bupati Bangkalan
Dukun Cabul Di Garut Diancam 15 Tahun Bui
Kalapas Dan 13 Petugas Lapas Nusakambangan Dicopot
Ketua Umum AKKMI Pertanyakan KSOP Mengutip PNBP
Keberadaan Lembaga KSOP Dinilai Masih Perlu Payung Hukum
AKKMI Soroti Legalitas Kantor Syahbandar Dan Otoritas Pelabuhan
AKKMI Dan APDHI Selenggarakan Seminar Nasional Pertanyakan Keamanan & Keselamatan Pelayaran
Syahbandar Miliki Peran Penting Dalam Mendukung Keamanan Dan Keselamatan Pelayaran
Pembentukan Syahbandar Utama & KSOP Disoroti
Legalitas KSOP Di Seluruh Pelabuhan Dipertanyakan
KPK Panggil Setya Novanto Sebagai Saksi
KPK Periksa Staf Khusus Menteri Agama
KPK Periksa Direktur SDM Adhi Karya
KPK Tetapkan Mantan Sekda Malang Sebagai Tersangka
Mantan Sekda Malang Ditahan KPK
jQuery Slider

Comments

Archives :201920182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 8.097.535 Since: 07.04.14 | 0.5553 sec