YouTube Facebook Twitter RSS
21 Oct 2018, 0

Hukum

Orang Tua Ade Sara Kecewa Pembunuh Anaknya Divonis 20 Tahun

siarjustisia.com-JAKARTA.

Sepasang kekasih pembunuh sadis terhadap Ade Sara Angelina Suroto (18 tahun) yaitu Muhammad alias Ahmad Imam Al-Hafitd alias Hafiz (19) dan Assyifa Ramadhani Anggraini alias Syifa (18) akan menghadapi vonis di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Selasa (9/12/2014) siang ini. Sidang rencananya akan dimulai pukul 12.00 WIB.

Dalam persidangan sebelumnya, kedua terdakwa kasus pembunuhan Ade Sara tersebut dituntut dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Dengan ancaman hukuman bui seumur hidup.

Ayah Ade Sara Angelina Suroto, Suroto yang ditemui sebelum mengikuti jalannya sidang, mengharapkan Majelis Hakim memberikan hukuman penjara seumur hidup. Pasalnya, dia meyakini kedua pasangan tersebut melakukan pembunuhan berencana pada anaknya. "Harapannya majelis hakim memberikan hukuman sesuai JPU, tidak dilebihkan dan tidak dikurangi," katanya di PN Jakarta Pusat, Selasa (9/12/2014).

Dua terdakwa kasus pembunuhan sadis mahasiswi fakultas psikologi Universitas Bunda Mulia (UBM), korban bernama Ade Sara Angelina Suroto (18 tahun) yakni Muhammad alias Ahmad Imam Al-Hafitd alias Hafiz (19) dan Assyifa Ramadhani Anggraini alias Syifa (18) telah divonis hukuman pidana penjara selama 20 tahun, oleh Majelis Hakim, Abosoro, di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Selasa (9/12/2014).

Orangtua Ade Sara Angelina Suroto, Suroto dan Elizabeth Diana Dewayani langsung keluar dari ruang sidang sesaat Hakim Ketua, Abosoro membacakan hukuman 20 tahun penjara kepada Assyifa Ramadhani Anggraini. Ternyata, hasil keputusan Majelis Hakim di persidangan tidak membuat Suroto lega ataupun puas.

Ayah Ade Sara Angelina Suroto, Suroto menyesalkan putusan vonis 20 tahun penjara yang diberikan oleh Hakim kepada Ahmad Imam Al-Hafitd dan Assyifa Ramadhani Anggraini.

Suroto dan keluarganya sangat berharap Majelis Hakim memenuhi tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuntut hukuman penjara seumur hidup.

"Saya tidak melihat setimpal atau tidak setimpal, tapi saya melihat tuntutan Hakim tidak sesuai dengan harapan keluarga dan juga tuntutan JPU," tukas Suroto kepada awak media, Selasa (9/12/2014).

Suroto menilai putusan Hakim tersebut sangatlah ringan bila dibandingkan dengan hilangnya nyawa sang anak yang telah dibunuh oleh para terdakwa.

Menurut Suroto, masa hukuman 20 tahun penjara terlalu cepat bagi kedua pembunuh.

Terlebih masa hukuman tersebut, akan semakin berkurang bila keduanya mendapatkan remisi, bahkan mendapatkan bebas bersyarat.

"JPU kan menuntut seumur hidup, tapi vonis cuma 20 tahun. 20 tahun belum dipotong masa tahanan, belum nanti remisi-remisi yang didapat, belum nanti dapat bebas bersyarat, jadinya sedikit sekali nanti hukumannya," keluh Suroto.

Sebagai seorang ayah, Suroto tidak ingin menilai apakah putusan Hakim sudah setimpal dengan perbuatan yang dilakukan kedua terdakwa yang tega menghabisi nyawa anaknya.

Ia hanya bisa berharap Hakim dapat memberikan vonis sesuai dengan tuntutan JPU. Pihaknya pun akan mengajukan banding atas vonis yang dijatuhkan terhadap Ahmad Imam Al-Hafitd dan Assyifa Ramadhani Anggraini.

"Saya tidak ingin mengartikan vonis tersebut setimpal atau tidak, yang kami harapkan vonis tersebut sesuai dengan tuntutan JPU. Kami juga sudah mengajukan banding, semoga ada perubahan dan sesuai dengan harapan kami dari pihak keluarga," harap Suroto.

Dirinya mengaku ingin kedua terdakwa tersebut untuk dihukum seumur hidup. “Kalau mengukur pantas tak pantas, itu sulit. Kami punya harapan vonis hari ini sama dengan keputusan JPU yakni seumur hidup. Namun harapan kami berbeda dengan diputuskan Hakim. Kami maunya seumur hidup," ucapnya.

Kedua orangtua Ade Sara Angelina Suroto, mengaku kecewa atas keputusan Majelis Hakim. “Kalau saya melihat begini, mungkin istri saya kecewa. Tapi kalau kedua terdakwa meminta banding, jelas itu hak mereka. Kecewanya istri saya itu seperti ini, mereka kan sudah melakukan tindak kriminalitas yang sangat kejam. Jika mereka mengajukan banding, berarti mereka belum mengakui perbuatannya itu salah," jelas ayahanda Ade Sara Angelina Suroto, Suroto di PN Jakpus.

Lebih lanjut Suroto menanggapi, dirinya merasa kedua terdakwa harus menerima hasil keputusan Majelis Hakim.

Namun, ia mengaku dirinya masih kecewa, karena keinginan dia dan istrinya, Elizabeth Diana Dewayani, kedua terdakwa harus dihukum seumur hidup sesuai tuntutan awal Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Ia juga menanggapi lagi, hasil keputusan Majelis Hakim bukanlah keputusan ajang balas dendam.

"Seharusnya harus menerima konsekuensinya. Itu kan karena diajarin sama pengacaranya saja soal perkataan keputusan JPU itu balas dendam. Coba, anak saya tewas apakah saya melakukan tindakan untuk balas dendam untuk kedua terdakwa? Enggak tuh. Kalau mereka tidak ingin ada pembalasan dendam, ya jangan bertindak kriminal," tutur Suroto.

Menurut Suroto, apabila kedua terdakwa tidak ingin dovonis, janganlah melakukan tindak kriminal. "Kalau mereka sampai divonis, ya mereka melakukan tindak kriminal kok. Terbukti malah perbuatan mereka itu pembunuhan berencana," katanya.

Suroto juga menambahkan, walaupun umur kedua terdakwa terbilang masih muda, menurut dia bukan berarti hukuman untuk mereka pantas diringankan. " Jangan semata-mata dijadikan alasan hukuman untuk mereka mesti ringan karena masih muda. Mereka masih muda, tapi bisa membunuh. Masih muda loh mereka, sudah bisa membunuh lagi. Apalagi kalau sudah dewasa," tutupnya.

Sementara itu, Elizabeth Diana Dewayani mengatakan dirinya setuju keputusan Majelis Hakim soal kasus tersebut adalah kasus pembunuhan berencana,

"Saya sependapat kasus ini merupakan kasus pembunuhan berencana. Ini memang mereka sudah rencanakan itu sejak awal," terangnya.

Dirinya juga mengimbau untuk kedua terdakwa untuk berpikir panjang apabila ingin mengajukan banding. "Kalau saya memandang ya harus berhati-hati jika ingin mengajukan banding. Seperti yang saya tahu, kasus Sisca Yofie, mereka mendapat hukuman dluar yang diinginkan karena mengajukan banding. Jadi Tolonglah berpikir panjang," tutupnya.

Diberitakan sebelumnya pada Selasa (4/11/2014) lalu, pasca pembacaan tuntutan di PN Jakarta Pusat, Syifa tak beranjak dan mulai menangis sesengukkan. Ibunda Syifa yang hadir dalam persidangan dengan mengenakan cadar warna hitam langsung menghampiri. Ia memeluk Syifa dan mengelus punggung Syifa, tangis pun pecah dari wanita muda itu. "Syifa kuat, Syifa cuma korban. K‎uat Syifa," hibur Ibunda Syifa yang enggan memberikan namanya.

Syifa langsung menangis semakin keras. Sapu tangan putih yang tampak lembab digenggam erat di tangan kirinya untuk menyeka air mata yang membanjiri pipinya. Sang Ibu hanya mampu menenangkan anaknya dengan kata-kata, dan Syifa membenamkan wajahnya di perut Ibunya. "Syifa kuat nak. Kamu cuma korban," ujar Ibunda Syifa lagi.

"Astafigrullaaaaaaah!!!" tiba-tiba Syifa istigfar sambil teriak histeris.

Saat baru tiga langkah masuk ke ruang tahanan, Syifa histeris, menjerit dan menangis sejadinya. Lalu ia pingsan. Ibunya bersama beberapa tahanan wanita mengangkat Syifa ke sebuah dipan di dalam ruang tahanan, salah satu tahanan memberikan balsem untuk membuat Syifa siuman.

Seperti diketahui, Muhammad alias Ahmad Imam Al-Hafitd alias Hafiz (19) dan Assyifa Ramadhani Anggraini alias Syifa (18) dituntut hukuman seumur hidup oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Ahmad Imam Al-Hafitd menjadi terpidana karena telah melakukan pembunuhan terhadap Ade Sara Angelina Suroto bersama kekasihnya, Assyifa Ramadhani Anggraini. Pembunuhan keji itu dilakukan pada Senin (3/3/2014).

Sebelum dibunuh, Ade Sara Angelina Suroto disiksa oleh kedua terdakwa di dalam mobil KIA Visto B 8328 JO milik terdakwa Ahmad Imam Al-Hafitd. Ade Sara Angelina Suroto tewas lantaran dianiaya dengan cara tragis yakni disetrum dengan menggunakan alat setrum, dicekik, serta disumpal mulutnya menggunakan kertas dan tisu. Dengan motif karena dipicu masalah cinta segitiga.

Oleh kedua terdakwa, jasadnya lalu dibuang di pinggir Tol JORR kawasan Bintara, Jalan Tol Bintara Kilometer 49, Bekasi Barat, Kota Bekasi, provinsi Jawa Barat. Tak hanya disumpal, agar tidak kabur, Ade Sara Angelina Suroto dipaksa membuka baju oleh terdakwa Assyifa Ramadhani Anggraini dengan maksud agar korban tidak kabur dari mobil. Mayat Ade Sara Angelina Suroto tersebut ditemukan Rabu (5/3/2014). (jos)

See Also

Polisi Limpahkan Berkas Perkara Mantan Wali Kota Depok Ke Kejaksaan
Rekayasa Lalin Di KPU Saat Pengundian Nomor Urut Capres Cawapres
KPK Perpanjang Masa Penahanan Idrus Marham
Kombes Pol. Panca Putra Simanjuntak Jadi Direktur Penyidikan KPK
Kapolda Jambi Bongkar Peredaran Narkoba Dari Aceh Ke Kota-kota Di Sumatera Dan Jawa
Kasus Korupsi Massal DPRD Sumut, KPK Sita Lagi Uang Suap
KPK Periksa Dirjen Minerba
KPK Cegah Bos Borneo Lumbung Energi Ke Luar Negeri
Tim Resmob Polda Kalbar Ringkus Preman Penganiaya Penjaga Toko Arloji
Kongres Advokat Indonesia Tuntut Bebaskan Julius Lobiua
Masyarakat Pulau Pari Kembali Unjuk Rasa PN Jakarta Utara
Densus 88 Antiteror Tahan Satu Keluarga Di Sleman
Penjambret Yang Tewaskan Penumpang Ojol Di Cempaka Putih Terciduk
KPK Geledah Rumah Dinas Gubernur Aceh
Polres Jaktim Terus Buru Penjambret Tewaskan Penumpang Ojol Di Cempaka Putih
Kronologi OTT Gubernur Aceh Dan Bupati Bener Meriah
Gubernur Aceh Ditahan KPK
Gubernur Aceh Jadi Tersangka
KPK Tetapkan Gubernur Aceh Dan Bupati Bener Meriah Sebagai Tersangka
Keppres Pilkada Serentak 27 Juni 2018 Sebagai Hari Libur Nasional
Polda Metro Jaya Kerahkan 41.000 Personel Amankan Pilkada
Jennifer Dunn Divonis 4 Tahun Penjara
Jaksa KPK Tuntut Rita Widyasari Dihukum 15 Tahun Penjara
Densus 88 Antiteror Sergap Terduga Teroris JAD Di Cirebon
Densus 88 Antiteror Lumpuhkan Dua Terduga Teroris Di Depok
jQuery Slider

Comments

Archives :20182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 6.795.248 Since: 07.04.14 | 0.65 sec