YouTube Facebook Twitter RSS
20 Aug 2018, 0

Hukum

Tanggapan Orangtua Ade Sara Soal Vonis Pembunuh Anaknya

siarjustisia.com-JAKARTA.

Sepasang kekasih pembunuh sadis terhadap Ade Sara Angelina Suroto (18 tahun) yaitu Muhammad alias Ahmad Imam Al-Hafitd alias Hafiz (19) dan Assyifa Ramadhani Anggraini alias Syifa (18) akan menghadapi vonis di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Selasa (9/12/2014) siang ini. Sidang rencananya akan dimulai pukul 12.00 WIB. Saat ini, baik orang tua korban, Suroto dan Elizabeth Diana Dewayani sedang menunggu sidang yang belum juga digelar.

Dalam persidangan sebelumnya, kedua terdakwa kasus pembunuhan Ade Sara tersebut dituntut dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup.

Tak ada ekspresi yang mengambarkan kepuasan dari wajah orang tua Ade Sara Angelina Suroto, yang ada hanya mata yang sembab karena baru saja menangis teringat putri kesayangan mereka saat tiga Majelis Hakim membacakan kronologis kasus pembunuhan berencana secara bergantian pada sidang pembacaan vonis di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Selasa (9/12/2014).

Sebelumnya, tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam kasus pembunuhan berencana Ade Sara Angelina Suroto, Aji Susanto dan Toton Rasyid, menuntut terdakwa Ahmad Imam Al-Hafitd dan Assyifa Ramadhani Anggraini dengan hukuman maksimal, yakni penjara seumur hidup.

Ayah Ade Sara Angelina Suroto, Suroto mengatakan bahwa dirinya menghargai keputusan Hakim yang memvonis dua terdakwa pembunuh anak semata wayangnya dua puluh tahun penjara. “Sebenarnya kami berharap tuntutan JPU diterima Majelis Hakim, namun apabila dalam proses banding ternyata vonis dari Hakim lebih ringan dari 20 tahun, maka tentu Jaksa Penuntut Umum akan melakukan banding,” tutur Suroto.

Orang tua korban pembunuhan Ade Sara, Suroto dan Elizabeth Diana Dewayani berharap Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menghukum pembunuh anaknya dengan vonis penjara seumur hidup. Apabila vonis tak sesuai dengan tuntutan Jaksa, Suroto berharap Jaksa mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi. "Saya kira Jaksa lebih tahu, kalau vonis tidak sesuai dengan tuntutan akan mengajukan banding," ujar Suroto ketika ditemui di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (9/12/2014).

Suroto mengaku tidak pernah sedetikpun merasa puas setelah Hakim Ketua membacakan vonis 20 tahun penjara baik pada Assyifa Ramadhani Anggraini maupun Ahmad Imam Al-Hafitd. “Perbuatan mereka memang sudah seharusnya dipertanggungjawabkan, kalau bicara puas atau tidak puas, keputusan Hakim seperti apapun tidak akan mengembalikan Sara anak kami,” lanjut Suroto.

Orangtua Ade Sara tidak ingin menangapi vonis Hakim terhadap kedua pelaku pembunuh anaknya dengan hukuman penjara 20 tahun.

Suroto, yang ditemui di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (9/12/2014), mengatakan bahwa sejak awal dia telah menyerahkan semua hukuman dalam kasus pembunuhan anaknya kepada Majelis Hakim. "Vonis kedua tersangka saya menyerahkan semuanya kepada Hakim," katanya.

Namun Suroto menanggapi pernyataan penasihat hukum Ahmad Imam Al-Hafidt dan Assyifa Ramadhani Anggraini. Kata dia, banding yang diajukan menunjukan bahwa mereka tidak menyesali perbuatannya. "Jika memang mereka akan mengajukan banding sama saja mereka tidak menyesali perbuatannya dan mengaku bersalah," katanya lagi.

Namun demikian Suroto meragukan bahwa Ahmad Imam Al-Hafitd dan Assyifa Ramadhani Anggraini dapat merubah sifat dan sikapnya meskipun dihukum 20 tahun penjara. “Mereka dengan usia masih muda belia saja bisa sanggup melakukan pembunuhan yang sangat keji, apalagi kalau nanti mereka bisa mendapatkan hukuman yang lebih ringan, apakah di usia dewasanya mereka dapat dipastikan tidak mengulangi perbuatannya saat ini,” tambah Suroto.

Sementara itu, Elizabeth Diana Dewayani, ibunda Ade Sara, mengatakan bahwa keputusan Hakim merupakan jalan hidup yang harus dihadapi keduanya. “Saya tidak bisa bilang setuju atau tidak setuju terhadap keputusan hakim, karena sejak awal jalannya sidang pengadilan, saya mempercayai proses hukum yang berjalan,” ujar Elizabeth Diana Dewayani.

Elizabeth Diana Dewayani juga menjelaskan bahwa setiap tindakan yang dilakukan Assyifa Ramadhani Anggraini dan Ahmad Imam Al-Hafitd merupakan keputusan murni dari kedua individu tersebut. “Apabila ternyata selama proses peradilan mereka mendapatkan tekanan sosial dari masyarakat itu adalah akibat dari apa yang mereka perbuat, jadi bukan karena orang lain, itu adalah upah yang mereka terima atas perbuatan mereka sendiri,” kata Elizabeth Diana Dewayani.

Pembelaan yang diajukan oleh Ahmad Imam Al-Hafitd dan Assyifa Ramadhani Anggraini maupun penasihat hukumnya telah membuat kedua orangtua Ade Sara Angelina, Suroto dan Elizabeth Diana Dewayani bersedih. Menurut mereka, anaknya telah nyata-nyata dibunuh secara berencana oleh sejoli itu. "Seharusnya, (eksepsi) tidak diterima. Sudah melakukan pembunuhan kok masih neko-neko," cetus Suroto beberapa waktu lalu.

Ibunda Ade Sara, Elizabeth Diana Dewayani, juga pernah mengatakan anaknya sering mendapat teror dari Ahmad Imam Al-Hafitd setelah mereka berdua putus. Ahmad Imam Al-Hafitd sering mengancam akan menyakiti Ade Sara Angelina Suroto dengan kata-kata kasar melalui media sosialnya. Itu menurut Elizabeth Diana Dewayani sudah merupakan sebuah rencana pembunuhan terhadap anaknya. "Yang paling benci dengan anak saya itu Hafitd dan Assyifa. Kebencian mereka sudah ada sejak lama," beber Elizabeth Diana Dewayani.

Saat ditanya oleh jurnalis apakah keluarga Ade Sara sudah memaafkan perbuatan kedua terdakwa, Elizabeth Diana Dewayani mengaku sudah memaafkan sejak awal. “Dari awal kami sudah bilang, bahwa kita mengambil sikap tidak membalas kejahatan dengan kejahatan tapi menyerahkan apa yang dialami Ade Sara pada penegak hukum,” lanjut Elizabeth Diana Dewayani.

Elizabeth Diana Dewayani mengungkapkan permintaan maaf terdakwa dan orang tuanya untuk meminta maaf kepada dirinya dan Suroto merupakan langkah yang tidak tepat. “Mereka seharusnya meminta maaf langsung kepada Ade Sara, kami sebagai orang tua tidak bisa mewakili permintaan maaf mereka yang seharusnya ditujukan kepada Sara,” tutup Elizabeth Diana Dewayani.

Assyifa Ramadhani Anggraini alias Syifa mengaku sangat menyesal atas perbuatannya. Gadis 18 tahun ini mengatakan kematian Ade Sara di luar kehendak dan batas kesadarannya.  “Saya minta maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga Ade Sara terutama kepada kedua orang tua Ade Sara, Om Suroto dan Tante Elizabeth,” ucap Asyifa Ramadhani, satu terdakwa kasus pembunuhan Ade Sara.

“Saya juga menyesali tak akan melakukan perbuatan ini lagi,” tambah wanita berusia 18 tahun ini sambil menangis saat membacakan pledoi (pembelaan) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (18/11/2014).

Di hadapan Majelis Hakim diketuai Absoro, mahasiswi perguraan tinggi swasta di Jakarta Ini juga tak kuasa merasakan kepedihan yang dialami orangtua Ade Sara. “Maafkan Syifa, ya,  karena telah membuat duka di hati om dan tante, ” katanya .

Dalam pembelaan beberapa lembar tersebut Syifa meminta kepada Majelis Hakim agar meringankan hukumannya karena  hakim masih ingin melanjutkan pendidikan dan bisa membuat bangga orangtuanya. Selanjutnya, Syifa tak ingin menghabiskan hidupnya di penjara. Mahasiswa tingkat pertama itu masih punya mimpi melanjutkan studinya. “Majelis Hakim, Syifa masih mempunyai harapan dan saat ini ingin meneruskan pendidikan untuk mewujudkan semua cita-cita untuk membahagiakan kedua orang tua Syifa,” tukasnya. “Apalagi saya masih ingin membiayai orangtua naik Haji,” pungkasya. (jos)

See Also

Tim Resmob Polda Kalbar Ringkus Preman Penganiaya Penjaga Toko Arloji
Kongres Advokat Indonesia Tuntut Bebaskan Julius Lobiua
Masyarakat Pulau Pari Kembali Unjuk Rasa PN Jakarta Utara
Densus 88 Antiteror Tahan Satu Keluarga Di Sleman
Penjambret Yang Tewaskan Penumpang Ojol Di Cempaka Putih Terciduk
KPK Geledah Rumah Dinas Gubernur Aceh
Polres Jaktim Terus Buru Penjambret Tewaskan Penumpang Ojol Di Cempaka Putih
Kronologi OTT Gubernur Aceh Dan Bupati Bener Meriah
Gubernur Aceh Ditahan KPK
Gubernur Aceh Jadi Tersangka
KPK Tetapkan Gubernur Aceh Dan Bupati Bener Meriah Sebagai Tersangka
Keppres Pilkada Serentak 27 Juni 2018 Sebagai Hari Libur Nasional
Polda Metro Jaya Kerahkan 41.000 Personel Amankan Pilkada
Jennifer Dunn Divonis 4 Tahun Penjara
Jaksa KPK Tuntut Rita Widyasari Dihukum 15 Tahun Penjara
Densus 88 Antiteror Sergap Terduga Teroris JAD Di Cirebon
Densus 88 Antiteror Lumpuhkan Dua Terduga Teroris Di Depok
Anggota DPRD Kota Bogor Diamankan Polresta Bogor Kota
Polisi Siaga Jaga Sidang Vonis Aman Abdurrahman
Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati
Polres Manggarai Barat Bekuk Pemerkosa 2 Turis Mancanegara
Babinsa Kodim 0716/Demak Evakuasi Sosok Mayat Berhelm Yang Gantung Diri
Kapolres Bogor Larang Anggotanya Ambil Jatah Libur
Dana BOS Malah Dipakai Beli Buku Yang Jauh Lebih Mahal Daripada Buku Resmi
6 Saksi Penting Kasus BLBI Kembali Dicekal
jQuery Slider

Comments

Archives :20182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 6.449.349 Since: 07.04.14 | 0.6468 sec