YouTube Facebook Twitter RSS
26 May 2019, 0

Hukum

Tanggapan Orangtua Ade Sara Soal Vonis Pembunuh Anaknya

siarjustisia.com-JAKARTA.

Sepasang kekasih pembunuh sadis terhadap Ade Sara Angelina Suroto (18 tahun) yaitu Muhammad alias Ahmad Imam Al-Hafitd alias Hafiz (19) dan Assyifa Ramadhani Anggraini alias Syifa (18) akan menghadapi vonis di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Selasa (9/12/2014) siang ini. Sidang rencananya akan dimulai pukul 12.00 WIB. Saat ini, baik orang tua korban, Suroto dan Elizabeth Diana Dewayani sedang menunggu sidang yang belum juga digelar.

Dalam persidangan sebelumnya, kedua terdakwa kasus pembunuhan Ade Sara tersebut dituntut dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup.

Tak ada ekspresi yang mengambarkan kepuasan dari wajah orang tua Ade Sara Angelina Suroto, yang ada hanya mata yang sembab karena baru saja menangis teringat putri kesayangan mereka saat tiga Majelis Hakim membacakan kronologis kasus pembunuhan berencana secara bergantian pada sidang pembacaan vonis di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Selasa (9/12/2014).

Sebelumnya, tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam kasus pembunuhan berencana Ade Sara Angelina Suroto, Aji Susanto dan Toton Rasyid, menuntut terdakwa Ahmad Imam Al-Hafitd dan Assyifa Ramadhani Anggraini dengan hukuman maksimal, yakni penjara seumur hidup.

Ayah Ade Sara Angelina Suroto, Suroto mengatakan bahwa dirinya menghargai keputusan Hakim yang memvonis dua terdakwa pembunuh anak semata wayangnya dua puluh tahun penjara. “Sebenarnya kami berharap tuntutan JPU diterima Majelis Hakim, namun apabila dalam proses banding ternyata vonis dari Hakim lebih ringan dari 20 tahun, maka tentu Jaksa Penuntut Umum akan melakukan banding,” tutur Suroto.

Orang tua korban pembunuhan Ade Sara, Suroto dan Elizabeth Diana Dewayani berharap Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menghukum pembunuh anaknya dengan vonis penjara seumur hidup. Apabila vonis tak sesuai dengan tuntutan Jaksa, Suroto berharap Jaksa mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi. "Saya kira Jaksa lebih tahu, kalau vonis tidak sesuai dengan tuntutan akan mengajukan banding," ujar Suroto ketika ditemui di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (9/12/2014).

Suroto mengaku tidak pernah sedetikpun merasa puas setelah Hakim Ketua membacakan vonis 20 tahun penjara baik pada Assyifa Ramadhani Anggraini maupun Ahmad Imam Al-Hafitd. “Perbuatan mereka memang sudah seharusnya dipertanggungjawabkan, kalau bicara puas atau tidak puas, keputusan Hakim seperti apapun tidak akan mengembalikan Sara anak kami,” lanjut Suroto.

Orangtua Ade Sara tidak ingin menangapi vonis Hakim terhadap kedua pelaku pembunuh anaknya dengan hukuman penjara 20 tahun.

Suroto, yang ditemui di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (9/12/2014), mengatakan bahwa sejak awal dia telah menyerahkan semua hukuman dalam kasus pembunuhan anaknya kepada Majelis Hakim. "Vonis kedua tersangka saya menyerahkan semuanya kepada Hakim," katanya.

Namun Suroto menanggapi pernyataan penasihat hukum Ahmad Imam Al-Hafidt dan Assyifa Ramadhani Anggraini. Kata dia, banding yang diajukan menunjukan bahwa mereka tidak menyesali perbuatannya. "Jika memang mereka akan mengajukan banding sama saja mereka tidak menyesali perbuatannya dan mengaku bersalah," katanya lagi.

Namun demikian Suroto meragukan bahwa Ahmad Imam Al-Hafitd dan Assyifa Ramadhani Anggraini dapat merubah sifat dan sikapnya meskipun dihukum 20 tahun penjara. “Mereka dengan usia masih muda belia saja bisa sanggup melakukan pembunuhan yang sangat keji, apalagi kalau nanti mereka bisa mendapatkan hukuman yang lebih ringan, apakah di usia dewasanya mereka dapat dipastikan tidak mengulangi perbuatannya saat ini,” tambah Suroto.

Sementara itu, Elizabeth Diana Dewayani, ibunda Ade Sara, mengatakan bahwa keputusan Hakim merupakan jalan hidup yang harus dihadapi keduanya. “Saya tidak bisa bilang setuju atau tidak setuju terhadap keputusan hakim, karena sejak awal jalannya sidang pengadilan, saya mempercayai proses hukum yang berjalan,” ujar Elizabeth Diana Dewayani.

Elizabeth Diana Dewayani juga menjelaskan bahwa setiap tindakan yang dilakukan Assyifa Ramadhani Anggraini dan Ahmad Imam Al-Hafitd merupakan keputusan murni dari kedua individu tersebut. “Apabila ternyata selama proses peradilan mereka mendapatkan tekanan sosial dari masyarakat itu adalah akibat dari apa yang mereka perbuat, jadi bukan karena orang lain, itu adalah upah yang mereka terima atas perbuatan mereka sendiri,” kata Elizabeth Diana Dewayani.

Pembelaan yang diajukan oleh Ahmad Imam Al-Hafitd dan Assyifa Ramadhani Anggraini maupun penasihat hukumnya telah membuat kedua orangtua Ade Sara Angelina, Suroto dan Elizabeth Diana Dewayani bersedih. Menurut mereka, anaknya telah nyata-nyata dibunuh secara berencana oleh sejoli itu. "Seharusnya, (eksepsi) tidak diterima. Sudah melakukan pembunuhan kok masih neko-neko," cetus Suroto beberapa waktu lalu.

Ibunda Ade Sara, Elizabeth Diana Dewayani, juga pernah mengatakan anaknya sering mendapat teror dari Ahmad Imam Al-Hafitd setelah mereka berdua putus. Ahmad Imam Al-Hafitd sering mengancam akan menyakiti Ade Sara Angelina Suroto dengan kata-kata kasar melalui media sosialnya. Itu menurut Elizabeth Diana Dewayani sudah merupakan sebuah rencana pembunuhan terhadap anaknya. "Yang paling benci dengan anak saya itu Hafitd dan Assyifa. Kebencian mereka sudah ada sejak lama," beber Elizabeth Diana Dewayani.

Saat ditanya oleh jurnalis apakah keluarga Ade Sara sudah memaafkan perbuatan kedua terdakwa, Elizabeth Diana Dewayani mengaku sudah memaafkan sejak awal. “Dari awal kami sudah bilang, bahwa kita mengambil sikap tidak membalas kejahatan dengan kejahatan tapi menyerahkan apa yang dialami Ade Sara pada penegak hukum,” lanjut Elizabeth Diana Dewayani.

Elizabeth Diana Dewayani mengungkapkan permintaan maaf terdakwa dan orang tuanya untuk meminta maaf kepada dirinya dan Suroto merupakan langkah yang tidak tepat. “Mereka seharusnya meminta maaf langsung kepada Ade Sara, kami sebagai orang tua tidak bisa mewakili permintaan maaf mereka yang seharusnya ditujukan kepada Sara,” tutup Elizabeth Diana Dewayani.

Assyifa Ramadhani Anggraini alias Syifa mengaku sangat menyesal atas perbuatannya. Gadis 18 tahun ini mengatakan kematian Ade Sara di luar kehendak dan batas kesadarannya.  “Saya minta maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga Ade Sara terutama kepada kedua orang tua Ade Sara, Om Suroto dan Tante Elizabeth,” ucap Asyifa Ramadhani, satu terdakwa kasus pembunuhan Ade Sara.

“Saya juga menyesali tak akan melakukan perbuatan ini lagi,” tambah wanita berusia 18 tahun ini sambil menangis saat membacakan pledoi (pembelaan) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (18/11/2014).

Di hadapan Majelis Hakim diketuai Absoro, mahasiswi perguraan tinggi swasta di Jakarta Ini juga tak kuasa merasakan kepedihan yang dialami orangtua Ade Sara. “Maafkan Syifa, ya,  karena telah membuat duka di hati om dan tante, ” katanya .

Dalam pembelaan beberapa lembar tersebut Syifa meminta kepada Majelis Hakim agar meringankan hukumannya karena  hakim masih ingin melanjutkan pendidikan dan bisa membuat bangga orangtuanya. Selanjutnya, Syifa tak ingin menghabiskan hidupnya di penjara. Mahasiswa tingkat pertama itu masih punya mimpi melanjutkan studinya. “Majelis Hakim, Syifa masih mempunyai harapan dan saat ini ingin meneruskan pendidikan untuk mewujudkan semua cita-cita untuk membahagiakan kedua orang tua Syifa,” tukasnya. “Apalagi saya masih ingin membiayai orangtua naik Haji,” pungkasya. (jos)

See Also

Hasil Rapat MK Soal Penerimaan Gugatan Pilpres Pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno
Susunan Tim Kuasa Hukum Pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno
Hashim Djojohadikusumo Penanggung Jawab Gugatan Pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno Ke MK
Anggota Brimob Sipit Yang Dituduh Dari China Tegaskan Asli Indonesia
BPN Prabowo Subianto-Sandiaga Uno Daftarkan Gugatan Hasil Pilpres Ke MK Malam Nanti
MK Putuskan Gugatan Pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno Maksimum 14 Hari
Densus 88 Antiteror Tangkap 29 Terduga Teroris Berencana Ledakkan Bom
Sepanjang Tahun 2019, Polri Tangkap 68 Terduga Teroris Jaringan JAD
KPK Geledah Kantor Ditjen PSDKP
KPK Geledah Kantor PT. Daya Radar Utama
KPK Lelang Rumah Mewah Mantan Ketua DPRD Dan Bupati Bangkalan
Dukun Cabul Di Garut Diancam 15 Tahun Bui
Kalapas Dan 13 Petugas Lapas Nusakambangan Dicopot
Ketua Umum AKKMI Pertanyakan KSOP Mengutip PNBP
Keberadaan Lembaga KSOP Dinilai Masih Perlu Payung Hukum
AKKMI Soroti Legalitas Kantor Syahbandar Dan Otoritas Pelabuhan
AKKMI Dan APDHI Selenggarakan Seminar Nasional Pertanyakan Keamanan & Keselamatan Pelayaran
Syahbandar Miliki Peran Penting Dalam Mendukung Keamanan Dan Keselamatan Pelayaran
Pembentukan Syahbandar Utama & KSOP Disoroti
Legalitas KSOP Di Seluruh Pelabuhan Dipertanyakan
KPK Panggil Setya Novanto Sebagai Saksi
KPK Periksa Staf Khusus Menteri Agama
KPK Periksa Direktur SDM Adhi Karya
KPK Tetapkan Mantan Sekda Malang Sebagai Tersangka
Mantan Sekda Malang Ditahan KPK
jQuery Slider

Comments

Archives :201920182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 7.851.743 Since: 07.04.14 | 0.6341 sec