YouTube Facebook Twitter RSS
22 May 2019, 0

Ekonomi

Mata Uang Rusia Kolaps

Thursday, 18 December 2014 | View : 1047

siarjustisia.com-MOSKOW.

Kondisi ekonomi dunia saat ini memang sedang guncang. Beberapa negara mata uangnya jatuh, karena membaiknya prospek ekonomi Negeri Paman Sam, Amerika Serikat (AS). Salah satu negara yang tertekan saat ini Rusia.

Bank Sentral Rusia memutuskan kenaikan suku bunga acuan menjadi 17% dari 10,5%. Bank Sentral Rusia menaikkan suku bunga acuan menjadi 17% dari 10,5% pagi ini. “Keputusan ini bertujuan untuk membatasi depresiasi ruble dan menahan risiko inflasi," demikian pernyataan Bank Sentral Rusia dilansir dari Reuters, Selasa (16/12/2014).

Langkah darurat ini dilakukan karena mata uang ruble dan harga minyak yang anjlok, serta sanksi ekonomi dari Barat (Uni Eropa) yang mengancam terjadinya resesi ekonomi.

Karena kebijakan ini, nilai tukar ruble menguat tajam, dari sebelumnya yang anjlok paling dalam sejak 1998.

Bank Sentral Rusia juga menaikkan batas volume repo surat berharga dalam mata uang asing untuk jangka waktu 28 hari, dari US$ 1,5 miliar menjadi US$ 5 miliar.

Mata uang Rusia, ruble, kemarin mengalami pelemahan sampai 11% dalam sehari. Ini merupakan pelemahan terburuk sejak 1998, dan sepertinya kenaikan suku bunga menjadi 17% tidak efektif menahan pelemahan mata uang Negeri Beruang Merah.

Dikutip dari Reuters, Rabu (17/12/2014), sepanjang pekan ini ruble sudah melemah 20% terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Selama 2014, pelemahan ruble sudah lebih dari 50%.

Sejumlah kalangan menyebutkan, apa yag terjadi saat ini mirip dengan krisis pada 1998. Kala itu, mata uang ruble melemah tajam dan membuat Rusia mengalami gagal bayar utang alias default. Meski ekonomi Rusia saat ini sudah jauh lebih sehat, tetapi bayangan krisis 1998 masih begitu nyata.

Ruble terperosok akibat penurunan harga minyak dan sanksi negara-negara Barat atas aksi Rusia di Ukraina. Namun pelemahan tajam kali ini ditengarai karena lunturnya kepercayaan terhadap kredibilitas bank sentral.

Bank sentral Rusia baru saja menaikkan suku bunga acuan sebesar 650 basis poin dari 10,5% menjadi 17%. Kebijakan ini dinilai sebagai langkah putus asa, dan saat ini Gubernur Bank Sentral Rusia Elvira Nabiullina seakan tidak mampu menghadang pelemahan ruble.

Pelaku pasar tidak menghiraukan pernyataan Gubernur Bank Sentral Rusia Elvira Nabiullina yang menyebut nilai ruble sudah di bawah harga wajar (undervalue). Pernyataan pemerintah yang mengatakan banyak spekulan yang bermain pun tidak diindahkan investor.

Deputi Gubernur Bank Sentral Rusia Sergei Shvetsov menyebutkan situasi ini sudah kritis. Bank Sentral Rusia akan mengambil berbagai langkah untuk menstabilkan ruble.

"Ketika kebijakan suku bunga sudah tidak membuat pasar terkesan, maka opsi yang tersisa hanya intervensi US$ 10 miliar (Rp 120 triliun) per hari. Saat ini, Bank Sentral ada di pasar setiap hari," bilang Natalia Orlova, Kepala Ekonom Alfa Bank.

"Bank Sentral akan sangat kesulitan menstabilkan kurs. Apalagi harga minyak masih terus turun," sebut Vladimir Miklashevsky, Ekonom Danske Bank.

Seorang sumber menyebutkan, Bank Sentral Rusia sudah menghabiskan US$ 80 miliar (Rp 960 triliun) untuk menjaga ruble sepanjang tahun ini. Cadangan devisa Rusia yang mencapai US$ 416 miliar memang masih memadai, tetapi terus tergerus untuk intervensi. "Saat ini yang mengendalikan pergerakan kurs bukan lah minyak. Melainkan kepanikan akibat rumor negara ini bisa kembali ke masa krisis 1998," pungkas Alena Afanasyeva, Analis Senior Forex Club di Moscow.

Prospek ekonomi Rusia memang tidak bagus sejak pertengahan tahun ini. Banyak modal asing yang keluar, karena sanksi ekonomi yang diterapkan Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa. (reuters)

See Also

Bursa Asia Bervariasi
Wall Street Menguat
10 Maskapai Penerbangan Terbaik Di Dunia Tahun 2019
Boeing Tak Terima Pesanan Pesawat Sejak April 2019
Bursa Saham AS Turun
12 Pelabuhan & Bandar Udara Deklarasi Zona Integritas
Rabobank Indonesia Resmi Hengkang Dari Indonesia
Bursa Asia Ditutup Bervariasi
Bursa Saham AS Ditutup Turun
Bursa Saham AS Menguat
Tingkatkan Harga Yang Maksimal, Babinsa 13/Karangawen Bantu Petani Jemur Hasil Panen
Bantu Percepatan Pembangunan, Danramil 01/Demak Kota Hadiri Musrembangdes
Babinsa 09/Karangtengah Beri Motivasi Kepada Para Petambak Bandeng
Tingkatkan Motivasi Petani Swasembada Pajale, Babinsa 13/Karangawen Bantu Panen Jagung
Babinsa 01/Demak Dampingi Program Kotaku Di Desa Mulyorejo
Antisipasi Kelangkaan Dan Kestabilan Harga Pupuk, Babinsa 12/Mranggen Cek Langsung
Wall Street Menguat
Semangat Babinsa Koramil 09/Karangtengah Dampingi Panen Perdana MT I
Bersama Warga, Babinsa 06/Wedung Siap Sukseskan Swasembada Pangan
Kontrol Hasil Panen, Babinsa 03/Wonosalam Lakukan Pengubinan Padi
Mendesa Klaim Bank Dunia Contoh Indonesia Terkait Penganggaran Dana Desa
Mulai Hari Ini Harga Pertamina Dex, Dexlite, Pertamax, Pertalite Turun
Babinsa 09/Karangtengah Dampingi Pembangunan RTLH
Bursa Asia Dan AS Menguat
Bursa Asia Ditutup Melemah Disusul Bursa Eropa Dibuka Tergerus
jQuery Slider

Comments

Archives :201920182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 7.832.110 Since: 07.04.14 | 0.5549 sec