YouTube Facebook Twitter RSS
25 Jun 2018, 0

Ekonomi

Faisal Basri Rekomendasikan Setop Impor Ron 88, Ganti Dengan Mogas 92

Sunday, 21 December 2014 | View : 507

siarjustisia.com-JAKARTA.

Tim Pemberantasan Mafia Minyak dan Gas Bumi (Migas) atau Tim Reformasi Tata Kelola Migas merekomendasikan kepada Pemerintah untuk segera beralih dari bensin Ron 88 ke Mogas 92 atau setara dengan Pertamax.

Pemerintah diminta segera beralih dari bensin Ron 88 ke Mogas 92. Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi, Faisal Batubara atau lebih dikenal sebagai Drs. Faisal Basri, M.A. merekomendasikan untuk menghapus Premium. Ekonom Faisal Basri mengungkapkan dengan penghapusan Ron 88, akan membuat harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi lebih rendah.

“Pertama, menyediakan pilihan lebih baik bagi rakyat yang berdampak baik pula bagi perekonomian dalam bentuk eksternalitas positif, sehingga bisa mengkalibrasi kenaikan ongkos pengadaan dan impor BBM tertentu akibat peningkatan kualitas BBM," jelas Faisal Basri di Kementerian ESDM, Jakarta, Minggu (21/12/2014).

Kemudian, mantan Ketua, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Perbanas Jakarta (1999-2003) melanjutkan prinsip keduanya formula yang sudah ditemukannya bisa mencerinkan keadaan sebenarnya yang lebih baik daripada perhitungan rumit dengan asumsi data yang kedaluwarsa, sehingga perhitungan harga patokan lebih mencerminkan harga lewat mekanisme pasar yang betul-betul terjadi, transparan, dan akuntabel.

"Siapapun bisa menghitung pada hari ini, kalau coba hitung asal punya data MoPS 92 yang sebulan lalu. Memang harus langganan tapi lembaga riset punya, kemudian dikalikan kurs yang berlaku sekarang," terang Editorial Board, Jurnal Bisnis & Ekonomi Politik (Quarterly Journal of the Indonesian Economy), diterbitkan oleh Institute for Development of Economics and Finance (Indef) sejak tahun 1997, Faisal Basri.

Ketiga, perubahan harga patokan seyogyanya tidak menambah beban rakyat baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dosen pada Program Magister Akuntansi (Maksi), Program Magister Manajemen (MM), Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Pembangunan (MPKP), Program Pascasarjana Universitas Indonesia untuk mata kuliah Analisis Lingkungan Bisnis, Perdagangan Internasional, Keuangan Internasional, dan Makroekonomi untuk Manajer, Ekonomi Regulasi, Ekonomi Politik, dan Etika Perencanaan sejak tahun 1988 ini menambahkan, untuk prinsip keempatnya yakni formula perhitungan harga patokan menjadi lebih sederhana dan proses importasi BBM tidak memerlukan proses pencampuran (blending).

"Prinsip kelimanya, kebijakan subsidi yang sudah termasuk harga patokan BBM dan harga eceran, tidak termasuk pajak, dapat mendorong masyarakat dalam melakukan perubahan pola konsumsi BBM ke arah yang lebih bermutu dan ramah lingkungan serta mendorong resktrukturisasi industri perminyakan," tutur Dosen pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia untuk mata kuliah Ekonomi Politik, Ekonomi Internasional, Ekonomi Pembangunan, Sejarah Pemikiran Ekonomi sejak tahun 1981 ini.

Meski di negeri Paman Sam, Amerika Serikat (AS) masih menggunakan Ron 88, namun timnya mempunyai argumen tersendiri, yakni semakin tinggi Ron maka efiesinsi penggunaan bahan bakar semakin meningkat, kalau bisa meningkatkan efisensi kenapa tidak pilih. "Terakhir, perubahan kebijakan dapat diterapkan pada kondisi kapasitas dan kualitas infrastruktur kilang BBM yang ada di dalam negeri," ucap mantan anggota Tim Asistensi Ekuin Presiden RI pada tahun 2000.

Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Minggu (21/12/2014), mengatakan, dalam kondisi tertentu, blending atau pencampuran untuk mendapatkan bensin Ron 88 dapat lebih mahal dari harga bensin dengan kualitas lebih tinggi.

Ini terjadi ketika penjual memasok bensin dengan kualitas lebih tinggi ketimbang spesifikasi yang dipesan dan kemudian dicampur untuk menghasilkan bensin dengan spesifikasi lebih rendah, dalam hal ini Ron 88.

Bagi pihak pencampur, lanjut Faisal Basri, jenis Ron apapun akan dijadikan campuran asalkan menghasilkan spesifikasi Ron88 sesuai pesanan.

Sementara itu, Pertamina Energy Trading Ltd (Petral) sebagai pengimpor BBM tidak memiliki kekuatan untuk menentukan harga pasar Ron 88.

Indonesia sendiri merupakan satu-satunya negara di Asia yang mengimpor minyak dengan spesifikasi Ron 88. Indonesia menjadi negara tunggal pembeli Ron 88 dengan volume jauh lebih besar dibandingkan dengan transaksi Mogas 92 di kawasan Asia Tenggara.

“Indonesia tidak mempunyai kuasa apa-apa karena dalam menghitung harga patokan yang didasarkan pada benchmark yang bias,” kata mantan Pakar Ekonomi pada P3I DPR-RI periode 1994-1995, Faisal Basri.

Apalagi peserta tender Ron 92 di bursa Singapura adalah trading company, refiner atau national oil company yang memiliki kepentingan untuk memasok bensin Ron 88 ke Indonesia.

Bila mengacu pada proses pembentukan harga, hal ini memicu kemunculan kartel yang memanfaatkan  harga Ron 88 yang tidak mempunyai  standar internasional.

“Jadi ini membuka peluang terjadinya kartel penjual karena mereka punya kesempatan menjadi satu-satunya yang menghasilkan Ron 88 untuk Indonesia. Sebaliknya, pembentukan kartel otomatis akan kecil kalau kita membeli langsung Ron 92, karena yang jual banyak dan yang beli juga banyak sehingga pasarnya lebih kompetitif. Akhirnya, terciptalah contestable market yang akan menghasilkan proses pembentukan harga yang lebih fair,” pungkas mantan anggota Tim “Perkembangan Perekonomian Dunia” pada Asisten II Menteri Koordinator Bidang EKUIN periode 1985-1987, Faisal Basri.

Hal ini berarti, nantinya baik produksi maupun impor BBM Indonesia akan dalam berbentuk Ron 92.

Untuk produksi Ron 92 di dalam negeri, kilang-kilang yang dimiliki Pertamina akan diupayakan menghasilkan bensin Ron 92 dalam jangka waktu yang singkat yaitu 2-5 bulan.

Alumnus Master of Arts (M.A.) dalam bidang ekonomi, Vanderbilt University, Nashville, Tennessee, Amerika Serikat (AS) pada tahun 1988, Faisal Basri menambahkan, selama ini kilang di Indonesia yang bisa menghasilkan Ron 92 hanyalah kilang Balongan.

Namun, tim Faisal Basri merekomendasikan untuk mengubah semua produksi Ron 88 di kilang-kilang Indonesia menjadi Ron 92. “Kilang-kilang yang dimiliki Pertamina akan diupayakan untuk memproduksi bensin Ron 92 dalam jangka waktu yang singkat, tidak perlu bertahun-tahun,” ujar alumnus Sarjana Ekonomi, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tersebut.

Sebenarnya, untuk mengubah produksi dari bensin Ron 88 menjadi Ron 92, Pertamina dapat melakukannya dalam waktu 2 bulan.

Namun, Faisal Basri memberikan jangka waktu yang lebih lama agar perubahan dapat dilaksanakan dengan baik.

“Kalau hanya 2 bulan, kasihan Pertamina. Kami memberikan waktu yang cukup dalam lima bulan,” cetus pendiri Yayasan Harkat Bangsa, Global Rescue Network, dan Yayasan Pencerahan Indonesia, Faisal Basri.

Bensin Ron 92 nantinya akan digunakan oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Tim Reformasi Tata Kelola Migas merekomendasikan besaran subsidi yang diterapkan tetap sama seperti saat ini.

“Harga jual bensin Ron 92 yang dipasarkan di masyarakat mengikuti harga minyak dunia,” tegas mantan Research Associate dan Koordinator Penelitian Bidang Ekonomi dalam rangka kerja sama penelitian antara Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia dengan University of Tokyo periode 1997-1998, Faisal Basri.

Ditambahkan Ketua Tim yang biasa disebut Tim Pemberantasan Mafia Migas, Faisal Basri, dengan impor premium dihentikan, akan membuat harga Pertamax, Shell Super atau Performance Total harganya akan turun dan jauh lebih murah.

Menurut Faisal Basri, penggunaan Ron 92 sebagai BBM bersubsidi, kemungkinan akan membuat harga BBM non subsidi yang masuk jenis Ron 92 turun. "Jangan lupa lho, ada kemungkinan harga Pertamax yang merupakan Ron 92 bakal turun dan Shell serta Total segala macam juga terdorong untuk turun harganya. InsyaAllah kita akan menikmati harga Pertamax dengan harga yang lebih murah," tandas Faisal Basri, di Jakarta, Minggu (21/12/2014).

Dengan begitu, lanjut Faisal Basri, akan tercipta persaingan ketat antara harga BBM bersubsidi dan non subsidi, sehingga pasar akan semakin sehat. "Dan ternyata apalagi selisih harga antara Ron 92 dengan Ron 88 tidak terlalu besar, juga tidak sampai Rp 1.000 per liter. Jadi nanti kita akan mempunyai pasar bensin dengan variasi harga yang lebih contestable market," tutup salah seorang keponakan dari mendiang Wakil Presiden RI Adam Malik ini, Faisal Basri yang pernah ikut menjadi salah satu pendiri Mara (Majelis Amanah Rakyat) yang merupakan cikal bakal Partai Amanat Nasional (PAN). (jos)

See Also

Dandim 0716/Demak Bersama Masyarakat Panen Raya Demlot
Kodim 0716/Demak Buka Stand Pasar Murah
Koperasi Dinilai Penting Untuk Menunjang Pengembangan Usaha Batik Bakaran
Babinsa Kodim 0716/Demak Perkuat Alsintan Dengan Diklat
Mengoptimalkan LTT Dengan Pemanfaatan Alsintan
Kembangkan Jenis Usaha Yang Unik Dan Berbeda
Harga Pertalite Naik Rp 200 Per Liter
Usaha Sergab Kodim 0716/Demak Di Kala HPP Lebih Rendah Dari Pasar
Bertebaran Padi Di Halaman Kodim 0716/Demak
Bank Sampah Jadi Berkah Bagi Anggota Kodim 0716/Demak
Kodim 0716/Demak Terapkan Teknologi Baru Di Bidang Pertanian
Tim Sergab Kodim 0716/Demak Terus Genjot Serap Beras Ke Bulog
Cegah Penyelewengan, Babinsa Dampingi Pembagian Beras Rastra Yang Layak Konsumsi
Dokter Terkaya Amerika Serikat Beli Surat Kabar LA Times Rp 6,8 Triliun
Dandim 0716/Demak Panen Raya Di Ds. Mijen
Danramil 09/Karangtengah Berharap Pendistribusian Pupuk Tepat Sasaran
Danramil 03/Wonosalam Bersama Forkopimcam Panen Raya Padi
Presiden Joko Widodo Tinjau Proyek Padat Karya Di Dharmasraya
Pasar Saham Australia Dibuka Turun Tajam
5 Maskapai Penerbangan Terbaik Di Dunia
Penjualan Mobil Terbanyak Tahun 2017
Bebas Bea Masuk Belanja Dari Luar Negeri Naik
Menteri Kelautan Dan Perikanan Inginkan Kenaikan Gaji Pegawai KKP
Harga Minyak Dunia Turun
Tarif Tol Dalam Kota Jakarta Naik Per 8 Desember 2017
jQuery Slider

Comments

Archives :20182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 6.176.148 Since: 07.04.14 | 0.624 sec