YouTube Facebook Twitter RSS
24 Apr 2019, 0

Ekonomi

Premium Dihapus, SPBU Asing Terancam Gulung Tikar

Monday, 22 December 2014 | View : 526

siarjustisia.com-JAKARTA.

Rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi/Migas (RTKM) yang menghilangkan bensin dengan Research octane number (Ron 88) atau premium bisa berdampak buruk pada Stasiun Pengisian Bahan Bakar/Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) asing seperti Petronas, Shell, Total.

Apalagi, kalau Pemerintah mengikuti rekomendasi dengan memberikan subsidi untuk bahan bakar Ron 92 yang produknya dikenal sebagai Pertamax.

BPH Migas sebelumnya mengusulkan besaran subsidi tetap antara Rp 1.500 sampai Rp 2 ribu. Kalau angka itu disetujui dan dipindahkan ke Pertamax, berarti harganya bisa turun sampai Rp 7.950 untuk Jabodetabek. Tentu saja, itu jadi mimpi buruk bagi SPBU asing yang masih menjual Rp 9.950.

"Pengalihan subsidi, bisa menekan SPBU asing seperti Shell untuk menurunkan harganya," beber Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas (RTKM), Faisal Batubara atau lebih dikenal sebagai Drs. Faisal Basri, M.A. di Jakarta, Senin (22/12/2014).

Kalau SPBU asing tidak mau menurunkan harga karena takut rugi, berarti mereka tetap menjual dengan disparitas harga yang cukup lumayan. Bukan tidak mungkin, membuat pembeli lari.

Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Migas, Ibrahim Hasyim mengungkapkan rekomendasi itu sebagai salah satu upaya untuk membangun kedaulatan energi. Untuk menjaga iklim, sebenarnya Shell, Petronas, maupun Total punya kesempatan yang sama untuk mendistribusikan BBM bersubsidi.

Jadi, nanti di SPBU asing ada harga yang sama untuk produk Ron 92. Setiap tahunnya, BPH Migas membuka beauty contest bagi perusahaan-perusahaan yang berminat mendistribusikan BBM bersubsidi. Untuk tahun ini, pemenangnya adalah PT. Pertamina (Persero) dan PT. AKR Corporindo Tbk.

"Silakan saja, siapa saja. Setiap kali seleksi, puluhan perusahaan ikut. Lantas kita selesksi administrasinya, seleksi teknik, sampai finansial. Tahun ini, pilihan mengerucut dan memberikan penugasan BBM bersubsidi melalui badan usaha yang punya infrastruktrur yakni Pertamina dan AKR," jelasnya.

Shell maupun Petronas sebenarnya pernah ikut beauty contest. Namun, Ibrahim Hasyim ingat betul kedua perusahaan itu mundur karena ada beberapa persyaratan yang tidak bisa dipenuhi. Yang paling berat adalah kepemilikan infrastruktur di luar Jawa atau Jabodetabek.

Kalau SPBU asing mau mendistribusikan BBM bersubsidi, SPBU asing mutlak perlu membangun jaringan lagi. Tidak mudah dan butuh biaya besar memang, tetapi itu syarat mutlak karena distribusi BBM bersubsidi ada di tangan pemerintah. "Kalau memenuhi syarat, siapapun bisa ikut mendistribusikan," terangnya lagi.

Di sisi lain, Ibrahim Hasyim mengatakan realisasi dari rekomendasi perlu karena permintaan atas BBM beroktan tinggi makin besar. Kendaraan keluaran terbaru disebutnya meminta oktan tinggi untuk menggerakan mesin dengan baik.

Shell sebagai salah satu SPBU asing yang terancam gulung tikar karena menjual bahan bakar Ron 92 lebih tinggi dari Pertamina belum bisa berkomentar banyak.

Country Marketing Manager Shell Retail, Julio Manuputty saat dihubungi semalam memilih untuk menunggu langkah Pemerintah terhadap rekomendasi itu.

"Kita belum bisa memberikan komentar. Masih menunggu peraturannya bagimana nanti," jawabnya.

Ucapan yang sama juga muncul saat disinggung apakah rekomendasi yang disampaikan tim RTKM pimpinan ekonom dan politikus Faisal Basri merugikan pihaknya atau tidak.

Bola sekarang ada di pemerintah, apakah menerima rekomendasi itu atau menolaknya. Namun, kemungkinan besar diterima terbuka dari munculnya pandangan positif atas rekomendasi itu.

See Also

Bursa Asia Ditutup Bervariasi
Bursa Saham AS Ditutup Turun
Bursa Saham AS Menguat
Tingkatkan Harga Yang Maksimal, Babinsa 13/Karangawen Bantu Petani Jemur Hasil Panen
Bantu Percepatan Pembangunan, Danramil 01/Demak Kota Hadiri Musrembangdes
Babinsa 09/Karangtengah Beri Motivasi Kepada Para Petambak Bandeng
Tingkatkan Motivasi Petani Swasembada Pajale, Babinsa 13/Karangawen Bantu Panen Jagung
Babinsa 01/Demak Dampingi Program Kotaku Di Desa Mulyorejo
Antisipasi Kelangkaan Dan Kestabilan Harga Pupuk, Babinsa 12/Mranggen Cek Langsung
Wall Street Menguat
Semangat Babinsa Koramil 09/Karangtengah Dampingi Panen Perdana MT I
Bersama Warga, Babinsa 06/Wedung Siap Sukseskan Swasembada Pangan
Kontrol Hasil Panen, Babinsa 03/Wonosalam Lakukan Pengubinan Padi
Mendesa Klaim Bank Dunia Contoh Indonesia Terkait Penganggaran Dana Desa
Mulai Hari Ini Harga Pertamina Dex, Dexlite, Pertamax, Pertalite Turun
Babinsa 09/Karangtengah Dampingi Pembangunan RTLH
Bursa Asia Dan AS Menguat
Bursa Asia Ditutup Melemah Disusul Bursa Eropa Dibuka Tergerus
Menko Maritim Sebut Bandara Kulonprogo Mulai Layani Penerbangan April 2019
Babinsa 06/Wedung Lakukan Pemantauan Penyemaian Bibit Tanam Padi
Babinsa 09/Karangtengah Pastikan Harga Sembako Di Pasar Masih Relatif Stabil
Percepat Masa Tanam, Babinsa 09/Karangtengah Giat Dampingi Petani
Babinsa 05/Mijen Tunjukkan Peran Aktif Babinsa Terhadap Swasembada Pangan
Tak Kenal Lelah, Babinsa Koramil 07/Gajah Bantu Petani Siangi Rumput
Ciptakan Hubungan Yang Harmonis, Babinsa 01/Rembang Terjun Langsung Ke Lahan Pertanian
jQuery Slider

Comments

Archives :201920182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 7.704.911 Since: 07.04.14 | 0.642 sec