YouTube Facebook Twitter RSS
18 Dec 2017, 0

Internasional

Putri Bos Korean Air Dipenjara 1 Tahun

Friday, 13 February 2015 | View : 461

siarjustisia.com-SEOUL.

Putri pimpinan Korean Air Cho Hyun-ah dinyatakan bersalah Kamis (12/2/2015) karena melanggar hukum keselamatan penerbangan dan dijatuhi hukuman penjara satu tahun.

Peristiwa ini dikenal dengan "kacang kemarahan" insiden ini memicu keributan karena perilaku keluarga bisnis elit Korea Selatan ini.

Cho Hyun-ah merupakan putri dari pemilik Korean Air. Ia marah kepada pramugara yang menyuguhinya kacang alih-alih makanan lengkap.

Kemarahan Cho tidak berhenti di situ. Ia memerintahkan pesawat yang hendak tinggal landas untuk kembali ke bandara dan menurunkan si pramugara.

Putri pimpinan Korean Air Cho Hyun-ah ditahan sejak 30 Desember 2014 dan ia menangis saat membacakan surat penyesalan di pengadilan yang dipimpin oleh Hakim Oh Seong-woo.

Pimpinan Korean Air Lines  Cho Yang-ho secara resmi meminta maaf  atas  tindakan putri sulungnya yang memicu keributan dengan  kru kabin  pesawat.

Berbicara di kantor pusat di Seoul barat, pengusaha 65 tahun meminta maaf kepada publik  atas tindakan  "bodoh"  putrinya.

"Saya membuat permintaan maaf saya sebagai ayah dan kepala Korean Air," katanya.

Dia mengatakan putrinya akan dihapus dari semua posting resminya, tidak hanya dalam Korean Air tapi perusahaan lain di Hanjin Group, yang dia kepala sebagai ketua.

"Ini akan dilakukan  terlepas dari investigasi yang sedang berlangsung oleh kementerian transportasi dan jaksa negara," kata Cho.

Hanjin adalah salah satu dari 10 konglomerat bisnis  di Korea Selatan, yang didirikan pada tahun 1945 oleh Cho Choong-hoon, ayah ketua incumbent.

Sebelum keributan, dijuluki "kacang kemarahan" di Korea Selatan, Cho Hyun-ah, juga dikenal dengan nama bahasa Inggris-nya Heather, adalah wakil Presiden layanan penerbangan dan hotel operasi maskapai.

Dia adalah CEO KAL Hotel Jaringan, Wangsan Kenyamanan Development Co dan Hanjin Travel Service Co, semua afiliasi dari Hanjin Group. Dia saat ini menjadi Direktur dewan Korean Air.

Cho, yang berusia 40 tahun, merupakan putri tertua dari Presiden Direktur Korean Air, Cho Yang-ho. Kedua saudaranya juga menduduki jabatan eksekutif di maskapai itu.

Keluarga Cho memiliki 10 persen saham Korean Air Lines Co, yang merupakan bagian dari kerajaan bisnis di sektor perjalanan, logistik, hotel, dan pusat hiburan.

Perekonomian Korea Selatan didominasi oleh konglomerat-konglomerat keluarga yang dikenal dengan istilah chaebol.

Persoalan mengusir pramugari, Wakil Presiden eksekutif maskapai Korean Air, Cho Hyun-ah atau Heather Cho, akhirnya mengundurkan diri setelah 'insiden kacang' yang membuat heboh Korea Selatan. Padahal, persoalannya sepele.

Pengunduran diri yang dilakukannya merupakan buntut dari masalah pengusiran pramugari yang ia lakukan.

Cho telah menggunakan jabatannya untuk mengusir pramugari dari pesawat karena si pramugari tidak menyajikan kacang macadamia di piring, melainkan dengan plastik.

Cho meminta seorang pramugari diturunkan dari pesawat dalam penerbangan dari New York ke bandara Incheon, Korea Selatan, Jumat (5/12/2014) pekan lalu. Akibat hal itu, penerbangan dari Bandara JFK, New York menuju ke Bandara Incheon, Seoul tertunda 11 menit.

Dikutip BBC Indonesia, Rabu (10/11/2014), kesalahan pramugari di kabin kelas utama itu adalah tidak menyuguhkan kacang di atas piring dan keberangkatan pesawat tertunda sekitar 20 menit.

Setelah insiden itu menjadi bahan pembicaraan, Korean Air meminta maaf terkait insiden tersebut, yang memicu kritik dari warga Korea Selatan yang selama ini memandang miring perilaku beberapa orang kaya di sana.

Korean Air mengukuhkan penerbangan 86 pada tanggal 5 Desember ditunda di bandara John F Kennedy, New York, karena 'insiden kacang' namun keputusan menurunkan pramugari diambil oleh kapten.

Kementerian Perhubungan Korea Selatan dilaporkan melakukan penyelidikan atas insiden ini untuk mengetahui apakah tindakan Heather Cho melanggar Undang-undang penerbangan.

Cho Hyun-ah telah dipanggil oleh penyidik pemerintah untuk menentukan apakah dia menyebabkan keributan atau mengancam awak. Pihak berwenang mengatakan jika dia menyebabkan masalah, tindakan tersebut bisa melanggar hukum penerbangan negara dan peraturan yang mengatur keamanan pesawat.

Mantan wakil Presiden telah memerintahkan kepala purser dari Korean Air Airbus A380 jet, dengan sekitar 250 penumpang pesawat, meninggalkan pesawat setelah perselisihan atas bagaimana kacang disajikan. Penerbangan itu dalam perjalanan ke Seoul dari New York Jumat lalu.

Putri dikabarkan marah ketika seorang pramugari melayani dia paket yang belum dibuka kacang macadamia bukan camilan di piring. Dia kemudian mengambil masalah dengan purser atas kurangnya pengetahuan tentang layanan manual.

Dikabarkan sebelumnya, seorang awak kabin maskapai Korean Air yang menjadi "korban kemarahan" mantan pejabat tinggi maskapai nasional Korea Selatan, Cho Hyun-ah, mengatakan bahwa dirinya diperlakukan seperti budak.

Pernyataan ini dia sampaikan saat memberikan kesaksian dalam sidang pengadilan Senin (2/2/2015).

Di persidangan, awak pesawat ini mengatakan bahwa Cho Hyun-ah "marah besar" setelah disuguhi kacang dalam bungkusan, bukan di atas piring atau mangkuk, seperti yang ia inginkan.

Akibatnya Cho Hyun-ah mengamuk dan berteriak, awak pesawat mengatakan dirinya sulit untuk berbicara secara baik-baik.

Dikatakan pula bahwa Cho Hyun-ah, yang merupakan anak Direktur Korean Air, beberapa kali memukul tangan awak pesawat dengan komputer tablet.

Saat insiden terjadi Cho Hyun-ah, yang juga dikenal dengan nama Heather Cho, meminta pilot mengarahkan pesawat, yang siap untuk terbang, kembali ke gate agar awak pesawat ini bisa diturunkan.

Gara-gara kasus kacang ini Cho Hyun-ah diberhentikan sebagai wakil presiden Korean Air dan ia kemudian meminta maaf kepada publik. Jika dinyatakan bersalah, Cho Hyun-ah bisa dipenjara maksimal selama sepuluh tahun karena mengganggu penerbangan tanpa alasan yang jelas. (koreanherald/jos)

See Also

Perwakilan Nahdlatul Ulama Dan Wahid Foundation Temui Dubes Amerika Serikat
Parlemen Australia Setuju Pernikahan Sesama Jenis
Pidato Lengkap Donald Trump Saat Akui Yerusalem Ibu Kota Israel
Amerika Serikat Segera Memulai Proses Pemindahan Kedubesnya
Inggris Tidak Setuju Dengan Keputusan AS Soal Jerusalem
Amerika Serikat Akan Memulai Rencana Pemindahan Kedutaan Besarnya
Yordania Tolak Sikap Donald Trump Soal Yerusalem
Warga Korea Utara Gelar Perayaan Massal Uji Coba Rudal Hwasong 15
Mantan Penasihat Keamanan Presiden AS Didakwa Bohongi FBI Terkait Rusia
Militer Suriah Tembakkan Rudal Ke Jet Tempur Israel
Badai Hujan Dan Petir Berlanjut Di Melbourne
Warga AS Dipenjara Seumur Hidup Atas Pembunuhan Wanita Jepang
Kaisar Jepang Akihito Akan Turun Takhta 30 April 2019
Taliban Serang Kampus Di Pakistan
Arab Saudi Cegat Rudal Balistik Houthi Yaman
Mahasiswa Australia Semakin Lama Selesaikan Studi
Agnez Mo Raih Penghargaan Di MAMA 2017 Vietnam
Tidak Ada Korban WNI Di Teror Masjid Sinai
Pola Teroris Bunuhi Jemaah Salat Jumat Di Sinai
Korban Bom Masjid Di Sinai Bertambah Jadi 305 Orang
Serangan Udara Mesir Tewaskan Teroris Penyerang Masjid Sinai
Perlintasan Perbatasan Mesir-Gaza Batal Dibuka
Penembakan Pada Hari Thanksgiving Di Houston
Mesir Buru Pelaku Teror Di Masjid Sinai
Milisi Serang Masjid Di Mesir
jQuery Slider

Comments

Archives :2017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 5.008.227 Since: 07.04.14 | 0.638 sec