YouTube Facebook Twitter RSS
21 Oct 2018, 0

Internasional

PM Australia Ancam Balas Indonesia

siarjustisia.com-SYDNEY.

Perdana Menteri Australia Tony Abbott kembali mengancam Indonesia bila dua warganya yang terlibat penyelundupan narkotik dieksekusi mati oleh Indonesia.

Kasus dua warga Australia itu mengancam ketegangan hubungan yang sudah rapuh antara Australia dan Indonesia.

Kedua orang tersebut merupakan anggota kelompok Bali Nine, yang ditangkap di bandara Denpasar, Bali, pada 2005, karena berusaha menyelundupkan 8 kg heroin. Kedua warga Australia yang merupakan gembong penyelundup narkotika atau gembong ‘Bali Nine’, saat ini masih berada di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIA Kerobokan, Badung, Denpasar, Provinsi Bali dan direncanakan untuk dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIA Narkotika, Nusa Kambangan, Provinsi Jawa Tengah demi proses eksekusi.

Australia sedang mengejar kesepakatan terakhir dengan Indonesia untuk menyelamatkan dua warganya.

PM Australia Tony Abbot menyatakan pemerintahnya bakal melakukan balasan diplomatik yang setimpal. “Jutaan warga Australia muak oleh eksekusi Indonesia itu,” tegas Tony Abbott di Sydney, Minggu (15/2/2015).

Perdana Menteri Australia Tony Abbott untuk kedua kalinya memohon pengampunan bagi dua terpidana mati kasus narkoba, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, yang dikenal sebagai kelompok Bali Nine. "Jutaan warga Australia merasa 'muak' atas apa yang mungkin akan terjadi di Indonesia," kata Tony Abbott kepada Channel Ten di Sidney, Australia, Minggu (15/2/2015).

PM Negeri Kanguru tersebut Tony Abbott juga memberi sinyal untuk menekan Jakarta. "Jika eksekusi dilakukan, dan saya harap mereka tak melakukannya, kami pasti akan mencari cara untuk mengatasi rasa tak enak ini," cetus Tony Abbott.

PM Aussie Tony Abbott juga mengkritik bahwa Indonesia berusaha menyelamatkan warganya dari hukuman mati di negara lain karena penyelundupan narkoba, tapi menolak permohonan pengampunan dari Australia.

"Apa yang kami minta dari Indonesia adalah apa yang Indonesia minta ke negara lain bila warganya akan dihukum mati," tukas Tony Abbott.

Perdana Menteri Australia Tony Abbott mengimbau pemerintah Indonesia untuk tidak menghukum mati warga negaranya, mengingat banyak WNI juga terancam hukuman mati di Negara lain.

“Permohonan saya agar Indonesia responsif kepada kami, seperti yang mereka harapkan kepada negara lain yang akan menghukum mati warganya di luar negeri,” kata Tony Abbott beberapa waktu lalu.

"Adalah hak Indonesia untuk memohon dan mengharapkan semacam pengampunan, itu jelas hak kami juga untuk untuk memohon dan mengharapkan semacam pengampunan," tambah dia.

PM Australia Tony Abbott belum menyatakan apa saja respons Canberra.

Namun akhir pekan lalu Menteri Luar Negeri Australia Julie Isabel Bishop mengancam Jakarta bahwa warga Australia bisa memboikot Indonesia, termasuk ke Pulau Bali, yang merupakan tempat favorit turis Australia.

Adapun Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop tidak menampik kemungkinan warganya akan memboikot kunjungan wisata ke Indonesia sebagai bagian dari protes.

"Menurut saya, rakyat Australia akan memperlihatkan ketidaksetujuan mereka terhadap tindakan (eksekusi) itu, termasuk dengan membuat keputusan soal ke mana mereka akan berlibur,” kata Julie Isabel Bishop dalam wawancara dengan radio Australia AW3 yang dilansir di situs resminya.

Australia juga bisa menarik duta besarnya, seperti yang dilakukan Brasil dan Belanda, sebagai protes atas eksekusi mati terhadap warganya bulan lalu.

Protes itu dipicu oleh sikap Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang tetap akan melakukan eksekusi mati terhadap sejumlah terpidana kasus narkoba. Kejaksaan Agung sudah mempersiapkan eksekusi itu. Di antara mereka adalah dua terpidana asal Australian yang dikenal sebagai anggota “Bali Nine” yakni Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, 31 tahun, dan Sukumaran, 33 tahun. Keduanya ikabarkan akan segera dipindahkan dari LP Kerobokan, Denpasar, Bali, ke tempat eksekusi, yakni LP Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Petisi pembebasan Andrew Chan dan Myuran Sukumaran kemarin sudah mencapai lebih dari 150 ribu tanda tangan warga Australia yang memohon pengampunan. Petisi itu akan dikirimkan kepada pemerintah Indonesia dan Australia.

Kedutaan Australia di Jakarta telah diundang untuk berbicara dengan diplomat Indonesia hari ini. Juru bicara Menteri Luar Negeri Australia, Julie Bishop, membenarkan adanya undangan pertemuan itu.

Grasi keduanya sudah ditolak Presiden Joko Widodo untuk kedua kalinya pada pekan lalu. Saat semua harapan hampir menguap, PM Tony Abbott meluncurkan ancaman baru.“Jika eksekusi diteruskan, dan saya berharap mereka tidak melakukannya, kami pasti akan menemukan cara membuat (Indonesia) tidak senang,” pungkas Tony Abbott.

See Also

Terlibat Skandal Gratifikasi Seks, Pejabat Imigrasi Singapura Diadili
Teleskop NASA Temukan 2 Planet Baru
Najib Razak Ditahan SPRM
Mantan PM Malaysia Ditahan
Najib Razak Ditahan KPK Malaysia
3 Kapal Perang Jepang Bersandar Di Pelabuhan Tanjung Priok
NASA Klaim Planet Proxima Centauri B Bisa Dihuni
Harun Yahya Tuduh Penangkapan Dirinya Konspirasi Inggris
Harun Yahya Ditangkap Kepolisian Turki
Eks Navy Seal Tewas Dalam Evakuasi Tim Sepak Bola Dari Gua Thailan
Pelaku Penembakan Brutal Staf Capital Gazette Ditangkap
Penembakan Staf Koran Capital Gazette
Seorang Ayah Tendang Dan Tinju Anak Sendiri Ditangkap
Turki Adakan Pemilu Hari Ini
Arab Saudi Resmi Mencabut Larangan Perempuan Menyetir
Gempa Guncang Osaka
Inggris Permudah Pengajuan Visa Bagi Pelajar Indonesia
Amerika Serikat Keluar Dari Dewan HAM PBB
PM Malaysia Mahathir Mohamad Umumkan Gaji Menteri Dipangkas 10 Persen
Suriah Berhasil Usir ISIS
Satgas Malaysia Akan Selidiki Skandal Mega Korupsi 1MDB
Malaysia Ringkus 7 Anggota Terduga Jaringan IS
Sekolah Di Ghouta Timur Dihantam Rudal
Pasar Di Suriah Dihantam Roket
Arab Saudi Dan Inggris Tandatangani Kesepakatan Pembelian Jet Tempur
jQuery Slider

Comments

Archives :20182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 6.795.323 Since: 07.04.14 | 0.6091 sec