YouTube Facebook Twitter RSS
23 Nov 2017, 0

Hot News

Iptu Happy Saputra Etnis China Pertama Lulus Akpol

Saturday, 28 February 2015 | View : 8507

siarjustisia.com-GRESIK.

Inspektur Polisi Satu (Iptu Pol.) Happy Saputra merupakan segelintir warga Indonesia keturunan China yang menjadi perwira polisi, sebuah pilihan yang dibentuk oleh sikap keluarganya yang tidak disibukkan oleh sebutan sebagai kelompok minoritas.

"Mama selalu bilang 'kamu beda, tetapi bukan berarti berbeda'," kata Iptu Pol. Happy Saputra yang lulus dari Sekolah Akademi Kepolisian di Semarang, setahun lalu. "Dalam arti tak boleh membeda-bedakan diri, walaupun kamu keturunan China, tetapi kamu tetap harus berbaur," jelas Happy Saputra saat ditemui awak media di asrama Polda Jawa Timur di Surabaya.

Lelaki kelahiran 4 Juli 1984 ini sekarang bertugas di Polres Ponorogo, Jawa Timur, dengan pangkat Inspektur tingkat dua atau Ipda.

Happy Saputra lulus cemerlang dari akademi kepolisian sebagai 20 orang lulusan terbaik. Dia sempat pula dipilih mengikuti pertukaran taruna kepolisian ke Korea Selatan dan Jepang.

Namun demikian, Perwira Pertama (Pama) ini, Happy Saputra yang punya nama lain Law Kwan Kwang ini mengaku apa yang dilakoninya sekarang tidak datang dengan tiba-tiba.

Nasihat sang ibu agar dia berbaur dengan warga mayoritas etnis Betawi di lingkungan tempat tinggalnya di kawasan Kalisari, Jakarta Timur, membuatnya "tidak pilih-pilih teman". "Saya pun berteman dengan tukang ojek (di lingkungan tempat tinggalnya), karena saya suka motor. Sehingga ketika saya dewasa, mereka tahu saya. Mereka bahkan menyebut saya 'Oh itu Si Acong anaknya Soi Song'... Mereka menyebut hal seperti itu bukan untuk menjelekkan, tapi cuma label, karena banyak panggilan saya, seperti Acong, Ahong, Encek, Cokin. Tapi saya senang," jelas Happy Saputra seraya tertawa lebar.

"Kalau penghinaan, berarti saya akan disakiti. Tapi mereka care (perhatian) dengan saya," tandas Happy Saputra, anak ketiga dari empat bersaudara, dari pasangan Syahrial Efay dan Songgowati Tjoeng ini.

Sikap seperti ini kemudian mengantarnya masuk Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN), yang lebih dari 85% siswanya beragama Islam dan bukan etnis China. Di SMA Negeri 98 ini, Happy Saputra kemudian bersahabat dengan teman-teman Muslim. Salah-seorang sahabatnya itulah yang kemudian mendorongnya masuk Akademi Kepolisian, setelah dia meraih titel sarjana dari Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Bina Nusantara (Binus).

Pergaulannya yang melampaui latar etnis, juga membuat Happy Saputra dan keluarganya tidak begitu khawatir ketika kerusuhan berbau etnis meledak tahun 1998 di sebagian wilayah Jakarta.

Di saat kepanikan timbul melanda kelompok etnisnya, ibunya, Songgowati Tjoeng kembali menjadi sandaran Happy Saputra yang saat itu beranjak remaja. Juga teman-temannya secara tulus memberi perlindungan terhadap dirinya. "Karena sejak kecil bermain dengan mereka, sehingga mereka tahu bahwa keluarga saya tidak seperti di media massa yang menutup diri. Dan terbukti, saat kerusuhan itu, kawasan tempat saya tinggal aman-aman saja," jelasnya.

Kendati demikian, Happy Saputra sebagai warga etnis China mengaku pernah mengalami perlakuan diskriminatif. Dia memberi contoh sikap seorang pedagang di sebuah pasar di Jakarta Selatan yang menaikkan harga barang setelah melihat wajahnya. Juga pengalamannya, diperlakukan diskriminatif oleh seorang juru parkir. "Kalau parkir, biasanya mereka memaksa untuk meminta lebih. Hal-hal seperti itu membuat saya sedih," katanya.

Namun Happy Saputra buru-buru menambahkan. "Tapi kembali lagi, karena konsep saya kuat, ya sudahlah saya anggap ini sebagai cerita 'lain' di Jakarta 'lain' yang harus saya pahami. Saya tak boleh menyamakan (kasus ini) dengan di Kali Besar. Suatu saat nanti saya bisa atasi semua ini," tegasnya.

Dia menambahkan langkah seperti ini juga dia terapkan di lingkungannya. Sebagai minoritas, Happy Saputra mengaku tidak mau memakai kacamata kuda dalam melihat sesuatu. "Dalam arti hanya melihat satu sisi, seolah-seolah semua orang Indonesia sepert itu. Padahal tidak! Nah, kita harus memberitahu mereka bahwa Indonesia tidak seperti itu."

Tiga tahun lalu, kehadiran sosok Happy Saputra sebagai salah-seorang dari 300 taruna Akademi Kepolisian di Semarang angkatan 2007, sempat menyedot perhatian. Dia saat itu merupakan satu-satunya yang berlatar dari etnis China.

Sebuah laporan media lokal saat itu menyebut kehadiran Happy Saputra itu sebagai "peristiwa langka", atau "sebuah keanehan seorang etnis China bekerja di sektor pejabat publik".

Laporan-laporan itu menyebut Law Kwan Kwang nama lain Happy Saputra sebagai orang China Indonesia pertama yang masuk akademi elit kepolisian tersebut.

Padahal menurut Happy Saputra, keputusannya masuk Akademi Kepolisian itu tidak direncanakan jauh-jauh hari. Saat itu dia hampir menyelesaikan masa kuliah strata 1 di Universitas Bina Nusantara. Adalah seorang sahabatnya yang mendorong agar dia menjadi polisi. Alasannya karena "cara dia bergaul yang berbeda dengan kebanyakan etnis China lainnya." Lainnya adalah kemampuannya dalam berbahasa Inggris dan Mandarin. "Sahabat saya itu mengatakan 'polisi sekarang membutuhkan figur yang berbeda'. Kini menurutnya, polisi butuh pencitraan yang beda. Nggak lagi seperti dulu, berkumis atau berkacamata hitam," ungkapnya.

Walaupun merasa rendah diri, Happy Saputra akhirnya mendaftarkan diri. Sempat khawatir karena latar belakang etnisnya, Happy Saputra kemudian mampu menepis semua itu. Dia bersama 300 orang lainnya diterima masuk Akademi Kepolisian yang dikenal elit itu, dari 12.000 pelamar.

Dia juga patut berbangga karena perekrutan Akademi Kepolisian tahun 2007 itu "dianggap paling bersih dibandingkan proses rekrutmen tahun-tahun sebelumnya". "Rekrutmen tahun 2007, segala elemen masyarakat mulai wartawan sampai LSM, boleh melihat sampai ke dalam. Mereka bisa melihat penilaian rekrutmen Akpol. Dan saya tidak terdeteksi sedikitpun bahwa 'ini orang titipan', bahwa 'Happy bayar ke sini untuk masuk Akpol'. Semua tidak terbukti."

Bahkan menurutnya, wartawan sempat mendatangi rumahnya, saat itu. Mereka mengecek kekayaan ibunya, serta meneliti siapa saja yang dikenal ayahnya. "Ternyata tidak terbukti semua. Inilah yang membuat saya cukup berbangga hati, karena orang tua saya cuma mengeluarkan uang Rp 38.000 untuk membeli meterai tiga lembar, serta uang makan," paparnya.

Tahun lalu, Happy Saputra lulus dari akademi itu dengan nilai cemerlang bersama 20 taruna lainnya. Dia bahkan sempat mewakili Akpol untuk pertukaran pelajar ke Korea Selatan dan Jepang.

Sebelum diminta tampil di Mabes Polri, Opera Van Police (OVP) yang pernah digagas oleh Satlantas Polres Gresik beberapa tahun lalu, sudah sering menerima tawaran main dari satu tempat ke tempat lain.

Bahkan, beberapa stasiun televisi swasta juga mulai tertarik dengan tampilan kocak dan edukatif para pemain OVP, yang mayoritas personalnya adalah anggota Satlantas Polres Gresik di bawah koordinasi Iptu Pol. Happy Saputra.

Setelah pernah tampil di setiap acara kepolisian di Jawa Timur, pada 1 Juli nanti, tepatnya saat HUT Bhayangkara ke 67, OVP akan tampil menghibur di hadapan Presiden SBY dan pejabat negara lainnya serta para pejabat kepolisian. Lakon yang dimainkan "Pengabdian Polisi Untuk Masyarakat Indonesia."

"Rencananya, kita diminta main juga saat peringatan HUT Bhayangkara nanti di Mabes Polri yang juga akan dihadiri Bapak Presiden SBY," ungkap Iptu Pol. Happy Saputra, Jum'at (28/6/2013).

Kanit Satlantas Polres Gresik ini, Iptu Pol. Happy Saputra menambahkan, semua personal OVP meningkatkan porsi latihannya agar bisa tampil maksimal.

OVP sendiri merupakan ide kreatif dari Kapolres Gresik AKBP Ahmad Ibrahim, untuk memberikan sosialisasi dan edukasi terkait masalah kamtibmas, narkoba dan ketertiban lalu lintas kepada masyarakat melalui jalur seni budaya komedi. Dengan jalur seni diharapkan pesan tersebut dapat tersampaikan secara soft, rileks dan menyenangkan.

"Dengan suasana gembira dan penuh canda, kita harapkan, masyarakat dapat lebih mudah menerima pesan-pesan kamtibmas yang kita sampaikan,sehingga opera ini dapat menjadi sarana kampanye yang efektif," urai Iptu Pol. Happy Saputra.

OVP sendiri, sebelumnya pernah tampil di acara Car Free Night Gresik di hadapan Bupati dan seluruh Muspida Kabupaten Gresik, kemudian tampil dalam pemecahan rekor MURI Program Satlantas Polrestabes Surabaya, serta tampil di depan Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Pol. Puji Hartanto dalam HUT Taman Lalu Lintas. (jos/bbc)

See Also

Selamat Jalan Bang Indra Sahnun Lubis
Kasubdit Regident Ditlantas Polda Jabar Meninggal Dunia
Perdana Menteri Jepang Bubarkan Majelis Rendah Parlemen
Press Release MESANIH Pelayanan Jasa Online Berbasis Budaya Lokal
Kodim 0721/Blora Gelar Doa Bersama 171717
Kodim 0716/Demak Gelar Doa Bersama Pada 171717
Doa Bersama 171717 Demi Keutuhan NKRI
Dandim 0721/Blora Ajak Warga Blora Doa Bersama
Rektor UMK Tegaskan Tolak Narkoba Dan Paham Radikal
Dandim 0716/Demak Tangkal Radikalisme Lewat Mujahadah
Rotasi Sejumlah Perwira Tinggi Dan Perwira Menengah Di Tubuh Polri
PAN Walk Out Dari Paripurna RUU Pemilu
Kodim 0716/Demak Kehilangan Putra Terbaik Bangsa
Julia Perez Meninggal
Ulama NU KH Hasyim Muzadi Wafat Kamis Pagi
Kapolri Beri Penghargaan Ke 5 Kapolres Terbaik
Pengambilan Sumpah 64 Advokat Peradin Oleh PT Banten
Marie Muhammad Berpulang
Rakerda KAI DPD DKI Jakarta: Equality Before The Law, Jangan Ada Lagi Suap Dan Pungli
38 Juta Orang Di Dunia Hidup Dengan HIV/AIDS
Penyebab Kanker
Sutan Bhatoegana Meninggal Dunia
MUI Tolak Kapolda Baru Banten
Yudi Latif Tegaskan Pancasila Harus Jadi Lifestyle
Partai Gerindra-PKS Resmi Usung Anies Baswedan-Sandiaga Uno
jQuery Slider

Comments

Archives :2017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 4.834.379 Since: 07.04.14 | 0.472 sec