YouTube Facebook Twitter RSS
23 Nov 2017, 0

Hot News

Gubernur DKI Jakarta Resmikan Patung Gus Dur Masa Kecil Di Taman Amir Hamzah

siarjustisia.com-JAKARTA.

Sebuah patung Presiden RI ke-4 (1999-2001), Kyai Haji (K.H.) Abdurrahman Wahid atau kerap disapa Gus Dur yang terlahir dengan nama Abdurrahman ad-Dakhil, menghiasi taman bermain anak-anak di Taman Amir Hamzah, Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat.

Komodo Dragon Foundation membuat patung masa kecil Presiden ke-4 RI menggantikan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie FREng atau dikenal sebagai B. J. Habibie, setelah dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI hasil Pemilu 1999 dengan masa jabatan 20 Oktober 1999-23 Juli 2001, Abdurrahman Wahid atau yang akrab dipanggil Gus Dur, di Taman Amir Hamzah, Jalan Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat.

Patung itu diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M. yang akrab disapa "Ahok", Sabtu (25/4/2015), hari ini.

Peresmian dihadiri oleh istri Gus Dur, Sinta Nuriyah Wahid dan anak keduanya Zannuba Arifah Chafsoh atau yang akrab dipanggil Yenny Wahid. Lalu terlihat juga Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa.

Dalam sambutannya, Basuki Tjahaja Purnama mengatakan mantan ketua Tanfidziyah (badan eksekutif) Nahdlatul Ulama (NU) dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Gus Dur merupakan sosok pemimpin yang berani dan selalu memberikan semangat bagi orang yang ingin maju.

"Pas saya mau jadi Gubernur Bangka Belitung, Gus Dur dukung saya. Bahkan dia bisik-bisik, kamu bisa jadi Gubernur. Dia bisa membuat kita jadi berani karena dia kasih semangatnya luar biasa. Tentu kita merasa kehilangan. Jadi siapa pun bisa jadi Presiden, Gubernur, Bupati, Wali Kota. UU (Undang-unang) menjamin," beber Basuki Tjahaja Purnama, di Taman Amir Hamzah, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (25/4/2015).

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama menceritakan kedekatan hubungannya dengan Presiden keempat RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Tidak hanya itu, diakuinya Gus Dur mendukung karier politiknya dari awal hingga saat ini menjadi Gubernur DKI.

Bahkan semasa hidupnya, Gus Dur menyatakan optimistis Basuki Tjahaja Purnama bisa menjadi Presiden Indonesia.

Hal itu terlihat, saat dirinya mau mencalonkan diri menjadi Gubernur Bangka Belitung. Dia mendapat dukungan total dari tokoh Nahdlatul Ulama (NU) ini.

"Saudara saya saja bilang ke saya, mau jadi Gubernur, tidak tahu malu. Si Koko Ahok enggak tahu diri. Jadi Gubernur mah malu-maluin. Tapi, Gus Dur bisik-bisik, bilang kamu bisa jadi Gubernur. Gus Dur yang dukung. Itulah Gus Dur, dia bisa buat kita jadi berani karena semangatnya yang luar biasa," kata Basuki Tjahaja Purnama saat meresmikan Patung Gus Dur Masa Kecil di Taman Amir Hamzah, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (25/4/2015).

Gus Dur pernah bertanya padanya, alasan menjadi Gubernur. Lalu mantan anggota DPR RI ini menjawab ingin membuat jaminan sosial di provinsi yang dipimpinnya nanti. Maksud dari jaminan sosial adalah, orang sakit dan meninggal ditanggung oleh Pemerintah.

"Gus Dur setuju dengan alasan saya. Lanjutkan, katanya. Tapi akhirnya saja tidak jadi (Gubernur Babel) karena dicurangi. Lalu Gus Dur bilang, gimana kalau sama kirim Banser saja. Saya bilang, jangan Gus, nanti banyak orang yang mati gara-gara saya," ujar mantan anggota Komisi II DPR RI tersebut.

Ketika dirinya sudah pasrah tidak akan bisa menjadi Gubernur hanya karena beretnis China, Gus Dur menyemangati Basuki Tjahaja Purnama.

"Sudahlah Gus, orang Tionghoa tidak bisa jadi Gubernur. Dia bilang siapa bilang? Kamu bisa jadi Presiden kok. Jadi semangat lagi saya mau jadi Presiden karena Gus Dur. Karena Gus Dur masih tidak putus asa," tutur mantan Bupati Belitung Timur itu.

Satu ajaran politik yang diterimanya dari Gus Dur yang tetap diterapkannya hingga saat ini adalah mendengarkan aspirasi warga. Mengambil kebijakan dari akar rumput, tidak dari kalangan atas.

"Harus dari akar rumput. Jadi Gus Dur bebar-benar memilih dari bawah. Jadi kadang-kadang mengikuti jejak Gus Dur yang apa adanya, ada resiko di-impeachment. Jadi ya saya ikut Gus Dur saja lah. Ya mau di impeach syukur, enggak usah repot-repot lagi," ucapnya.

Patung yang ditempatkan di taman itu menampilkan sosok Gus Dur berusia 9 tahun yang sedang membaca buku. Patung terbuat dari perunggu dengan berat 400 kilogram yang merupakan karya dari seniman instalasi Yani Mariani Sastranegara.

Pembuatan patung Gus Dur masa kecil ini sudah digagas sejak 2013 oleh Ron Mullers dan Dalton Tatonaka, kemudian diwujudkan di bawah bendera Komodo Dragon Foundation.

Agar terlihat proporsional, patung sengaja dibuat dengan tinggi 1,2 meter di atas penyangga stumpu berbahan batu candi dari Muntilan setinggi 80 sentimeter (cm).

Taman Amir Hamzah dipilih karena mengandung nilai historis yakni merupakan tempat Gus Dur bermain bola, yang berlokasi dekat dari rumah kakeknya K.H. Hasyim Asyari, Jalan Matraman Nomor 8. Rumah tersebut sekarang dijadikan kantor The Wahid Institute.

Patung Gus Dur saat berusia 9 tahun yang sedang membaca buku ini, diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi anak-anak di Jakarta, maupun di seluruh wilayah Indonesia untuk berjuang keras dan menjadi pemimpin yang meningkatkan harkat dan martabat Indonesia.

Pendiri Komodo Dragon Foundation (KDF), Ron Mullers mengatakan sosok Gus Dur tak lepas dari seorang pejuang kemanusiaan dan tokoh pluralisme yang khas dengan banyolan cerdasnya.

"Ini membuat Gus Dur melekat di hati rakyat Indonesia. Menjadi sosok yang disegani dan diakui bukan hanya oleh rakyat Indonesia melainkan juga dimata dunia internasional," kata Ron Mullers dalam acara Peresmian Patung Gus Dur Masa Kecil di Taman Amir Hamzah, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (25/4/2015).

Di balik semua perjuangannya untuk Indonesia, Gus Dur melewati masa kecilnya sama dengan anak-anak lainnya. Dia suka main bola dan memanjat pohon. Bahkan pernah dua kali mengalami patah tangan karena terjatuh dari pohon.

Di sekolah pun, walau pernah tinggal kelas karena bosan, Gus Dur tergolong siswa yang nakal tapi cerdas. Karena dia sangat rajin membaca buku.

"Anak-anak di Indonesia, sangat membutuhkan sosok yang bisa menginspirasi mereka. Karena itu, setelah menghadirkan patung Obama Kecil, kini kami memilih Gus Dur sebagai figur inspiratif yang direpresentasikan dalam sebuah karya patung," jelas Ron Mullers.

Ditegaskannya, pemilihan patung Gus Dur bukan karena alasan politik. Melainkan, semata-mata patung ini merupakan sebuah impian bagi anak kecil bisa menjadi tokoh masyarakat dan pemimpin bangsa.

Pembuatan patung pemimpin negara ini, berangkat dari pembuatan patung Barack Obama. Anak kecil yang sekolah di Indonesia, mampu menjadi Presiden Amerika Serikat.

"Banyak orang yang menanyakan saya mengapa pilih Gus Dur. Tidak ada alasan politik apa pun. Ini berangkat dari pembuatan patung Obama, anak kecil yang sekolah di Jakarta bisa jadi presiden di Amerika. Kita lihat Gus Dur, yang main bola di Menteng, anak kecil Indonesia bisa jadi Presiden Indonesia dan tokoh NU. Itu adalah alasan utamanya. Gus Dur menjadi inspirasi bagi anak-anak kecil di Indonesia untuk menjadi pemimpin yang berkualitas," kata Ron Mullers.

Gus Dur yang akrab disapa Rahman sewaktu kecil ini, lanjutnya, senang membaca dari kecil sama dengan Presiden RI I, Soekarno. Gus Dur punya impian untuk maju meski tantangan menghadang.

"Gus Dur sudah senang baca dari kecil. Sama dengan Presiden Soekarno. Kalau anak kecil lihat statue ini, bisa jadi inspirasi, wah dia sama dengan kita. Gus Dur punya impian untuk maju. Gus Dur dan Obama sama-sama anak kecil dari Indonesia bisa jadi Presiden," ujar Ron Mullers.

Keluarga besar Wahid pun mengharapkan perjuangan, keberanian dan usaha keras Gus Dur memperjuangkan kesatuan dalam keberagaman dapat menjadi inspirasi bagi anak-anak di Indonesia.

Putri kedua Gus Dur, Zannuba Arifah Chafsoh yang akrab dipanggil Yenny Wahid mengatakan sosok pribadi ayahanda tercinta sangat terekam dalam ingatannya. Yang selalu nomorsatukan toleransi, kesetaraan dan solidaritas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Perbedaan suku, ras, etnis atau agama tidak menjadi penghalang untuk membangun bangsa dan negara Indonesia.

"Gus Dur bagi kami adalah sosok yang cerdas, berani, toleran, jujur, tegas dan menjunjung tinggi kesatuan. Dan semuanya itu tetap dibawanya saat menjadi Presiden," kata Yenny Wahid dalam acara Peresmian Patung Gus Dur Masa Kecil di Taman Amir Hamzah, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (25/4/2015).

Karena itu, Patung Gus Dur berusia 9 tahun yang sedang membaca buku diharapkannya dapat membantu anak-anak kecil di Jakarta maupun di Indonesia dapat menggantungkan impiannya setinggi langit.

"Kami mengapresiasi kepada Komodo Dragon Foundation yang telah membuat Patung Gus Dur di masa kecil. Kami harap patung yang terpampang di taman ini bisa menginspirasi anak-anak kecil dan anak muda menjadi pribadi yang cerdas, berani, toleran yang mampu menjadi presiden di Indonesia," urai Yenny Wahid.

Dia pun menceritakan masa kecil Gus Dur di kawasan Menteng, tepatnya di Jalan Matraman Nomor 8, yang saat ini menjadi kantor The Wahid Institute.

Sewaktu kecil, selain suka membaca, suami dari Sinta Nuriyah ini suka bermain bola di Taman Amir Hamzah. Di sebelah rumah Gus Dur, merupakan rumah kakek dari Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Soebianto.

Selain itu, kawasan Menteng juga tempat masa kecil Barack Obama, Presiden Amerika Serikat.

Melihat, banyaknya tokoh-tokoh penting lahir di kawasan Menteng, bahkan diantaranya dua anak kecil Menteng telah berhasil menjadi Presiden, Yenny Wahid pun berseloroh kalau mau jadi Presiden harus membeli rumah di kawasan Menteng.

"Siap-siap beli rumah di daerah sini yang mau jadi Presiden," candanya yang disambut gelak tawa tamu undangan lainnya.

Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa mengatakan kerja keras dan perjuangan seorang Abdurrahman Wahid harus bisa menjadi inspirasi bagi semua orang.

"Pak Wimar Witoelar (juru bicara kepresidenan era Gus Dur) sering temani Gus Dur pagi. Pak Wimar bilang, saya lama-lama bisa jadi ideolog kalau jalan pagi sama Gus Dur. Sebab, dia selalu semangat memberikan pemahaman ideologi bangsa. Kita harus membangun kembali semangat perjuangan seorang Abdurrahman Wahid. Gus Dur jadi pahlawan nasional," tukasnya.

Untuk menghargai patung Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid atau kerap disapa Gus Dur yang telah diletakkan di taman tempatnya bermain semasa kecil, Taman Amir Hamzah, Menteng, Jakarta Pusat, Gubernur DKI Jakarta, Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M. yang akrab disapa "Ahok" akan menjadikan taman dan patung tersebut dalam salah satu destinasi wisata di Jakarta.

“Taman ini bisa menjadi tempat orang datang. Orang pengen tahu. Nah nanti akan kita masukan dalam situs wisata nih. Jadi ada patung Obama dan Gus Dur. Ini akan menjadi tempat wisata yang oke banget,” kata Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama seusai meresmikan Patung Gus Dur Masa Kecil di Taman Amir Hamzah, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (25/4/2015).

Mantan Bupati Belitung Timur ini mengharapkan keberadaan patung Gus Dur berusia 9 tahun sedang membaca buku ini dapat memberikan inspirasi bagi anak-anak agar tidak putus asa dalam menggapai impian atau cita-citanya.

Sebab, Gus Dur sewaktu kecil pernah tidak naik kelas karena merasa bosan bersekolah. Tetapi kegagalan itu tidak membuatnya berhenti untuk berkarya.

Dengan kecintaannya membaca buku, Gus Dur kecil yang kerap disapa Rahman ini bertumbuh menjadi seorang yang cerdas dan akhirnya menjadi Presiden RI.

“Semua orang harus punya cita-cita. Presiden juga berasal dari anak kecil yang punya cita-cita. Orang suka berpikir, anak-anak yang biasa berpikir nggak mungkin saya berhasil, bisa maju. Nah patung itu mengingatkan anak kecil itu berharga,” ujarnya.

Keberadaan patung Gus Dur ini juga menjadi peringatan kepada orang-orang dewasa agar tidak menganggap remeh anak kecil. Senakal apa pun anak kecil, mereka masih punya masa depan yang baik asal didik dengan baik dan penuh kasih sayang.

“Untuk orang dewasa, melihat ini, membuat kita berpikir, kita nggak boleh menganggap remeh anak kecil. Kita tidak boleh berpikir, anak ini nggak bisa dididik dengan baik. Karena anak-anak yang kita temui hari ini, salah satu dari mereka suatu saat nanti akan menjadi presiden kita yang akan datang,” terangnya.

Bagi mantan anggota Komisi II DPR RI ini, sosok Gus Dur adalah seorang yang cuek dan apa adanya. Apa yang ada di dalam pikiran, mulut, hati dan nuraninya selalu sama dengan apa yang dia lakukan. Sering kali dengan sikapnya yang berbicara blak-blakan tersebut membuat rasa tidak suka muncul dalam hati banyak orang.

“Gus Dur bagi saya cuek dan apa adanya. Sebenarnya yang kita butuhkan orang yang apa adanya. Kita bicara yang rasional, ngapain munafik. Tapi kadang-kadang orang nggak bisa terima. Makanya banyak orang yang bicaranya manis-manis dan lembut, tapi dibelakang mau nonjokin orang,” jelasnya.

Ditengah banyak politisi dan tokoh pemimpin yang mengamankan posisinya daripada dibenci orang, Gus Dur hadir membicarakan kebenaran meski harus dibenci orang dan membahayakan posisinya sebagai seorang pemimpin.

“Banyak politisi, tokoh masyarakat kita berpikir yang penting masih duduk dapat posisi, daripada nggak dapat posisi dan dibenci orang karena mengatakan kebenaran. Konsep Gus Dur adalah menyampaikan kebenaran agar masyarakat terdidik. Kenapa rakyat menjadi liar, karena mereka nggak tahu kebenaran, terlalu banyak kebohongan dan kemunafikan. Nah saya mau contoh Gus Dur yang seperti itu,” tegasnya.

Bagi Gubernur DKI Jakarta, Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M. yang akrab disapa "Ahok" perjuangan Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang membela kaum China di Indonesia bagaikan oase ditengah kekeringan kesetaraan dan toleransi SARA.

Maka tak heran lah, Basuki Tjahaja Purnama menyebut Gus Dur sebagai Laksamana Cheng Ho orang Indonesia. Karena Gus Dur berani membela kaum minoritas seperti kaum China di Indonesia.

Pada saat itu, masyarakat Indonesia keturunan etnis China masih dipandang sebelah mata dan mengalami diskriminasi oleh Pemerintah.

"Kalau buat orang Tionghoa, Gus Dur itu kayak Cheng Ho. Ya, sudah kayak dewanya (orang China) lah," ungkap Basuki Tjahaja Purnama dalam acara Peresmian Patung Gus Dur Masa Kecil di Taman Amir Hamzah, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (25/4/2015).

Keberanian Gus Dur membela kaum China terlihat saat terjadi diskriminasi terhadap etnis ini, justru Gus Dur dengan tegas menyatakan kalau dirinya keturunan China.

Akibat pengakuannya tersebut, beberapa kalangan yang memandang sebelah mata terhadap China pun terdiam. Dan lama kelamaan, diskriminasi terhadap etnis China menghilang dari kehidupan bermasyarakat di Indonesia.

"Cuma Gus Dur lho yang berani bilang kalau saya orang Tionghoa, marga saya ini, langsung terang-terangan ngomong. Untung Gus Dur berani, jadi orang pada diam" kata Basuki Tjahaja Purnama dalam acara Peresmian Patung Gus Dur Masa Kecil di Taman Amir Hamzah, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (25/4/2015).

Seperti diketahui, Cheng Ho adalah pelaut dan penjelajah Muslim asal China yang melakukan penjelajahan dari tahun 1405 hingga 1433. Cheng Ho telah memimpin tujuh ekspedisi ke tempat-tempat di sekitar Samudra Indonesia.

Cheng Ho mengunjungi kepulauan di Indonesia selama tujuh kali. Ketika ke Samudera Pasai, ia memberi lonceng raksasa "Cakra Donya" kepada Sultan Aceh, yang kini tersimpan di museum Banda Aceh.

Tahun 1415, Cheng Ho berlabuh di Muara Jati (Cirebon), dan menghadiahi beberapa cindera mata khas China kepada Sultan Cirebon. Salah satu peninggalannya, sebuah piring yang bertuliskan ayat Kursi masih tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon.

Pernah dalam perjalanannya melalui Laut Jawa, Wang Jinghong (orang kedua dalam armada Cheng Ho) sakit keras. Wang Jinghong akhirnya turun di pantai Simongan, Semarang, dan menetap di sana. Salah satu bukti peninggalannya antara lain Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu) serta patung yang disebut Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Po Kong.

Cheng Ho juga sempat berkunjung ke Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Raja Wikramawardhana. (sp/jos)

See Also

Selamat Jalan Bang Indra Sahnun Lubis
Kasubdit Regident Ditlantas Polda Jabar Meninggal Dunia
Perdana Menteri Jepang Bubarkan Majelis Rendah Parlemen
Press Release MESANIH Pelayanan Jasa Online Berbasis Budaya Lokal
Kodim 0721/Blora Gelar Doa Bersama 171717
Kodim 0716/Demak Gelar Doa Bersama Pada 171717
Doa Bersama 171717 Demi Keutuhan NKRI
Dandim 0721/Blora Ajak Warga Blora Doa Bersama
Rektor UMK Tegaskan Tolak Narkoba Dan Paham Radikal
Dandim 0716/Demak Tangkal Radikalisme Lewat Mujahadah
Rotasi Sejumlah Perwira Tinggi Dan Perwira Menengah Di Tubuh Polri
PAN Walk Out Dari Paripurna RUU Pemilu
Kodim 0716/Demak Kehilangan Putra Terbaik Bangsa
Julia Perez Meninggal
Ulama NU KH Hasyim Muzadi Wafat Kamis Pagi
Kapolri Beri Penghargaan Ke 5 Kapolres Terbaik
Pengambilan Sumpah 64 Advokat Peradin Oleh PT Banten
Marie Muhammad Berpulang
Rakerda KAI DPD DKI Jakarta: Equality Before The Law, Jangan Ada Lagi Suap Dan Pungli
38 Juta Orang Di Dunia Hidup Dengan HIV/AIDS
Penyebab Kanker
Sutan Bhatoegana Meninggal Dunia
MUI Tolak Kapolda Baru Banten
Yudi Latif Tegaskan Pancasila Harus Jadi Lifestyle
Partai Gerindra-PKS Resmi Usung Anies Baswedan-Sandiaga Uno
jQuery Slider

Comments

Archives :2017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 4.834.398 Since: 07.04.14 | 0.4257 sec