YouTube Facebook Twitter RSS
18 Jan 2018, 0

Nusantara

Makam Massal Tragedi 1965 Di Semarang Diberi Nisan

Tuesday, 02 June 2015 | View : 1620

siarjustisia.com-SEMARANG.

Lantunan suara saxophone yang dimainkan Romo Aloys Budi Purnomo menggema di tengah hutan di Dusun Plumbon, Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang. Ia mengiringi Al-I'tirof yang dilantunkan warga menuju lokasi permakaman orang-orang yang dibunuh dalam tragedi 1965.

Suara saxophone berirama salawatan yang dimainkan Romo Aloys Budi Purnomo mengiringi langkah para kerabat korban peristiwa 1965 menuju kuburan massal.

Hadir dalam acara prosesi pemasangan batu nisan dan mendoakan ke-24 korban tragedi 1965 itu diantaranya dari perwakilan pemuka agama, tampak rohaniwan Romo Aloysius Budi Purnomo dari Keuskupan Agung Semarang, Ketua Banser Jateng Hasyim Ashari, Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof. Warsino, Lurah Wonosari Sulistyo, Wakil Kepala Perhutani KPH Perhutani Kendal Rofi Trikuncoro. Serta pihak perangkat desa dari RT hingga RW di Kampung Plumbon juga ikut hadir dalam acara tersebut.

Ikut hadir dan mendoakan juga keluarga dan beberapa keturunan dari 24 korban tragedi 1965 yang dimakamkan di situ di antaranya korban Sjahroni, korban Joesoef, korban Soekandar, korban Soerono, dan korban Darsono. Nampak juga puluhan mahasiswa dari tujuh kampus ikut proses pemasangan batu nisan dan mendoakan korban tragedi 1965 tersebut. Mereka mahasiswa berasal dari kampus Universitas Negeri Semarang (Unnes), kampus Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, kampus Universitas Wahid Hasyim (Unwahas), kampus Universitas 17 Agustus (Untag) Semarang, Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang dan kampus Magister Manajemen Universitas Katholik Satya Wacana (UKSW) Salatiga.

Sebanyak 24 korban tragedi 1965 Senin (1/6/2015) siang hingga menjelang petang tadi menjalani proses pemasangan batu nisan dan doa bersama di tempat ditemukannya makam korban tragedi 1965 di Kampung Plumbon, Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Kuburan massal itu terletak di tepi hutan Jati Perhutani di Kampung Plumbon, Kelurahan Wonosari, Ngaliyan, Kota Semarang, Senin (1/6/2015).

Prosesi acara pemasangan batu nisan yang diprakarsai Perhimpunan Masyarakat Semarang Untuk Hak Asasi Manusia (PMS-HAM) itu diawali pemasangan batu nisan. Kemudian memberikan kesempatan keturunan dan keluarga korban untuk berdoa.

Proses pemasangan nisan di makam yang diduga kuburan massal korban peristiwa 1965, di Kampung Plumbon, Wonosari, Ngaliyan, Semarang, berlangsung haru. Suasana haru kemudian terjadi saat Romo Aloys Budi Purnomo mengiringi dengan saxophone alunan doa yang dikumandangkan oleh Haji Hambali dari Kabupaten Kendal secara khusyuk dan fasih melantunkan doa mengiringi pemasangan nisan. Seorang seniman, kelana, berdeklamasi untuk mereka, diiringi lantunan saksofon Romo Aloys Budi Purnomo. Seorang kerabat korban juga melantunkan tembang macapat yang di dalamnya menyebut nama-nama itu.

Tak pelak, puluhan dari ratusan pengunjung yang hadir ikut meneteskan air mata saat doa dan alunan saxophone itu memecah keheningan hutan Plumbon yang di kelola oleh KPH Perhutani Kendal, Jawa Tengah.

Tangis pun pecah ketika pihak keluarga tiba di dua liang lahat yang berada di bawah pohon jarak itu. Dua kuburan ditandai tatanan batu melingkar berdiameter sekitar 1-1,5 meter. Masing-masing dinaungi pohon jarak. Di situlah para kerabat korban bersama anggota Perkumpulan Masyarakat Semarang untuk Hak Asasi Manusia (PMS-HAM) memasang batu nisan, menabur kembang, dan berdoa.

Para keluarga korban yang dimakamkan di pemakaman itu terlihat tak kuasa menahan air mata menyaksikan proses pemasangan nisan yang khidmat, diawali dengan doa bersama lintas agama.

Tepat di Hari Kelahiran Pancasila, 1 Juni ini, pihak keluarga, warga Plumbon, pegiat sejarah, mahasiswa, dan beberapa pihak lainnya termasuk Pemkot Semarang dan Perhutani menggelar pemasangan batu nisan di sana.

Sri Murtini (61) berulang kali menyeka air mata yang menetes di pipinya. Warga Perumahan Griya Payung Asri RT04/RW16, Kelurahan Pudak Payung, Banyumanik itu anak dari satu korban yang namanya tercantum pada nisan yaitu Joesoef Setyo Widagdo, seorang carik di Desa Margorejo, Cepiring, Kendal. Sri Murtini (61) warga asli Cepiring, Kabupaten Kendal tidak kuasa menahan tangis karena ayah angkatnya, Joesoef Setyo Widagdo menjadi salah satu yang dikubur di lahan yang saat ini dikelola Perhutani KPH Kendal itu. Selama 50 tahun Sri Murtini tidak tahu kondisi Joesoef Setyo Widagdo dan beberapa hari lalu ia dihubungi seseorang dan mengabari ayah angkatnya menjadi salah satu orang yang dikubur di sana.

"Saya terima kasih sekali sama orang-orang yang mengurus ini, saya tidak tahu di mana jenazah bapak. Terima kasih masih ada yang peduli. Dari dulu tidak tahu, sudah 50 tahun," kata Sri Murtini yang masih sesenggukan, Senin (1/6/2015).

Beberapa orang yang masih memiliki hubungan keluarga dengan jenazah yang ada di kuburan massal itu juga tidak bisa menahan kesedihannya. Dengan diiringi instrumental Padamu Negeri oleh Romo Aloys Budi Purnomo, mereka menabur bunga. Nisan yang sudah bertuliskan 9 nama jenazah pun dipasang di tengah dua liang lahat.

Koordinator Perkumpulan Masyarakat Semarang untuk Hak Asasi Manusia (PMS-HAM), Yunantyo Adi mengatakan warga sekitar sebenarnya sudah mengetahui tentang adanya makam orang-orang yang dibantai dalam tragedi 1965 di wilayah tersebut.

"Dulu warga tidak pernah terpikirkan untuk penisanan dan pemakaman ulang. Setelah ketemu kita baru terpikirkan itu. Ini dulu jadi pembicaraan publik, ada yang untuk cari nomor (togel), terus untuk diskusi kampus, tapi kok cuma diskusi doang, harus ada sesuatu yang dilakukan," tandas Yunantyo Adi.

Pihaknya kemudian menghubungi Komnas HAM untuk mengusahakan agar ada prosesi pemakaman yang layak. Ternyata ada kendala karena harus forensik atau tes DNA, maka ia menemui pihak Pemkot Semarang hingga akhirnya Pemkot Semarang menyumbang batu nisan dan Romo Aloys Budi Purnomo menyumbang pembatas.

"Secara manusia mereka juga punya hak mati diperlakukan lebih baik. Dari Komnas HAM kendala forensik, tes DNA, dan lain-lain," terangnya.

Menurut keterangan saksi hidup, ada sekitar 24 orang yang dikubur dalam dua makam tersebut dan ada beberapa yang sudah diketahui identitasnya.

Dari ke-24 nama korban pembantaian 1965, sementara itu dari 12 jenazah, yang sudah dikenali dan diketahui namanya serta ditulis di nisan nama yaitu Moetiah (dulunya guru TK), Soesatjo (dulunya pejabat teras Kendal yang merupakan mantan Bupati Kendal pada masa itu), Darsono, Sjachroni, Joesoef (carik), Soekandar (carik), Doelkhamdi, dan Soerono (guru Sekolah Rakyat di Desa Kedungsuren, Kaliwungu Kendal).

Di bagian bawah nisan delapan nama itu, tertulis "Dan lain-lain" karena banyak korban yang belum diketahui identitasnya, disertai kata-kata "Gugur dalam peristiwa 1965. Semoga diterima di sisi-Nya".

Koordinator Perkumpulan Masyarakat Semarang untuk Hak Asasi Manusia (PMS-HAM) Yunantyo Adi mengakui ada banyak versi mengenai jumlah korban yang dimakamkan di Kuburan Plumbon. Warga setempat mengatakan ada 24 korban, tapi ada juga yang menyebutkan hanya delapan orang.

"Namun, dari penyelidikan yang dilakukan PMS-HAM setidaknya didapatkan delapan identitas korban. Makanya, kami tulis nama delapan korban, ditambah 'dan lain-lain' di nisan itu," imbuh Yunantyo Adi.

Yunantyo Adi mengaku lega karena proses pemasangan nisan berlangsung dengan lancar dan didukung banyak pihak, termasuk Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Perhutani Kendal yang membawahi lahan itu.

Mereka juga berkoordinasi dengan pihak Perhutani sehingga warga diperbolehkan ziarah dan PMS-HAM harus melapor sekali setahun ke Perhutani. Sementara itu, terkait identitas jenazah, lanjut Yunantyo Adi, pihaknya tahu dari saksi hidup yang mengenal beberapa korban.

"Nama-nama itu muncul ketika di sini tidak ada yang tahu siapa keluarga mereka, kemudian di UKSW ketemu Margiono yang bilang ada keluarga yang sering ziarah ke sini, nah saya cari," papar Yunantyo Adi.

Wakil Kepala Perhutani KPH Kendal Rofi Tri Kuncoro santa mengapresiasi langkah yang diambil oleh masyarakat yang di bawah koordinasi PMS HAM melakukan prosesi pemasangan batu nisan terhadap korban tragedi 1965 yang berada di atas wilayah Perhutaninya.

"Kami sangat mengapresiasi karena sebelum melakukan kegiatan pihak panitia telah berkoordinasi dengan kita. Kita tidak keberatan dan mengizinkan jika ada pihak keluarga korban dan masyarakat lain yang mengunjungi, mendoakan makam yang berukuran 5 meter kali 10 meter di atas tanah kita sebagai pengelola," paparnya.

Ke depan, PMS HAM berharap Komnas HAM bersama lembaga rekonsiliasi bisa melakukan upaya rekonsiliasi dan memastikan siapa saja 24 jenazah korban tragedi 1965 tersebut. Meski ke-8 korban lainnya sudah dikenali namun perlu adanya proses secara pasti dan langkah serius dari pemerintah.

Meski demikian pihaknya belum bisa memastikan keseluruhan nama dan memastikan identitas, karena tidak boleh membongkar makam tanpa seizin Komnas HAM.

"Kami tidak bisa bongkar, harus ke Komnas HAM karena ini pelanggaran HAM berat. Kalau belum ada izin Komnas HAM kita tidak berani karena bisa kena perusakan barang bukti," jelas Yunantyo Adi.

Mulai dari pembongkaran kembali kuburan dam proses identifikasi dengan otopsi serta penguburan kembali yang layak jasad 24 korban yang masih bertumpukan berada di dalam satu liang lahat tersebut.

"Makanya kami hanya memasang batu nisan dan mendoakannya saja karena kita tidak berani membongkar makam takut bisa menghilangkan barang bukti dan melanggar Undang-undang dan aturan yang ada," tukas Yunantyo Adi yang juga merupakan Ketua Panitia kegiatan tersebut.

Koordinator Perkumpulan Masyarakat Semarang untuk Hak Asasi Manusia (PMS-HAM) Yunantyo Adi mengatakan proses pemasangan nisan di kuburan massal itu setidaknya memiliki tiga makna penting.

Pertama, kata Yunantyo Adi, sebagai penanda sejarah bahwa di tempat itu dimakamkan korban peristiwa 1965 yang kini sudah diakui sah sebagai pemakaman meski warga sekitar sudah lama mengetahuinya.

"Sebenarnya, sudah sejak lama warga sekitar tahu bahwa itu makam. Namun, sebatas di situ makam dan ada orang yang dikubur di situ. Belum terpikir menandai atau memasangi nisan," kata Yunantyo Adi, dikutip dari Antara, Senin (1/6/2015).

Kedua, sambung Yunantyo Adi, aspek kemanusiaannya. Siapa pun selayaknya diperlakukan secara manusiawi, baik semasa hidup dan setelah meninggal.

"Ketiga adalah warisan budaya. Peristiwa 1965, di mana ada orang membunuh orang tanpa proses pengadilan, harus menjadi pembelajaran bagi bangsa ini agar jangan sampai terulang lagi," tambah Yunantyo Adi.

Acara pemasangan batu nisan itu berlangsung khidmat, doa-doa dilantunkan, puisi dan tembang macapat juga dilantunkan oleh para seniman.

Koordinator Perhimpunan Masyarakat Semarang Untuk Hak Asasi Manusia (PMS-HAM) Yunantyo Adi menegaskan, langkah ini merupakan bentuk kepedulian dan memanusiakan jenazah dan menghargai korban tragedi 1965. "Tanpa memandang latar belakang ideologi, politik, dan agama jenazah korban tragedi PKI tersebut," ungkap Yunantyo Adi.

Momen peringatan Kesaktian Pancasila yang jatuh pada hari ini, 1 Juni 2015 untuk melakukan upaya proses rekonsiliasi atas masa lalu. "Supaya peristiwa dan sejarah itu tak terjadi kembali. Saat ini, sedikitnya ada sebanyak 500 ribu sampai tiga juta korban tragedi PKI tanpa proses pengadilan yang jelas mereka dieksekusi tanpa mengetahui apa kesalahan mereka," urai Yunantyo Adi.

"Ini momen perdamaian, sejarah damai luka-luka di masa lalu. Jangan sampai terjadi lagi," pungkas Yunantyo Adi.

Berikut persembahan puisi oleh Romo Aloys Budi Purnomo:

Mengubah Dendam jadi Cinta

di dua liang lobang
yang kini menjadi Makam Masal ini
diduga sedikitnya 12 hingga 24
bahkan 43 raga Terkubur
dengan Jiwa terbunuh
dalam kaitan peristiwa 1965

hari ini bersama sejumlah warga
dan ahli Waris Sanak Keluarga
serta unsur Pemerintahan Kota Semarang mulai dari Lurah, Camat dan Kesbangpol mewakili Wali Kota

serta Rekanrekan Lima Kampus dan
Peduli Masyarakat Semarang yang dimotori Mas Adi
dan sejumlah Tokoh Masyarakat
dan Agama dan Budaya

kami menjadi Kita
tak lagi aku dan kau
dalam kebersamaan Beragam
satu tekad
mengubah dendam sejarah
menjadi Cinta Kemanusiaan
demi Masa Depan Damai

semoga Jiwajiwa mereka Bahagia
di sorga
dan Hidup kami Damai
di dunia

Plumbon, Semarang, 01 Juni 2015

Aloys Budi Purnomo

(ant/abp/jos)

See Also

Tingkatkan Motivasi Prajurit, Dandim 0716/Demak Berikan Jam Komandan
Presiden Joko Widodo Lantik Empat Pejabat Baru
Dandim 0716/Demak Pimpin Upacara Wisuda Purna Tugas Dan Pindah Satuan
Arisan Persit Kodim 0716/Demak Dapat Sosialisasi Dari Bio Alpha
Dandim 0716/Demak Tegaskan Junjung Tinggi Toleransi Antar Umat Beragama
Kunker Pangdam IV/Diponegoro Di MaKodim 0716/Demak
Dekan FEB Sebut UMK Dapat Berkah Dua Wali
Pangkalan Kodim 0716/Demak Harus Bersih Dan Rapi
Ardhi Prabowo Paparkan Ragam Strategi Pembelajaran Di UMK
Kegiatan Pengambilan Bet Saka Wira Kartika Koramil 02/Bonang Resmi Dibuka
Koramil 04/Dempet Tanam Refugia Bersama Masyarakat
Sambil Lesehan, Dandim 0716/Demak Berdialog Dengan Masyarakat Desa Mijen
Jajaran Aparat Keamanan Demak Persiapkan Diri Hadapi Pilkada Serentak 2018
Dandim 0716/Demak Cek Kesiapan Panen Raya
Lingkungan Yang Sehat Idaman Prajurit Kodim 0716/Demak
Koramil 09/Karang Tengah Siap Geruduk Rumah Nenek Kalsum
Kuliah Umum Prodi Matematika UMK
Dandim 0716/Demak Menyongsong Pergantian Tahun Bersama Forkopimda Lakukan Doa Bersama
Pasi Ops Kodim 0716/Demak Hadiri Rakor Dalam Rangka Pengamanan Tahun Baru 2018
Babinsa Koramil 02/Bonang Dampingi Warga Panen Ikan Nila
Danramil 09/Karangtengah Hadiri Dzikro Maulidin Nabi Muhammad SAW
Mahasiswa UMK Dibekali Skill Kepemimpinan Dan Komunikasi
Charly Setia Band Ajukan Diri Jadi CaWaGub Jawa Barat Ke PKB
Presiden Joko Widodo Resmikan Terminal Bandara Internasional Supadio
Partai Gerindra, PKS, Dan PAN Resmi Usung Sudrajat-Syaikhu Di PilGub Jawa Barat 2018
jQuery Slider

Comments

Archives :20182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 5.201.384 Since: 07.04.14 | 0.7627 sec