YouTube Facebook Twitter RSS
24 Jun 2018, 0

Internasional

Kawal Paus Fransiskus, Mobilisasi Keamanan Terbesar Sepanjang Sejarah AS

Wednesday, 23 September 2015 | View : 713

siarjustisia.com-WASHINGTON D.C.

Direktur Secret Service (SS), Joseph P. Clancy, menyatakan kunjungan pemimpin Gereja Katolik dan sekaligus kepala negara dari Negara Kota Vatikan, Paus Fransiskus selama lima hari di AS akan menjadi mobilisasi keamanan terbesar sepanjang sejarah AS. Hal itu ia sampaikan untuk menanggapi bagaimana Secret Service mengawal Paus Fransiskus yang gerah dengan pengamanan super ketat atau over protective.

"Yang jelas kami tidak bisa menyebut berapa jumlah personelnya, namun itu akan menjadi yang terbesar sepanjang sejarah kami," jelas Joseph P. Clancy, Selasa (22/9/2015).

Jauh-jauh hari sebelum Vatikan menyatakan resmi Paus Fransiskus akan datang ke AS, Secret Service sudah mempelajari secara detil bagaimana Swiss Guard atau pengawal pribadi kepausan mengamankan dan mengawal Paus Fransiskus.

Sejak terpilih menjadi pemimpin umat Katolik sedunia, seperti biasa dan kewajibannya, Vatikan memberikan pengawalan khusus untuk Paus. Namun dalam beberapa bulan menjadi penguasa Vatikan, Paus Fransiskus memecat kepala keamanannya karena dianggap terlalu berlebihan mengamankannya. Hal inilah yang menjadi pertimbangan Secret Service. Bagaimana mengawal tokoh penting dunia tersebut berdekatan dengan publik dalam ruang terbuka tanpa mengganggunya.

Secret service menyebut pengawalan Paus berada dalam level yang sangat sulit.

Dalam kunjungannya ke tiga kota besar; Washington, New York, dan Philadelphia dipastikan Paus akan berhenti sekehendaknya untuk menemui kerumunan orang yang menantinya. Ia juga disebutkan tidak mau menggunakan kendaraan kepausan seperti yang digunakan pendahulunya, Paus Paulus II dan Benediktus XVI.

"Itu akan sangat sulit, bagaimana kerumunan akan memberikan benda-benda seperti bendera, boneka, bahkan bayi untuk diberkati. Di sisi lain kami jelas melarang hal tersebut dilakukan," sambung Joseph P. Clancy.

Sebagai antisipasi, Secret Service akan memasang pagar sepanjang jalan yang akan dilalui Paus. Selain itu warga yang berderet sepanjang jalan harus melalui detektor logam. Warga juga dilarang menggunakan tongkat selfie. Di New York, pihak keamanan melarang penggunaan drone selama Paus menggelar misa bagi korban 9/11. Bahkan Pemkot New York meliburkan pegawainya dan menghentikan operasi kantor pos, serta sejumlah rekayasa lalin akan dilakukan.

Joseph P. Clancy menjelaskan pasukan yang dipimpinnya sudah melakukan latihan khusus selama berminggu-minggu di Maryland. Salah satu materi yang diberikan adalah membaca gesture atau perilaku seseorang.

Vatikan sendiri akan membawa 500 personel Swiss Guard yang dipimpin oleh Domenico Giani. Mereka sudah bersumpah akan memberikan nyawanya untuk keamanan Paus.

Dalam beberapa kesempatan Paus Fransiskus menyampaikan ia ingin menjadi orang yang biasa dan bertemu dengan siapapun. Di kunjungan ke sejumlah negara, Paus berkontak langsung dengan penduduk setempat. Bahkan di Argentina ia meminum secangkir teh yang ditawarkan seorang warga. Di Brasil, ia meminta sopir mobilnya mengubah rute yang sudah ditentukan dan menemui kerumunan publik.

Paus Fransiskus menyatakan ia tidak khawatir dengan keselamatan dirinya. "Saya ingin berkomunikasi dengan banyak orang dengan cara yang manusiawi, dan hidup saya berada di tanganNya" katanya. (newyorktimes)

See Also

Turki Adakan Pemilu Hari Ini
Arab Saudi Resmi Mencabut Larangan Perempuan Menyetir
Gempa Guncang Osaka
Inggris Permudah Pengajuan Visa Bagi Pelajar Indonesia
Amerika Serikat Keluar Dari Dewan HAM PBB
PM Malaysia Mahathir Mohamad Umumkan Gaji Menteri Dipangkas 10 Persen
Suriah Berhasil Usir ISIS
Satgas Malaysia Akan Selidiki Skandal Mega Korupsi 1MDB
Malaysia Ringkus 7 Anggota Terduga Jaringan IS
Sekolah Di Ghouta Timur Dihantam Rudal
Pasar Di Suriah Dihantam Roket
Arab Saudi Dan Inggris Tandatangani Kesepakatan Pembelian Jet Tempur
Kementerian Pertanian Cegah Rock Melon Australia Masuk Indonesia
Presiden Suriah Tegaskan Serangan Di Ghouta Timur Akan Terus Berlanjut
Skandal Seks Wakil PM Australia Dan Staf Picu Usulan Larangan
Hujan Salju Tebal Lumpuhkan Paris
PBB Selidiki Dugaan Penggunaan Senjata Kimia Di Suriah
Kurdi Irak Tahan 4.000 Ekstremis
Kereta Tabrak Ke Kereta Di Amerika Serikat
Lima Tempat Romantis Rayakan Valentine Di Perth
Fosil Dinosaurus Baru Ditemukan Di Gurun Mesir
Pemimpin Oposisi Zimbabwe Tewas Dalam Kecelakaan Helikopter Di Amerika Serikat
2 WNI Sandera Abu Sayyaf Dibebaskan
Bom Ganda Bunuh Diri Tewaskan 38 Orang Di Baghdad
Myanmar Bebaskan Dua Jurnalis Asing
jQuery Slider

Comments

Archives :20182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 6.171.827 Since: 07.04.14 | 0.6231 sec