YouTube Facebook Twitter RSS
23 May 2019, 0

Internasional

Mantan Presiden Yaman Tegaskan Perang Melawan Arab Saudi Akan Dimulai

Monday, 28 December 2015 | View : 659

siarjustisia.com-SANAA.

Mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh pada Minggu (27/12/2015) mengatakan perang melawan Arab Saudi baru akan dimulai.

Mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh berikrar pendukungnya akan terus berperang kecuali koalisi pimpinan Arab Saudi menghentikan serangan udara dan darat terhadap negerinya.

Mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh mengeluarkan pernyataan itu dalam satu pertemuan dengan wakil dari Partai Rakyat Umum, pimpinannya, dan kelompok Syiah Al-Houthi yang ikut dalam pembicaraan perdamaian yang diprakarsai PBB belum lama ini di Swiss.

Ia mengatakan Arab Saudi mesti siap menghadapi perang yang akan segera dimulai.

"Hanya jika perang dihentikan, kami akan menghadiri pembicaraan langsung dengan Pemerintah Arab Saudi sendiri, bukan dengan tentara bayaran," tandas mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, sebagaimana dikutip Xinhua.

Ia merujuk kepada pembicaraan perdamaian mendatang yang ditaja PBB dan dijadwalkan diselenggarakan pada pertengahan Januari.

"Perang belum dimulai. Dan itu akan dimulai jika Pemerintah Arab Saudi dan pengikut mereka (Pemerintah Yaman) tidak memilih perdamaian di bawah pengawasan Rusia atau PBB," ia menambahkan.

Pekan lalu, Ismail Ould Cheikh Ahmed, Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Yaman, mengumumkan berakhirnya pembicaraan perdamaian terakhir mengenai Yaman. Ia mengatakan semua pihak menyepakati kerangka kerja bagi perundingan dan akan bertemu lagi pada 14 Januari 2016 untuk babak baru pembicaraan.

Konsultasi tersebut melibatkan 24 wakil dari Yaman dan penasehat mengenai pelaksanaan gencatan senjata menyeluruh dan permanen, peningkatan kondisi kemanusiaan dan kembali ke peralihan politik yang damai dan tenang.

Yaman telah dinodai oleh kebuntuan sejak 2011, ketika protes massa memaksa mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh meletakkan jabatan.

Krisis yang berkecamuk di Yaman adalah cermin dari kerusuhan regional di Timur Tengah, terutama setelah pasukan Presiden Abd-Rabbo Mansour Hadi yang menyelamatkan diri ke Arab Saudi merebut Kota Aden, yang strategis di Yaman Selatan, melawan petempur Al-Houthi.

Koalisi pimpinan Arab Saudi telah mendukung Pemerintah Abd-Rabbo Mansour Hadi dengan memerangi petempur Al-Houthi sejak Maret, dan belakangan mengirim tentara darat dari Uni Emirat Arab, Sudan, Qatar dan negara lain untuk merebut kembali lima provinsi di Yaman Selatan dari anggota Al-Houthi.

Gerilyawan Al-Houthi, yang didukung oleh Pasukan Garda Republik yang setia kepada mantan Presiden Ali Abdullah Saleh, masih menguasai Ibu Kota Yaman, Sanaa, dan sebagian besar wilayah Utara negeri itu sejak September tahun lalu.

Lebih dari 6.000 orang telah tewas di Yaman sejak Maret dalam pertempuran darat dan serangan udara, separuh dari mereka adalah warga sipil.

Setidaknya 44 orang tewas dalam serangan udara koalisi pimpinan Arab Saudi serta pertempuran antara loyalis Yaman dan pemberontak menjelang rencana gencatan senjata, kata sumber-sumber medis dan militer, Minggu (13/12/2015).

Para korban itu tewas menjelang pembicaraan damai yang ditengahi PBB yang akan digelar oleh para pihak yang bertikai di Swiss, Selasa (15/12/2015).

Sebuah gencatan senjata tujuh hari yang diusulkan pemerintah diharapkan bertepatan dengan negosiasi itu.

Serangan udara oleh koalisi Arab pada kawasan Haradh di Provinsi Utara Hajja mengenai enam rumah, kata saksi mata.

"Kami menerima mayat 12 warga sipil dan lebih dari 20 lainnya luka-luka," kata seorang pejabat di sebuah rumah sakit lapangan di Haradh.

Haradh, yang terletak di perbatasan dengan Arab Saudi, adalah salah satu benteng utara pemberontak Syiah Huthi yang mengendalikan Ibu Kota Yaman, Sanaa.

Bersama dengan sekutu mereka, kelompok Huthi yang didukung Iran telah menjadi target koalisi sejak Maret.

Di Selatan, 12 pemberontak tewas ketika artileri loyalis menyerang dua kendaraan pemberontak di dekat kota Damt, yang direbut kelompok Huthi dan sekutu mereka pada November, kata sumber-sumber militer.

Di daerah yang sama, sembilan pemberontak dan empat pejuang pro-pemerintah tewas dalam bentrokan Sabtu (12/12/2015) malam, kata sumber-sumber.

Lebih jauh ke Barat, pesawat-pesawat tempur koalisi pada Minggu (13/12/2015) pagi menyerang konvoi militer pemberontak di antara Provinsi Taez dan Lahj di Selatan, menewaskan tujuh orang, kata sumber-sumber.

Kelompok Huthi, yang bersekutu dengan pasukan pemberontak yang setia kepada mantan Presiden Ali Abdullah Saleh, mengaku pada laman sabanews.net bahwa mereka telah menembakkan rudal di pangkalan Khaled bin Abdulaziz, Arab Saudi, yang terletak di Selatan kerajaan, dan menyebabkan kerusakan.

Pemberontak sering membuat klaim seperti itu, dan pemerintah Arab Saudi tidak mengkonfirmasi insiden itu.

Gencatan senjata sangat dibutuhkan di negara termiskin di Semenanjung Arab itu di mana sekitar 80 persen dari 26 juta warganya memerlukan bantuan, demikian laporan AFP.

Uni Eropa (UE) mengucurkan tambahan dana 15 juta euro atau sekitar 14,48 juta dolar AS untuk bantuan darurat guna mendukung upaya penyelamatan di Yaman, kata Komisi Eropa, badan eksekutif UE, di dalam satu pernyataan pada Senin (14/12/2015).

Tambahan bantuan itu meningkatkan nilai bantuan Uni Eropa bagi Yaman menjadi 52 juta euro pada 2015.

Pada awal 2015 Uni Eropa sudah menyediakan bantuan kemanusiaan senilai 37 juta euro guna merespons krisis kemanusiaan di Yaman.

Pengiriman dana darurat tambahan tersebut telah disepakati oleh Parlemen Eropa dan dijadwalkan disahkan oleh negara anggota pekan ini menurut peryataan Komisi Eropa.

Krisis kemanusiaan di Yaman bertambah buruk akibat konflik bersenjata yang berkecamuk selama sembilan bulan terakhir.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengategorikan negeri itu berada dalam kedaruratan Tingkat 3, krisis kemanusiaan skala besar, yang paling parah.

"Konflik yang berkecamuk telah mengakibatkan banyak warga jiwa meninggal dan kerusakan prasarana umum termasuk instalasi medis. Kami akan meningkatkan dukungan guna membantu semua lembaga kemanusiaan di negeri itu menyediakan bantuan penyelamatan nyawa seperti pelayanan kesehatan, air dan sanitasi, gizi serta keamanan pangan," kata Komisioner UE Urusan Bantuan Kemanusiaan dan Penanganan Krisis, Christos Stylianides.

Organisasi kemanusiaan memperkirakan 21,2 juta orang atau 82 persen dari seluruh penduduk Yaman memerlukan bantuan kemanusiaan; 14,4 juta orang menderita akibat kondisi rawan pangan; 14,1 juta memerlukan perawatan kesehatan dan 19,3 juta kekurangan akses ke air dan sanitasi.

Menurut pernyataan Komisi Eropa lembaga pemerintah lokal sudah tak lagi bisa menyediakan layanan dasar bagi orang yang membutuhkan.

Selain itu, kekurangan bahan bakar menghambat pemrosesan dan pengiriman makanan, dan impor bahan keperluan dasar termasuk makanan dan obat, demikian seperti dilansir kantor berita Xinhua. (afp/xinhua)

See Also

Mantan PM Australia Bob Hawke Wafat
Filipina Tarik Dubes Dan Konsul Dari Kanada
17 Tentara Niger Tewas Diserang Teroris
Laut China Selatan Tegang
Presiden AS Pecat Direktur Dinas Rahasia
Kapal China Dekati Pulau Filipina
Pangkalan Militer Yaman Diserang Gerakan Houthi
Penutupan Pelayanan Pemerintah AS
Ketua Bank Sentral AS Ingatkan Dampak Negatif Penutupan Berkepanjangan Pemerintah
Raja Malaysia Mengundurkan Diri
Thailand Dilanda Badai Pabuk
Warga Kelas Menengah Australia Akan Kian Sulit Dapat Kredit Perumahan
Donald Trump Kunjungi Militer AS Di Irak
Kota Surabaya Raih Guangzhou Awards 2018
Dubes Indonesia Untuk Arab Saudi Benarkan Rilis Soal Rizieq Shihab Darinya
Dunia Kembali Dihantui Era Perang Dingin
2 Negara Eropa Kecam Rencana Amerika Serikat Keluar Dari Perjanjian INF
Rusia Tuding Amerika Serikat Bermain Kasar
Presiden AS Batalkan Perjanjian Nuklir 1987 Dengan Rusia
Terlibat Skandal Gratifikasi Seks, Pejabat Imigrasi Singapura Diadili
Teleskop NASA Temukan 2 Planet Baru
Najib Razak Ditahan SPRM
Mantan PM Malaysia Ditahan
Najib Razak Ditahan KPK Malaysia
3 Kapal Perang Jepang Bersandar Di Pelabuhan Tanjung Priok
jQuery Slider

Comments

Archives :201920182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 7.834.848 Since: 07.04.14 | 0.5564 sec