YouTube Facebook Twitter RSS
18 Nov 2018, 0

Hukum

Polisi Tetapkan 17 Tersangka Kasus Pembakaran Rutan Bengkulu

Monday, 28 March 2016 | View : 794

siarjustisia.com-BENGKULU.

Polisi menetapkan 17 tersangka dalam perkara kerusuhan dan pembakaran yang menghanguskan seluruh kamar tahanan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Malabero Bengkulu di Jl. Kol Berlian, Kelurahan Sungai Meleleh, Tlk. Segara, Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu, Jumat (25/3/2016) malam.

"Ada tiga kelompok dalam tindak kerusuhan dan pembakaran ini," ungkap Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Bengkulu Brigjen Pol. Drs. M Ghufron, M.M., M.Si. di Bengkulu, Senin (28/3/2016).

Kelompok pertama diduga melakukan pembakaran rutan. Menurut dia, pembakaran rumah tahanan dilakukan oleh dua orang dengan inisial N dan M.

"Nanti arahnya mereka melanggar Pasal 187 KUHP, kalau mengakibatkan kematian bisa disangkakan Pasal 187 ayat (2)," tandas lulusan Akpol 1983 yang berpengalaman dalam bidang lantas ini, Brigjen Pol. Drs. M Ghufron, M.M., M.Si.

Kelompok kedua, ia melanjutkan, merusak kamar tahanan dan memprovokasi penghuni lain untuk merusak rutan.

Polisi menjerat 14 tersangka dalam kelompok kedua dengan Pasal 170 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.

"Satu orang dari kelompok ketiga, dia provokator, yang teriak-teriak bakar, menyuruh yang lainnya melakukan perusakan, tersangka ini berinisial EK," beber mantan Karobinopsnal Baharkam Polri tersebut, Brigjen Pol. Drs. M Ghufron, M.M., M.Si. serta menambahkan tersangka dijerat dengan Pasal 160 KUHP.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Pol. Drs. Budi Waseso, S.H. mengatakan adanya upaya menghilangkan barang bukti terkait pembakaran dan kerusuhan yang terjadi di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Melabero Kota Bengkulu pada Jumat (25/3/2016) malam.

"Saat kita akan melakukan penggeledahan dengan bekerjasama Polres dan Polda setempat. Kita menemukan lagi beberapa pelaku di Lapas itu, para narapidana diantaranya melawan dengan maksud untuk menghilangkan barang bukti di dalam Lapas," papar mantan Kabareskrim, Komjen Pol. Drs. Budi Waseso, S.H. di Jakarta, Senin (28/3/2016).

Peristiwa kerusuhan di Lapas Bengkulu tersebut bukan merupakan hal yang spontan dilakukan oleh beberapa narapidana, tapi merupakan hal yang direncanakan oleh jaringan di Lapas tersebut, kata Buwas biasa dipanggil.

"Mereka mau membakar barang bukti di kamar nomor empat, tapi api menyambar ke bagian yang lainnya. Ini bukti bahwa aturan di Lapas tidak dilaksanakan dan jangan bilang keterbatasan personelnya sebagai pembenaran dengan tidak melaksanakan protap," urai mantan Kepala Sekolah Staf dan Pimpinan Polri pada tahun 2014 itu, Komjen Pol. Drs. Budi Waseso, S.H.

Petugas BNN apabila mau melakukan penggeledah di Lapas masuknya melalui prosedural. Dan Kepala BNN menyayangkan mengapa hal tersebut tidak diterapkan kepada keluarga narapidana yang menjenguk.

"Kenapa korek api itu bisa beredar, karena itu digunakan untuk membakar bong. Di situ korek api banyak sekali, bong juga termasuk sabu dan Lapas tidak menangani ini dengan serius," tukas mantan Widyaiswara Utama Sespim Polri pada tahun 2013 tersebut, Komjen Pol. Drs. Budi Waseso, S.H.

BNN melakukan sidak sesuai perintah Presiden untuk melakukan sidak dua kali dalam sebulan di Lapas dengan demikian bisa terawasi, dimana Lapas masih terjadi peredaran narkoba, katanya.

"Perintah Presiden penanganan narkoba yang bersinergi, kita bersama TNI dan Polri telah mengamankan lebih dari 100 kilogram sabu dan hampir 200 kilogram sabu dan ratusan ribu ektasi, kokain, dan morfin. Kita terus melakukan operasi gabungan untuk berantas narkoba," tegas mantan Kepala Bidang Propam Polda Jateng pada tahun 2009 itu, Komjen Pol. Drs. Budi Waseso, S.H.

Peristiwa kebakaran di Rutan Malabero Bengkulu tersebut memakan korban lima penghuninya tewas yang dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Kota Bengkulu untuk identifikasi postmortem dan antemortem.

Uji identifikasi jenazah korban tersebut melibatkan pula pihak keluarga korban.

Korban yang tewas tersebut menempati kamar blok narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba).

Nama-nama korban, yakni Agung Nugraha, Heru Biliantoro, Agus Purwanto, Hendra Nopiandi, dan Medi Satria. Posisi korban yang meninggal tersebut di dalam sel nomor tujuh.

See Also

KPK Dalami Rekaman Percakapan Idrus Marham Dan Eni Maulani Saragih
Mabes Polri Selidiki Motif Penyerangan Polsek Metro Penjaringan
Sidang Lanjutan Julius Lobiua Mendengarkan 2 Keterangan Ahli
KPK Tahan Wakil Ketua DPR RI
KPK Usut Penggunaan Uang Korupsi Bupati Lampung Selatan
Kasus TPPU Bupati Lampung Selatan, KPK Sita 16 Bidang Tanah
Kronologi OTT DPRD Kalimantan Tengah
KPK OTT Anggota DPRD Kalteng
Bupati Cirebon Setelah Diperiksa Ditahan KPK
KPK Tetapkan Bupati Cirebon Tersangka
KPK Tangkap Bupati Cirebon
KPK Perpanjang Masa Penahanan Bupati Lampung Selatan Nonaktif
Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
Keterangan Ahli Ketua DPD KAI DKI Jakarta Pada Sidang Lanjutan Julius Lobiua
TNI AL Ringkus Pelaku Narkoba Di Tanjung Ahus
TNI AL Gagalkan Penyelundupan 506 Gram Narkoba
Polisi Limpahkan Berkas Perkara Mantan Wali Kota Depok Ke Kejaksaan
Rekayasa Lalin Di KPU Saat Pengundian Nomor Urut Capres Cawapres
KPK Perpanjang Masa Penahanan Idrus Marham
Kombes Pol. Panca Putra Simanjuntak Jadi Direktur Penyidikan KPK
Kapolda Jambi Bongkar Peredaran Narkoba Dari Aceh Ke Kota-kota Di Sumatera Dan Jawa
Kasus Korupsi Massal DPRD Sumut, KPK Sita Lagi Uang Suap
KPK Periksa Dirjen Minerba
KPK Cegah Bos Borneo Lumbung Energi Ke Luar Negeri
Tim Resmob Polda Kalbar Ringkus Preman Penganiaya Penjaga Toko Arloji
jQuery Slider

Comments

Archives :20182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 6.971.402 Since: 07.04.14 | 0.6007 sec