YouTube Facebook Twitter RSS
18 Nov 2017, 0

Editorial

Kekuasaan Formal Dan Informal

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Tuesday, 27 September 2016 | View : 236

siarjustisia.com

Bagaimana kekuasaan beroperasi di level individu, keluarga, komunitas, masyarakat dan negera? Studi feminis yang membuat jagat ilmu pengetahuan goncang gancing adalah studi tentang kekuasaan yang beroperasi di wilayah domestik. Karena itu kemudian muncul tagline yang begitu terkenal: "The personal is political". begitu terkesima saya dengan ide ini, saya pernah punya blus dengan kata-kata ini yang saya beli di India ketika ikuti lokakarya.

Inner power terkait dengan isu kekuasaan. Bagaimana kekuasaan beroperasi? Saya melihat ada berbagai level kekuasaan. Sederhananya ada kekuasaan formal dan kekuasaan informal. Laki-laki diberi dan tertarik mengejar kekuasaan formal dengan mengejar jabatan yang memungkinkan dia memiliki wewenang besar. Karena itu ada ungkapan terkenal yang menyatakan bahwa kalau mau menilai laki-laki maka beri dia kekuasaan.

Perempuan bergulat dengan kekuasaan informal dengan mencari cara bisa memiliki kekuasaan atas pasangan, keluarga dan orang-orang sekitarnya. Nampak powerless namun mampu mengikat orang. Seberapa dalam kekuasaannya tergantung pada strategi dan kecerdasannya. Sering untuk mendapatkan kekuasaan jenis ini tidak mengenal batas etik dan moral. Tabrak saja asal punya pengaruh. Ada laki-laki yang sadar dengan jenis kekuasaan ini sehingga ada ungkapan Kelompok Laki-Laki Takut Istri. Ungkapan ini untuk melawan pengaruh istri. Beberapa banyak laki-laki yang memusuhi istrinya sendiri?

Kalau diumpamakan maka kekuasaan formal seperti gelombang. Energinya kasat mata sehingga orang bisa waspada. Sedangkan kekuasaan informal seperti arus. Kita terbawa arus ke tengah lautan luas tanpa terasa. Tiba-tiba saja ada di tengah dan kemudian harus menghadapi masalah besar. Arus inilah yang sering membuat perenang handal meninggal. Berapa banyak laki-laki gagah perkasa yang jatuh di tangan perempuan salah?

Di dunia politik saya amati juga ada kekuasaan formal dan informal. Semua orang berkonsentrasi dan merebut kekuasaan formal dengan merebut posisi presiden, gubernur, walikota dan legislatif. Apa saja dipakai untuk memenangkan pertarungan ini. Sepertinya nasib Indonesia atau nasib para pejuang ini tergantung pada jabatan yang diperebutkan ini.

Namun kita tidak pernah mewaspadai kekuasaan informal di bidang ekonomi. Berapa banyak perusahaan di Indonesia sahamnya adalah milik orang Indonesia? Kalau tidak salah pemilik saham usaha-usaha di Indonesia banyak orang asing yang tinggal di negara lain. Siapa mereka? Pada umumnya tidak tahu. Mereka sama sekali tidak memiliki keterikatan dengan orang-orang Indonesia. Kalau merugikan maka mereka tinggal dan Indonesia bisa dibuat pontang panting malah bisa-bisa hancur.

Karena itu bagi saya pemimpin yang memiliki jiwa nasionalisme tulen yang peduli pada hidup orang-orang yang dipimpin baik yang kaya maupun miskinlah yang terutama. Orang-orang yang memiliki keterikatan pada seluruh manusia yang hidup di Indonesia, untuk disejahterakan, untuk dijadikan bermartabat, untuk dijadikan otonomlah yang penting. Bukan dijadikan kuli-kuli dari kekuatan yang tidak jelas dari mana. Ancaman negara Indonesia akan hilang kalau tidak kita kelola dengan berarti, bagi saya bukan ancaman ilusif. Nyata sekali kalau kita tidak cerdas menatanya. (esh)

See Also

Keluarga Besar DPP IPHI Dan DPP KAI Gelar Acara Halal Bihalal Bersama
Sugeng Tindak K. H. Mahfudz Ridwan
Ekspedisi 1.000 Jembatan Gantung Untuk Indonesia
Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Sejarah Kota Jakarta Di Musium Kota Jakarta
Lukisan Mengisahkan Tentang Keadilan Di Depan Ruang Pengadilan
Lebih Mengenal Jakarta Melalui Kota Tua
Dialog Dengan Alam, Budaya, Dan Orang
Audiensi AHY Dengan DPD KAI DKI Jakarta
Turut Berduka Cita, Kiai Nafis Misbah Mustofa Berpulang
Silaturahmi Sowan Gus Mus
Transparansi Memberdayakan Masyarakat
Marhaenisme Dan Penutupan Sosial Dengan Pengucilan
Menuliskan Pengamalan Ilmu Seseorang
Analisis Hubungan Partnership Bung Karno
Syafii Maarif Penerus Gus Dur
Di Tanah Rantau, Keluarga Kudus Yogyakarta Akan Gelar Makrab Bersama Bupati
1 Oktober Hari Kesaktian Pancasila
Tua Bersinar, Bisakah Kita Lakukan?
Batik Print Yang Murah Meriah
Plumbon Dan Film Everything Is Illuminated
Perkawinan Jangan Dikorbankan Demi Politik Pemilihan
Soto Bokoran Dan Bangkong
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
PDIP: Ahok Dan Djarot
jQuery Slider

Comments

Archives :2017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 4.796.048 Since: 07.04.14 | 0.4353 sec