YouTube Facebook Twitter RSS
18 Nov 2017, 0

Editorial

Tua Bersinar, Bisakah Kita Lakukan?

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Saturday, 01 October 2016 | View : 269

siarjustisia.com

Saya sudah melihat begitu banyak orang yang begitu cemerlang dan berhasil mengorbit serta menjadi bintang di bidangnya, namun mereka berakhir menggenaskan. Ironis. Salah satu contohnya yang dilakukan oleh Marwah Daud Ibrahim, Ph.D., mahasiswa teladan se Sulawesi yang sekarang ini didaulat menjadi Ketua Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Seorang politisi Golkar di masa orde baru (orba) yang bersinar yang kemudian menyeberang ke Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Jabatan-jabatan yang diemban luar biasa dengan pengalaman internasional yang begitu banyak.

Nama Marwah Daud Ibrahim, Ph.D. sejak akhir 1990-an dikenal sebagai sosok yang keras. Seniman Danarto menyebut perempuan kelahiran Soppeng, 8 November 1956 sebagai Beauty Iron Lady dari Sulawesi. Alasannya, menurut Danarto, Marwah Daud Ibrahim sering membuat orang terperangah.

Perempuan yang pernah menjabat Sekretaris Jenderal Himpunan Mahasiswa Islam (Sekjen HMI) justru sudah sejak mahasiswa tahun 1984 menjadi anggota Partai Golkar di Sulawesi Selatan. Puncak karir di Partai Golkar ketika ia dipercaya menjadi Ketua DPP Golkar Pusat pada 1999.

Marwah Daud Ibrahim, Ph.D. mengawali karir politik di DPR sejak periode 1992. Ketika itu ia ditawari menjadi calon anggota legislatif mewakili Golkar di daerah pemilihan Sulawesi Selatan. Namanya tercatat di nomor urut 16. Ia beruntung masuk ke gelanggang politik di DPR karena Golkar di provinsi itu meraih 21 kursi. 

Kursi itu terus ia jabat sampai periode DPR RI 2004-2009 dengan jabatan Wakil Ketua Fraksi Golkar.

Anak kedua dari enam bersudara hasil perkawinan Muhammad Daud dengan Siti Rahman Indang ini dikenal rajin membaca. Kecerdasannya dikenal sejak SD. Tak sampai kelas enam, hanya sampai kelas lima. Marwah Daud Ibrahim ikut ujian akhir, dan lulus sebagai juara. Selanjutnya Marwah muda melanjutkan ke SMP Negeri Pacongkang, dan lulus 1970.

Selanjutnya, anggota Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) itu lulus Sarjana Fakultas Ilmu Sosial Politik Jurusan Komunikasi Universitas Hasanudin (1981). Jenjang yang lebih tinggi Master Komunikasi Internasional American University, Washington D.C., Amerika Serikat (1982), Doktor Komunikasi Internasional American University, Washington D.C., Amerika Serikat (1989).

Kini nama Marwah Daud Ibrahim, Ph.D. yang sejak April 2015 menjadi politikus Partai Gerindra mencuat lantaran membela habis-habisan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, tersangka kasus pembunuhan dan penipuan bermodus penggandaan uang. Alumnus S2 dan S3 The American University Washington D.C. tersebut, Marwah Daud Ibrahim, Ph.D. membela Dimas Kanjeng Taat Pribadi pemilik pesantren di Probolinggo yang membunuh Imail Hidayan dan Abdul Gani pengikutnya. Mereka dibunuh karena memberontak dan hendak membuka kedok Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Lalu terbongkar pula tipuan yang telah dilakukan oleh Dimas Kanjeng Taat Pribadi tentang ajarannya menggandakan uang.

Kita tidak mengerti mengapa orang dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman seperti mantan staff KBRI Washington D.C. tersebut, Marwah Daud Ibrahim bisa membela penipu seperti Dimas Kanjeng Taat Pribadi? Saat ini, Dimas Kanjeng Taat Pribadi ditangkap polisi atas persangkaan terlibat dalam otak pembunuhan santri hingga penggandaan uang.

Sebagai orangtua dan atau kakek/nenek sebaiknya kita mendidik anak-anak dengan memperhitungkan keberhasilan anak sampai akhir hidupnya. Mendidik mencapai keberhasilan di setiap tahap kehidupan yang ada adalah penting. Pendidikan yang parsial yang hanya memuja kekuasaan formal yang berorientasi pada materi akan meninggalkan lubang besar di hati di masa tua kita. Justru yang seharusnya terjadi adalah tubuh menua tetapi hati bersinar. Tetapi mengapa banyak yang menua dengan hati gelap sehingga harus mencari sinar dari luar secara membabi buta. Pelajaran penting untuk kita semua. (esh)

See Also

Keluarga Besar DPP IPHI Dan DPP KAI Gelar Acara Halal Bihalal Bersama
Sugeng Tindak K. H. Mahfudz Ridwan
Ekspedisi 1.000 Jembatan Gantung Untuk Indonesia
Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Sejarah Kota Jakarta Di Musium Kota Jakarta
Lukisan Mengisahkan Tentang Keadilan Di Depan Ruang Pengadilan
Lebih Mengenal Jakarta Melalui Kota Tua
Dialog Dengan Alam, Budaya, Dan Orang
Audiensi AHY Dengan DPD KAI DKI Jakarta
Turut Berduka Cita, Kiai Nafis Misbah Mustofa Berpulang
Silaturahmi Sowan Gus Mus
Transparansi Memberdayakan Masyarakat
Marhaenisme Dan Penutupan Sosial Dengan Pengucilan
Menuliskan Pengamalan Ilmu Seseorang
Analisis Hubungan Partnership Bung Karno
Syafii Maarif Penerus Gus Dur
Di Tanah Rantau, Keluarga Kudus Yogyakarta Akan Gelar Makrab Bersama Bupati
1 Oktober Hari Kesaktian Pancasila
Batik Print Yang Murah Meriah
Plumbon Dan Film Everything Is Illuminated
Perkawinan Jangan Dikorbankan Demi Politik Pemilihan
Kekuasaan Formal Dan Informal
Soto Bokoran Dan Bangkong
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
PDIP: Ahok Dan Djarot
jQuery Slider

Comments

Archives :2017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 4.796.038 Since: 07.04.14 | 0.6497 sec