YouTube Facebook Twitter RSS
18 Nov 2017, 0

Editorial

Syafii Maarif Penerus Gus Dur

siarjustisia.com

Saya kenal Pak Syafii Ma`arif ketika beliau menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah ke-13 masa jabatan 2000-2005. Prof. Dr. H. Ahmad Syafi'i Maarif menjadi pengajar kursus Agama Islam yang saya ikuti di Institute fo Interfaith Dialogue (Interfidei).

Satu ide yang selalu saya ingat hingga hari ini dari beliau adalah agama Islam adalah agama yang egaliter. Setelah itu saya terus mencari kebenaran dari kata egaliter tersebut.

Lalu saya pernah bertemu beliau kembali dalam rapat Interfidei di mana saya menjadi pengurus.

Saya ikuti kiprah akhir-akhir ini di media massa dan info dari Direktur Eksekutif Intefidei Elga Sarapung yang berhubungan intensif dengan beliau.

Pemikiran yang dilontarkan beliau sungguh menyejukkan. Termasuk komentar beliau tentang Surat Al-Maidah ayat 51 yang disinggung Gubernur Provinsi DKI Jakarta Ir. Basuki Tjahaja Purnama yang akrab disapa "Ahok" di tvOne.

Ia ambil posisi netral untuk Pemilu daerah (Pilkada) DKI Jakarta, namun ia memiliki prinsip dan keperpihakan kepada nasib demokrasi dan negara Indonesia. Beliau berpihak terhadap pemecahan masalah kesenjangan sosial ekonomi yang begitu jauh di Indonesia. Ini yang ia utamakan. Termasuk ia mengutamakan kejujuran.

Karena itu, Pak Syafii Maarif bisa bebas bersikap dan bersuara yang berbeda dari teman-teman Muhammadiyah seperti mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ke-12 masa jabatan 1995-2000 yang sekarang menjadi Ketua Majelis Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN), Pak Prof. Dr. H. Muhammad Amien Rais dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak.

Kata beliau kurang lebih seperti ini, ”Saya tidak mengenal jauh Ahok. Dia bukan orang jahat. Kalau dia sudah minta maaf mengapa tidak kita maafkan. Jangan membajak Tuhan dengan memaksa Tuhan berpihak pada dirinya. Yang ada saat ini adalah laku pragmatisme politik oleh politisi yang masih di bawah standar dan terjebak pada politik uang. Politisi diharapkan berbuat untuk kepentingan rakyat dengan bertindak dan bukan dengan hanya berbicara. Yang penting adalah niat hati yang baik untuk mengubah keadaan”. Katanya lagi, ”Politisi Indonesia banyak yang belum bisa naik kelas menjadi negarawan”.

Itulah. Sepakat 100%. Yang terpenting bagi saya juga adalah bagaimana kesenjangan ekonomi yang semakin hari semakin jauh bisa dipecahkan. Saya ingin Indonesia tetap jaya dan ada untuk generasi selanjutnya. Mari kita menjadi bagian dari orang-orang yang mewarisi mind set yang benar dalam hidup, berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara. (esh)

See Also

Keluarga Besar DPP IPHI Dan DPP KAI Gelar Acara Halal Bihalal Bersama
Sugeng Tindak K. H. Mahfudz Ridwan
Ekspedisi 1.000 Jembatan Gantung Untuk Indonesia
Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Sejarah Kota Jakarta Di Musium Kota Jakarta
Lukisan Mengisahkan Tentang Keadilan Di Depan Ruang Pengadilan
Lebih Mengenal Jakarta Melalui Kota Tua
Dialog Dengan Alam, Budaya, Dan Orang
Audiensi AHY Dengan DPD KAI DKI Jakarta
Turut Berduka Cita, Kiai Nafis Misbah Mustofa Berpulang
Silaturahmi Sowan Gus Mus
Transparansi Memberdayakan Masyarakat
Marhaenisme Dan Penutupan Sosial Dengan Pengucilan
Menuliskan Pengamalan Ilmu Seseorang
Analisis Hubungan Partnership Bung Karno
Di Tanah Rantau, Keluarga Kudus Yogyakarta Akan Gelar Makrab Bersama Bupati
1 Oktober Hari Kesaktian Pancasila
Tua Bersinar, Bisakah Kita Lakukan?
Batik Print Yang Murah Meriah
Plumbon Dan Film Everything Is Illuminated
Perkawinan Jangan Dikorbankan Demi Politik Pemilihan
Kekuasaan Formal Dan Informal
Soto Bokoran Dan Bangkong
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
PDIP: Ahok Dan Djarot
jQuery Slider

Comments

Archives :2017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 4.796.035 Since: 07.04.14 | 1.6024 sec