YouTube Facebook Twitter RSS
18 Nov 2017, 0

Editorial

Analisis Hubungan Partnership Bung Karno

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Wednesday, 26 October 2016 | View : 224

siarjustisia.com

Aku percaya pada partnership. Hubungan di atas kerja sama. Namun aku juga percaya pada kerja sama. Partnership dan kerja sama akan mengekskalasi pekerjaan. Kita jadi mungkin bisa berkarya besar. Bung Karno bisa menjadi besar salah satu yang menunjang adalah dia berhasil menemukan partner yang tepat.

Dalam kehidupan pribadinya, ia menemukan Inggit Garnasih (17 Februari 1888-13 April 1984). Pada diri Inggit Garnasih,ia menemukan sosok, ibu, kekasih, dan teman. Inggit Garnasih menjadi sosok ibu, kekasih, teman, dan pendukung setia Soekarno yang terus mendorong Soekarno untuk maju. Seorang perempuan luar biasa. Karena itu ia bisa jadi partner Bung Karno. Salah satu nama perempuan yang kini dijadikan nama jalan di daerah Bandung ini adalah sosok perempuan pertama yang menemani masa-masa sulit Soekarno. Sosok lembut Inggit Garnasih menjadi tempat bagi Soekarno berkeluh kesah di masa-masa sulit perjuangan, ketika Soekarno dipenjara di Sukamiskin Bandung atas pergerakannya hingga dibuang ke Pulau Ende. Disaat sulit Soekarno, Inggit Garnasih memenuhi kebutuhan keluarga dengan berjualan baik jamu, pupur (bedak kala itu) dan sebagainya. Ketika Soekarno di penjara, dirinya diam-diam sering menyelipkan buku untuk bisa dibaca oleh Soekarno selama dalam tahanan.

Inggit Garnasih, bertemu Soekarno ketika dia masih menjadi istri dari seorang bernama Haji Sanusi yang merupakan salah satu anggota Sarekat Islam. Pertemuan Inggit Garnasih dan Soekarno dimulai ketika Soekarno menapakan kaki di Bandung untuk bersekolah di ITB. Cinta Soekarno pada Inggit yang meski terpaut usia 13 tahun mendorong keberanian Soekarno untuk meminta izin pada Haji Sanusi, suami Inggit Garnasih agar mau menceraikannya. Cinta sepasang sejoli ini pun tak bisa terbendung lagi, Soekarno menikahi Inggit Garnasih setelah dicerai dari suami pertamanya. Di tahun 1920an, ada perempuan yang jauh lebih tua dan masih dalam status istri orang lain berani menentukan sikap dan menerima atau memulai hubungan cinta dengan laki-laki muda yang belum matang secara psikis. Bung Karno pada saat itu saya duga, sungguh pemuda yang belum stabil jiwanya.

Inggit Garnasih mau berhubungan dan memberikan seluruh dirinya untuk Bung Karno. Ia mampu mengubah perbedaan ekstrim menjadi sinergi. Ketika Bung Karno menginginkan anak yang tidak bisa diberikan oleh Inggit Garnasih. Lalu, ia meminta Inggit Garnasih menerima madu dari suaminya dan menempatkannya sebagai istri pertama. Inggit Garnasih menolak dan tahu diri. Ia undur diri dari panggung Soekarno total dan mereka berpasangan dari 1923-1943. Ia perempuan berkarakter. Karena itu ia bisa menjadi partner. Perempuan yang mampu mendengar suara hatinya dan menjaga martabat dirinya. Untuk apa terhormat secara fisik tetapi ia tidak lagi memiliki kehormatan. Istana dan glamour tidak sebanding dengan martabatnya. Keren amat.

Dalam kehidupan politik, Bung Karno berpartner dengan Bung Hatta (12 Agustus 1902-14 Maret 1980). Kedua otobiografi tokoh pendiri Bangsa Indonesia ini saya baca tuntas. Keduanya juga memiliki perbedaan yang kontras. Soekarno seorang yang intuitif dengan mengutamakan hati dalam bertindak. Sedangkan Dr. (HC) Drs. H. Mohammad Hatta adalah seorang yang rasional. Strategi politik Soekarno menggunakan kekuatan massa. Sedangkan, Dr. (HC) Drs. H. Mohammad Hatta menggunakan strategi pengkaderan dan pendidikan. Soekarno seorang yang bisa menabrak prinsip demi prinsip yang lain. Sedangkan, Dr. (HC) Drs. H. Mohammad Hatta adalah orang yang tidak bisa melewati batas yang ditentukan. Bung Hatta memilih bentuk negara federasi sedangkan Bung Karno menghendaki bentuk negara kesatuan bernama Republik.

Duet Soekarno dan Hatta sungguh menarik diperhatikan. Mereka berdua bisa mengubah perbedaan menjadi sinergi. Yang memungkinkan sinergisitas terjadi adalah Bung Hatta nyaris tidak pernah mengucapkan kata-kata buruk tentang Bung Karno.

Lain halnya group Bung Hatta seperti Soetan Sjahrir/Sutan Syahrir (5 Maret 1909-9 April 1966) yang terang-terangan tidak menghormati Bung Karno karena kepribadiannya. Sutan Syahrir secara eksplisit menunjukkan ketidaksukaannya pada Soekarno. Karena itu Bung Karno tidak menyukai Sutan Syahrir dan akhirnya memenjarakan Sutan Syahrir di akhir hidupnya. Lalu, Dr. (HC) Drs. H. Mohammad Hatta yang mencoba menjadi penengah karena Bung Hatta dengan Sutan Syahrir berkawan baik.

Bung Hatta juga seorang yang memiliki kepribadian. Ia memilih mundur ketika ia tidak bisa mentolerir apa yang dilakukan Bung Karno. Publik tidak tahu isi pikiran Bung Hatta karena dia tidak mengobralnya. Bung Hattalah yang diminta menjadi wali nikah anak Bung Karno. Di akhir hidup Bung Karno, persahabatan itu dimenangkan oleh keduanya dengan Bung Hatta mengunjungi “penjara” Soekarno. Mereka berdua menangis dan menyampaikan perpisahan. Setelah itu Bung Karno meninggal. Indah dan menyentuh.

Sudahkan Anda menemukan partner di bidang apa saja? Kalau Anda ingin berkarya besar maka partner adalah kata kunci. Partnership mampu mengubah perbedaan tajam menjadi sinergisitas. Sinergitas inilah yang memungkinkan energi terfokus untuk berkarya. Dialektika diperlukan untuk berkarya. Kontradiksi memencarkan energi yang ada sehingga langkah untuk mencapai sesuatu menjadi begitu berat. Ada yang bisa sampai tujuan tetapi ada juga yang setengah tercapai. Namun juga ada yang tidak tercapai. Yang jelas bisa membuat kelelahan dan pahit. (esh)

See Also

Keluarga Besar DPP IPHI Dan DPP KAI Gelar Acara Halal Bihalal Bersama
Sugeng Tindak K. H. Mahfudz Ridwan
Ekspedisi 1.000 Jembatan Gantung Untuk Indonesia
Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Sejarah Kota Jakarta Di Musium Kota Jakarta
Lukisan Mengisahkan Tentang Keadilan Di Depan Ruang Pengadilan
Lebih Mengenal Jakarta Melalui Kota Tua
Dialog Dengan Alam, Budaya, Dan Orang
Audiensi AHY Dengan DPD KAI DKI Jakarta
Turut Berduka Cita, Kiai Nafis Misbah Mustofa Berpulang
Silaturahmi Sowan Gus Mus
Transparansi Memberdayakan Masyarakat
Marhaenisme Dan Penutupan Sosial Dengan Pengucilan
Menuliskan Pengamalan Ilmu Seseorang
Syafii Maarif Penerus Gus Dur
Di Tanah Rantau, Keluarga Kudus Yogyakarta Akan Gelar Makrab Bersama Bupati
1 Oktober Hari Kesaktian Pancasila
Tua Bersinar, Bisakah Kita Lakukan?
Batik Print Yang Murah Meriah
Plumbon Dan Film Everything Is Illuminated
Perkawinan Jangan Dikorbankan Demi Politik Pemilihan
Kekuasaan Formal Dan Informal
Soto Bokoran Dan Bangkong
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
PDIP: Ahok Dan Djarot
jQuery Slider

Comments

Archives :2017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 4.796.063 Since: 07.04.14 | 0.6763 sec