YouTube Facebook Twitter RSS
18 Nov 2017, 0

Editorial

Marhaenisme Dan Penutupan Sosial Dengan Pengucilan

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Tuesday, 01 November 2016 | View : 246

siarjustisia.com

Saya telah ada di Semarang, Provinsi Jawa Tengah (Jateng) lagi untuk menyelesaikan buku. Salah satu pencerahan besar yang saya dapatkan adalah tentang Marhaenisme yang diikuti oleh Pak Budi Dharmawan. Saya menangkap betapa pentingnya ideologi ini diterapkan kalau Indonesia mau memakmurkan petani dari berulang kali Pak Budi Dharmawan membahas topik ini.

Karena konsep mendasar yang dibahas maka saya telusuri sejarah Marhaenisme dalam 3 buku yakni Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karangan Cindy Adams, 2 jilid buku Di Bawah Bendera Revolusi karangan Ir. Soekarno dan yang terakhir adalah Marhaen dan Wong Cilik: Membedah Wacana dan Praktik Nasionalisme bagi Rakyat Kecil dari PNI sampai PDI Perjuangan karangan Retor A.W. Kaligis. Buku terakhir mendapat kata sambutan dari Presiden RI ke-7, Ir. H. Joko Widodo (Jokowi). Kata sambutan diitulis ketika beliau menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Buku-buku itu membantu saya untuk memberi frame pemikiran Pak Budi Dharmawan. Tanpa buku-buku itu saya tidak bisa melihat betapa pentingnya ideologi Marhaenisme yang belum dikembangkan dan dibahas secara luas di Indonesia.

Ada satu konsep yang sangat membantu saya memahami pemikiran Pak Budi Dharmawan adalah konsep FENOMENA PENUTUPAN SOSIAL (SOCIAL CLOSURE) dari Max Weber. Konsep ini terkait dengan pemikiran pak Budi Dharmawan tentang Negara Kuli Republik Indonesia (NKRI). Saya jadi memahami pemikiran Pak Budi Dharmawan tentang kuli dan dominasi investor.

Hormat saya pada Pak Budi Dharmawan yang membuka jalan lama yang telah ditinggal Indonesia. Ternyata, Pemerintah dan banyak dari kita yang bekerja di sektor publik TIDAK MEWASPADAI sikap dan perilaku dalam memandang kelompok Marhaen ini. Situasinya belum terlalu berubah dibandingkan dengan jaman Belanda dalam memperlakukan kelompok Marhaen ini.

Menurut Pak Budi Dharmawan, kesalahan terletak pada ekonomi investor yang mempercayai investor akan menjadi juru selamat. Kenyataan telah membuktikan di era kepemimpinan Presiden Soeharto kalau investor bukan penyelamat. Investor ini kalau tidak diatur bisa menyamar dalam bentuk imperialisme modern yang mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dan memperlakukan orang kecil sebagai kuli.

Pak Budi Dharmawan memberi inspirasi tentang bagaimana seharusnya kita melihat para Marhaen yang antara lain bekerja sebagai petani. Berulang kali beliau meminta para pengambil kebijakan dan pejabat publik berdialog dengan petani. Pahami cara berpikir dan aspirasi mereka. Mereka bukan orang bodoh dan malas yang distigmakan ke mereka hingga sekarang. Ini sebenarnya sama dengan kita melanjutkan strategi penjajah.

Tanpa sadar pemerintah Indonesia dan orang-orang yang bekerja di bidang pembelaan kaum Marhaen ini MENDUKUNG PENUTUPAN SOSIAL yang terjadi pada petani. Di buku tentang Marhaen tersebut antara lain menulis: "Weber melihat adanya fenomena penutupan sosial (social closure) yakni proses yang dibentuk kolektivitas sosial untuk memaksimalkan ganjaran melalui pembatasan kesempatan kepada segelintir pihak saja”. Konsep penutupan sosial kemudian dikembangkan oleh Frank Parlin dengan memperjelas ide Weber dengan melihat penutupan dengan pengucilan (social closure as exclusion) Lalu ditulis juga:

“Dalam masyarakat kapitalis modern, ada dua cara pengucilan utama yang digunakan borjuasi untuk membentuk dan mempertahankan dirinya sebagai suatu kelas. Pertama, berkaitan lembaga pemilikan; dan kedua, berkaitan keahlian akademis atau profesional”.

Pak Budi Dharmawan mempersoalkan para akademis yang dipakai Pemerintah untuk mewakili kepentingan petani. Petani tidak pernah dilibatkan dalam perancangan misalnya program swasembada. Para akademis dan profesional inilah yang mendukung terjadinya penutupan sosial dengan pengucilan. Inilah yang membuat saya mengerti apa yang dipikirkan Pak Budi Dharmawan. Beliau berulang kali menyatakan bahwa yang terpenting adalah pemberdayaan petani dan adanya ideologi yang pro petani.

Memang beliau manusia autentik yang semoga pemikirannya bisa dibaca banyak orang. Doakan bukunya bisa saya selesaikan dengan baik. (esh)

See Also

Keluarga Besar DPP IPHI Dan DPP KAI Gelar Acara Halal Bihalal Bersama
Sugeng Tindak K. H. Mahfudz Ridwan
Ekspedisi 1.000 Jembatan Gantung Untuk Indonesia
Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Sejarah Kota Jakarta Di Musium Kota Jakarta
Lukisan Mengisahkan Tentang Keadilan Di Depan Ruang Pengadilan
Lebih Mengenal Jakarta Melalui Kota Tua
Dialog Dengan Alam, Budaya, Dan Orang
Audiensi AHY Dengan DPD KAI DKI Jakarta
Turut Berduka Cita, Kiai Nafis Misbah Mustofa Berpulang
Silaturahmi Sowan Gus Mus
Transparansi Memberdayakan Masyarakat
Menuliskan Pengamalan Ilmu Seseorang
Analisis Hubungan Partnership Bung Karno
Syafii Maarif Penerus Gus Dur
Di Tanah Rantau, Keluarga Kudus Yogyakarta Akan Gelar Makrab Bersama Bupati
1 Oktober Hari Kesaktian Pancasila
Tua Bersinar, Bisakah Kita Lakukan?
Batik Print Yang Murah Meriah
Plumbon Dan Film Everything Is Illuminated
Perkawinan Jangan Dikorbankan Demi Politik Pemilihan
Kekuasaan Formal Dan Informal
Soto Bokoran Dan Bangkong
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
PDIP: Ahok Dan Djarot
jQuery Slider

Comments

Archives :2017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 4.796.047 Since: 07.04.14 | 0.3952 sec