YouTube Facebook Twitter RSS
18 Dec 2017, 0

Ekonomi

Harga Minyak Dunia Anjlok

Thursday, 03 November 2016 | View : 373
Tags : Minyak

siarjustisia.com-NEW YORK.

Harga minyak dunia mengalami penurunan besar pada Rabu (2/11/2016) atau Kamis (3/11/2016) pagi WIB, setelah data resmi menunjukkan rekor kenaikan mingguan dalam persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS).
Badan Informasi Energi AS (EIA) mengatakan dalam laporan mingguannya pada Rabu (2/11/2016) bahwa persediaan minyak mentah AS melonjak 14,4 juta barel untuk pekan yang berakhir 28 Oktober, jauh di atas ekspektasi analis bertambah satu juta barel.
Penambahan stok tersebut merupakan kenaikan terbesar yang pernah terjadi dalam stok minyak mentah AS dalam seminggu.
Laporan EIA juga menunjukkan bahwa total produksi minyak mentah dalam negeri meningkat 18.000 barel per hari menjadi 8,522 juta barel per hari.
Sementara itu, meningkatnya produksi dari anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) juga menekan harga.
Produksi OPEC kemungkinan mencapai rekor tinggi baru pada Oktober di 33,82 juta barel per hari dari revisi 33,69 juta barel per hari pada September, menurut survei Reuters, Senin (31/10/2016).
Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember turun 1,33 dolar AS menjadi menetap di 45,34 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.
Sementara itu, patokan global, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Januari kehilangan 1,28 dolar AS menjadi ditutup pada 46,86 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.
Harga minyak membalikkan keuntungan awal menjadi berakhir lebih rendah pada Selasa (1/11/2016) karena kekhawatiran tentang meningkatnya persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) menekan pasar.
Patokan Amerika Serikat, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember turun 0,19 dolar AS menjadi menetap di 46,67 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.
Sementara patokan global, minyak mentah Brent North Sea, untuk pengiriman Januari turun 0,47 dolar AS menjadi ditutup pada 48,14 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.
Harga minyak pada Selasa (1/11/2016) awalnya melonjak karena dolar AS yang melemah membuat minyak dalam denominasi dolar AS lebih menarik bagi pemegang mata uang lainnya.
Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,77 persen menjadi 97,685 pada akhir perdagangan Selasa (1/11/2016).
Namun, harga minyak merosot ke wilayah merah sekitar tengah hari karena kekhawatiran tentang meningkatnya stok minyak mentah Amerika Serikat melebihi dampak dari melemahnya dolar AS.
Para analis memperkirakan bahwa stok minyak mentah AS naik lebih dari satu juta barel pekan lalu, setelah penurunan tidak pada musimnya dalam tujuh dari delapan minggu terakhir menurut warta kantor berita Reuters.
Badan Informasi Energi Amerika Serikat akan merilis laporan persediaan minyak mingguan pada Rabu (2/11/2016) sore.
Harga minyak dunia turun pada Senin (31/10/2016) atau Selasa (1/11/2016) pagi WIB, di tengah meningkatnya keraguan apakah kesepakatan pemotongan produksi dapat dilaksanakan di antara anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).
Para pejabat OPEC menyetujui sebuah dokumen yang menguraikan strategi jangka panjang mereka pada Senin (31/10/2016), tanda bahwa anggota-anggotanya mencapai konsensus tentang pengelolaan produksi.
Namun, sebaliknya para analis mengatakan OPEC sejauh ini baru mencapai sedikit kemajuan, yang memicu kekhawatiran pasar bahwa kelompok itu kemungkinan gagal untuk menerapkan penguranagn produksi yang direncanakan karena negara-negara termasuk Iran dan Irak menentang langkah tersebut.
Menteri Perminyakan Irak Jabar Ali al-Luaibi mengatakan pekan lalu bahwa negaranya, produsen terbesar kedua dalam OPEC, ingin dibebaskan dari pengurangan produksi karena membutuhkan lebih banyak uang untuk memerangi kelompok militan ISIS.
OPEC pada pekan lalu telah sepakat untuk mengurangi produksi minyak menjadi 32,5 juta barel per hari dari tingkat saat ini di 33,24 juta barel per hari untuk meningkatkan pasar.
Kelompok kartel minyak ini akan menyepakati tingkat konkret produksi masing-masing negara anggotanya pada pertemuan resmi berikutnya di Wina pada bulan ini.
Patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember kehilangan 1,84 dolar AS menjadi menetap di 46,86 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.
Sementara itu, patokan global, minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember turun 1,41 dolar AS menjadi ditutup pada 48,30 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange, demikian Xinhua.
Harga minyak dunia berakhir lebih rendah pada Jumat (28/10/2016) atau Sabtu (29/10/2016) pagi WIB, di tengah meningkatnya kecemasan tentang apakah kesepakatan pemotongan produksi dapat tercapai di antara anggota OPEC (Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak).
Para ahli OPEC dan rekan-rekan mereka dari produsen non-anggota termasuk Rusia, memulai pertemuan dua hari pada Jumat tentang pembatasan produksi untuk mengekang kelebihan pasokan global yang telah membebani pasar selama bertahun-tahun.
Para pejabat pada pertemuan tersebut belum menyepakati rincian rencana untuk memangkas produksi minyak dan Iran menentang langkah tersebut, menurut laporan media, Jumat (28/10/2016). Harga minyak mentah berada di bawah tekanan setelah berita tersebut.
Menteri Perminyakan Irak Jabar Ali al-Luaibi mengatakan pada Minggu (23/10/2016) bahwa negaranya, produsen terbesar kedua di OPEC, ingin dibebaskan dari pemotongan produksi karena membutuhkan lebih banyak uang untuk memerangi kelompok militan ISIS.
OPEC pada bulan lalu sepakat untuk mengurangi produksi minyak menjadi 32,5 juta barel per hari dari tingkat saat ini 33,24 juta barel per hari guna meningkatkan pasar.
Kelompok kartel ini akan menyetujui tingkat konkret dari produksi masing-masing negara pada pertemuan resmi berikutnya di Wina pada November.
Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember kehilangan 1,02 dolar AS menjadi menetap di 48,70 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.
Sementara itu, patokan global, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Desember turun 0,76 dolar AS menjadi ditutup pada 49,71 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange, demikian Xinhua melaporkan. 
Para pejabat organisasi negara-negara penghasil minyak OPEC, yang bertemu di Wina, Austria membicarakan rencana pengurangan produksi, gagal mencapai kesepakatan setelah pembicaraan beberapa jam pada Jumat (28/10/2016), ditengah keberatan Iran yang enggan membekukan produksi minyaknya.
Komite Tingkat Tinggi ahli akan bertemu lagi di Wina pada 25 November mendatang menjelang pertemuan berikutnya para menteri OPEC pada 30 November, untuk "menyelesaikan kuota individu", kata salah satu sumber kepada Reuters.
Mereka juga akan bertemu seperti dijadwalkan pada hari Sabtu (29/10/2016) dengan perwakilan dari produsen non-OPEC, yang OPEC harapkan bisa membantu dalam mengendalikan persediaan.
"Ya, kami lanjutkan besok dengan non-OPEC," salah satu sumber mengatakan. "Tidak ada kesepakatan lengkap hari ini sejak Iran menolak untuk membekukan produksi."
"Kami belum menyelesaikan semua. Kami akan mengadakan pertemuan berikutnya pada 25 November untuk menyelesaikan kuota individu," kata sumber lain.
Pertemuan Komite Tingkat Tinggi terdiri dari Gubernur OPEC dan perwakilan nasional pejabat yang melaporkan kepada menteri negara masing-masing.
Pembicaraan berlangsung lebih dari 11 jam pada hari Jumat dengan Iran muncul sebagai pusat perhatian utama.
"Belum ada kesepakatan, semua setuju kecuali Iran," kata salah satu sumber OPEC, yang menambahkan bahwa Iran minta pengecualian.
Organisasi Negara Pengekspor Minyak telah sepakat bulan lalu di Algiers untuk mengurangi produksi minyak mentah mereka ke kisaran 32,50 juta hingga 33 juta barel per hari, pemangkasan produksi pertama OPEC sejak 2008, dalam upaya untuk menopang harga.
Tapi dari awal rencana yang diusulkan menghadapi potensi kemunduran dengan Irak ingin dibebaskan dari pemotongan, dan negara-negara termasuk Iran, Libya dan Nigeria yang produksinya telah terpukul oleh sanksi atau konflik, juga ingin meningkatkan produksi mereka.
"Hal ini semakin rumit," kata seorang delegasi sebelum pertemuan dimulai pada hari Jumat (28/10/2016).
"Setiap hari ada masalah baru datang."
Namun, para pejabat OPEC lainnya termasuk Sekretaris Jenderal Mohammed Barkindo tetap optimistis.
"Musyawarah kami hari ini, dan besok dengan beberapa produsen non-OPEC, bisa membawa konsekuensi mendasar sangat baik bagi pasar, serta untuk jangka menengah sampai jangka panjang industri ini," kata Barkindo dalam pidato pada hari pembukaan pertemuan dua hari, menurut teks yang disediakan oleh OPEC.
Panitia tidak memutuskan kebijakan dan malah akan membuat rekomendasi kepada pertemuan OPEC tingkat menteri berikutnya pada 30 November.
Irak, produsen terbesar kedua OPEC, mengatakan awal pekan ini bahwa ia tidak akan memangkas produksi dan harus dibebaskan dari pembatasan karena kebutuhan dana untuk memerangi ISIS.
Sementara Iran telah bersikeras punya hak untuk memulihkan pangsa pasar setelah sanksi-sanksi Barat dicabut pada bulan Januari, demikian dilaporkan Reuters.
Negara-negara non-OPEC yang mengirimkan wakilnya dalam perundingan hari ini Sabtu (29/10/2016) adalah Rusia, Kazakhstan, Meksiko, Oman, Azerbaijan, Brasil dan Bolivia. (xinhua/reuters)

See Also

Menteri Kelautan Dan Perikanan Inginkan Kenaikan Gaji Pegawai KKP
Harga Minyak Dunia Turun
Tarif Tol Dalam Kota Jakarta Naik Per 8 Desember 2017
KPH Harus Jadi Lokomotif Pengembangan Ekonomi Masyarakat
Indeks Hang Seng HongKong Turun
Bursa Nikkei Dibuka Menguat
Era Global Buka Peluang Usaha Baru
Presiden Joko Widodo Sebut Indonesia-Laos Perkuat Kerja Sama
Presiden Joko Widodo Resmikan Megaproyek PLTU Bernilai 5,87 Miliar Dolar
Pemerintah Akan Resmikan BBM Satu Harga Di Seram
Presiden Joko Widodo Ngopi Sore Bersama Pelaku Industri Kopi Indonesia
Presiden Joko Widodo Dorong Pengusaha Kopi Promosikan Sektor Hulu
Industri Kreatif Tas Potensial Dikembangkan
Bupati Kudus Sebut Tiga Tantangan Pembangunan Pertanian
Indeks CAC-40 Prancis Menguat
Yuan China Menguat Terhadap Dolar AS
Babinsa Koramil 05/Cepu Turun Sawah Pendampingan Petani
Pasi Ter Kodim 0721/Blora Monitoring Rastra
Opel Automobile GmbH Kembali Merugi
PLTU Jawa 4 Telan Investasi 4,2 Miliar Dolar AS
Pedagang Beras Menjual Di Atas HET Dicabut Ijin
Kodim 0721/Blora Gelar Rakor Pengendalian Harga Pangan
Peduli Warga, Babinsa Koramil 03/Banjarejo Bantu Panen Jagung
Dolar AS Melemah
Petani Wilayah Kodim 0721/Blora Makmur
jQuery Slider

Comments

Archives :2017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 5.008.010 Since: 07.04.14 | 0.7608 sec