YouTube Facebook Twitter RSS
18 Nov 2017, 0

Editorial

Transparansi Memberdayakan Masyarakat

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Thursday, 03 November 2016 | View : 249

siarjustisia.com

Sejak Ir. H. Joko Widodo (Jokowi) muncul di ranah publik sebagai pejabat, saya belajar banyak tentang bagaimana bernegara dan berbangsa dalam sistem yang telah dipilih. Semuanya dimungkinkan oleh keterbukaan dan kebebasan yang berhasil diperjuangkan oleh para tokoh pers, Hak Asasi Manusia (HAM) dan kemanusiaan. Panas tetapi mendewasakan. Terima kasih.

Transparansi yang berhasil tampil memang mendebarkan dan menakutkan. Namun punya efek mencerdaskan karena ada ruang yang diberikan pada pengamat untuk berpikir sendiri. Transparansi itu memiliki kemampuan memberdayakan orang.

Tulisan berikut terinspirasi oleh diskusi Mata Najwa kemarin tentang Menjaga Bhinneka. Pembelajaran apa yang saya dapatkan:
- Salah bicara pejabat publik untuk isu sensitif bisa ditunggangi oleh berbagai kepentingan. Bisa punya potensi membuat chaos dan anarki. 
- Kerumunan akan menghilangkan kesadaran individu. Bisa berbahaya jika digunakan oleh orang yang memahami psikologi massa. 
- Tokoh-tokoh agama di Indonesia mampu membuat penegasan yang akan membawa Indonesia melangkah lebih maju. Kemarin Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Pak Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj, M.A. menyatakan bahwa jangan mencampuradukkan politik dengan agama. Pemisahan yang penting. Syafei Ma`arif menyatakan tentang perilaku negarawan. 
- Selama ini kita terlalu pragmatis dan kabar gembiranya adalah peristiwa-peristiwa yang ada membuat kita membahas nilai pluralisme, toleransi dan sedikit keadilan sosial. Yang terakhir ini penting untuk diangkat karena perdamaian tidak mungkin ada jika tidak ada keadilan sosial. 
- Implikasi dari gerakan politik yang membawa kasus ke dalam ranah hukum.

Semoga rekonstruksi dan dekonstruksi sesuai dengan Pancasila dan konstitusi semakin bisa diciptakan oleh para pemimpin kita. Apa yang dilakukan Presiden RI ke-7, Ir. H. Joko Widodo (Jokowi) untuk mengendalikan situasi yang ada sungguh menyejukkan. Para pembantunya juga berbicara mencerdaskan. Juga pernyataan tokoh agama yang memiliki perspektif nasionalisme. Semoga praktek politik dan agama kita menjadi semakin dewasa. Kita jaga Indonesia sebagai ruang kita hidup dan bergerak yang nyaman dan menyenangkan.

Semoga Indonesia bisa menjadi negara terkemuka di dunia karena ulamanya memiliki perspektif nasionalisme dalam sikap dan praktek beragamanya. Kata Pak Said Aqil Siroj hanya ada di Indonesia yakni ulama memiliki perspektif nasionalisme. Ulama Timur Tengah hanya memiliki perspektif agama. Nasionalisme adalah zona netral tempat semua perbedaan bertemu. Jaya Indonesia kita bersama. (esh)

See Also

Keluarga Besar DPP IPHI Dan DPP KAI Gelar Acara Halal Bihalal Bersama
Sugeng Tindak K. H. Mahfudz Ridwan
Ekspedisi 1.000 Jembatan Gantung Untuk Indonesia
Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Sejarah Kota Jakarta Di Musium Kota Jakarta
Lukisan Mengisahkan Tentang Keadilan Di Depan Ruang Pengadilan
Lebih Mengenal Jakarta Melalui Kota Tua
Dialog Dengan Alam, Budaya, Dan Orang
Audiensi AHY Dengan DPD KAI DKI Jakarta
Turut Berduka Cita, Kiai Nafis Misbah Mustofa Berpulang
Silaturahmi Sowan Gus Mus
Marhaenisme Dan Penutupan Sosial Dengan Pengucilan
Menuliskan Pengamalan Ilmu Seseorang
Analisis Hubungan Partnership Bung Karno
Syafii Maarif Penerus Gus Dur
Di Tanah Rantau, Keluarga Kudus Yogyakarta Akan Gelar Makrab Bersama Bupati
1 Oktober Hari Kesaktian Pancasila
Tua Bersinar, Bisakah Kita Lakukan?
Batik Print Yang Murah Meriah
Plumbon Dan Film Everything Is Illuminated
Perkawinan Jangan Dikorbankan Demi Politik Pemilihan
Kekuasaan Formal Dan Informal
Soto Bokoran Dan Bangkong
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
PDIP: Ahok Dan Djarot
jQuery Slider

Comments

Archives :2017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 4.796.054 Since: 07.04.14 | 0.4152 sec