YouTube Facebook Twitter RSS
18 Nov 2017, 0

Opini

Susi Pudjiastuti Dan Definisi Profesional

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Friday, 09 December 2016 | View : 184

siarjustisia.com

Penghargaan setinggi-tingginya saya sampaikan untuk Universitas Diponegoro (Undip) yang memberi gelar Honoris Causa (doktor kehormatan) ke Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti pada tanggal 3 Desember 2016.

Ketua Senat Universitas Diponegoro (Undip) Prof. Dr. Ir. Sunarso, M.S. menyatakan bahwa pemberian gelar ke Susi Pudjiastuti Sudah melalui prosedur yang panjang dan sesuai aturan. Susi Pudjiastuti menguasai bidang ilmu kelautan dan perikanan dan ia telah mendapatkan pengakuan dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dengan nilai 9 atau setara dengan gelar doktor.

Rektor Undip Prof Dr. Yos Johan Utama, S.H., M.Hum. menyatakan bahwa pemberian gelar ini sudah dikaji para guru besar dan berbagai disiplin ilmu dan secara akademik metode yang dilakukan Susi Pudjiastuti sangat runtut, rasional dan tepat. Apa yang dilakukan Susi terasa dampak positifnya untuk negara dan bangsa terkait dengan ilegal fishing. Sekalipun Susi Pudjiastuti secara formal hanya mengantongi ijazah SMP namun apa yang dilakukan Susi Pudjiastuti setelah melalui verifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) setara doktor. Penghargaan ini diberikan bukan karena alasan politis karena Susi Pudjiastuti menjabat sebagai Menteri.

Luar biasa. Universitas Undip telah bertindak revolusioner dengan memberi gelar keahlian akademik tidak hanya melalui jalur akademik tetapi melalui prestasi seseorang di masyarakat. Selama ini kita belum mengevaluasi urusan atau konsep KEAHLIAN AKADEMIK DAN PROFESIONALISME.

Menurut Frank Parkin kapatalisme modern melalui kaum borjuasi membentuk dan mempertahankan dirinya sebagai suatu kelas melalui 2 mekanisme yakni pertama berkaitan dengan lembaga pemilikan dan kedua berkaitan dengan keahlian akademis atau profesionalisme.

Kebanyakan dari kita paham soal lembaga kepemilikan dan ribut terus saja di isu ini. Namun kita belum pernah mempersoalkan bagaimana keahlian akademis atau profesionalisme ini dirumuskan. Subordinasi terhadap kelompok tertentu terjadi melalui mekanisme ini. Lalu penutupan sosial terjadi melalui pengucilan.

Transformasi sosial di Indonesia terjadi melalui mengejar kepemilikan dan status keahlian akademis atau profesionalisme. Sayang ruang yang namanya profesionalisme dan keahlian akademis diberikan ke orang-orang penyandang gelar akademis dan lembaga profesi yang berakreditasi. Pengakuan formal ini yang dihitung sekalipun banyak dari mereka tidak terbukti memiliki keahlian praktis bidang ilmu yang diklaim sebagai keahlian akademis. Sebagai contoh banyak insinyur bahkan doktor pertanian tetapi tidak becus menanam dengan kualitas terbaik dengan produktifitas yang tinggi. Banyak para profesional yang tidak memiliki akar praktis di lapangan.

Melalui mekanisme profesionalisme atau keahlian akademis inilah terjadi eksploitasi. Mekanisme untuk disebut profesional atau ahli ini adalah sebuah pasar empuk. Karena itu banyak orang merekayasa mekanisme untuk disebut profesional atau ahli. Amerika ahli sekali dalam memberi pengakuan profesi melalui jalur pintas dan Indonesia adalah pasar empuk. Siapa ikut mekanisme ini melalui usaha pintas maka ia ditentukan sebagai profesional atau ahli. Dunia profesional seolah-olah, sekarang sedang berproses. Wacananya begitu berisik dan trendnya begitu mudah berubah.

Penghargaan ke Susi Pudjiastuti adalah sebuah harapan yang mendobrak definisi keahlian akademik. Ruang memberi penghargaan pada siapa saja yang pekerjaannya berdampak besar pada hidup banyak orang dan dilakukan dengan metode dan langkah-langkah yang jelas dibuka selebar-lebarnya. Lebih baik lagi kalau dilakukan secara struktural seperti memandang petani sebagai stakeholder penting dalam bidang pertanian. Karena itu kalau mau mengadakan swasembada pangan atau membuat policy tentang pertanian maka ajaklah mereka untuk berunding. Yang terjadi saat ini adalah pemerintah mengobyekkan petani baik petani miskin maupun petani kaya. Petani bukan golongan profesional. Sedang yang disebut profesional juga tidak becus menanam. Gap ini harus segera kita dobrak. Saatnya kita konsentrasi pada memberi nilai dan harga pada orang-orang mampu mencapai sukses nyata yang berdampak pada hidup banyak orang. (esh)

See Also

Berdiri Di Dua Kaki
Double L, Narkoba, Dan Anak Dari Keluarga Penghasilan Rendah
Pernyataan Sikap Komunitas Bulutangkis Indonesia
Hati-hati Dengan Ide Keliru Yang Jahat Sekali
Bahagia Bertemu Ibu Irawati Durban Ardjo
Radio Mercury Dan Never Ending War Against Cancer
Dari Perjalanan Ke Diri: Merekonstruksi Pola Perilaku
Agus Yudhoyono Antara Tanggung Jawab Individu Dan Keluarga
Pertempuran Sultan Agung Dan Musium Kota Jakarta
Kesehatan Masyarakat Dan Pendidikan Kesehatan
Musium Wayang Dan Pembentukan Karakter
Kebijakan Publik Perlu Proses Dan Konsensus Banyak Pihak
Berjuang Dan Bertarung Untuk Yang Benar Dan Adil
Pintu Tertutup Maka Akan Ada Pintu Lagi
Yang Penting Adalah Menemukan Tempat Yang Tepat
Perempuan Perkasa Dalam Diri Seniman
Hasil Dikusi Buku Moemie: Karakter Baik Dan Identitas
Latar Belakang Sebelum Membaca Novel Moemie
Cerita Tentang Pengarang Novel Moemie Sebelum Menulis
Ringkasan Cerita Novel Moemie
Peringati Hari HAM Sedunia, Rohingya Masih Menjadi Manusia Paling Teraniaya
Gus Mus, Guru Bangsa Kita
Presiden Bisa Usir Kedubes Myanmar Dari Indonesia
Gagal Melindungi Rohingya, ASEAN Bubarkan Saja
Melalui Resolusi DK PBB Pemerintah Myanmar Dapat Diseret Ke Mahkamah Pidana Internasional
jQuery Slider

Comments

Archives :2017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 4.796.026 Since: 07.04.14 | 0.6734 sec