YouTube Facebook Twitter RSS
18 Nov 2017, 0

Opini

Hasil Dikusi Buku Moemie: Karakter Baik Dan Identitas

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Tuesday, 20 December 2016 | View : 182

siarjustisia.com

Saya bertanya mengapa menokohkan Moemie pada Marion Bloem sang pengarang? Yang saya lihat karakter Moemie adalah seorang perempuan bangsawan yang jadi korban biadab peperangan yang bisa bertahan hidup selama 1 abad. Moemie memiliki karakter baik. Ia tidak tahu kalau ia dan keluarga jadi korban. Ia tidak marah karena tidak tahu siapa orangtuanya. Moemie menjalani hidup mengalir mengikuti kata hatinya, selalu membantu orang lain dan mandiri.

Ketika saya bertanya mengapa dia menjadi tokoh utama? Marion menjawab bahwa Moemie memiliki karakter yang baik dan itu ada di dalam diri setiap orang. Saya belum memahami jawaban ini. Karena itu saya bertanya:”Itu karakter ideal atau karakter riil yang ada di dalam diri setiap orang?”. Marion menjawab keduanya. Dia menyukai karakter Moemie. Lalu Marion menyarankan saya untuk membaca ulang agar saya lebih mengerti buku tersebut. Ya saya akan membaca ulang agar saya memahami pernyataannya tersebut.

Lalu soal identitas etnis yang bergerak begitu dinamis. Darah campuran Indonesia dan Belanda tentu akan mengundang pergulatan batin tentang identitas. Memilih salah satu atau mengintegrasikan. Marion dididik untuk fokus pada identitasnya sebagai orang Belanda dan menekan keindonesiaan yang ada dalam dirinya. Namun di lain pihak ia melihat dan merasakan ambigu perasaan ibunya yang Indo Belanda. Ada kerinduan tersembunyi pada darah nenek moyang di Indonesia. Ini membingungkan Marion. Ia dididik jadi rasional dan menolak irasionalitas yang muncul dari indera keenam.

Akhirnya ia bisa menerima dunia yang dibangun dari indera keenam untuk menjawab kelemahan dunia ilmu pengetahuan. Ia menyimpulkan bahwa masih banyak misteri yang belum tersingkap dari hidup. Untuk mencari jawaban dan penjelasan tidak selalu harus dari dunia pengetahuan tetapi juga bisa dari dunia mistik yang banyak bentuknya. Indonesia masih kuat melakukan praktek-praktek mistik. Penerimaan Marion terhadap praktek budaya ekspresi indera keenam sebagai bentuk integrasi keindonesiaannya.

Pergulatan identitas saya terkait dengan Indonesia dan Tionghoa berakhir secara rasional dalam bentuk konsep Indonesia Tionghoa. Karena itu tidak aneh kalau proses menjadi Indonesia adalah proses aktif yang dilakukan secara sadar. Menjadi bangsa Indonesia dengan mengakui secara terbuka ketionghoaan dan praktek budaya dan atribut lainnya dilakukan dengan jelas.

Di tingkat pribadi urusan identitas bangsa telah selesai untuk saya. Namun di tingkat sosial sedang dalam proses pergulatan. Menurut saya ini masalah yang harus diselesaikan secara tuntas. Orang indonesia Tionghoa memiliki kedudukan setara dengan etnis lain di Indonesia. Mereka bukan THE OTHER. Mereka ada di dalam dengan hak dan kewajiban yang sama. Saya peduli urusan ini agar tidak ada kebisikan lagi yang terjadi. Area ini menjadi sumber kekerasan struktural dan sosial yang masih berlangsung. Karena itu rantai kekerasan sosial yang berlangsung berabad-abab dimulai tahun 1740 di Batavia semoga bisa diputuskan.

Bagi saya Moemie juga bicara tentang transformasi. Melalui proses pembuatan buku ini Marion menerima dan memahami dunia asing yang terkait dengan indera ke enam yang dipraktekkan dalam bentuk munculnya kemampuan melihat masa lalu, sekarang dan yang akan datang yang tidak terkait dengan proses rasio. Dengan menerima bahwa kebenaran bisa ditemukan dengan berbagai cara dan kebenaran yang kita miliki bukanlah kebenaran yang absolut. Dan yang terpenting adalah kebenaran menemukan bentuk dalam proses perjalanan. Pengarang, ilmuwan, intelektual dan pencari kebenaran yang gigih yang menyuarakan percikan temuannya. Menarik. (esh)

See Also

Berdiri Di Dua Kaki
Double L, Narkoba, Dan Anak Dari Keluarga Penghasilan Rendah
Pernyataan Sikap Komunitas Bulutangkis Indonesia
Hati-hati Dengan Ide Keliru Yang Jahat Sekali
Bahagia Bertemu Ibu Irawati Durban Ardjo
Radio Mercury Dan Never Ending War Against Cancer
Dari Perjalanan Ke Diri: Merekonstruksi Pola Perilaku
Agus Yudhoyono Antara Tanggung Jawab Individu Dan Keluarga
Pertempuran Sultan Agung Dan Musium Kota Jakarta
Kesehatan Masyarakat Dan Pendidikan Kesehatan
Musium Wayang Dan Pembentukan Karakter
Kebijakan Publik Perlu Proses Dan Konsensus Banyak Pihak
Berjuang Dan Bertarung Untuk Yang Benar Dan Adil
Pintu Tertutup Maka Akan Ada Pintu Lagi
Yang Penting Adalah Menemukan Tempat Yang Tepat
Perempuan Perkasa Dalam Diri Seniman
Latar Belakang Sebelum Membaca Novel Moemie
Cerita Tentang Pengarang Novel Moemie Sebelum Menulis
Ringkasan Cerita Novel Moemie
Peringati Hari HAM Sedunia, Rohingya Masih Menjadi Manusia Paling Teraniaya
Susi Pudjiastuti Dan Definisi Profesional
Gus Mus, Guru Bangsa Kita
Presiden Bisa Usir Kedubes Myanmar Dari Indonesia
Gagal Melindungi Rohingya, ASEAN Bubarkan Saja
Melalui Resolusi DK PBB Pemerintah Myanmar Dapat Diseret Ke Mahkamah Pidana Internasional
jQuery Slider

Comments

Archives :2017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 4.796.010 Since: 07.04.14 | 0.691 sec