YouTube Facebook Twitter RSS
18 Nov 2017, 0

Opini

Cerita Tentang Pengarang Novel Moemie Sebelum Menulis

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Monday, 19 December 2016 | View : 188

siarjustisia.com

Novel Moemie ditulis oleh Marion Bloem seorang Indo Belanda kelahiran Arnhem, Belanda pada 24 Agustus 1952 yang memilih karier sebagai pengarang fiksi. Ini buku yang ke-28 yang ditulis dan barangkali yang paling berat menuliskannya. Karakter Moemie ditemui tahun 1967 dan baru dituliskan pada tahun 2012. 

Saat itu Marion Bloem sama sekali tidak tertarik menulis jenis novel ini. Kelahiran novel ini diawal dari ramalan tokoh Moemie yang ditemui tahun 1967. Perempuan ini meramalkan banyak hal yang terbukti kebenarannya. Salah satunya Moemie menyatakan bahwa dia akan menulis novel sejarah, sebuah sejarah keluarga Belanda-Indonesia. 

Respon Marion Bloem tentang ramalam Moemie saat itu: “Wah, saya takkan pernah melakukannya. Saya tidak membaca novel sejarah dan saya tidak merasa akan menulis novel sejarah. Saya hanya akan menulis novel tentang perkembangan karakter, barangkali dengan latar atmosfer Belanda-Indonesia. Moemie bicara macam-macam tentang banyak hal lain dan sesungguhnya, meskipun saya memperhatikan akan betapa tajamnya pengamatan serta prediksinya menyangkut teman-teman dan anggota keluarga saya, saya pikir apa yang dikatakannya tentang saya salah sama sekali.”.

Moemie meramalkan suaminya yang akan sakit dan pengeboman WTC New York yang terbukti benar. Lalu suatu ketika Marion Bloem diajak bicara guru Yoga dari India. Pria itu hanya seminggu di Belanda, tidak berbahasa Belanda, dan sedang dikirim oleh gurunya untuk berkelana keliling dunia, dan ia memberhentikan Marion Bloem di sebuah pusat perbelanjaan, dan dia berkata bahwa Marion Bloem harus menulis novel ini dan jangan menunggu lagi, bahwa ini sangat penting. 

Penulisan novel ini juga memakan waktu dan energi Marion Bloem. Berceritera dalam rentang waktu yang begitu panjang dalam setting keluarga besar Indonesia Belanda. Yang terberat adalah Marion Bloem menulis dengan cara dia menghayati setiap karakter yang ditulis. Demikian katanya dalam sebuah wawancara:”Cara saya menulis adalah dengan memaksa diri saya untuk menjadi karakter saya, kalau bisa dalam adegan yang sama saya masuk ke dalam diri baik tokoh protagonis maupun antagonis saya. Kita harus mampu mencintai musuh kita untuk dapat menulis dengan jujur. Riset saja tak cukup. Saya harus menjiwai karakter-karakter saya. Buku itu sangat menyakitkan untuk ditulis”.

Sebelumnya Marion Bloem sama sekali tidak masuk ke ranah spiritualitas. Dia dibesarkan dalam dunia yang rasional dan tidak mau masuk ke ranah spiritualitas. Kemauanlah yang menjadi sumber kekuatan. Setelah ayahnya meninggal, dia belajar bahwa di dunia ini ada banyak hal yang tidak dapat terjelaskan. Katanya:”Kita tidak benar-benar paham, tetapi saya bersedia menerimanya sebagai aspek kehidupan. Ilmu pengetahuan belum dapat menjelaskan segalanya dan sudah terlalu banyak kejadian dan pengalaman dalam hidup saya yang memang tidak terjelaskan namun toh telah terjadi”.

Bagaimana dia memandang Indonesia yang merupakan sebagian dari dirinya. Demikian penjelasan Marion Bloem: ”Saya memandang Indonesia dengan campuran rasa penasaran, cinta, dan rasa takut. Tidak mudah bagi saya untuk membentuk sebuah opini, atau menerima opini orang barat lain tentang negara Indonesia. Dan saya takut untuk beropini, perasaan saya dan rasionalitas saya mengenai sebuah negara tempat kelahiran orangtua, kakek-nenek, dan buyut-buyut saya (saya bisa menelusuri jauh sampai abad ke-17), terlalu rumit untuk dapat menjawab pertanyaan ini. Kira-kira bisa disamakan dengan pernikahan 50 tahun. Kau telah mencintai pasanganmu dengan menggebu-gebu, dan kau masih mencintainya, namun cintamu telah berubah, kau menjadi sangat kritis namun sekaligus mencintai kealpaan dan buruk-buruknya karakter pasanganmu sebesar rasa bencimu terhadap hal-hal itu, yang tidak bisa kauubah tapi berharap bisa kauubah. Bagaimanapun, jika orang lain mengkritik pasanganmu, kau akan membelanya habis-habisan dan kau bahkan akan marah ada orang lain yang berani bicara begitu mengenai seseorang yang telah kaucintai sedemikian lamanya”. (esh)

See Also

Berdiri Di Dua Kaki
Double L, Narkoba, Dan Anak Dari Keluarga Penghasilan Rendah
Pernyataan Sikap Komunitas Bulutangkis Indonesia
Hati-hati Dengan Ide Keliru Yang Jahat Sekali
Bahagia Bertemu Ibu Irawati Durban Ardjo
Radio Mercury Dan Never Ending War Against Cancer
Dari Perjalanan Ke Diri: Merekonstruksi Pola Perilaku
Agus Yudhoyono Antara Tanggung Jawab Individu Dan Keluarga
Pertempuran Sultan Agung Dan Musium Kota Jakarta
Kesehatan Masyarakat Dan Pendidikan Kesehatan
Musium Wayang Dan Pembentukan Karakter
Kebijakan Publik Perlu Proses Dan Konsensus Banyak Pihak
Berjuang Dan Bertarung Untuk Yang Benar Dan Adil
Pintu Tertutup Maka Akan Ada Pintu Lagi
Yang Penting Adalah Menemukan Tempat Yang Tepat
Perempuan Perkasa Dalam Diri Seniman
Hasil Dikusi Buku Moemie: Karakter Baik Dan Identitas
Latar Belakang Sebelum Membaca Novel Moemie
Ringkasan Cerita Novel Moemie
Peringati Hari HAM Sedunia, Rohingya Masih Menjadi Manusia Paling Teraniaya
Susi Pudjiastuti Dan Definisi Profesional
Gus Mus, Guru Bangsa Kita
Presiden Bisa Usir Kedubes Myanmar Dari Indonesia
Gagal Melindungi Rohingya, ASEAN Bubarkan Saja
Melalui Resolusi DK PBB Pemerintah Myanmar Dapat Diseret Ke Mahkamah Pidana Internasional
jQuery Slider

Comments

Archives :2017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 4.796.017 Since: 07.04.14 | 0.6507 sec