YouTube Facebook Twitter RSS
19 Nov 2017, 0

Opini

Radio Mercury Dan Never Ending War Against Cancer

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Sunday, 19 February 2017 | View : 210

siarjustisia.com

Sabtu (18/2/2017) kemarin saya akhirnya memilih menghadiri acara yang diselenggarakan oleh Radio Mercury di Museum Kanker Wisnuwardhana Surabaya, Jl. Kayoon No.16-18, Embong Kaliasin, Genteng, Surabaya, Provinsi Jawa Timur (Jatim). Temanya tentang Never Ending War Against Cancer. Rencananya saya akan menghadiri acara Origami di Bandung. Berhubung ada kendala teknis maka saya memilih ke museum kanker yang sekarang dengan penasihat Yayasan Kanker Wisnuwardhana, penggagas dan pendiri Museum Kanker Indonesia-YKW, founder Bidadari, tokoh penggerak, budayawan, seniman, relawan, aktivis sosial, pencipta musik, sastrawan, pemonolog, dr. Ananto Sidohutomo, M.A.R.S. dan isterinya, dr. Etty H.K., Sp.PA.(Kons). Museum Kanker Indonesia di Jalan Kayoon No.16-18, Surabaya bekerja sama dengan Yayasan Kanker Wisnuwardhana.

Saya tidak asing dengan Yayasan Kanker Wisnuwardhana ketika dipimpin oleh Prof. Dr. Roemwediniadi. Saat itu saya menjadi penanggung jawab klinik perempuan (kesehatan reproduksi esensial) yang fokus dengan isu ibu-anak, kontrasepsi, infeksi menular seksual, kespro remaja dan kesehatan manula. Kami melayani perempuan dengan penghasilan rendah. Karena itu dulu saya getol mencari cara-cara murah dan gratis untuk memungkinkan memberi pelayanan kesehatan reproduksi perempuan. Melalui dr. Roem kami bisa melakukan papsmear dengan harga murah. Kegiatan ini sering kami lakukan.

Setelah pap smear (pap test) lalu urusannya adalah kanker. Peserta pap smear yang kena kanker lalu kami urus. Jadi saya pernah terlibat secara emosional penanganan kanker di kalangan perempuan penghasilan rendah. Ini yang membuat saya belajar aktif soal kanker hingga sekarang. Waktu itu kami berhasil menemukan penderita kanker awal. Sayang dia memilih pengobatan alternatif sehingga kemudian meninggal setelah beberapa tahun. Kematian prematur yang seharusnya bisa dicegah. Pengalaman yang berbekas mendalam di hati dan pikiran saya.

Saat ini situasinya lebih baik sedikit karena ada BPJS. Namun hasilnya masih jauh dari harapan. Cerita ini saya dapatkan dari radio Mercury yang kehilangan penyiarnya karena terlambat ditangani. Padahal dia berhasil melakukan deteksi dini juga. Namun dia harus antri pengobatan maka diapun terlambat diselamatkan. Kebetulan jenis kanker yang diidap adalah yang ganas. Pasien kanker BPJS terlalu banyak. Padahal tenaga dan peralatan yang ada terbatas/kurang.

Kanker akan dan sedang jadi pencabut nyawa nomer satu di Indonesia. Peningkatannya berlipat-lipat seperti kanker payudara dan serviks. Salah satu pekerjaan rumah yang harus dilakukan promotor kesehatan. Kanker telah menjadi epidemik di Indonesia.

Di musium ini saya bertemu Ibu Pingky Saptandari yang juga diundang. Kami diskusi soal bagaimana kita peduli pada penderita kanker dari kalangan miskin. Masalahnya sungguh besar. Untuk kalangan berduit saja begitu banyak masalah seperti pengetahuan yang benar sehingga memungkinkan pasien mengambil sikap yang tepat dan cepat. Banyak dari mereka yang salah mengambil keputusan. Apalagi di kalangan penduduk miskin. Kita harus melindungi ibu-ibu muda dari ancaman kematian karena kanker. Anak-anak mereka akan kehilangan golden time menjadi manusia yang sehat lahir dan batin jika salah satu orangtuanya hilang. Salah satu yang harus diperangi adalah pembisnis yang mengambil peluang masalah ini. Etika benar-benar harus ditegakkan. Menurut saya adalah tindak kriminal jika seseorang mengambil keuntungan dari orang yang punya masalah serius.

Ternyata Yayasan Kanker Wisnuwarhana dan Museum Kankernya memiliki cerita dahsyat. Laporan menyusul setelah saya kunjungi lagi nanti. (esh)

See Also

Berdiri Di Dua Kaki
Double L, Narkoba, Dan Anak Dari Keluarga Penghasilan Rendah
Pernyataan Sikap Komunitas Bulutangkis Indonesia
Hati-hati Dengan Ide Keliru Yang Jahat Sekali
Bahagia Bertemu Ibu Irawati Durban Ardjo
Dari Perjalanan Ke Diri: Merekonstruksi Pola Perilaku
Agus Yudhoyono Antara Tanggung Jawab Individu Dan Keluarga
Pertempuran Sultan Agung Dan Musium Kota Jakarta
Kesehatan Masyarakat Dan Pendidikan Kesehatan
Musium Wayang Dan Pembentukan Karakter
Kebijakan Publik Perlu Proses Dan Konsensus Banyak Pihak
Berjuang Dan Bertarung Untuk Yang Benar Dan Adil
Pintu Tertutup Maka Akan Ada Pintu Lagi
Yang Penting Adalah Menemukan Tempat Yang Tepat
Perempuan Perkasa Dalam Diri Seniman
Hasil Dikusi Buku Moemie: Karakter Baik Dan Identitas
Latar Belakang Sebelum Membaca Novel Moemie
Cerita Tentang Pengarang Novel Moemie Sebelum Menulis
Ringkasan Cerita Novel Moemie
Peringati Hari HAM Sedunia, Rohingya Masih Menjadi Manusia Paling Teraniaya
Susi Pudjiastuti Dan Definisi Profesional
Gus Mus, Guru Bangsa Kita
Presiden Bisa Usir Kedubes Myanmar Dari Indonesia
Gagal Melindungi Rohingya, ASEAN Bubarkan Saja
Melalui Resolusi DK PBB Pemerintah Myanmar Dapat Diseret Ke Mahkamah Pidana Internasional
jQuery Slider

Comments

Archives :2017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 4.803.400 Since: 07.04.14 | 0.427 sec