YouTube Facebook Twitter RSS
19 Nov 2017, 0

Opini

Dari Perjalanan Ke Diri: Merekonstruksi Pola Perilaku

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Saturday, 18 February 2017 | View : 142

siarjustisia.com

Ketika saya kembali ke masa lalu untuk rekonstruksi dan dekonstrusi masa lalu demi masa kini dan yang akan datang lalu saya menemukan satu pola perilaku yang perlu direkonstruksi kembali. Bagi orangtua dan keluarga perilaku masa kecil saya katagori nakal. Bagi saya bukan nakal tetapi kritis dan skeptis. Dari kecil saya sudah jelas anti diskriminasi.

Pada suatu hari saya membuat kesalahan besar menurut mama lalu dia akan memukul saya. Mama saya mengejar saya di halaman tengah yang ada tembok segi empat setinggi dada. Pada satu titik lalu saya memutuskan mengalah dengan membiarkan mama memukul saya. Saya mengalah karena mama dalam keadaan hamil. Saya tidak ingin mencelakakan mama.

Moment perilaku ini menjadi menetap. Untuk waktu yang lama saya hobi berat mengalah dan mempertanyakan terus perilaku saya ini. Saya merujuk ajaran semua agama untuk menjawab pertanyaan ini. Semuanya mengajarkan menghilangkan atau mengatasi ego. Ego, self dan kata-kata semacam menjadi studi saya yang lama. Kalau studi psikologi mengajarkan tidak menghilangkan. Self adalah tulang punggung mental manusia. Saya selalu mengutamakan ajaran spritual. Karena belum dapat jawaban maka untuk waktu yang lama saya menjadi korban atas pola pikir saya sendiri untuk waktu lama.

Dalam praktek tidaklah mudah menerima perlakuan tidak adil dan tidak benar dengan menghilangkan ego atau menekan ego. Saya dalam posisi defensif untuk waktu lama. Membiarkan ketidakadilan dan ketidakbenaran ditujukan kepada saya. Akibatnya level perkembangan saya menjadi tidak maksimal. 
Ketika usia 50 tahun saya mulai melakukan perjalanan ke masa lalu dengan melakukan rekonstrusi dan dekonstruksi pola perilaku masa lalu dengan membawa prinsip mengampuni, melupakan, melepaskan, memperbaiki dan menerima.

Terkait dengan pola perilaku mengalah, saya melakukan perbaikan dengan membangun prinsip baru yakni memang ego menjadi penghalang manusia dalam mencapai perkembangan yang tertinggi. Namun ego tidak bisa dihilangkan dan ego yang membangun tulang punggung kita. Untuk bisa berkembang maksimal maka ego perlu dikendalikan dengan menjadi ego yang luwes/lentur. Ego harus dikendalikan dengan memiliki kebebasan untuk terikat dan melepaskan keterikatan demi tujuan atau misi.

Mengalah atas perilaku diskriminatif, rasis, kekerasan yang ditimpakan ke diri kita, ketidakadilan dan prinsip atau nilai absolut lainnya adalah KEBODOHAN. Perilaku seperti ini harus dilawan. Saya sekarang melakukan perlawanan atas prinsip-prinsip universal ini jika perlakuan itu ditimpakan pada saya. Melawan dengan cara damai. Saya bisa ampuni namun saya akan nyatakan dengan tegas bahwa perbuatan yang ditimpakan pada saya salah.

Sujud syukur pada Tuhan. Perjalanan pulang ke diri dengan bertemu dengan Tuhan yang hidup telah saya temukan. Sekarang saya penuhi kewajiban dan panggilan yang diberikan kepada saya. Semoga Tuhan menjaga dan memberkati setiap langkah hidup saya. (esh)

See Also

Berdiri Di Dua Kaki
Double L, Narkoba, Dan Anak Dari Keluarga Penghasilan Rendah
Pernyataan Sikap Komunitas Bulutangkis Indonesia
Hati-hati Dengan Ide Keliru Yang Jahat Sekali
Bahagia Bertemu Ibu Irawati Durban Ardjo
Radio Mercury Dan Never Ending War Against Cancer
Agus Yudhoyono Antara Tanggung Jawab Individu Dan Keluarga
Pertempuran Sultan Agung Dan Musium Kota Jakarta
Kesehatan Masyarakat Dan Pendidikan Kesehatan
Musium Wayang Dan Pembentukan Karakter
Kebijakan Publik Perlu Proses Dan Konsensus Banyak Pihak
Berjuang Dan Bertarung Untuk Yang Benar Dan Adil
Pintu Tertutup Maka Akan Ada Pintu Lagi
Yang Penting Adalah Menemukan Tempat Yang Tepat
Perempuan Perkasa Dalam Diri Seniman
Hasil Dikusi Buku Moemie: Karakter Baik Dan Identitas
Latar Belakang Sebelum Membaca Novel Moemie
Cerita Tentang Pengarang Novel Moemie Sebelum Menulis
Ringkasan Cerita Novel Moemie
Peringati Hari HAM Sedunia, Rohingya Masih Menjadi Manusia Paling Teraniaya
Susi Pudjiastuti Dan Definisi Profesional
Gus Mus, Guru Bangsa Kita
Presiden Bisa Usir Kedubes Myanmar Dari Indonesia
Gagal Melindungi Rohingya, ASEAN Bubarkan Saja
Melalui Resolusi DK PBB Pemerintah Myanmar Dapat Diseret Ke Mahkamah Pidana Internasional
jQuery Slider

Comments

Archives :2017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 4.803.399 Since: 07.04.14 | 1.6329 sec