YouTube Facebook Twitter RSS
19 Nov 2017, 0

Opini

Hati-hati Dengan Ide Keliru Yang Jahat Sekali

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Sunday, 19 March 2017 | View : 296

siarjustisia.com

Buku bergambar Seno Gumira Adidarma berjudul: "JEJAK PYONGYANG" mencelikkan pikiran saya tentang bahaya sebuah ide. Ide jahat bisa menjelma menjadi kejahatan yang sistemik.

Ide itu dipasarkan oleh Kim Il-Sung pendiri komunisme Korea Utara. Agama buddha sebagai mayoritas yang dianut masyarakat Korea Utara ditinggalkan karena usaha Kim Il-Sung. Dia gunakan peristiwa penjajahan Jepang yang membuat masyarakat menjadi sangat menderita sebagai bahan perubahan.

Masyarakat berdoa agar dibebaskan dari penderita tetapi doanya tidak dijawab. Lalu Kim Il-Sung menyatakan bahwa perubahan hanya bisa terjadi dengan usaha manusia. Lalu mereka diajari untuk lebih percaya pada manusia.

Celakanya adalah mereka diarahkan percaya kepada pemimpin besar mereka bernama Kim Il-Sung yang membangun negara komunis. Hasilnya adalah Kim Il-Sung mengambil tempat Tuhan dan mewakili Tuhan untuk mengontrol manusia. Lalu Korea Utara melakukan pengontrolan ketat atas hidup masyarakat. Tidak ada kebebasan. Yang ada adalah penyeragaman. Tidak ada individu. Tidak ada kebebasan. Semua tergantung pada pandangan pemimpin.

Buku Seno Gumira Adidarma membuat saya bergidik. Ngeri. Cerita mutakhir yang terjadi adalah pembunuhan keluarga sendiri karena tidak taat dengan lari ke Malaysia. Juga pernah saya melihat video tentang anak yang berhasil membebaskan diri melalui China dengan mengorbankan Ibunya yang diperkosa. Ide keliru yang kemudian menjelma menjadi sistem sungguh sulit menghancurkannya dan pasti menelan korban banyak. Karena itu Lao Tzu (Laozi/Lao-Tze) mengajari kita untuk memadamkan api selagi kecil dan ide-ide semacam yang intinya mengajari kita untuk lebih mengutamakan pencegahan.

Kim Il-Sung terinspirasi oleh Karl Marx yang menyatakan bahwa agama itu adalah candu. Ide ini ditulis berdasarkan suatu konteks di mana ketika Karl Marx hidup, agamawan sangat berkuasa dan kekuasaannya disalahgunakan. Counter terhadap ide ini tidak menukik pada esensinya yang intinya menyejajarkan ide fenomenal dengan noumenal. Thich Nhat Hanh mengingatkan bahwa kita jangan campur adukkan urusan fenomenal dengan noumenal. Levelnya tidak sama. Noumenal ada di level yang lebih tinggi dan tidak pernah bisa dibuktikan melalui indera manusia. Karena itu agama dan spiritualitas sebaiknya menjadi urusan pribadi manusia. Peran negara adalah menfasilitasi masyarakat untuk bebas mengakses ajaran-ajaran yang ada secara benar.

Sejalan dengan ide tidak mencampuradukkan fenomenal dengan noumenal maka saya juga percaya bahwa laki-laki tidak mungkin bisa mewakili Tuhan untuk mengendalikan perempuan, anak dan kelompok lemah lainnya. Maskulinitas yang didesign oleh budaya yang menyejarah perlu direkonstruksi dan atau didekonstruksi demi kepentingan kesejahteraan dan kemanusiaan. Ini syarat kalau kita ingin maju secara kolektif bersama. (esh)

See Also

Berdiri Di Dua Kaki
Double L, Narkoba, Dan Anak Dari Keluarga Penghasilan Rendah
Pernyataan Sikap Komunitas Bulutangkis Indonesia
Bahagia Bertemu Ibu Irawati Durban Ardjo
Radio Mercury Dan Never Ending War Against Cancer
Dari Perjalanan Ke Diri: Merekonstruksi Pola Perilaku
Agus Yudhoyono Antara Tanggung Jawab Individu Dan Keluarga
Pertempuran Sultan Agung Dan Musium Kota Jakarta
Kesehatan Masyarakat Dan Pendidikan Kesehatan
Musium Wayang Dan Pembentukan Karakter
Kebijakan Publik Perlu Proses Dan Konsensus Banyak Pihak
Berjuang Dan Bertarung Untuk Yang Benar Dan Adil
Pintu Tertutup Maka Akan Ada Pintu Lagi
Yang Penting Adalah Menemukan Tempat Yang Tepat
Perempuan Perkasa Dalam Diri Seniman
Hasil Dikusi Buku Moemie: Karakter Baik Dan Identitas
Latar Belakang Sebelum Membaca Novel Moemie
Cerita Tentang Pengarang Novel Moemie Sebelum Menulis
Ringkasan Cerita Novel Moemie
Peringati Hari HAM Sedunia, Rohingya Masih Menjadi Manusia Paling Teraniaya
Susi Pudjiastuti Dan Definisi Profesional
Gus Mus, Guru Bangsa Kita
Presiden Bisa Usir Kedubes Myanmar Dari Indonesia
Gagal Melindungi Rohingya, ASEAN Bubarkan Saja
Melalui Resolusi DK PBB Pemerintah Myanmar Dapat Diseret Ke Mahkamah Pidana Internasional
jQuery Slider

Comments

Archives :2017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 4.803.263 Since: 07.04.14 | 0.401 sec