YouTube Facebook Twitter RSS
17 Aug 2018, 0

Nusantara

Respon Ahok Perihal Parkir Meter

Thursday, 04 May 2017 | View : 510

siarjustisia.com-JAKARTA.

Persoalan penerapan parkir meter di DKI Jakarta sendiri sempat disinggung oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih, Sandiaga Salahuddin Uno, B.A., M.B.A. yang menurutnya tidak sesuai dengan karakter warga DKI Jakarta.

Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih, Sandiaga Uno menilai sistem parkir meter tidak cocok diterapkan di Jakarta. Sebab, ia menilai pola yang diterapkan dalam sistem parkir model tersebut tidak cocok dengan budaya orang Indonesia.

Hal itu dilontarkannya saat diundang untuk mendapat pemaparan dari pengembang aplikasi "Jukir" di kantor Bubu.com yang berlokasi di kawasan Wijaya, Jl. Wijaya IX No.16, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (2/5/2017).

Pada kesempatan itu, pengembang aplikasi "Jukir" memaparkan mengenai tidak efektifnya penerapan sistem parkir meter di Jakarta.

Menurut mereka, sistem parkir meter yang diterapkan di Jakarta tidak cukup berhasil mencegah kebocoran. Karena kebanyakan warga yang memarkirkan kendaraannya bukan membayar sendiri biaya parkir langsung di mesin, melainkan menitipkan uangnya ke juru parkir.

"Ini yang bisa jadi celah adanya permainan," ujar salah seorang pengembang aplikasi "juru parkir" kepada Sandiaga Salahuddin Uno.

"Iya parkir meter bukan budaya kita tuh," ujar Sandiaga Salahuddin Uno menanggapi.

Selama pemaparan, para pengelola aplikasi mengatakan bahwa sistem parkir dengan pembayaran secara online melalui aplikasi "Jukir" kini sudah diterapkan di banyak lokasi di Kota Bekasi dan Tangerang Selatan.

Mereka pun berharap agar nantinya Pemprov DKI mau bekerja sama menerapkan sistem yang sama di Jakarta. Ditemui usai pertemuan, Sandiaga Salahuddin Uno menilai sistem parkir dengan pembayaran secara online lebih tepat ketimbang sistem parkir meter.

Karena, ia menilai sistem parkir meter hanya cocok diterapkan di negara yang karakter masyarakatnya individualis. Hal yang disebut Sandiaga Salahuddin Uno berbeda dengan karakter masyarakat Indonesia.

"Kalau kita lihat di sini parkir kita dibantuin, mau belanja ada yang bantuin. Karena memang banyak lapangan pekerjaan yang dibutuhkan," ketus Sandiaga Salahuddin Uno.

Menurut Sandiaga Salahuddin Uno, keberadaan juru parkir sama seperti ojek. Ia menyebut keduanya merupakan kearifan lokal yang tidak akan pernah bisa dihilangkan di tengah masyarakat.

Karena itu, seperti ojek yang kini sudah banyak menggunakan basis aplikasi, Sandiaga Salahuddin Uno menilai hal yang sama juga bisa diterapkan terhadap sistem perparkiran.

"Enggak akan kebayang kalau di Amerika ada jukir. Tapi kalau di Indonesia ada jukir. Di Amerika ada parkir meter yang sangat sukses dan berjalan baik, tapi di sini dari laporan teman-teman tidak berjalan. Salah satunya adalah karena enggak merangkul kearifan lokal kita," cetus Sandiaga Salahuddin Uno.

Namun, Sandiaga Salahuddin Uno belum dapat memastikan apakah nantinya sistem perparkiran dengan parkir meter di Jakarta di bawah kepemimpinan dirinya dan Anies Rasyid Baswedan akan diubah melalui aplikasi saat nantinya dirinya sudah resmi menjabat. Sebab, ia menyebut butuh kajian untuk bisa merealisasikan hal itu.

Pemasangan TPE di DKI sendiri merupakan salah satu sistem dalam transportasi makro Ibu Kota yang harus diterapkan. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sendiri sudah memasang banyak mesin parkir meter di Terminal Parkir Elektronik (TPE). Saat ini di beberapa lokasi, DKI sudah menerapkan TPE seperti di Jalan K. H. Agus Salim, Jakarta Pusat, kawasan Boulevard Kelapa Gading, Jakarta Utara, dan beberapa lokasi lainnya.

Gubernur DKI Jakarta, Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M. yang akrab disapa "Ahok" tak habis pikir dengan penilaian Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih, Sandiaga Uno yang menyebutkan jika penerapan parkir meter di DKI tidak sesuai dengan karakter warganya.

“Saya tidak mengerti juga ya, saya tidak komentarlah!” ujar Basuki Tjahaja Purnama di Balai Kota DKI Jakarta, Jl. Medan Merdeka Selatan No.8, RT11/RW02, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (3/5/2017).

Kendati demikian, Basuki Tjahaja Purnama menyebutkan jika penerapan mesin parkir meter di wilayah DKI Jakarta, kebocoran pendapatan dari parkir kendaraan bisa ditekan dengan sangat baik.

Ia juga membantah keras dengan penerapan parkir meter atau Terminal Parkir Elektronik (TPE) tidak memberdayakan masyarakat untuk menghasilkan pendapatan.

“Kami berdayakan semua tukang parkir meter, malah dapat gaji gede UMP. Anaknya bisa dapat KJP, naik bus tidak bayar. Mungkin ormas-ormas tidak dapat duit kali ya (karena penerapan parkir meter),” tukasnya.

Penerapannya memberikan pendapatan yang sangat besar kepada Pemprov DKI Jakarta dan kebocoran oleh oknum tidak bertanggugjawab atas pendapatan tersebut.

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menegaskan jika penerapan parkir meter di Ibu Kota tidak mengubah sistem dalam menarik uang melalui juru parkir untuk pendapatan daerah.

"Yang pasti dengan parkir meter lebih tinggi. Parkir meter tidak mengubah sistem menarik duit dari juru parkir," terang Basuki Tjahaja Purnama di Balai Kota DKI Jakarta, Jl. Medan Merdeka Selatan No.8, RT11/RW02, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (4/5/2017).

Hanya saja, sambung Basuki Tjahaja Purnama, juru parkir tidak diperbolehkan mengantongi uang kontan sehingga pembayaran harus dilakukan secara elektronik melalui debet. Hal tersebutlah, katanya yang membuat pendapatan DKI dari parkir langsung meningkat.

"Dengan model ini kami tidak mengurangi juru parkir, hanya oknum ormas-ormas tertentu yang jatah-jatahan itu hilang, yang dicuri, yang gak disetor itu hilang," katanya.

Mantan Bupati Belitung Timur tersebut, Basuki Tjahaja Purnama mengatakan, pihaknya akan merekrut banyak juru parkir untuk ditempatkan mengawasi mesin parkir meter. Adapun mesin parkir meter yang terpasang di area Terminal Parkir Elektronik (TPE), katanya, hanya media supaya uang yang masuk dari masyarakat yang parkir tidak disalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

"Kalau orang lihat duit kontan kan hijau-hijau matanya," pungkasnya. (kom/sp/jos)

See Also

Lombok Diguncang Gempa Lagi 6,2 Skala Richter
Peduli Gempa Lombok, Siswa MA NU TBS Gelar Istighasah
TNI-Polri Kirim Bantuan Ke Daerah Gempa Di Lombok
Gempa Susulan Kembali Terjadi Di Lombok
PT. PLN (Persero) Upayakan Listrik Menyala Di Kepulauan Gili Lombok
Dandim 0716/Demak Tutup TMMD Sengkuyung Tahap II Tahun 2018
Bhabinkamtibmas Dan Babinsa 03/Wonosalam Bersinergi Amankan Apitan
Terasa Kompak, Babinsa Dan Bhabinkamtibmas Mijen Ramaikan Lomba 17-An
Dialog Interaktif Dandim 0716/Demak Bersama Forkopimda Menyambut HUT RI Ke-73
Babinsa 06/Wedung Rela Bagikan Air Bersih Dari Rumah Ke Rumah
Mahasiswa UMK Ikuti Agri-Relationship ASEAN Universities Network
Partai Hanura Ajukan Sengketa Pendaftaran Bacaleg Ke Bawaslu
Guna Matangkan Penutupan TMMD Kodim 0716/Demak Gelar Rakor
Jelang HUT RI Ke-73, Babinsa Latih Paskibraka
Acungan Tangan Mungil Rizki Ajukan Pertanyaan Bagaimana Cara Menjadi TNI Pak Babinsa?
Babinsa Kodim 0716/Demak Bersama Bhabinkamtibmas Turut Serta Pelatihan Ketrampilan
Untuk Pecahkan Rekor MURI, Kodim 0716/Demak Latihan Senam Gemu Famire
UMK Didorong Buka Korean Corner
Al-Jalsah Ula Ma Had Aly TBS
Peran Aktif Babinsa 06/Wedung Terhadap Generasi Penerus
Dandim 0716/Demak Hadiri Pembukaan Manasik Haji II Dan Pelepasan Calon Jemaah Haji Demak
30 Peserta Diklat Pim IV Dapat Materi Wasbang
Kunjungan Tim Wasev Sterad Bidang Komsos Ke Kodim 0716/Demak
Sosok Anak Pedagang Gorengan Yang Ingin Jadi Jenderal
Babinsa Koramil 09/Karangtengah Seleksi Calon Paskibra
jQuery Slider

Comments

Archives :20182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 6.437.179 Since: 07.04.14 | 0.659 sec