YouTube Facebook Twitter RSS
23 Nov 2017, 0

Opini

Double L, Narkoba, Dan Anak Dari Keluarga Penghasilan Rendah

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Saturday, 29 July 2017 | View : 76

siarjustisia.com

Jumat (28/7/2017) kemarin saya diundang SBO TV untuk jadi nara sumber tentang narkoba di antara anak. Double L hingga hari ini di Surabaya masih jadi persoalan di kalangan keluarga dengan penghasilan rendah. Data ini saya dapatkan dari Diskusi Terarah yang saya lakukan bulan ini di 2 kampung Surabaya. Belum ada pihak yang berwenang berupaya menghentikan peredaran double L ini hingga kini. 

Ada kemacetan luar biasa dalam merespon darurat narkoba ini. Pendekatan yang formalistik dari pemerintah menjadi penghambat. Gerakan Menyelamatkan Masa Depan Anak (GEMMA) telah menyampaikan kedaruratan ini ke pemerintah baik eksekutif maupun legislatif termasuk ke BNN kota Surabaya tahun lalu dengan diskusi dan menyampaikan policy brief. 

Mereka tidak bisa merespon sama sekali kedaruratan penggunaan double L pada keluarga dengan penghasilan miskin ini karena mekanisme dan gaya hidup mereka tidak memungkinkan. Double L tidak masuk dalam daftar narkoba yang diberantas namun masuk dalam daftar G yang dilarang diperjualbelikan dengan bebas. Karena itu penegak hukum sulit bertindak. Di luar penegak hukum yang bertanggung jawab terhadap kesehatan otak anak gagap menghadapi ini karena memang belum peduli terhadap pencegahan narkoba secara sungguh-sungguh di kalangan anak. Ruang di mana ada banyak anak telah disusupi pengguna narkoba. Perangkat yang ada gagap menghadapi isu ini karena masalah narkoba di kalangan orang dewasa saja masih kedodoran dikerjakan. 

Selain itu masalahnya barangkali menjadi tidak seksi karena masalah ini menimpa kelompok miskin. Bagi saya nampak bahwa pemihakan kita pada orang dengan penghasilan rendah masih ala kadarnya. Menurut saya kita semua harus bertobat. Orang dengan penghasilan rendahpun memiliki hak untuk menikmati program-program yang memungkinkan mereka hidup sehat, berkembang dan tenang. 

Pertanyaan saya bagaimana kita melakukan dekonstruksi atas sistem yang ada dengan menyertakan kelompok dengan penghasilan rendah ini dalam setiap kemajuan yang kita bangun, ciptakan dan tanam? Aku ikut bagian ke kelompok yang peduli, tidak dengan pamrih untuk bisa berkuasa secara formal. Ini tanggung jawab saya sebagai warganegara yang mengetahui masalah ini lebih mendalam. (esh)

See Also

Berdiri Di Dua Kaki
Pernyataan Sikap Komunitas Bulutangkis Indonesia
Hati-hati Dengan Ide Keliru Yang Jahat Sekali
Bahagia Bertemu Ibu Irawati Durban Ardjo
Radio Mercury Dan Never Ending War Against Cancer
Dari Perjalanan Ke Diri: Merekonstruksi Pola Perilaku
Agus Yudhoyono Antara Tanggung Jawab Individu Dan Keluarga
Pertempuran Sultan Agung Dan Musium Kota Jakarta
Kesehatan Masyarakat Dan Pendidikan Kesehatan
Musium Wayang Dan Pembentukan Karakter
Kebijakan Publik Perlu Proses Dan Konsensus Banyak Pihak
Berjuang Dan Bertarung Untuk Yang Benar Dan Adil
Pintu Tertutup Maka Akan Ada Pintu Lagi
Yang Penting Adalah Menemukan Tempat Yang Tepat
Perempuan Perkasa Dalam Diri Seniman
Hasil Dikusi Buku Moemie: Karakter Baik Dan Identitas
Latar Belakang Sebelum Membaca Novel Moemie
Cerita Tentang Pengarang Novel Moemie Sebelum Menulis
Ringkasan Cerita Novel Moemie
Peringati Hari HAM Sedunia, Rohingya Masih Menjadi Manusia Paling Teraniaya
Susi Pudjiastuti Dan Definisi Profesional
Gus Mus, Guru Bangsa Kita
Presiden Bisa Usir Kedubes Myanmar Dari Indonesia
Gagal Melindungi Rohingya, ASEAN Bubarkan Saja
Melalui Resolusi DK PBB Pemerintah Myanmar Dapat Diseret Ke Mahkamah Pidana Internasional
jQuery Slider

Comments

Archives :2017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 4.834.418 Since: 07.04.14 | 0.8609 sec