YouTube Facebook Twitter RSS
21 Nov 2017, 0

Ekonomi

Pedagang Beras Menjual Di Atas HET Dicabut Ijin

Tuesday, 29 August 2017 | View : 46

siarjustisia.com-JAKARTA.

Wakil Presiden, Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla, menegaskan, ada sanksi keras terhadap pelaku usaha beras yang menjual beras melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk kualitas medium dan premium. Ijin usaha mereka bisa dicabut.

"Pasti akan ada pengawasan, diberi sanksi setidak-tidaknya yang melanggar HET izinnya dicabut," kata Jusuf Kalla (JK), di Jakarta, Selasa (29/8/2017).

Sanksi itu sedang dirumuskan sambil menunggu peraturan mengenai HET beras berlaku pada 1 September 2017. Jusuf Kalla menilai, HET beras medium-premium perlu ditetapkan.

Sebelumnya, Pemerintah mengumumkan harga eceran tertinggi beras medium dan premium. Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, dalam jumpa pers, mengatakan, penetapan HET untuk beras kualitas medium dan premium telah disepakati para pelaku usaha perberasan nasional dan mulai berlaku pada 1 September 2017.

HET beras kualitas medium berlaku di pasar ritel modern dan pasar tradisional. Penetapan HET beras kualitas medium tersebut untuk wilayah Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sulawesi sebesar Rp 9.450 per kilogram, dan Rp 12.800 untuk jenis premium.

Wilayah Sumatera, tidak termasuk Lampung dan Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Kalimantan untuk beras kualitas medium Rp 9.950 dan premium Rp 13.300 per kilogram.

Sementara untuk Maluku termasuk Maluku Utara dan Papua, HET beras kualitas medium sebesar Rp 10.250 per kilogram dan Rp 13.600 untuk beras jenis premium.

Pemerintah telah mengelompokkan tiga jenis beras untuk saat ini yang nantinya akan diatur melalui Peraturan Menteri Pertanian. Kelompok pertama adalah beras jenis medium yang memiliki spesifikasi derajat sosoh minimal 95 persen, kadar air maksimal 14 persen dan butir patah maksimal 25 persen.

Beras kualitas medium tersebut bisa berbentuk curah atau kemasan dan wajib mencantumkan label medium dengan HET pada kemasannya.

Kemudian jenis beras premium adalah beras yang memiliki spesifikasi derajat sosoh 95 persen, kadar air maksimal 14 persen dan butir patah maksimal 15 persen. Beras jenis premium dikemas dan wajib mencantumkan label premium dan HET tertinggi.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menegaskan bahwa penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras menjadi upaya nyata pemerintah untuk melindungi kepentingan konsumen.

"Dengan adanya HET ini efektif untuk pertama masyarakat, konsumen mereka mendapatkan perolehan harga yang terkendali jadi dari sisi pengendalian harga tercapai," kata Mendag Enggartiasto Lukita di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (28/8/2017).

Penetapan HET terhadap beras, kata dia, juga memungkinkan terwujudnya PEMBANGUNAN yang BERKEADILAN.

Dalam arti, kata dia, pemerataan untuk para pengusaha secara merata dapat tercapai.

"Dari data yang ada dampak dari HET ini adalah penggilingan menengah ke bawah itu lebih diuntungkan dalam arti jumlah suplai kepada mereka itu lebih meningkat," katanya.

Di sisi lain, ia memantau bahwa serapan Bulog meningkat tajam, meski memang ada pihak-pihak yang terganggu dengan penetapan HET.

"Di middle man, di pengepul dan kemudian di perusahaan-perusahaan besar yang menyerap beras itu dan kemudian dia jual dengan harga tinggi. Jadi margin yang besar-besar itulah yang terganggu," katanya.

Enggartiasto Lukita membantah penggilingan padi skala kecil dan pengusaha kecil terancam dengan penetapan HET tersebut.

"Siapa bilang? Itu hanya satu dua saja, saya kemarin ke Perpadi Solo, semua di Sragen semua lengkap dan mereka mengapresiasi atas telah diterapkannya HET karena mereka akan menerima suplai lebih besar yang sementara ini mati karena selama ini diserap oleh yang besar," katanya.

Meski begitu, Enggar menegaskan bahwa perusahaan skala besar tidak kemudian harus "mati" dengan ketentuan tersebut.

Menurut dia, perusahaan besar hanya perlu mengalami "return of investment" yang lebih panjang saja.

"Yang pasti mereka tidak jadi mati, tidak berkurang, ukuran berikutnya adalah serapan dari Bulog meningkatnya tajam sekali, 10.000 ton sebelumnya sempat drop di bawah 6.000 sekarang meningkat lagi," katanya.

Selain itu, beras khusus yang akan diatur dan ditetapkan oleh Kementerian Pertanian. Beras yang termasuk khusus antara lain adalah beras Thai Hom Mali, Japonica, Basmati, beras ketan, beras organik dan beras bersertifikat IG. "Untuk beras khusus sementara belum (diatur HET)," kata Enggartiasto Lukita.

See Also

Bursa Nikkei Dibuka Menguat
Era Global Buka Peluang Usaha Baru
Presiden Joko Widodo Sebut Indonesia-Laos Perkuat Kerja Sama
Presiden Joko Widodo Resmikan Megaproyek PLTU Bernilai 5,87 Miliar Dolar
Pemerintah Akan Resmikan BBM Satu Harga Di Seram
Presiden Joko Widodo Ngopi Sore Bersama Pelaku Industri Kopi Indonesia
Presiden Joko Widodo Dorong Pengusaha Kopi Promosikan Sektor Hulu
Industri Kreatif Tas Potensial Dikembangkan
Bupati Kudus Sebut Tiga Tantangan Pembangunan Pertanian
Indeks CAC-40 Prancis Menguat
Yuan China Menguat Terhadap Dolar AS
Babinsa Koramil 05/Cepu Turun Sawah Pendampingan Petani
Pasi Ter Kodim 0721/Blora Monitoring Rastra
Opel Automobile GmbH Kembali Merugi
PLTU Jawa 4 Telan Investasi 4,2 Miliar Dolar AS
Kodim 0721/Blora Gelar Rakor Pengendalian Harga Pangan
Peduli Warga, Babinsa Koramil 03/Banjarejo Bantu Panen Jagung
Dolar AS Melemah
Petani Wilayah Kodim 0721/Blora Makmur
Babinsa Berikan Motivasi Petani
Wall Street Berakhir Jatuh
Indeks Nikkei-225 Melemah Ketika Yen Menguat
Harga Emas Berbalik Naik
Indeks Straits Times Turun Tipis
Penguatan Data Ekonomi AS Tekan Harga Emas Turun
jQuery Slider

Comments

Archives :2017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 4.819.536 Since: 07.04.14 | 0.4548 sec