YouTube Facebook Twitter RSS
23 Apr 2018, 0

Internasional

Daftar Negara Yang Warganya Dilarang Masuk Ke Amerika Serikat

Monday, 25 September 2017 | View : 1378

siarjustisia.com-WASHINGTON DC.

Negeri Paman Sam, Amerika Serikat (AS) akan melarang masuknya warga dari Korea Utara (Korut) dan Venezuela ke Amerika Serikat sebagai dari kebijakan larangan terbaru. Korea Utara (Korut), Venezuela, dan Chad pada hari Minggu (24/9/2017) ditambahkan ke dalam daftar negara yang menjadi target larangan perjalanan Amerika Serikat (AS) karena keamanan yang buruk dan kurangnya kerja sama dengan otoritas Amerika Serikat.

Larangan masuk ini juga membatasi warga dari Iran, Chad, Libya, Suriah, Yaman, dan Somalia.

Pembatasan baru tersebut, yang mulai berlaku pada tanggal 18 Oktober 2017, dihasilkan dari sebuah tinjauan setelah kebijakan larangan perjalanan terdahulu Presiden AS ke-45, Donald John Trump digugat di pengadilan.

Presiden AS ke-45, Donald John Trump mempertimbangkan untuk mengganti perintah eksekutifnya yang melarang sementara kunjungan warga dari beberapa negara mayoritas Muslim ke AS.

Larangan saat ini yang diberlakukan pada bulan Maret dan berakhir pada hari Minggu (24/9/2017) malam, diberlakukan kepada warga Iran, Libya, Somalia, Suriah dan Yaman yang hendak bepergian ke AS. Pembatasan baru tersebut bukan pelarangan total, namun menyesuaikan batasan perjalanan berdasarkan negara.

Dilansir Reuters, Presiden Donald John Trump menerima satu set rekomendasi kebijakan pada hari Jumat (22/9/2017) dari Menteri Keamanan Dalam Negeri, Elaine Costanzo Duke, dan mendapat penjelasan mengenai masalah ini oleh pejabat pemerintah lainnya, termasuk Jaksa Agung ke-84 Jefferson Beauregard Sessions III atau lebih akrab dipanggil Jeff Sessions dan Menteri Luar Negeri Rex Wayne Tillerson.

Presiden AS Donald John Trump menawarkan beberapa pandangan mengenai apa yang mungkin akan terjadi selanjutnya, dan hanya mengatakan bahwa "larangan perjalanan, semakin sulit akan semakin baik."

Pada hari Jumat (22/9/2017), Presiden Donald John Trump belum membuat keputusan akhir mengenai isi perintah eksekutif baru dan negara mana yang akan terpengaruh, sehingga membuka kemungkinan daftar negara-negara tersebut dapat diperluas.

Miles Taylor, ajudan Elaine Costanzo Duke, mengatakan bahwa alih-alih adanya larangan total masuk ke AS, pembatasan yang diusulkan akan berbeda pada tiap-tiap negara, tergantung dari kerja sama dengan mandat keamanan AS, ancaman kepada AS dari masing-masing negara, serta variabel lainnya.

Setelah serangan bom 15 September di sebuah kereta London, Presiden Donald John Trump menulis di Twitter bahwa larangan baru tersebut "harus jauh lebih besar, lebih ketat dan lebih spesifik, namun hal tersebut tidak akan benar secara politis."

Seperti diketahui, larangan yang berlaku sebelumnya melarang masuk warga dari enam negara selama 90 hari dan 120 hari kepada pengungsi agar pemerintahan Donald John Trump mendapat cukup waktu untuk meninjau seluruh pendatang.

Kebijakan ini banyak dikritik sebagai diskriminasi terhadap Muslim dan melanggar jaminan konstitusional kebebasan beragama dan perlindungan yang sama di bawah hukum, melanggar undang-undang imigrasi AS yang sudah ada dan memicu kebencian agama.

Beberapa pengadilan federal menolak larangan tersebut, namun Mahkamah Agung AS. mengizinkannya diberlakukan pada bulan Juni dengan beberapa batasan.

Penambahan Korea Utara dan Venezuela memperluas pembatasan dari daftar asli negara-negara yang mayoritas Muslim.

Sudan, satu dari enam negara mayoritas Muslim yang masuk daftar awal larangan perjalanan, dihapuskan dari daftar tersebut, menyisakan delapan negara dengan blokir penuh atau sebagian untuk pergi ke Negeri Paman Sam (AS).

Larangan perjalanan sepenuhnya diberlakukan untuk warga dari Korea Utara (Korut) dan Chad, sementara larangan untuk Venezuela terbatas kepada pejabat dari sejumlah daftar badan pemerintah beserta keluarga mereka.

"Korea Utara tidak bekerja sama dengan pemerintah Amerika Serikat dalam hal apapun dan gagal memenuhi semua persyaratan berbagi informasi," kata ungkap juru bicara pemerintah AS, seperti dikutip Reuters.

Seorang pejabat pemerintahan memberi penjelasan kepada wartawan dalam sebuah panggilan konferensi, dan mengakui bahwa jumlah orang Korea Utara yang bepergian ke AS sekarang sangat rendah.

Sejumlah negara lain yang masuk dalam daftar itu di antaranya Iran, Libya, Suriah, Somalia, and Yaman menurut warta kantor berita AFP. (afp/reuters)

See Also

Malaysia Ringkus 7 Anggota Terduga Jaringan IS
Sekolah Di Ghouta Timur Dihantam Rudal
Pasar Di Suriah Dihantam Roket
Arab Saudi Dan Inggris Tandatangani Kesepakatan Pembelian Jet Tempur
Kementerian Pertanian Cegah Rock Melon Australia Masuk Indonesia
Presiden Suriah Tegaskan Serangan Di Ghouta Timur Akan Terus Berlanjut
Skandal Seks Wakil PM Australia Dan Staf Picu Usulan Larangan
Hujan Salju Tebal Lumpuhkan Paris
PBB Selidiki Dugaan Penggunaan Senjata Kimia Di Suriah
Kurdi Irak Tahan 4.000 Ekstremis
Kereta Tabrak Ke Kereta Di Amerika Serikat
Lima Tempat Romantis Rayakan Valentine Di Perth
Fosil Dinosaurus Baru Ditemukan Di Gurun Mesir
Pemimpin Oposisi Zimbabwe Tewas Dalam Kecelakaan Helikopter Di Amerika Serikat
2 WNI Sandera Abu Sayyaf Dibebaskan
Bom Ganda Bunuh Diri Tewaskan 38 Orang Di Baghdad
Myanmar Bebaskan Dua Jurnalis Asing
Serangan Gereja Di Kairo Tewaskan 10 Orang
Stasiun Kereta Baru Di Yerusalem Akan Dinamai Donald John Trump
Ledakan Di Kantor Berita Afghanistan
Israel Pesan Ratusan Jet Temput Berteknologi Mutakhir
Kaisar Jepang Akihito Berulang Tahun
128 Negara Anggota PBB Tolak Keputusan Donald Trump Tentang Yerusalem
Tekanan Berat Bintang K-pop Shinee Kim Jong-hyun
Wakil PM Inggris Diminta Mundur Terkait Skandal Pornografi
jQuery Slider

Comments

Archives :20182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 5.799.833 Since: 07.04.14 | 0.6765 sec