YouTube Facebook Twitter RSS
22 Apr 2018, 0

Internasional

Kepala UNHCR Kunjungi Pengungsi Rohingya Di Tempat Penampungan Bangladesh

Sunday, 24 September 2017 | View : 323

siarjustisia.com-KUTAPALONG.

Kepala badan urusan pengungsi PBB (UNHCR), Filippo Grandi mengatakan pada Sabtu (23/9/2017) bahwa dirinya dikejutkan oleh adanya "kekerasan mengerikan" terhadap pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar.

Ia juga mengatakan bahwa penderitaan mereka akan bertahan lebih lama dari pada waktu yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Lebih dari 420.000 Muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh sejak 25 Agustus, setelah para gerilyawan melakukan serangan terhadap pos-pos kepolisian dan militer di Rakhine, memicu tindakan keras Myanmar yang oleh PBB dianggap sebagai tindakan pemusnahan etnis.

Dalam kunjungannya ke tempat pengungsian Kutapalong, Bangladesh Tenggara, dekat perbatasan dengan Myanmar, Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi, Filippo Grandi, mengatakan bahwa pengungsi Rohingya telah menceritakan kisah mereka kepadanya.

"Saya benar-benar terpukul oleh ketakutan yang menghantui mereka dan apa yang telah mereka lalui," katanya di pengungsian tersebut, tempat para pengungsi tinggal di bawah ribuan terpal yang didirikan di daerah perbukitan dan sawah.

"Orangtua mereka tewas, keluarga terpisah, beberapa alami luka, perkosaan dilakukan terhadap wanita. Ada banyak kekerasan mengerikan terjadi dan akan memakan waktu lama bagi mereka untuk pulih, lebih lama dari proses pemberian bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka," kata Filippo Grandi.

Kecepatan dan besarnya arus pengungsi dari Myanmar telah menyebabkan ratusan ribu orang hidup dalam kondisi memprihatinkan, dan PBB serta badan-badan bantuan berusaha memberikan mereka bantuan tempat berlindung, bahan makanan dan mencegah penyebaran wabah penyakit.

Seorang pejabat tinggi PBB mengatakan pada Jumat (22/9/2017) bahwa dibutuhkan dana sekitar 200 juta dolar AS untuk membantu pengungsi di Bangladesh selama enam bulan.

Ketegangan antar masyarakat di Rakhine telah berlangsung selama beberapa dasawarsa dan pecah menjadi kekerasan dalam beberapa tahun belakangan.

Kelompok Hak Asasi Manusia (HAM), Amnesty International mengatakan pada Jumat (22/9/2017) bahwa sebuah gambar satelit terkini dan video menunjukkan asap tebal masih membumbung dari desa-desa di negara bagian Rakhine. (ant)

See Also

Malaysia Ringkus 7 Anggota Terduga Jaringan IS
Sekolah Di Ghouta Timur Dihantam Rudal
Pasar Di Suriah Dihantam Roket
Arab Saudi Dan Inggris Tandatangani Kesepakatan Pembelian Jet Tempur
Kementerian Pertanian Cegah Rock Melon Australia Masuk Indonesia
Presiden Suriah Tegaskan Serangan Di Ghouta Timur Akan Terus Berlanjut
Skandal Seks Wakil PM Australia Dan Staf Picu Usulan Larangan
Hujan Salju Tebal Lumpuhkan Paris
PBB Selidiki Dugaan Penggunaan Senjata Kimia Di Suriah
Kurdi Irak Tahan 4.000 Ekstremis
Kereta Tabrak Ke Kereta Di Amerika Serikat
Lima Tempat Romantis Rayakan Valentine Di Perth
Fosil Dinosaurus Baru Ditemukan Di Gurun Mesir
Pemimpin Oposisi Zimbabwe Tewas Dalam Kecelakaan Helikopter Di Amerika Serikat
2 WNI Sandera Abu Sayyaf Dibebaskan
Bom Ganda Bunuh Diri Tewaskan 38 Orang Di Baghdad
Myanmar Bebaskan Dua Jurnalis Asing
Serangan Gereja Di Kairo Tewaskan 10 Orang
Stasiun Kereta Baru Di Yerusalem Akan Dinamai Donald John Trump
Ledakan Di Kantor Berita Afghanistan
Israel Pesan Ratusan Jet Temput Berteknologi Mutakhir
Kaisar Jepang Akihito Berulang Tahun
128 Negara Anggota PBB Tolak Keputusan Donald Trump Tentang Yerusalem
Tekanan Berat Bintang K-pop Shinee Kim Jong-hyun
Wakil PM Inggris Diminta Mundur Terkait Skandal Pornografi
jQuery Slider

Comments

  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 5.763.487 Since: 07.04.14 | 0.6298 sec