YouTube Facebook Twitter RSS
24 Jan 2018, 0

Internasional

Kepala UNHCR Kunjungi Pengungsi Rohingya Di Tempat Penampungan Bangladesh

Sunday, 24 September 2017 | View : 262

siarjustisia.com-KUTAPALONG.

Kepala badan urusan pengungsi PBB (UNHCR), Filippo Grandi mengatakan pada Sabtu (23/9/2017) bahwa dirinya dikejutkan oleh adanya "kekerasan mengerikan" terhadap pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar.

Ia juga mengatakan bahwa penderitaan mereka akan bertahan lebih lama dari pada waktu yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Lebih dari 420.000 Muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh sejak 25 Agustus, setelah para gerilyawan melakukan serangan terhadap pos-pos kepolisian dan militer di Rakhine, memicu tindakan keras Myanmar yang oleh PBB dianggap sebagai tindakan pemusnahan etnis.

Dalam kunjungannya ke tempat pengungsian Kutapalong, Bangladesh Tenggara, dekat perbatasan dengan Myanmar, Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi, Filippo Grandi, mengatakan bahwa pengungsi Rohingya telah menceritakan kisah mereka kepadanya.

"Saya benar-benar terpukul oleh ketakutan yang menghantui mereka dan apa yang telah mereka lalui," katanya di pengungsian tersebut, tempat para pengungsi tinggal di bawah ribuan terpal yang didirikan di daerah perbukitan dan sawah.

"Orangtua mereka tewas, keluarga terpisah, beberapa alami luka, perkosaan dilakukan terhadap wanita. Ada banyak kekerasan mengerikan terjadi dan akan memakan waktu lama bagi mereka untuk pulih, lebih lama dari proses pemberian bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka," kata Filippo Grandi.

Kecepatan dan besarnya arus pengungsi dari Myanmar telah menyebabkan ratusan ribu orang hidup dalam kondisi memprihatinkan, dan PBB serta badan-badan bantuan berusaha memberikan mereka bantuan tempat berlindung, bahan makanan dan mencegah penyebaran wabah penyakit.

Seorang pejabat tinggi PBB mengatakan pada Jumat (22/9/2017) bahwa dibutuhkan dana sekitar 200 juta dolar AS untuk membantu pengungsi di Bangladesh selama enam bulan.

Ketegangan antar masyarakat di Rakhine telah berlangsung selama beberapa dasawarsa dan pecah menjadi kekerasan dalam beberapa tahun belakangan.

Kelompok Hak Asasi Manusia (HAM), Amnesty International mengatakan pada Jumat (22/9/2017) bahwa sebuah gambar satelit terkini dan video menunjukkan asap tebal masih membumbung dari desa-desa di negara bagian Rakhine. (ant)

See Also

Pemimpin Oposisi Zimbabwe Tewas Dalam Kecelakaan Helikopter Di Amerika Serikat
2 WNI Sandera Abu Sayyaf Dibebaskan
Bom Ganda Bunuh Diri Tewaskan 38 Orang Di Baghdad
Myanmar Bebaskan Dua Jurnalis Asing
Serangan Gereja Di Kairo Tewaskan 10 Orang
Stasiun Kereta Baru Di Yerusalem Akan Dinamai Donald John Trump
Ledakan Di Kantor Berita Afghanistan
Israel Pesan Ratusan Jet Temput Berteknologi Mutakhir
Kaisar Jepang Akihito Berulang Tahun
128 Negara Anggota PBB Tolak Keputusan Donald Trump Tentang Yerusalem
Tekanan Berat Bintang K-pop Shinee Kim Jong-hyun
Wakil PM Inggris Diminta Mundur Terkait Skandal Pornografi
Turki Sesalkan Veto AS Soal Yerusalem
Perwakilan Nahdlatul Ulama Dan Wahid Foundation Temui Dubes Amerika Serikat
Parlemen Australia Setuju Pernikahan Sesama Jenis
Pidato Lengkap Donald Trump Saat Akui Yerusalem Ibu Kota Israel
Amerika Serikat Segera Memulai Proses Pemindahan Kedubesnya
Inggris Tidak Setuju Dengan Keputusan AS Soal Jerusalem
Amerika Serikat Akan Memulai Rencana Pemindahan Kedutaan Besarnya
Yordania Tolak Sikap Donald Trump Soal Yerusalem
Warga Korea Utara Gelar Perayaan Massal Uji Coba Rudal Hwasong 15
Mantan Penasihat Keamanan Presiden AS Didakwa Bohongi FBI Terkait Rusia
Militer Suriah Tembakkan Rudal Ke Jet Tempur Israel
Badai Hujan Dan Petir Berlanjut Di Melbourne
Warga AS Dipenjara Seumur Hidup Atas Pembunuhan Wanita Jepang
jQuery Slider

Comments

Archives :20182017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 5.243.794 Since: 07.04.14 | 0.6936 sec