YouTube Facebook Twitter RSS
18 Dec 2017, 0

Internasional

Kepala UNHCR Kunjungi Pengungsi Rohingya Di Tempat Penampungan Bangladesh

Sunday, 24 September 2017 | View : 221

siarjustisia.com-KUTAPALONG.

Kepala badan urusan pengungsi PBB (UNHCR), Filippo Grandi mengatakan pada Sabtu (23/9/2017) bahwa dirinya dikejutkan oleh adanya "kekerasan mengerikan" terhadap pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar.

Ia juga mengatakan bahwa penderitaan mereka akan bertahan lebih lama dari pada waktu yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Lebih dari 420.000 Muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh sejak 25 Agustus, setelah para gerilyawan melakukan serangan terhadap pos-pos kepolisian dan militer di Rakhine, memicu tindakan keras Myanmar yang oleh PBB dianggap sebagai tindakan pemusnahan etnis.

Dalam kunjungannya ke tempat pengungsian Kutapalong, Bangladesh Tenggara, dekat perbatasan dengan Myanmar, Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi, Filippo Grandi, mengatakan bahwa pengungsi Rohingya telah menceritakan kisah mereka kepadanya.

"Saya benar-benar terpukul oleh ketakutan yang menghantui mereka dan apa yang telah mereka lalui," katanya di pengungsian tersebut, tempat para pengungsi tinggal di bawah ribuan terpal yang didirikan di daerah perbukitan dan sawah.

"Orangtua mereka tewas, keluarga terpisah, beberapa alami luka, perkosaan dilakukan terhadap wanita. Ada banyak kekerasan mengerikan terjadi dan akan memakan waktu lama bagi mereka untuk pulih, lebih lama dari proses pemberian bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka," kata Filippo Grandi.

Kecepatan dan besarnya arus pengungsi dari Myanmar telah menyebabkan ratusan ribu orang hidup dalam kondisi memprihatinkan, dan PBB serta badan-badan bantuan berusaha memberikan mereka bantuan tempat berlindung, bahan makanan dan mencegah penyebaran wabah penyakit.

Seorang pejabat tinggi PBB mengatakan pada Jumat (22/9/2017) bahwa dibutuhkan dana sekitar 200 juta dolar AS untuk membantu pengungsi di Bangladesh selama enam bulan.

Ketegangan antar masyarakat di Rakhine telah berlangsung selama beberapa dasawarsa dan pecah menjadi kekerasan dalam beberapa tahun belakangan.

Kelompok Hak Asasi Manusia (HAM), Amnesty International mengatakan pada Jumat (22/9/2017) bahwa sebuah gambar satelit terkini dan video menunjukkan asap tebal masih membumbung dari desa-desa di negara bagian Rakhine. (ant)

See Also

Perwakilan Nahdlatul Ulama Dan Wahid Foundation Temui Dubes Amerika Serikat
Parlemen Australia Setuju Pernikahan Sesama Jenis
Pidato Lengkap Donald Trump Saat Akui Yerusalem Ibu Kota Israel
Amerika Serikat Segera Memulai Proses Pemindahan Kedubesnya
Inggris Tidak Setuju Dengan Keputusan AS Soal Jerusalem
Amerika Serikat Akan Memulai Rencana Pemindahan Kedutaan Besarnya
Yordania Tolak Sikap Donald Trump Soal Yerusalem
Warga Korea Utara Gelar Perayaan Massal Uji Coba Rudal Hwasong 15
Mantan Penasihat Keamanan Presiden AS Didakwa Bohongi FBI Terkait Rusia
Militer Suriah Tembakkan Rudal Ke Jet Tempur Israel
Badai Hujan Dan Petir Berlanjut Di Melbourne
Warga AS Dipenjara Seumur Hidup Atas Pembunuhan Wanita Jepang
Kaisar Jepang Akihito Akan Turun Takhta 30 April 2019
Taliban Serang Kampus Di Pakistan
Arab Saudi Cegat Rudal Balistik Houthi Yaman
Mahasiswa Australia Semakin Lama Selesaikan Studi
Agnez Mo Raih Penghargaan Di MAMA 2017 Vietnam
Tidak Ada Korban WNI Di Teror Masjid Sinai
Pola Teroris Bunuhi Jemaah Salat Jumat Di Sinai
Korban Bom Masjid Di Sinai Bertambah Jadi 305 Orang
Serangan Udara Mesir Tewaskan Teroris Penyerang Masjid Sinai
Perlintasan Perbatasan Mesir-Gaza Batal Dibuka
Penembakan Pada Hari Thanksgiving Di Houston
Mesir Buru Pelaku Teror Di Masjid Sinai
Milisi Serang Masjid Di Mesir
jQuery Slider

Comments

Archives :2017201620152014
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2014 Siar Justisia. All rights reserved. Visit: 5.007.916 Since: 07.04.14 | 0.6393 sec